Share

Bab 3

Penulis: Bilkis29
last update Tanggal publikasi: 2026-06-17 08:08:49

Tekad Rina makin kuat. Ia melihat perubahan kecil.

Dimas mulai gelisah. Ia tidak lagi bisa meminta uang seenaknya, tidak lagi bisa menuntut layanan batin kalau ia sendiri tidak memberi apa-apa, dan tidak lagi bisa melempar semua kesalahan begitu saja.

Harga diri palsunya yang selama ini ia bangun di atas penderitaan Rina, perlahan runtuh satu per satu.

Rina tahu perjuangannya belum selesa,.

hutang masih ada, beban hidup masih berat, dan sifat Dimas belum berubah total.

Tapi setidaknya, ia sudah merebut kembali harga dirinya sendiri. Ia tidak lagi menjadi istri yang diam ditindas, tidak lagi menjadi sapi perah tanpa suara, dan tidak lagi membiarkan suaminya menikmati haknya tanpa mengerjakan kewajibannya.

Penolakan demi penolakan yang Rina berikan membuat Dimas semakin tidak karuan emosinya.

Bagi lelaki itu, Rina yang dulu penurut, lemah, dan selalu ada untuk memenuhi segala keinginannya seolah telah berubah menjadi orang asing yang berani menentang setiap kata-katanya.

Ke mana pun ia melangkah di rumah itu, ia hanya menemui pembatasan: tidak ada uang tambahan, tidak ada makanan enak kalau tidak ada hasil kerja, dan yang paling membuatnya geram—tidak ada lagi pelayanan batin yang ia tuntut sebagai hak mutlaknya.

Malam itu, amarah Dimas meledak habis-habisan. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tengah, tangannya mengepal kuat.

Wajahnya merah padam menahan rasa frustrasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa dikuasai, merasa kehilangan kekuasaan yang selama ini ia nikmati begitu saja.

Dan dalam kepalanya yang sempit, satu-satunya cara untuk membalas, untuk membuat Rina merasa bersalah atau cemburu, adalah dengan mengancam akan mencari wanita lain.

Ia berhenti berjalan tepat di depan Rina yang sedang duduk tenang melipat baju bekas kerjanya.

Ia menatap tajam, lalu berteriak sekeras-kerasnya agar suaranya menggema ke seluruh penjuru rumah.

"Kamu dengar baik-baik ya, Rina! Kamu kira aku butuh sama kamu? Kamu pikir aku akan terus diam saja diperlakukan seperti sampah begini?

"Kamu menolak melayaniku, kamu pelit uang, kamu tidak mau tahu rasa suamimu! Baiklah kalau begitu! Ingat kata-kataku ini: aku tidak akan diam saja".

"Aku laki-laki, aku punya kebutuhan! Kalau di rumah ini aku tidak dihargai, kalau kamu tidak mau memberiku kepuasan dan hakku, jangan salahkan aku kalau aku mencarinya di luar sana!"

"Ada banyak wanita di luar sana yang jauh lebih cantik, jauh lebih penurut, dan jauh lebih tahu diri dibandingkan kamu!"

Wanita yang tidak pelit, wanita yang mau melayani suaminya dengan senang hati!"

Kamu pikir aku tidak bisa dapat yang lebih baik dari kamu? Silakan saja kamu bersikap keras kepala begini, nanti kamu yang menyesal kalau aku sudah punya wanita lain di luar sana!".

Dimas berhenti berteriak, napasnya memburu. Ia menatap Rina tajam, berharap melihat air mata, berharap melihat wajah cemburu, ketakutan, atau setidaknya kepanikan di wajah istrinya.

Ia yakin ancaman ini adalah senjata paling ampuh.

Ia yakin Rina akan memohon, akan menangis, dan kembali menuruti semua kemauannya demi mempertahankan rumah tangga mereka.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat Dimas merasa seolah dipukul keras di dada.

Rina tidak berteriak, tidak menangis, tidak memohon. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun.

Tangannya terus bergerak melipat kain dengan tenang, wajahnya datar, tanpa ekspresi sama sekali.

Seolah-olah kata-kata ancaman besar itu hanyalah angin lalu yang tak berarti apa-apa baginya.

Setelah selesai melipat satu tumpukan baju, baru Rina mengangkat wajahnya perlahan.

Ia menatap Dimas dengan tatapan yang sangat dingin, datar, dan lelah—tatapan yang membuat Dimas merasa kecil dan tidak berdaya.

Rina tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menyenangkan, melainkan senyum kelegaan yang telah lama ia simpan.

