로그인Keesokan harinya Dimas hanya diam saja duduk di depan rumah.
Seperti biasa, Rina memasak dulu sebelum berangkat kerja. Ia bergerak ke sana kemari di dapur, menyiapkan makanan seadanya, namun tidak sekalipun ia menoleh ke arah suaminya. Tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, Rina meletakkan kunci rumah di meja dan berjalan menuju pintu depan. Dimas yang melihat itu hanya menunduk dalam. Di dalam hatinya, ia bergumam pelan, "Bagaimana ini... istriku sudah tidak menurut lagi padaku. Dulu segala perkataanku ia turuti, sekarang ia berjalan sendiri seolah aku tak ada di sini." Saat Rina melangkah melewati teras, Dimas akhirnya memberanikan diri bersuara, meski nadanya masih berat dan ragu. "Rina..." panggilnya pelan. Rina berhenti sejenak, tapi tidak berbalik badan. "Ada apa, Mas?" suaranya datar, tanpa nada lembut seperti dulu. Dimas mengeratkan genggaman di pinggir kursi. "Kau... kau mau pergi begitu saja? Tidak mau pamit padaku? Dulu kau selalu minta izin, dulu kau selalu menuruti apa yang aku katakan." Rina akhirnya membalikkan badan. Wajahnya terlihat lelah, namun matanya menatap tajam ke arah Dimas. "Mas," jawabnya tenang namun tegas, "Dulu aku menuruti semua perkataanmu karena aku pikir itu yang terbaik untuk kita. Aku mendengarkan, aku melayani, aku selalu ada di sampingmu". "Tapi selama ini, apa yang kau berikan padaku selain perintah dan kebisuan? Kau hanya diam, kau tidak mau bicara, kau tidak mau mengerti apa yang aku rasakan." Dimas terkejut mendengar jawaban itu. Ia membuka mulutnya, tapi tak ada kata yang keluar. "Aku bukan tidak mau menurut, Mas," lanjut Rina sambil menghela napas panjang". "Aku hanya lelah menjadi satu-satunya yang berusaha menjaga hubungan ini. Kalau kau ingin aku mendengarkanmu kembali, cobalah bicara padaku". " Bukan hanya memberi perintah, tapi juga mendengarkan aku. Sekarang aku harus kerja, nanti sore aku pulang." Tanpa menunggu jawaban Dimas, Rina kembali berbalik dan melangkah pergi meninggalkan halaman rumah. Dimas terdiam kaku di tempat duduknya. Kata-kata istrinya tadi terasa menusuk tepat di hatinya. Ia baru sadar, bahwa selama ini ia hanya menuntut ketaatan, tapi lupa memberikan perhatian dan bicara dari hati ke hati. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, dan untuk pertama kalinya, ia merasa ada yang salah besar dengan sikapnya sendiri. "Apakah aku yang salah selama ini?" batinnya bertanya dalam keraguan yang mulai memenuhi pikirannya. Dimas masih duduk diam di kursi teras. Hatinya bingung sekali. Di satu sisi ia merasa takut kehilangan Rina, tapi di sisi lain, gengsi dan egonya masih berat sekali untuk diturunkan. Ia menunduk dalam, tangannya meremas ujung baju dengan gelisah. "Aneh sekali... kenapa aku harus merasa seperti ini? Dulu aku yang memegang kendali, sekarang aku malah takut ditinggalkan," batinnya bergumam pelan. "Padahal harusnya dia yang menurut padaku". "Tapi kalau aku terus bersikap begini, bisa-bisa dia benar-benar pergi dan tidak kembali lagi". "Aku harus menurut pada istriku, biarkan saja aku takut hidup di luar sana sendirian. Aku tidak punya pekerjaan, tidak punya penghasilan, tidak bisa apa-apa kalau tidak ada dia. Bagaimana ini? Kalau dia pergi, aku mau makan apa? Mau hidup bagaimana?" Pikirannya makin kalut. Ia sadar betul, selama ini semua kebutuhan hidup mereka ditanggung oleh kerja keras Rina. Ia hanya diam, duduk, dan menuntut dilayani, tanpa pernah berusaha membantu atau ikut bekerja. Rasa takut itu perlahan mengalahkan egonya yang besar. