Share

Bab 2

Author: Bonnie
Pukul dua pagi, Valeri mengirimiku serangkaian foto, tangkapan layar, dan satu rekaman suara.

Dalam foto pertama, Andre terlihat sedang menempelkan tubuhnya ke jendela besar di kamar tidur utama kami sementara aku sedang duduk di rapat dewan di pusat kota.

Dalam foto kedua, aku masih mengerjakan jadwal pernikahan di ruang kerjaku sementara mereka sedang melakukan panggilan video mesum larut malam dari kamar mandi.

Dalam foto ketiga, aku sedang menjamu mitra bisnis sementara mereka berdua berpelukan di kursi belakang mobil di jalanan Kota Menawa, jendelanya bahkan sampai berembun.

Foto terakhir menunjukkan tempat tidur yang berantakan, dasi, sepasang stoking, dan salah satu kancing manset yang kupilih sendiri untuk Andre.

Lalu, aku membuka rekaman itu.

Napas Valeri terdengar pertama, ringan dan puas.

Kemudian suara Andre, rendah dan serak karena habis bercinta.

“Dia tidak akan pernah meninggalkanku. Diana sangat mencintaiku dan rela mati demi aku.”

Tawa lembut dari Valeri terdengar.

“Mengenai anak?” tanyanya.

Dia menjawab tanpa ragu, “Dia sudah mencoba enam puluh enam kali dan masih belum berhasil memberiku satu pun. Aku tidak bisa membiarkan garis keturunan Diandra berakhir di tanganku. Setelah kau punya bayi, semuanya akan tenang. Diana pasti akan menerimanya. Dia selalu begitu.”

Aku hanya mendengarkan semuanya sekali.

Ketika selesai, aku duduk di sana dalam diam, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tidak merasakan apa pun.

Keesokan paginya, ketika Andre pulang, aku tetap menutup mata dan berpura-pura tidur.

Dia mandi, berganti pakaian, menunggu rasa dingin hilang dari kulitnya, lalu menyelinap naik ke ranjang di belakangku.

“Diana.” Dia mencium rambutku. “Aku melewati gedung tempat acara tadi. Sudah ada bunga lili putih dan mawar di seluruh pintu masuk. Apa kau sudah menyuruh para dekorator untuk mulai bekerja?”

Itu bagian dari persiapan untuk layanan penghapusan identitas.

“Mungkin tim acara mengantarkan barang-barang lebih awal,” gumamku.

Dia menerima jawaban itu dengan mudah.

“Aku sudah memeriksa setiap detailnya,” katanya sambil tersenyum kecil. “Cincinnya, gaunnya, sumpahnya, daftar anggurnya. Besok akan menjadi hari yang sempurna.”

Aku membuka mata dan menatapnya. “Aku juga sudah menyiapkan hadiah untukmu.”

Ekspresinya langsung cerah.

“Sudah kuduga,” katanya. “Aku tahu kau masih menginginkan ini. Tujuh tahun, Diana. Akhirnya kita saling memberikan sesuatu yang nyata.”

Dia yakin aku tidak akan pernah meninggalkannya.

Yakin bahwa hubungan selama tujuh tahun bersamaku, itu berarti dia bisa bertahan dari apa pun yang dia lakukan padaku.

Bel pintu berbunyi.

Sesaat kemudian, Valeri masuk mengenakan gaun pengantinku.

Gaun itu sudah menjadi milikku sejak sketsa pertama. Sebuah rumah mode tua telah membuat tiga desain sebelum aku menyetujui versi finalnya. Setiap mutiara, setiap panel renda, setiap sulamannya telah dipilih olehku sendiri.

Andre menatapnya dan terdiam.

Untuk sesaat, ada kekaguman di sorot matanya.

“Gaun itu terlihat bagus padamu,” katanya.

Valeri tersenyum dan berputar sekali di tengah ruangan.

"Aku juga berpikir begitu." Dia lalu menoleh kepadaku dengan manis. "Diana, apa kau bisa meminjamkannya padaku untuk satu hari? Aku ingin Andre berjalan bersamaku di upacara pernikahan."

"Valeri," kata Andre, tetapi suaranya tidak terdengar cukup marah.

Dan, wanita itu pun sudah mengatakannya.

Aku memandang mereka bergantian.

Andre tahu persis apa arti gaun itu bagiku. Dia tahu apa arti pernikahan ini bagiku.

Namun, setelah beberapa detik hening, dia berkata, "Dia hanya ingin sedikit harga diri. Biarkan dia pinjam untuk satu hari. Itu tidak akan mengubah apa pun di antara kita."

Aku tertawa.

"Meminjam gaun, lalu meminjam mempelai pria. Terus, apa selanjutnya, Valeri? Namaku?"

Matanya langsung berkaca-kaca.

"Aku bukan mau mencuri apa pun darimu. Aku hanya ingin bayiku memiliki awal yang layak."

Wajah Andre menjadi muram.

Saat dia mengulurkan tangan dan menyeka air mata Valeri, dia melakukannya seolah sudah menjadi kebiasaan.

“Cukup, Diana,” katanya.

Aku menatapnya. “Bagaimana denganku?”

Hening.

Kali ini, dia tidak punya jawaban yang siap.

Valeri menggigit bibir dan menundukkan bulu matanya. “Kalau Diana tidak mau aku datang, aku bisa melakukannya sendiri. Aku sudah terbiasa dipermalukan.”

