Share

Bab 6

Author: Gekko
last update Last Updated: 2025-09-17 11:40:17

Keesokan harinya. Ming Yue terbangun dari tidurnya karena suara teriakan keras yang memekakkan telinga dari depan pintu kamar.

“Ming Yue! Cepatlah bangun! Hei, Ming Yue!” suara itu jelas milik Ming Hao, kakaknya yang selalu menyebalkan.

Dengan wajah kusut, Ming Yue bangkit sambil mengusap matanya. Rambut hitam panjangnya terurai berantakan, ia mendengus keras.

‘Apa lagi yang dia mau pagi-pagi begini?’ gerutunya dalam hati. Semalaman ia sudah mengatakan tidak akan ikut sarapan karena sibuk menyusun strategi balas dendamnya, tetapi tetap saja, Ming Hao selalu punya cara untuk mengganggu.

Ia membuka pintu, dan terlihatlah Ming Hao berdiri di sana dengan wajah masam. Di hadapannya, Xiao Lin berdiri tegap, berusaha menahan langkah sang Tuan Muda.

“Hei, Ming Yue! Suruh pelayan barumu ini pergi! Dia melarangku masuk!” Ming Hao berseru kesal.

Xiao Lin menunduk sopan. “Maaf, Nona. Saya benar-benar sulit menghentikannya.”

Ming Yue menghela napas panjang. “Pergilah, Xiao Lin. Biarkan saja dia,” perintahnya.

Pelayan muda itu mengangguk patuh, lalu mundur. Ming Hao segera masuk sambil melempar tatapan tajam penuh protes pada Xiao Lin.

“Dari mana kau dapatkan pelayan ketus itu?” tanyanya dengan nada jengkel.

“Diamlah.” Ming Yue melipat tangan di dada. “Untuk apa kau mencariku? Sudah kubilang aku melewatkan sarapan.”

“Dengar dulu, bocah,” geram Ming Hao. “Kemarin kau bilang ingin belajar bela diri kan?”

Sebelah alis Ming Yue terangkat. “Kau mau mengajariku?”

“Tidak, aku malas,” jawab Ming Hao tanpa beban.

Ming Yue mendengus, hampir ingin menutup pintu kembali.

“Tapi ada temanku yang cukup bagus dalam melatih.” Ming Hao menahan pintu dengan cepat. “Sekarang dia ada di ruang tamu. Cepat temui dia di sana.”

Setelah berpakaian rapi, Ming Yue pergi ke ruang tamu diikuti pelayannya Xiao Lin. Di sana, Ming Hao sudah duduk menunggu bersama seorang tamu. Melihat adiknya datang, ia memberi isyarat dengan dagunya.

“Kemari, duduk.”

Ming Yue menduduki kursi di samping kakaknya, lalu mengalihkan pandangannya pada sosok pria di hadapan mereka. Seorang lelaki muda berambut cokelat gelap, tubuh tinggi tegap, wajahnya sedikit sangat dengan sorot mata tajam. Sebuah pedang besar bersarung hitam bersandar di samping kursinya, dan seragam prajurit elit kekaisaran melekat di tubuhnya.

“Kakak, apa dia orangnya?” tanya Ming Yue, memastikan.

Ming Hao mengangguk. “Benar, dia temanku, An Beiye. Dia putra Jendral An. Berterima kasihlah dia mau menerimamu sebagai murid karena kau adalah adikku,” jawabnya dengan penuh kebanggaan.

Mendengar kalimat terakhir sang kakak membuat Ming Yue memutar bola matanya sebal. Dia kembali menatap lelaki di depannya, lalu membungkuk tipis.

“Halo, Tuan Muda An. Saya Ming Yue. Terima kasih sudah mau menjadi guru saya,” ucapnya memperkenalkan diri.

Ming Yue kenal dengan nama An Beiye, dia memang teman kakaknya namun baru kali ini bertemu secara resmi. Putra Jenderal An itu dikenal sebagai prajurit elit termuda di usianya yang masih 22 tahun. Sayangnya, Ming Yue juga tahu dari masa lalunya bahwa An Beiye akan berakhir mati dengan cara yang tragis.

Namun setelah sapaan sopannya, lelaki itu hanya diam terpaku. Dari tadi ia menatap Ming Yue tanpa berkedip, mulutnya sedikit terbuka.

Ming Yue mengerutkan kening, bingung. “Tuan muda An?” panggilnya sekali lagi.

An Beiye tersentak sadar. “Ah, iya. Salam kenal, Nona Ming.” Ia menunduk singkat, lalu tersenyum tipis. “Aku tak menyangka Hao memiliki adik secantik ini.”

Rupanya sejak tadi ia terdiam karena terpukau oleh kecantikan Ming Yue. Namun tentu saja ada seseorang yang tidak setuju.

“Hei! Wajah seperti katak begitu kau panggil cantik? Matamu pasti bermasalah,” ejek Ming Hao dengan nada sinis.