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat. Ternyata Rina lupa membawa bekal makan siang, jadi ia kembali lagi ke rumah. Ia terkejut melihat Dimas masih duduk di tempat yang sama, wajahnya pucat dan bingung sekali. Dimas menoleh perlahan. Ia ingin bicara tegas seperti dulu, tapi suaranya keluar pelan dan gemetar, takut Rina akan marah atau pergi lagi. "Ri... Rina..." panggilnya terbata-bata. "Jangan... jangan marah terus sama aku ya." Rina mengangkat alis, sedikit heran mendengar nada bicara suaminya yang berubah. "Memangnya kenapa, Mas? Aku tidak marah, aku cuma harus kerja supaya kita bisa makan." Dimas menelan ludah, lalu melanjutkan dengan susah payah, menahan gengsinya yang tinggi itu. "Aku... aku sadar aku salah. Aku cuma diam saja, tidak kerja, tidak bantu apa-apa. Kalau kamu pergi, aku... aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak bisa apa-apa sendirian, Ri. Aku takut..." Matanya mulai berkaca-kaca. Egonya runtuh seketika digantikan rasa takut yang besar. "Kamu mau apa, aku akan turuti. Aku akan menurut sama kamu. Asal jangan tinggalkan aku. Aku malu, aku tidak punya apa-apa, tidak bisa cari uang sendiri. Maafkan aku ya, Ri..." kata Dimas sambil menundukkan kepala dalam-dalam, seolah sedang memohon. Rina terdiam mendengar pengakuan itu. Ia tidak menyangka suaminya yang biasanya keras dan selalu ingin dituruti, kini berubah menjadi begitu takut dan lemah. Ia menghela napas panjang, lalu berkata dengan nada yang sedikit melembut tapi masih tegas. "Mas, aku tidak pernah minta kamu menurut saja seperti anak kecil". " Aku cuma minta kamu mau diajak kerja sama, aku kerja banting tulang dari pagi sampai sore, sementara kamu di rumah diam saja" . Kalau kamu sadar dan mau berubah, baru kita bisa bicara baik-baik. Kalau cuma mau menurut karena takut saja, itu tidak cukup, Mas." Dimas mengangguk cepat, wajahnya penuh harap. "Aku mengerti, Ri. Aku janji akan berubah. Apa saja yang kamu suruh, akan aku kerjakan. Jangan pergi ya..." Rina menatap suaminya lekat-lekat, lalu mengambil bekal yang tertinggal di meja. "Baiklah, aku dengar janjimu ini. Sekarang aku berangkat kerja dulu. Nanti sore kalau aku pulang, kita bicarakan lagi. Dan ingat, Mas... mulai hari ini, di rumah juga ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Jangan cuma duduk diam saja." Rina berjalan pergi kembali, meninggalkan Dimas yang masih duduk diam, tapi kali ini perasaannya sudah berbeda. Ia bertekad dalam hati, apa pun yang terjadi, ia harus berubah dan mendengarkan Rina, karena tanpa wanita itu, hidupnya pasti akan hancur. Dengan tangan yang masih gemetar karena ketakutan, Dimas bergegas masuk ke dalam rumah. Ia ingat betul kata-kata Rina tadi pagi, dan rasa takut ditinggalkan itu membuatnya berani melakukan hal yang belum pernah ia kerjakan sebelumnya. Ia mengeluarkan tumpukan baju kotor yang ada di sudut kamar, lalu membawanya ke ruang cuci. Ia agak bingung melihat mesin cuci itu, tapi ia coba mengingat-ingat cara Rina menggunakannya. Perlahan tapi pasti, ia memasukkan baju-baju itu, menuangkan sabun, dan menekan tombol-tombolnya sampai mesin itu berbunyi dan berputar. Hatinya sedikit lega saat melihat semuanya berjalan lancar. Setelah selesai mencuci dan menjemur, ia tidak berhenti di situ. Ia mengambil kain pel dan ember berisi air. Lalu mulai mengelap lantai rumah dari ujung ke ujung. Ia berusaha membersihkan setiap sudut yang berdebu, menyusun barang-barang yang berantakan, hingga rumah tampak bersih, rapi, dan terang sekali. Sambil bekerja, pikirannya terus berputar. Ia sadar sekarang, selama ini sifatnya yang suka marah-marah dan keras kepala itu hanyalah topeng belaka. Ia marah bukan karena ia benar atau berkuasa, tapi hanya untuk menutupi kenyataan pahit. iIa tidak punya pekerjaan, tidak bisa apa-apa, dan sangat bergantung pada istrinya. Egonya yang tinggi itu ia gunakan supaya Rina tidak tahu betapa lemah dan takutnya dirinya sebenarnya. "Aku ini bodoh sekali," batinnya menyesal sambil mengelap keringat di dahi. "Selama ini aku berlagak menjadi tuan rumah, padahal aku cuma beban buat dia". "Aku marah-marah supaya dia takut dan tidak berani meninggalkanku. Padahal justru sikapku itu yang bikin dia capek dan sakit hati. Aku egois sekali... aku cuma memikirkan perasaanku sendiri, tanpa peduli betapa lelahnya dia bekerja keras demi kita berdua." Waktu berlalu begitu cepat, dan matahari mulai condong ke barat. Suara motor Rina terdengar masuk ke halaman rumah. Jantung Dimas berdegup kencang. Ia berdiri di dekat pintu dengan cemas, tangan berkeringat dingin, takut kalau-kalau apa yang ia kerjakan tadi masih kurang atau salah.