LOGIN
“Wahai rakyatku sekalian! Lihatlah!” suara Pangeran Edward menggema, memantul di dinding batu alun-alun.
“Inilah wanita hina yang telah membunuh Saintess Lilia! Wanita terkutuk ini telah menghilangkan saintess yang kita sayangi—saintess yang membawa kemakmuran bagi kita semua…!”Pidato itu menjadi aba-aba dimulainya selebrasi hukuman mati.
Alun-alun ibu kota Kerajaan Elseve telah sesak oleh lautan manusia. Bau keringat, debu, dan kemarahan bercampur di udara.
Wajah-wajah penuh kebencian menatap satu titik di tengah panggung eksekusi. Penyihir yang membunuh saintess Lilia ini juga harus mati!
Nyawa harus dibayar dengan nyawa!
“Kenapa kau tega sekali membunuh Saintess Lilia?! Bukankah beliau selalu baik padamu?” teriak seseorang dari kerumunan.
“Saintess yang malang! Mengapa dia harus mengasihi orang sepertimu juga?!”
“Kembalikan Saintess Lilia!”
“Wanita jalang yang penuh iri hati! Tidak pantas hidup sebagai bangsawan!”
“Mengapa kau tidak mati dari dulu saja?!”
“Mengapa kau harus terlahir dan menyusahkan kami semua?!”
Teriakan-teriakan itu datang silih berganti, berharap nyawa Aveline akan hilang hanya dengan cacian saja.
Pangeran Edward tidak berusaha menghentikannya. Ia justru tersenyum tipis—sinis dan dingin.
Bola matanya yang cokelat menatap Aveline dengan jijik.
Aveline berdiri diam di tengah guillotine. Tangannya terikat, tubuhnya lemah, namun pandangannya tetap tegak—tertuju pada satu orang.
Ashford.
Pria yang ia cintai duduk di antara para bangsawan, wajahnya datar, tatapannya dingin—berharap eksekusi mati ini tidak tertunda lebih lama lagi. Ashford tidak ingin melihat Aveline yang masih bernafas.
Tatapan itu menusuk lebih dalam daripada hinaan orang-orang saat ini. Hati Aveline terasa perih, serasa ditusuk perlahan.
Bagi para bangsawan tua, Aveline tak lebih dari hiburan menyedihkan. Alat sempurna untuk menghancurkan Duke Clement—bangsawan kaya yang selama ini membuat mereka iri.
Dengan kematian Aveline, semua yang telah Duke Clement bangun akan runtuh dan dapat direbut dengan mudah.
Dan Duke Clement sendiri—ayah kandungnya—bahkan tidak hadir.
Ia terlalu malu memiliki anak seperti Aveline.Membunuh Saintess Lilia adalah kejahatan besar.
Saintess dengan anugerah penyembuhan dan penjernihan limbah adalah pilar utama Kerajaan Elseve. Tanpanya, Kerajaan terbelakang ini tidak akan bertahan.
Dan ketika seorang saintess wafat, penggantinya tidak serta-merta muncul. Dalam dua generasi sebelumnya, dibutuhkan puluhan tahun sebelum saintess baru terlahir.
“Apa tidak ada kata terakhir yang ingin kau sampaikan?” tanya Pangeran Edward, suaranya terdengar seolah penuh belas kasih.
“Pengakuan dosa, mungkin? Siapa tahu, dengan itu, Dewa akan sedikit berbelas kasih dan meringankan hukumanmu.”Aveline mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah Edward.
Pangeran itu bergidik sesaat.
Wanita yang dulu selalu tampil anggun kini tampak sangat lusuh. Rambut halusnya kusut, dengan bagian-bagian botak akibat siksaan penjara. Wajah cantiknya penuh luka, dan beberapa giginya telah hilang.
Pemandangan itu justru membuat Edward tersenyum mengejek.
“Aku tidak bersalah,” ujar Aveline tegas.
Faktanya, ia memang tidak membunuh Saintess Lilia.
Selama bertahun-tahun, Aveline telah mengasingkan diri dari urusan Duke Clement maupun politik Kerajaan Elseve. Ia memilih hidup tenang, jauh dari istana dan segala tanggung jawab bangsawan.
Saat Saintess Lilia diracun, Aveline sedang merangkai bunga di rumah kecilnya di pinggir desa.
Namun, jawaban Aveline hanya menjadi percikan api.
Rakyat semakin murka. Batu-batu beterbangan, menghantam tubuh Aveline. Rasa sakit itu akhirnya meruntuhkan pertahanannya.
Aveline jatuh tersungkur, air mata mengalir deras dari matanya.