"Mas mau cari wanita lain di luar sana? Mau cari kepuasan sama wanita yang lebih cantik, lebih penurut, dan lebih tahu diri katamu?" suaranya rendah, tenang, dan sangat jelas.

"Ya sudah... silakan saja, Mas. Aku tidak melarang. Silakan saja kamu cari wanita lain di luar sana, sebanyak apa pun yang kamu mau."

Dimas ternganga, mulutnya terbuka sedikit karena kaget. Ia bersiap untuk mendengar tangisan atau pertengkaran panjang, tapi jawaban itu... jawaban itu bukan apa yang ia harapkan.

"Kamu... kamu tidak gila? Kamu bilang silakan saja?" tanya Dimas terbata-bata, marah sekaligus bingung.

"Kamu tidak takut aku pergi? Kamu tidak takut aku tinggalkan kamu? Kamu tidak takut aku bawa wanita lain ke sini?"

Rina mengangguk pelan, lalu kembali menunduk melanjutkan pekerjaannya, seolah pembicaraan ini sudah selesai dan tidak penting lagi.

"Memang silakan, Mas. Apa yang harus aku takutkan? Selama ini kamu ada di sampingku, rasanya sama saja seperti tidak ada."

" Kamu tidak menafkahiku, kamu tidak membantuku, kamu cuma bikin susah dan malu saja".

"Kalau kamu mau pergi mencari wanita lain, atau mau bersenang-senang di luar sana... justru itu kabar baik buatku."

Rina berhenti sejenak, lalu menatap lurus ke mata Dimas yang mulai gelisah.

"Mas mau cari wanita yang mau dilayani, mau diberi uang, mau dihargai? Silakan cari".

"Tapi ingat satu hal, Mas. Wanita yang cantik dan penurut itu biasanya juga butuh laki-laki yang bertanggung jawab, laki-laki yang punya penghasilan, laki-laki yang bisa memberi mereka makan dan nafkah".

"Bukan laki-laki yang malas, yang cuma bisa duduk diam di rumah, yang hidupnya numpang sama istrinya, dan yang punya banyak hutang diam-diam gara-gara kelakuannya sendiri."

Rina berdiri, membersihkan debu di bajunya, lalu berjalan melewati Dimas tanpa rasa takut sedikit pun.

" Aku malah berterima kasih kalau kamu benar-benar pergi. Setidaknya beban di pundakku akan berkurang satu, dan aku tidak perlu lagi pusing memikirkan makanmu atau hutang-hutang yang timbul gara-gara kamu".

Jadi... silakan saja, Mas. Pintu itu terbuka. Silakan cari kepuasanmu di mana saja. Jangan khawatir, aku tidak akan menahanmu sedikit pun."

Kata-kata itu menghantam dada Dimas lebih keras daripada pukulan fisik.

Ia ingin marah lagi, ingin berteriak lebih keras, tapi kata-kata itu terasa benar dan tajam, menusuk ke dalam hati nuraninya yang sudah mati rasa. Ia sadar, ancamannya itu tidak lagi berharga.

Rina tidak lagi peduli. Rina tidak lagi takut kehilangan dia. Justru sebaliknya, Rina seolah berharap ia benar-benar pergi.

Dimas berdiri kaku di tengah ruangan, wajahnya merah padam bukan lagi karena marah, tapi karena rasa malu yang membakar dirinya sendiri. Ia merasa kalah telak.

Senjata andalannya telah patah di tangan sendiri. Ia tidak punya kuasa lagi atas istrinya.

Dengan gerakan kasar dan kecewa karena ancamannya tidak mempan, Dimas menggebrak meja sekali lagi, lalu berjalan masuk ke kamar, membanting pintu sekeras-kerasnya.

Ia berteriak dari dalam kamar, suaranya melengking karena kesal: "Tunggu saja! Kamu akan menyesal! Aku benar-benar akan pergi dan tidak akan kembali! Kamu akan menangis minta aku pulang nanti!"

Rina yang masih berdiri di ruang tengah hanya menghela napas panjang, lalu tersenyum sendirian.

Ia tidak merasa sedih, tidak merasa cemas. Justru ada rasa lega yang luar biasa menyelinap di hatinya.

Malam itu, Dimas tidak tidur. Ia berguling-guling di kasur, memikirkan nasibnya. Ia ingin pergi, tapi ke mana?

Ia tidak punya uang sepeser pun di saku. Ia ingin mencari wanita lain, tapi sadar betul: wanita mana yang mau sama laki-laki pengangguran, pemalas, dan tidak punya apa-apa selain mulut yang besar?