“Baiklah, aku siap melakukan apa saja demi kita,” jawab Dimas dengan penuh keyakinan. Di dalam hatinya, ia justru merasa senang dengan rencana ini. Bukan hanya karena bisa lebih jauh dari Rina, tapi juga karena di Bandung ia akan memiliki posisi yang lebih baik, gaji yang mungkin lebih besar, dan jauh lebih mudah untuk menyembunyikan semua uang yang ia kumpulkan tanpa diketahui siapa pun. Tapi ia tidak mengatakan hal itu pada Sari. Ia hanya tersenyum dan berkata, “Aku akan tunjukkan bahwa keputusan Ibu—eh, maksudku keputusan Sayang ini benar. Aku akan bekerja sebaik mungkin di Bandung, supaya kamu tidak menyesal.” Sari tersenyum bahagia dan mencium kening Dimas. “Itu yang aku harapkan. Ingat terus, jaga rahasia ini seketat mungkin. Sampai kita siap untuk membuka semuanya nanti, tidak boleh ada satu orang pun yang tahu.” “Janji,” jawab Dimas singkat, sambil memeluk Sari kembali. Mereka berdua duduk berdiskusi lebih lanjut mengenai cara menyampaikan hal ini pada Anto dan reka
Sementara itu, di rumah sederhana , malam itu terasa sangat panjang dan menyiksa bagi Rina. Sejak Dimas pergi keesokan harinya, tidak ada kabar sama sekali. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam, lalu satu pagi, namun Dimas belum juga pulang. Rina duduk di tepi kasur dengan lampu kamar yang menyala redup. Beberapa kali ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Dimas, berharap suaminya akan mengangkat teleponnya. Namun setiap kali hanya terdengar suara dering yang berulang, dan akhirnya berakhir dengan pesan bahwa nomor yang dituju sedang tidak dapat dihubungi. Dimana dia? Kenapa tidak ada kabar sama sekali? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Atau apakah dia masih marah padaku karena hal kemarin? Rina terus bertanya-tanya dalam hati. Ia merasa cemas, takut, dan sedih bercampur jadi satu. Ia tidak pernah menyangka bahwa di luar sana, saat ia menunggu di rumah yang sepi, Dimas sedang bersenang-senang bersama wanita lain yang jauh lebih kaya dan menarik darinya.
Rina mengangguk pelan, lalu membuka pintu dan keluar dari rumah dengan langkah yang berat. Sebelum pintu tertutup, ia sempat melirik sekali ke arah Dimas yang kembali duduk di sofa dan membuka ponselnya lagi, kali ini wajahnya kembali terlihat senyum-senyum sendiri seperti tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi. Saat Rina benar-benar pergi dan tidak terlihat lagi, Dimas segera berdiri dan kembali membaca pesan dari Bu Sari. "Sudah siap belum? Aku sudah siapkan teh dan kue kesukaanmu. Jangan terlambat ya." Dimas tersenyum lebar kali ini, jauh berbeda dengan wajah marahnya pada Rina tadi. Ia mengetik balasan dengan cepat: "Siap Bu. Aku akan berangkat sekarang. Terima kasih sudah menunggu." Di dalam hati Dimas, ia merasa puas dan lega. Dengan mengusir Rina sebentar dan membuatnya merasa rendah diri, ia bisa bebas pergi menemui Bu Sari sesuai rencananya. Ia tidak peduli sama sekali bahwa Rina hanya ingin terlihat rapi dan baik, atau bahwa perkataannya itu sangat menyakiti
