MasukDipenuhi amarah dan rasa kecewa, Adelia melangkah memasuki rumahnya. Ia tak memedulikan sekelilingnya dan langsung menerobos menuju dapur.Brak!Brak!Dengan napas memburu, ia meletakkan kotak-kotak bekal yang masih utuh itu ke atas meja dapur marmer, lalu membukanya satu per satu dengan gerakan kasar.Uap makanan yang sudah mendingin merebak, seolah mengejek seluruh usaha dan perhatian yang telah ia tuangkan sejak pagi."Kamu mau buang makanan itu?"Suara berat tiba-tiba terdengar dari arah pintu dapur, mengejutkan Adelia. Satrio berdiri di sana, bersandar pada tongkat ketiaknya dengan raut wajah penuh tanya."Eh... Mas Satrio," bisik Adelia tersentak. Ia buru-buru membalikkan badan dan cepat-cepat mengusap air mata yang terlanjur menetes di pipinya menggunakan punggung tangan."N-nggak kok, Mas. Mana mungkin aku buang... Makanan masih bagus begini." Adelia berusaha memoles senyum, meski bibirnya bergetar menahan isak tangis.Satrio tidak segera menjawab. Ia melangkah mendekat perlah
"Sudah, kamu nggak perlu cemas, sayang," sahut Samuel santai sambil melongokkan kepala dari jendela mobil. "Mas cuma nganter Amelia sampai depan kantor kok. Nanti kalau sore Amelia pulang kemalaman, biar Mas yang antar sekalian."Kata 'sekalian' yang diucapkan Samuel dengan begitu ringan justru terasa menghujam di dada Adelia."Bye, kak Adel! Kami berangkat ya!" seru Amelia riang dari dalam mobil, melambaikan tangan."Kami pergi dulu," pamit Samuel sebelum akhirnya menginjak pedal gas, membawa mobil hitam itu membelah jalanan pagi.Adelia berdiri mematung di teras depan. Tatapannya tertambat pada mobil yang perlahan menghilang di balik pagar."Hati-hati dijalan..." bisik Adelia lirih.Ia masih berdiri kaku ketika terdengar suara ketukan tongkat dari arah samping. Satrio berjalan perlahan, menyandarkan tumpuannya pada tongkat ketiak, berdiri tak jauh di sebelah Adelia.Satrio ikut menatap ke arah jalanan kosong yang ditinggalkan mobil Samuel."Semangat sekali mereka pagi ini," gumam Sa
Suara tawa suaminya yang begitu berseri-seri itu mendadak memicu gaung ucapan Satrio di dalam kepalanya.Adelia meremas ujung bajunya sendiri. Ada perasaan asing yang mendadak merayap naik dan menyengat dadanya—sebuah rasa tidak nyaman yang belum pernah ia rasakan selama lima tahun mendampingi Samuel.Kenapa tawa senyaman itu begitu jarang ia dengar saat Samuel bersamanya di kamar? Kenapa Samuel selalu kelihatan terlalu lelah untuk sekadar mengobrol lepas dengannya?Namun, cepat-cepat Adelia memejamkan mata rapat-rapat. Ia menggelengkan kepala pelan, mencoba mengusir pikiran buruk itu.'Nggak... nggak boleh mikir macam-macam, bisik Adelia dalam hati. Amelia itu adiknya. Wajar kalau mereka dekat dan becanda kayak gitu. Mas Satrio cuma cuma asal ngomong.'Ia menghela napas panjang, menepis kuat-kuat benih kecurigaan yang berusaha merayapi hatinya. Adelia menegakkan tubuhnya kembali, memoles senyum manis di bibirnya, lalu melangkah keluar dari balik pilar menuju dapur—berusaha berpura-pu
Sesampainya di kamar Satrio, Adelia membantunya duduk meluruskan kaki di tepi ranjang. Ia menarik bantal penyangga dengan telaten untuk menopang kaki Satrio yang terbungkus gips tebal."Nah, begini kan lebih aman," gumam Adelia, menyapu peluh tipis di pelipisnya sendiri. Rasa lega terpancar dari matanya. "Mas istirahat dulu, ya. Aku mau ke dapur ambilkan air hangat dan kompresan."Adelia berbalik hendak melangkah pergi. Namun, baru satu langkah tercipta, jemari Satrio yang dingin tiba-tiba melingkar di pergelangan tangannya.Cengkeramannya tidak keras, tapi cukup menahan langkah Adelia."Tunggu, Del..." suara Satrio terdengar serak dan sedikit berat.Adelia menghentikan langkah, menoleh penuh kebingungan. Matanya menatap tautan tangan Satrio di tangannya, lalu beralih ke wajah pria itu. "Ada apa, Mas? Ada bagian yang makin sakit? Atau butuh sesuatu?"Satrio tidak langsung mengutarakan niatnya. Ia mengembuskan napas pendek, lalu melonggarkan cengkeramannya perlahan—berubah menjadi elus