Ia terjebak dalam kemalasannya sendiri, dan kini istrinya yang dulu ia injak-injak harga dirinya, telah berdiri tegak dan menatapnya dengan pandangan yang menganggapnya tidak berharga.

Sementara itu, Rina tidur dengan tenang malam itu. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidur tanpa rasa takut, tanpa rasa bersalah, dan tanpa rasa terancam. Ia sudah mengatakan apa yang ada di hatinya, dan ia berarti apa yang ia katakan.

Silakan saja cari wanita lain, Mas. Silakan saja pergi. Karena bagiku, kehilanganmu bukanlah kerugian, tapi sebuah kebebasan yang sedang aku nantikan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 19

    “Baiklah, aku siap melakukan apa saja demi kita,” jawab Dimas dengan penuh keyakinan. Di dalam hatinya, ia justru merasa senang dengan rencana ini. Bukan hanya karena bisa lebih jauh dari Rina, tapi juga karena di Bandung ia akan memiliki posisi yang lebih baik, gaji yang mungkin lebih besar, dan jauh lebih mudah untuk menyembunyikan semua uang yang ia kumpulkan tanpa diketahui siapa pun. Tapi ia tidak mengatakan hal itu pada Sari. Ia hanya tersenyum dan berkata, “Aku akan tunjukkan bahwa keputusan Ibu—eh, maksudku keputusan Sayang ini benar. Aku akan bekerja sebaik mungkin di Bandung, supaya kamu tidak menyesal.” Sari tersenyum bahagia dan mencium kening Dimas. “Itu yang aku harapkan. Ingat terus, jaga rahasia ini seketat mungkin. Sampai kita siap untuk membuka semuanya nanti, tidak boleh ada satu orang pun yang tahu.” “Janji,” jawab Dimas singkat, sambil memeluk Sari kembali. Mereka berdua duduk berdiskusi lebih lanjut mengenai cara menyampaikan hal ini pada Anto dan reka

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 18

    Sementara itu, di rumah sederhana , malam itu terasa sangat panjang dan menyiksa bagi Rina. Sejak Dimas pergi keesokan harinya, tidak ada kabar sama sekali. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam, lalu satu pagi, namun Dimas belum juga pulang. Rina duduk di tepi kasur dengan lampu kamar yang menyala redup. Beberapa kali ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Dimas, berharap suaminya akan mengangkat teleponnya. Namun setiap kali hanya terdengar suara dering yang berulang, dan akhirnya berakhir dengan pesan bahwa nomor yang dituju sedang tidak dapat dihubungi. Dimana dia? Kenapa tidak ada kabar sama sekali? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Atau apakah dia masih marah padaku karena hal kemarin? Rina terus bertanya-tanya dalam hati. Ia merasa cemas, takut, dan sedih bercampur jadi satu. Ia tidak pernah menyangka bahwa di luar sana, saat ia menunggu di rumah yang sepi, Dimas sedang bersenang-senang bersama wanita lain yang jauh lebih kaya dan menarik darinya.

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 17

    Rina mengangguk pelan, lalu membuka pintu dan keluar dari rumah dengan langkah yang berat. Sebelum pintu tertutup, ia sempat melirik sekali ke arah Dimas yang kembali duduk di sofa dan membuka ponselnya lagi, kali ini wajahnya kembali terlihat senyum-senyum sendiri seperti tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi. Saat Rina benar-benar pergi dan tidak terlihat lagi, Dimas segera berdiri dan kembali membaca pesan dari Bu Sari. "Sudah siap belum? Aku sudah siapkan teh dan kue kesukaanmu. Jangan terlambat ya." Dimas tersenyum lebar kali ini, jauh berbeda dengan wajah marahnya pada Rina tadi. Ia mengetik balasan dengan cepat: "Siap Bu. Aku akan berangkat sekarang. Terima kasih sudah menunggu." Di dalam hati Dimas, ia merasa puas dan lega. Dengan mengusir Rina sebentar dan membuatnya merasa rendah diri, ia bisa bebas pergi menemui Bu Sari sesuai rencananya. Ia tidak peduli sama sekali bahwa Rina hanya ingin terlihat rapi dan baik, atau bahwa perkataannya itu sangat menyakiti

