INICIAR SESIÓN“KAU pasti ingin mencobanya, bukaaaannnn? Ini, cobalah... Aaaaaa....” goda Liam dalam hati.
[Kau sengaja mengejekku.]
“Memang...” sahut Liam dengan senyum tengil.
“Apanya yang memang?” tanya Giselle, bingung.
“Tidak, tidak ada. Aku hanya merasa sandwich ini ben
Aveline tertawa terbahak-bahak mendengarnya."Berarti aku hanya perlu bekerja dengan baik saja, bukan?""Pergilah selagi aku masih berbaik hati padamu!" hardik Louie lagi."Jika aku tidak ingin pergi, apa yang akan kau lakukan? Memfitnahku?"Aline dan Reya terlihat gugup.Sementara Louie?Tetap dengan wajah datarnya. Hanya saja, Aveline bisa melihat sedikit getaran di sudut matanya.Dia juga terlibat rupanya."Kau! Lihat saja nanti! Kau sudah salah memilih lawan!" teriaknya lgi.Louie pun pergi keluar, diikuti oleh Aline dan Reya.***Beberapa hari kemudian, Aveline mendengar kabar bahwa pajak yang harus disetorkan keluarga Clement kepada kerajaan mengalami kenaikan."Kurang ajar... Bisa-bisanya Louie memanfaatkan jabatan ayahnya sebagai Menteri Keuangan untuk memeras keluarga Clement..." batin Aveline.Miller yang menyadari perubahan wajah Aveline pun segera menghampirinya."Ada apa? Apa ada berita buruk?""Yaaa, sepertinya memang buruk. Namun, tidak seburuk itu juga..."Keluarga Cle
“KAU pasti ingin mencobanya, bukaaaannnn? Ini, cobalah... Aaaaaa....” goda Liam dalam hati.[Kau sengaja mengejekku.]“Memang...” sahut Liam dengan senyum tengil.“Apanya yang memang?” tanya Giselle, bingung.“Tidak, tidak ada. Aku hanya merasa sandwich ini benar-benar enak,” kilah Liam.Pria ini memang sangat pandai berkilah. Ia berbohong semudah bernafas.Setelah sandwich itu habis, Altair muncul dari pintu dan menyampaikan informasi yang selama ini ditunggu Liam.Aveline Feliz Clement baru saja mengirimkan permintaan informasi mengenai Liam kepada guild informasi mereka.
"Uang memang yang terbaik."Cliff menatap tumpukan emas di hadapannya dengan penuh kepuasan."Semua ini berkatmu..."[Maka dari itu, kau harus membayar hutangmu padaku.]"Ck! Kau sudah seperti pesugihan saja."Cliff menatap layar itu dengan wajah bingung.[Apa itu pesugihan?]Cliff terdiam beberapa saat."...never mind."Belum sempat ia melanjutkan percakapan, suara keras terdengar dari luar.BRAK!Pintu ruang kerja terbuka lebar."Hai, sobat yang seenaknya meminjam namaku!"Seorang pria masuk tanpa permisi."Kapan kau kembali ke Uruk? Mengapa kau tidak mengabariku tentang kepulanganmu?"Cliff langsung menoleh dengan malas."Siapa yang menggunakan namamu?"Ia menghela napas."Kuingatkan sekali lagi, nama kita memang sama."Pria itu adalah Cliff, Perdana Menteri Kerajaan Uruk.Ia berjalan santai memasuki ruangan, kemudian langsung duduk di kursi seolah itu adalah ruang kerjanya juga.Matanya sempat melirik ke arah brankas yang baru saja dibuka Cliff.Senyum tipis muncul di wajahnya."K
"Kau benar-benar hobi menyiksaku, sepertinya..." gumam Ash sambil mengusap pantatnya yang masih terasa sakit.Miller, yang sudah terbiasa dengan kehadiran Ashford di ruang klub, memilih mengabaikan pria itu sepenuhnya.Miller kembali melanjutkan aktivitasnya untuk berpacaran dengan buku."Tidak ada hukuman untukmu kali ini. Raja menganggap kejadian ini hanya kesalahpahaman biasa. Beliau hanya berpesan agar kau berdamai dengan Lilia dan Edward. Bagaimanapun, yang bersalah padamu bukan mereka, kan?"Ashford mulai berdiri dan berjalan menuju sofa.Sementara itu, debaran jantung Aveline belum bisa kembali normal.Ia benar-benar tidak ingin menatap Ashford.“Wajahku pasti merah sekali. Arrghhh! Memalukan!” gerutu Aveline dalam hati."Baiklah... Akan saya pikirkan," jawab Aveline akhirnya. "Tapi tentu saja saya tidak akan meminta maaf kepada Catherine Drake. Selain itu, saintess Lilia dan pangeran Edward harus meminta maaf atas kesalahan mereka juga."Aveline kembali menekankan batasannya.