Mendengar kata-kata itu, air mata Rina kembali menetes. "Ibu… kenapa harus terburu-buru begitu? Rina masih ingin belajar dari Ibu. Tapi kalau memang harus begitu, semoga perjalanan Ibu selamat sampai tujuan ya." "Iya Nak, terima kasih. Jangan marah sama Dimas terlalu lama ya. Ibu pamit dulu," jawab Ibu Dimas, lalu segera berjalan mengikuti Dimas menuju pintu depan. Rina hanya bisa berdiri di sana, menyaksikan mereka berdua pergi. Ia merasa sangat bingung. Kemarin ibunya Dimas masih bersikap ramah dan manis, tapi hari ini malah pergi dengan terburu-buru. Ia tidak menyadari bahwa semua ini adalah bagian dari rencana Dimas yang lebih besar. Sebenarnya, alasan utama Dimas menyuruh ibunya pulang bukanlah karena ada urusan di kampung. Ia khawatir sekali. Ia sudah mulai menjalin kedekatan dengan Bu Sari, dan hubungan mereka semakin erat. Ia tidak ingin ibunya atau Rina melihat atau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, apalagi jika suatu saat nanti ia harus mendua dan berinter
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdua berteriak dan bertengkar malam-malam begini?" tanya Ibu Dimas dengan suara yang tegas namun khawatir, lalu langsung menghadap ke arah Rina. "Rina, kamu tidak apa-apa nak? Kenapa kamu menangis?" Mendengar suara ibunya, Dimas hanya mengangkat bahu santai. "Nggak apa-apa Bu, cuma Rina saja yang sensitif sekali. Aku cuma bilang ke dia supaya dia lebih jaga penampilan dan kebersihan saja." "Kamu bicara apa itu?" Ibu Dimas langsung menatap anaknya dengan tajam. "Meskipun Rina itu tidak punya banyak uang, dia sudah bekerja keras menjaga rumah dan melayani kita selama ini. Kamu kok bisa bicara kasar dan menghina dia begitu? Bau asem apa yang kamu maksud? Dia sudah mandi dan merawat diri seperti biasa." Ibu Dimas kemudian berbalik menghadap Rina dan memegang bahu menantunya itu. "Jangan didengarkan kata-kata kasar anakku ya, Nak. Dia cuma sedang capek dan tidak berpikir panjang. Ibu minta maaf atas perkataan anakku itu." Namun yang tidak diduga oleh
Malam itu sudah cukup larut saat Dimas sampai di rumah. Jalanan sudah sepi dan udara terasa dingin, namun di dalam hatinya Dimas penuh dengan rasa bangga dan kepuasan yang tidak ia tunjukkan. Ia baru saja kembali dari rumah Sari, dengan perasaan bahwa ia sudah mendapatkan peluang besar dan dukungan dari wanita yang sangat ia inginkan. Saat ia membuka pintu rumah, cahaya lampu ruang tamu masih menyala terang. Rina sudah duduk menunggunya sejak tadi, dengan wajah yang tampak cemas dan menunggu. Begitu mendengar suara pintu terbuka, Rina segera berdiri dan menghampiri suaminya. "Mas, kamu sudah pulang. Aku sudah siapkan makanannya tadi, sudah dihangatkan lagi. Kamu pasti lelah sekali ya, makan dulu ya supaya tenagamu kembali," ucap Rina dengan suara lembut, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya. Namun Dimas hanya mengangguk pelan, wajahnya tidak terlihat senyum seperti biasa. Ia melepas jaketnya dan meletakkannya di kursi, lalu duduk santai sambil menghela napas panjang.
Siang itu, di ruang tengah rumah sederhana mereka . Dimas sedang duduk dengan tenang sambil memegang ponselnya. Baru saja ia selesai makan dan kini ia memutuskan untuk menelepon istrinya, Rina yang masih berada di kantornya. Rina mengangkat telepon dengan senyum ringan saat melihat nama Dimas
Malam itu di rumah sederhana mereka udara mulai terasa sejuk seiring berlalunya matahari. Setelah seharian Dimas beraktivitas di kantor Pak Adi, tubuhnya terasa sedikit lelah, namun ada sesuatu yang lain yang lebih kuat mendominasi pikirannya. Sejak hari ia mulai bekerja kembali, perasaan di dala
Pagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer. Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar
Rina turun dari motor, melepas helm, dan melangkah masuk ke rumah. Langkah kakinya terhenti sejenak begitu masuk ke ruang tengah. Ia melihat lantai mengkilap bersih, tidak ada debu sedikit pun. Baju-baju yang biasanya menumpuk sudah tergantung rapi di jemuran. Semua barang tertata dengan bai