Ia kembali menatap Ashford—memohon, berharap, mencari secercah belas kasih.
Tak ada.
“Mulai!!!” teriak Edward lantang.
Dalam sekejap, bilah guillotine jatuh memenggal kepala Aveline.
Aveline Feliz Clement langsung tewas di tempat.
***
“Haah… haah… haaah…!”
Aveline terbangun dengan nafas tersengal. Tangannya refleks meraba leher, seolah masih merasakan dinginnya bilah besi. Ia bangkit tergesa dan berlari menuju cermin, memeriksa leher, rambut, juga giginya.
Semuanya utuh.
Tidak ada luka sedikit pun.
Kakinya melemas. Aveline terkulai di lantai, lalu menangis dan menjerit sejadi-jadinya, tubuhnya gemetar hebat.
“Nona… nona… ada apa, nona?” tanya Vivia panik.
Vivia, yang terkejut mendengar tangisan tuannya, menerobos masuk ke kamar tanpa berpikir panjang.
“Vi… Vivi juga masih hidup…” Aveline terisak, lalu menangis semakin keras.
“Huuuu… huwwwaaaaa…!”“Nona… nona kenapa?” Vivia segera jongkok, membantu Aveline untuk duduk.
Aveline tidak menjawab. Ia hanya memeluk Vivia erat, ia takut semuanya akan menghilang jika ia melepasnya. Aveline takut ini semua ini hanya mimpi.
Vivia akhirnya berhenti bertanya.
Ia hanya mengelus pundak Aveline, menenangkannya perlahan—meski ia tahu, setelah ini Aveline mungkin akan memukulnya karena telah lancang menyentuh tubuh seorang bangsawan.
“Nona sudah lebih tenang?” tanya Vivia pelan saat tangisan Aveline mulai mereda.
Aveline tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya perlahan.
Vivia pun memejamkan mata, bersiap menerima tamparan.
“Aku hanya melihat potensi bisnis yang bagus di bidang ini. Kau tentu tahu, keluargaku memiliki banyak bisnis,” jawab Aveline santai, seolah yang ia bicarakan hanyalah investasi biasa.Miller terdiam. Tatapannya turun ke meja, lalu ia mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa.Keheningan menggantung cukup lama, sampai akhirnya Miller menarik nafas dalam.“Berikan aku waktu untuk berpikir…” ucapnya pelan.Miller pun beranjak pergi, meninggalkan Aveline yang kembali menyantap makan siangnya. Hanya saja, Aveline tidak bisa makan siang dengan tenang.Tatapan sinis orang-orang dan bisik-bisik yang menyertainya. Jelas sekali Aveline adalah pusat gosip hari ini.BRAK!Meja tempat Aveline makan terguncang keras.Edward berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam, telapak tangannya masih menekan permukaan meja.“Hal busuk apa lagi yang kau rencanakan?!” bentaknya. “Apa kali ini kau akan melibatkan rakyat tak berdosa ke dalam permainanmu?! Edser hanyalah murid beasiswa! Dia bisa kehilangan beas
Aveline pun mulai menjalankan rencananya.Saat waktu makan siang tiba, Aveline membawa nampannya dan dengan santai duduk di kursi kosong di sebelah Miller.Miller Edser yang tengah hanyut dalam pusaran buku tebalnya langsung mengerutkan kening. Wajahnya jelas menunjukkan tanda tidak suka.Ia menutup buku dengan gerakan cepat, lalu mengangkat nampannya dan berniat pergi.“Aku berniat merekrut orang sepintar dirimu,” ucap Aveline tanpa basa-basi.“Kau butuh uang, bukan?”Gerakan Miller terhenti.Apa yang barusan dikatakan wanita yang tidak pernah berbicara denganku ini? – batin Aveline.Nampannya kembali diletakkan di atas meja, dan ia duduk perlahan, menatap Aveline dengan penuh kewaspadaan.“Dari mana kau tahu aku membutuhkan uang?” tanyanya curiga.Tentu saja dari novel. Dan dari empat kehidupan sebelumnya.Cerita tentang penyakit ibumu yang bertambah parah di tahun ini bahkan tidak pernah berubah selama empat kehidupan.“Tentu saja,” jawab Aveline tenang.“Rakyat biasa yang bersekol