Aveline berharap messenger aneh itu setidaknya bisa memberikan informasi yang berguna tentang Cliff."Kalau memang secanggih itu, kasih tahu aku siapa sebenarnya pria itu."Seolah mendengar pikirannya, layar transparan itu kembali muncul.[Perdana Menteri Clifford merupakan lulusan terbaik Akademi Askeri. Ia adalah salah satu perdana menteri termuda dalam sejarah Kerajaan Uruk. Dengan wawasan yang luas serta hobinya berkeliling dunia, ia berhasil menciptakan berbagai terobosan yang mendorong kemajuan Uruk.]Mata Aveline membesar.Wow!Biasanya sistem tak kasat mata ini hanya memunculkan server error tanpa alasan yang jelas.Kali ini ternyata cukup berguna."Kalau begitu..." gumam Aveline pelan. "Apa Clifford anggota keluarga kerajaan?"[Bukan. Beliau rakyat biasa yang berhasil mencapai posisinya melalui kerja keras.]Aveline semakin bingung."Tunggu dulu..."Bukankah Raja tadi jelas membahas pernikahan keluarga kerajaan?Kalau Clifford bukan bangsawan kerajaan, lalu siapa yang dimaksu
“Apa yang kau lakukan?!”Suara Ashford menggema di seluruh kantin begitu ia tiba di lokasi.Seperti biasa.Bahkan tanpa bertanya lebih dulu, tatapan tajamnya langsung tertuju pada Aveline.Aveline hanya mendesah pelan.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengambil semangkuk sup di meja terdekat, lalu menyiramkannya ke seragam Ashford.Ketegangan kian bertambah.“Kau...!” geram Ashford. Wajahnya memerah, antara marah dan tidak percaya.Aveline mengangkat kedua tangannya, seolah sedang mempersembahkan Ashford kepada semua orang yang menyaksikan.“Nah, lihatlah baik-baik!”“Begitulah yang terjadi padaku beberapa menit yang lalu.”Ia menatap seluruh penghuni kantin satu per satu.“Bahkan Duke Muda yang selalu menjunjung etika pun marah ketika pakaiannya dikotori dan ditertawakan.”“Kalau begitu, mengapa aku tidak boleh marah?&rdq
Bahkan petugas administrasi akademi pun tahu bahwa Aveline mengikuti Ashford masuk ke jurusan ilmu pedang.“Ya, saya yakin,” jawab Aveline mantap.“Saya ingin pindah ke jurusan ilmu sihir. Sepertinya ilmu pedang memang tidak cocok untuk saya.”Aveline lalu menyerahkan selembar formulir.“Saya juga
Tahun ajaran baru telah dimulai, Aveline kembali menginjakkan kaki di akademi.Suasana hatinya mendadak buruk karena harus berpapasan dengan Ashford.“Mengapa aku harus melihat wajahnya di pagi hari yang cerah ini?” teriak Aveline dalam hati.Ashford berjalan keluar dari gerbang utama.Sial sekali
[Kau harus membunuh Saintess Lilia dengan tanganmu sendiri. Hanya itu satu-satunya cara agar kau bisa bertahan hidup.]“Apa?” Aveline menegakkan punggungnya.“Apa kau gila? Mengapa aku harus membunuh Saintess yang baik itu?”“Di novel Lilia yang kubaca—dan di empat kehidupanku sebelumnya—Saintess L
Namun, Aveline tidak menampar Vivia.Ia justru memeluk pelayan itu lebih erat dan terus menangis. Untuk saat ini, ia belum sanggup melepaskan diri.Tangis Aveline baru mereda saat pelayan lain masuk ke kamar, menyampaikan bahwa ayah dan kakak laki-lakinya telah menunggu di ruang makan untuk sarapan