"Percaya sama Kakak, dua-tiga bulan lagi kamu juga bakal kebal." seru Samuel, meyakinkan.Amelia mengembuskan napas panjang, seolah baru saja lolos dari lubang jarum. "Iiihs, seremnya gak ada obat. Galak banget!"Tawa Samuel langsung pecah mendengar rengekan itu. "Hahaha! Kan Kakak bilang apa, Steven memang begitu."Amelia menoleh bersungut-sungut, menatap Samuel dengan tatapan penuh curiga. "Iya, tapi nggak gitu juga, Kak! Kak Sam, sengaja mau jebloskan Amel ke mulut singa!""Loh, kok menyalahkan Kakak?" Samuel menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh. "Kakak itu justru berniat baik, Amel.""Niat baik dari mana?" potong Amelia sewot, tangannya bersedekap di dada."Amel sampai gemeteran pas dipanggil ke ruangannya! Orang galak dan dingin kayak gitu kok dibilang bagus. Rasanya kayak lagi diinterogasi penjahat, tahu!""Jangan terlalu dimasukkan ke hati," sahut Samuel santai. "Steven itu memang tegas, tapi dia perfeksionis sejati. Cara bicaranya memang tajam dan menekan, tapi percaya
"Paman, biar Arya yang bawain tas ini!""Kalau Bella bawa bantal leher Paman ya!"Satrio tak mampu menahan kekehan ringannya melihat dua keponakannya berebut repot. "Aduh... terima kasih ya, dua malaikat kecil Paman."Sesampainya di depan kamar, Adelia melangkah maju dan mendorong pintu perlahan.Aroma wangi kayu manis dan pelembut kain yang bersih langsung menyapa. Dominasi warna krem serta cokelat muda membalut ruangan itu dengan kehangatan yang menenangkan. Di salah satu sudut, sofa mungil berdiri berdampingan dengan rak buku kayu. Tak jauh dari sana, jendela kaca besar membiarkan tirai tersingkap, menyalurkan pendar keemasan sinar matahari sore yang hangat.Satrio berdiri mematung di ambang pintu, matanya menyapu setiap inci ruangan dengan saksama."Lumayan luas juga..." bisiknya.Adelia mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tulus. "Mas memang sengaja ditempatkan di kamar ini."Satrio menoleh, mengernyit halus. "Kenapa?"Tanpa menjawab langsung, Adelia berjalan melintasi ruangan
“BERHENTI!”Marlan langsung berteriak. Matanya membesar menatap Satrio dan Adelia. nalurinya menghantam lebih cepat daripada pikirannya.Satrio tak menoleh. Langkahnya justru dipercepat.“Kita ditipu!” Marlan berteriak lagi, suaranya dipenuhi amarah. “Kejar mereka!”Devina membeku.“Apa…? Siapa yan
“Di mana wanita yang kalian sekap? Aku harus segera menghabisinya… sebelum polisi datang." kata Satrio, tanpa memberi kesempatan Marlan berpikir panjang, ia tak ingin membuang waktu.Mendengar itu, wajah Marlan menegang, Nadia tercengang, satu tangan menutup mulutnya, matanya membelalak. Wajah Doni
“Gang ini sempit sekali…” Devina menggerutu pelan, menyingkirkan sarang laba-laba dari pundaknya.“Memang jalurnya cuma ini, Nyonya,” sahut Doni tanpa menoleh. Doni berjalan di depan, senter kecil di tangannya memantul-mantul di atas jalan tanah yang becek. Gang itu memang sempit—cukup untuk dua or
"Bagaimana bisa! Kenapa Mama tega… melakukan hal ini!?" Suara Satrio meledak, mengiris keheningan malam yang dingin.Satrio menatap ibunya dengan mata menyala, seolah api kemarahan membakar setiap sudut hatinya. Devina terguncang, lututnya melemas, dan dia jatuh ke tanah."Satrio… tolong… jangan la