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 16

    Mendengar kata-kata itu, air mata Rina kembali menetes. "Ibu… kenapa harus terburu-buru begitu? Rina masih ingin belajar dari Ibu. Tapi kalau memang harus begitu, semoga perjalanan Ibu selamat sampai tujuan ya." "Iya Nak, terima kasih. Jangan marah sama Dimas terlalu lama ya. Ibu pamit dulu," jawab Ibu Dimas, lalu segera berjalan mengikuti Dimas menuju pintu depan. Rina hanya bisa berdiri di sana, menyaksikan mereka berdua pergi. Ia merasa sangat bingung. Kemarin ibunya Dimas masih bersikap ramah dan manis, tapi hari ini malah pergi dengan terburu-buru. Ia tidak menyadari bahwa semua ini adalah bagian dari rencana Dimas yang lebih besar. Sebenarnya, alasan utama Dimas menyuruh ibunya pulang bukanlah karena ada urusan di kampung. Ia khawatir sekali. Ia sudah mulai menjalin kedekatan dengan Bu Sari, dan hubungan mereka semakin erat. Ia tidak ingin ibunya atau Rina melihat atau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, apalagi jika suatu saat nanti ia harus mendua dan berinter

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 15

    "Ada apa ini? Kenapa kalian berdua berteriak dan bertengkar malam-malam begini?" tanya Ibu Dimas dengan suara yang tegas namun khawatir, lalu langsung menghadap ke arah Rina. "Rina, kamu tidak apa-apa nak? Kenapa kamu menangis?" Mendengar suara ibunya, Dimas hanya mengangkat bahu santai. "Nggak apa-apa Bu, cuma Rina saja yang sensitif sekali. Aku cuma bilang ke dia supaya dia lebih jaga penampilan dan kebersihan saja." "Kamu bicara apa itu?" Ibu Dimas langsung menatap anaknya dengan tajam. "Meskipun Rina itu tidak punya banyak uang, dia sudah bekerja keras menjaga rumah dan melayani kita selama ini. Kamu kok bisa bicara kasar dan menghina dia begitu? Bau asem apa yang kamu maksud? Dia sudah mandi dan merawat diri seperti biasa." Ibu Dimas kemudian berbalik menghadap Rina dan memegang bahu menantunya itu. "Jangan didengarkan kata-kata kasar anakku ya, Nak. Dia cuma sedang capek dan tidak berpikir panjang. Ibu minta maaf atas perkataan anakku itu." Namun yang tidak diduga oleh

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 14

    Malam itu sudah cukup larut saat Dimas sampai di rumah. Jalanan sudah sepi dan udara terasa dingin, namun di dalam hatinya Dimas penuh dengan rasa bangga dan kepuasan yang tidak ia tunjukkan. Ia baru saja kembali dari rumah Sari, dengan perasaan bahwa ia sudah mendapatkan peluang besar dan dukungan dari wanita yang sangat ia inginkan. Saat ia membuka pintu rumah, cahaya lampu ruang tamu masih menyala terang. Rina sudah duduk menunggunya sejak tadi, dengan wajah yang tampak cemas dan menunggu. Begitu mendengar suara pintu terbuka, Rina segera berdiri dan menghampiri suaminya. "Mas, kamu sudah pulang. Aku sudah siapkan makanannya tadi, sudah dihangatkan lagi. Kamu pasti lelah sekali ya, makan dulu ya supaya tenagamu kembali," ucap Rina dengan suara lembut, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya. Namun Dimas hanya mengangguk pelan, wajahnya tidak terlihat senyum seperti biasa. Ia melepas jaketnya dan meletakkannya di kursi, lalu duduk santai sambil menghela napas panjang.

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 1

    "Rina,Rina ......kamu bangun saja lama sekali, apa kamu mau kami kelaparan terus?" suara Dimas meledak, nada bicaranya tinggi dan penuh amarah, padahal Rina baru saja duduk di pinggir kasur. Rina menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. "Maaf, Mas. Aku cuma ingin istirahat sebentar saja,

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 5

    Rina turun dari motor, melepas helm, dan melangkah masuk ke rumah. Langkah kakinya terhenti sejenak begitu masuk ke ruang tengah. Ia melihat lantai mengkilap bersih, tidak ada debu sedikit pun. Baju-baju yang biasanya menumpuk sudah tergantung rapi di jemuran. Semua barang tertata dengan bai

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 4

    Keesokan harinya Dimas hanya diam saja duduk di depan rumah. Seperti biasa, Rina memasak dulu sebelum berangkat kerja. Ia bergerak ke sana kemari di dapur, menyiapkan makanan seadanya, namun tidak sekalipun ia menoleh ke arah suaminya. Tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, Rina meletakkan kunci

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 2

    Suatu malam, saat Dimas sudah tidur pulas setelah menghabiskan sisa uang yang Rina dapatkan hari itu, Rina duduk di lantai dekat jendela. Di tangannya ada secarik kertas berisi daftar nama orang yang harus ia bayar. Angka-angka itu seolah menatapnya dengan sinis. Ia memegang dadanya yang terasa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status