Namun, Aveline memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.Ia malas berurusan dengan server error yang menjadi jawab di setiap pertanyaan penting.Aveline berjalan melewati Lilia dan para power rangers. Dengan hati yang dongkol, ia mulai menyantap makan siangnya. Hambar.Sepertinya rasa makanan ini mengikuti suasana hatinya yang mendung.Tak lama kemudian, Ashford dan Edward datang dan bergabung di meja Saintess Lilia.Edward melirik Aveline dengan senyum sinisnya, sementara Ashford hanya memandangnya datar.“Tambah lagi dua bodyguard,” gerutu Aveline dalam hati.“Lengkap sudah.”Melihat Lilia dan Ashford tertawa bersama, Aveline justru tidak merasakan apa pun.Dulu, Sarah adalah penggemar berat dua tokoh utama ini. Namun, menjalani empat kehidupan yang berakhir tragis perlahan mengikis rasa kagum itu—hingga tak tersisa apa pun selain kelelahan.Ia benar-benar ingin menjalani kehidupan tenang sebagai nona kaya.Menjadi pengajar di desa juga menyenangkan – pikir Aveline.Jika dipikirkan k
Bahkan petugas administrasi akademi pun tahu bahwa Aveline mengikuti Ashford masuk ke jurusan ilmu pedang.“Ya, saya yakin,” jawab Aveline mantap.“Saya ingin pindah ke jurusan ilmu sihir. Sepertinya ilmu pedang memang tidak cocok untuk saya.”Aveline lalu menyerahkan selembar formulir.“Saya juga sudah mengisi berkasnya.”Petugas administrasi menatap kertas itu lama, seolah memastikan bahwa yang ia baca tidak salah.“Kira-kira… kapan saya bisa mulai pindah ke jurusan sihir?” tanya Aveline.“Proses perpindahan jurusan paling lama satu minggu,” jawabnya akhirnya.“Nanti kami akan menghubungi anda mengenai tanggal pastinya. Di tanggal itu, anda sudah bisa masuk ke kelas sihir.”“Baik. Terima kasih,” ucap Aveline sopan sebelum berbalik pergi.Begitu pintu ruang administrasi tertutup, petugas itu menjatuhkan kertas yang dipegangnya.“Barusan…” gumamnya pelan, masih tertegun,“aku mendengar ucapan terima kasih, bukan?”***Belum sempat Aveline melangkah jauh, sebuah tangan mencengkeram per
Tahun ajaran baru telah dimulai, Aveline kembali menginjakkan kaki di akademi.Suasana hatinya mendadak buruk karena harus berpapasan dengan Ashford.“Mengapa aku harus melihat wajahnya di pagi hari yang cerah ini?” teriak Aveline dalam hati.Ashford berjalan keluar dari gerbang utama.Sial sekali rasanya karena ia tidak melihat Ashford dari kereta kuda tadi. Jika saja ia melihat Ashford, ia bisa memerintahkan kusir untuk berhenti sedikit jauh dari akademi untuk menghindar.Aveline yang diliputi rasa malas hanya menundukkan kepala sekilas sebagai bentuk penghormatan, lalu langsung melangkah masuk tanpa sepatah kata pun.Ashford mematung.Apa yang terjadi dengannya? pikir Ashford.Bukankah setiap kali melihatnya, Aveline selalu berlari menghampiri dengan mata berbinar?Bukankah gadis itu selalu mencari cara—bahkan mencuri kesempatan—untuk bertemu dengannya meski hanya sebentar?Aveline adalah tipe wanita yang tak segan menyelinap ke asrama pria hanya demi melihat wajah Ashford.Karena
[Kau harus membunuh Saintess Lilia dengan tanganmu sendiri. Hanya itu satu-satunya cara agar kau bisa bertahan hidup.]“Apa?” Aveline menegakkan punggungnya.“Apa kau gila? Mengapa aku harus membunuh Saintess yang baik itu?”“Di novel Lilia yang kubaca—dan di empat kehidupanku sebelumnya—Saintess Lilia selalu menjadi sosok yang benar-benar baik. Tidak ada manusia biasa yang bisa sebaik dan semurni dia!”“Aku punya pilihan untuk tidak mengikuti cerita aslinya dan tidak menjadi tokoh jahat, bukan?”[Tidak bisa. Sekali lagi kuingatkan, kau harus membunuhnya dengan tanganmu sendiri.][Jika tidak, kau akan terus mati dan hidup kembali seperti sekarang. Tak masalah jika kau tidak ingin menjadi tiran untuk membunuhnya. Kau bisa mengubah jalan cerita novel, asal Saintess Lilia tetap mati ditanganmu.]“Apa alasan di balik semua ini?” suara Aveline bergetar.“Jelaskan mengapa aku yang harus melakukannya!”[Server error!]“Mengapa aku yang terpilih untuk membunuh wanita sebaik itu?”“Aku bukan p