Ming Yue mendelik marah. Dengan cepat, ia menjambak rambut panjang kakaknya sambil berbisik geram di telinganya. “Diam! Jangan membuatku marah.”

“Hei, lepaskan, bocah! Dasar liar!” Ming Hao meringis kesakitan, berusaha melepaskan diri.

Pertengkaran kecil mereka membuat An Beiye hanya bisa menahan tawa, tak tahu harus menengahi atau membiarkan. Tak lama kemudian, mereka bertiga bergerak ke lapangan belakang rumah. Ming Yue sudah mengganti pakaian dengan yang lebih nyaman untuk berlatih. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya tampak serius. Hari ini ia akan benar-benar memulai latihan bela diri.

Ming Hao bersandar santai di sisi lapangan, jelas hanya berniat menonton sambil sesekali melempar komentar. An Beiye berdiri di hadapan Ming Yue, matanya mengamati tubuh gadis itu dari atas hingga bawah, menilai dengan seksama postur dan ketahanan fisiknya.

“Hm, kurasa karena Nona Ming tidak terbiasa melakukan banyak olahraga, kita harus mulai dengan memperkuat fisikmu terlebih dahulu,” katanya tegas.

“Baik, Guru. Tapi, panggil saja aku Yue. Itu lebih nyaman,” ucap Ming Yue.

An Beiye tersenyum tipis dan mengangguk. “Baiklah, Yue. Kalau begitu, setelah pemanasan, mulailah berlari sepuluh putaran.”

“Baik.” Ming Yue mengangguk mantap, lalu mulai melaksanakan perintah guru barunya.

An Beiye memperhatikannya dengan seksama setiap gerakan ringan dan kaku dari gadis itu. Namun semakin lama, hatinya terusik. Sejak ia datang ke kediaman keluarga Ming, ia merasa ada sepasang mata yang mengawasinya dari jauh.

Dan kini, saat An Beite menatap ke arah pepohonan di sisi halaman, perasaan itu semakin kuat, dia langsung menoleh, matanya menyapu rimbunan dedaunan. Namun, tak ada siapa pun di sana.

‘Apa hanya perasaanku saja?’ pikir An Beiye, alisnya berkerut heran.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 244

    Qiang Suli terdiam sejenak, alisnya mengernyit bingung. "Aku melarikan diri? Sungguh?""Iya. Kau menghilang tiga belas tahun lalu," jelas Ming Yue, ikut heran dengan reaksi."Aku hanya tau ibu adalah orang tuaku dan semua orang di istana. Aku tidak ingat bagaimana aku hilang," jawab Qiang Suli.Ming Yue menghela napas panjang. 'Ternyata dia tidak ingat,' pikirnya dengan perasaan pasrah yang bercampur kecewa. Lalu Ming Yue mengubah pertanyaannya lagi, mencoba pendekatan yang berbeda."Kalau begitu, bagaimana dengan gurumu? Kau bilang punya seorang guru yang merawatmu, kan? Seperti apa orangnya? Berasal dari mana?"Qiang Suli terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi itu. "Dia—"Tapi belum sempat menjawab, tiba-tiba pelayan pribadi Ming Yue, tiba-tiba datang dengan langkah tergopoh-gopoh."Yang Mulia!"Mereka refleks menoleh."Ada apa, Xin Yan?" tanya Ming Yue.Xin Yan datang dengan napas terengah-engah. "Saya baru dapat laporan. Di ibu kota, beberapa bangsawan dan pejabat

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 243

    Mendengar pernyataan adiknya yang bagai petir di siang bolong, Qiang Wangyi seketika melotot tajam padanya.“Menyerahkan tahta?!” desisnya, dengan suara rendah penuh ancaman. Tanpa pikir panjang, Qiang Wangyi mencengkeram kerah pakaian Qiang Suli. “Jadi kau juga mengincarnya? Sudah kuduga kau pasti yang menghasut Ayahanda!” bentaknya.Qiang Suli masih terlihat tenang di tengah cengkeraman kasar itu. Bahkan, ia tertawa pelan, seolah mengejek. “Kau bilang aku bisa minta apapun. Itulah permintaanku.”Tak kuasa menahan kekesalan dan kemarahan, Qiang Wangyi melempar tubuh adiknya itu ke atas kasur di belakangnya.“Kau bisa meminta apa pun kecuali yang satu itu! Atau kau memang ingin menantangku, hah?!” geram Qiang Wangyi.Qiang Suli sedikit terbentur dengan tiang tempat tidur kayu yang keras dan meringis sebentar. Namun, bukannya kesal atau takut, ia kembali tertawa, suaranya terdengar seperti cemoohan halus.“Astaga. Hanya sedikit bercanda, kau sudah terpancing seperti itu,” katanya samb

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 242

    "Sepertinya menyenangkan. Tapi aku harus dapat izin dari ayahanda," jawab Qiang Suli.Mendengar hal itu, Ming Hyun baru tersadar."Benar juga. Kaisar yang sangat posesif itu pasti tidak akan mudah mengizinkannya," gerutunya dengan helaan napas panjang.Qiang Suli hanya tersenyum tipis. "Tidak apa. Nanti akan kuusahakan. Ayahanda selalu mendengarkan permintaanku.""Aku mungkin bisa ikut, Ming Hyun. Asalkan paman Beiye juga ikut menjagaku," celetuk Qiang Ruxia di sampingnya.Ming Hyun mendelik tajam ke arahnya. "Siapa bilang aku mau mengajakmu juga? Aku hanya menawarkannya pada Kak Suli."Seketika, wajah Qiang Ruxia yang ceria berubah datar. Rahangnya menegang, menahan gelembung emosi yang mendidih. Tidak, dia tak bisa menahan lagi. Dengan gerakan cepat, kakinya menyepak punggung Ming Hyun dengan keras.Bugh!"Sialan! Kau bukan temanku lagi!" umpat Qiang Ruxia. Lalu merangkul lengan Qiang Suli. "Ayo, Kak. Kita tinggalkan pria brengsek seperti itu."Ming Hyun perlahan bangkit dari tanah,

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 241

    Setelah menceramahi putranya, Qiang Jun kini mengulurkan tangan menarik Qiang Wangyi untuk berdiri.“Jika kau sudah sedikit lebih sadar dengan kesalahanmu, cepatlah kembali ke aula dan minta maaf pada Suli,” perintah Qiang Jun.Qiang Wangyi kembali berdiri tegak, sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang berdebu. “Nanti saja,” jawabnya, menolak dengan sikap ketus yang masih tersisa. “Aku tidak mau meminta maaf di depan kerumunan orang seperti itu.”Setelah mengatakan itu, Qiang Wangyi berbalik dan melangkah pergi begitu saja.Qiang Jun terdiam di tempat, dengan raut wajah keheranan, tak percaya dengan sikap Putranya itu.‘Astaga. Kenapa anakku bisa sangat menyebalkanseperti ini?’ gumamnya menggerutu dalam hati. Qiang Jun tak sadar dia pun sering kali bersikap persis seperti itu dulu sebelum bertemu dengan Istrinya.Sementara itu, di aula pesta yang masih berlangsung.Bisik-bisik di antara para bangsawan dan pejabat yang hadir masih terdengar, meski berusaha diredam oleh suara musik yang me

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 240

    Pemuda itu tersentak kaget ketika melihat sosok ayahnya tiba-tiba muncul di depannya. “A-Ayahanda?! Kenapa kau—”Tapi belum sempat bertanya, Qiang Jun sudah lebih dulu bergerak. Dengan gerakan cepat, dia meraih kerah pakaian Qiang Wangyi, dan menariknya turun dari dahan pohon.Qiang Wangyi terpelanting, lalu diseret pergi oleh Ayahnya seperti membawa anak kucing jalanan.“Akh!” teriak Qiang Wangyi meringis, sekaligus merasa sesak di leher karena kerah bajunya yang tertarik. Dia meronta-ronta. “Lepaskan aku! Ayahanda, lepaskan!”Di lapangan pelatihan ksatria istana yang luas.Qiang Jun melepas cengkeramannya yang kuat di leher Qiang Wangyi dengan sedikit kasar, hingga pemuda itu tersungkur.“Ugh! Kenapa Ayah tiba-tiba menyeretku ke sini?!” protes Qiang Wangyi. Perlahan bangkit sambil mengusap lehernya yang terasa panas, wajahnya masih merah oleh emosi dan rasa malu.Qiang Jun masih tak menjawab. Dia berjalan dengan menuju rak senjata di sisi lapangan, mengambil dua buah pedang latihan.

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 239

    Pertanyaan si pejabat tua itu sontak membuat mereka yang mendengarnya di aula istana ikut berbisik-bisik penasaran, seolah baru teringat akan sebuah masalah yang mengambang. Suasana yang tadi riang perlahan bergeser menjadi penuh dengan intrik dan desas-desus.“Benar juga. Kenapa tak diumumkan, ya?” “Tapi bukankah sudah jelas Pangeran Qiang Wangyi yang akan jadi penerus? Dia putra satu-satunya.” “Benar! Hanya dialah satu-satunya putra Kaisar yang sah.”Qiang Wangyi tentu saja mendengar bisikan-bisikan yang membelanya. Wajahnya yang tadi cemberut kini menyunggingkan seringai penuh kemenangan.Pandangannya yang menantang beralih ke arah adik perempuannya. “Kau dengar itu? Tentu saja hanya aku yang bisa menjadi pen—”Belum selesai berbicara dengan nada sombongnya itu, suara lain memotongnya. Sang Kaisar, Qiang Jun, akhirnya bersuara dengan tegas dan penuh wibawa.“Aku masih belum memutuskan, tidak perlu terburu-buru. Penetuan penerus tahta bisa ditunda sampai penerus itu benar-benar lay

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status