Aku tersenyum padanya.

“Tentu saja kau sudah terbiasa. Kau mengenakan gaunku, tidur dengan priaku, mengandung anaknya, dan entah bagaimana kau masih menjadi pihak yang terluka. Itu butuh bakat.”

“Cukup.” Nada suara Andre berubah tajam. “Aku akan menikahimu secara sah. Kau akan menjadi istriku. Valeri hanya memberiku seorang anak. Berhentilah membuat semuanya menjadi lebih buruk.”

Aku menurunkan tangan ke perutku.

Seorang anak.

Anaknya ....

Anak yang sama sekali tidak dia ketahui.

Tiba-tiba aku merasa terlalu lelah untuk berdebat.

“Ya sudah,” kataku. “Kalau ini yang kau inginkan, lakukan saja. Aku izinkan.”

Dia langsung menatapku, jelas terkejut dengan betapa tenangnya suaraku.

Lalu, ponselku berdering.

Aku berjalan ke arah jendela sebelum menjawab.

“Nyonya Diana, gedung acara telah diatur persis seperti yang diminta. Upacara akan dimulai besok pukul empat sore. Dokumen identitas baru Anda juga telah dikirim ke email terenkripsi Anda.”

“Terima kasih,” kataku.

Ketika aku berbalik, kelegaan di wajah Andre sangat jelas terlihat.

...

Malam itu, dia langsung pergi ke rumah Valeri untuk menyelesaikan upacara pernikahannya.

Aku tinggal di rumah dan mengemasi barangku.

Perhiasan.

Foto-foto.

Undangan makan malam.

Buku panduan pernikahan.

Buku catatan penuh berisi nama-nama bayi.

Setengah jam kemudian, Valeri mengirim satu foto lagi.

Andre bertelanjang dada bersandar di kepala ranjang, dengan wiski di satu tangannya. Bahunya yang lebar terbuka, tubuhnya masih memerah karena panas. Salah satu kakinya terlihat di bawah selimut.

Keterangan foto itu berbunyi.

[Dia menyuruhku berhenti memprovokasimu. Lalu, dia menghukumku karena tidak patuh.]

Aku langsung memblokir nomornya.

Sebelum fajar, aku sudah menyeret koperku ke pintu depan dan meninggalkan rumah tanpa menoleh ke belakang.

Saat Andre berpakaian dan pergi ke lokasi acara pernikahan, aku sudah pergi.

Dari kursi belakang mobil lain, aku membuka email terenkripsiku untuk terakhir kalinya dan memeriksa pengatur waktu.

Semuanya sudah masuk antrian.

Foto-foto itu.

Rekaman itu.

Laporan itu.

Semuanya akan tiba tepat di waktu yang aku inginkan.

Akhirnya, Andre meneleponku.

“Diana, tunggu aku. Aku segera ke sana.” Suaranya rendah, dipenuhi kegembiraan. “Mulai hari ini, kau akan menjadi Nyonya Diandra.”

Aku menatap langit pagi yang pucat di balik kaca jendela yang gelap.

“Iya,” kataku singkat.

Lalu, aku mengakhiri panggilan.

Mulai hari ini, Diana Mustera tidak akan ada lagi.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kematian Diana Mustera   Bab 8

    Empat tahun kemudian."Andre ... Andre."Dia membuka matanya karena mendengar suara seorang wanita ... dan untuk sesaat yang rapuh itu, dia mengira akhirnya bisa kembali ke salah satu mimpinya.Dia berguling ke arah wanita itu dan membenamkan wajah di lehernya."Diana," bisiknya, nama itu terucap di bibirnya.Wanita di sampingnya terpaku sebelum memaksakan diri untuk bersikap melunak.Kemudian, sebuah lengan yang penuh bekas luka melingkari punggungnya dan mengusap beberapa kali, seolah-olah dia sedang menenangkan seorang anak kecil, bukannya seorang pria yang dua kali lipat lebih berbahaya.Itu adalah Valeri.Setelah kejadian di Caraga, Andre tidak pernah benar-benar melepaskannya.Dia menahan Valeri di sebuah apartemen, di bawah pengamanan yang dia sebut perlindungan dan oleh orang lain akan disebut sebagai tawanan. Dia minum di sana, tidur di sana, memanfaatkannya ketika Andre terlalu mabuk, terlalu terpengaruh obat-obatan, atau terlalu putus asa untuk bertahan hidup di malam-malam

  • Kematian Diana Mustera   Bab 7

    "Diana, aku minta maaf," kata Valeri tiba-tiba, lalu menoleh kepadaku dengan air mata berlinang. "Tolong jangan salahkan Andre untuk semuanya. Akulah yang memaksa. Setelah kau pergi, dia selalu mabuk setiap malam. Dia tidak bisa berhenti membicarakanmu. Dia ....""Hentikan," kataku.Dia terdiam."Apa pun yang terjadi antara kalian berdua ...." kataku. "Itu bukan kecelakaan, dan bukan kesalahpahaman. Tidak ada yang menyeret kalian berdua ke tempat tidur dengan todongan senjata."Aku lalu berbalik untuk pergi.Andre melangkah mengejarku. "Diana, aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya selama berbulan-bulan. Aku tidak tahu dia akan datang ke sini. Aku tidak memintanya untuk mengikutiku."Penolakan itu belum sepenuhnya keluar dari mulutnya ketika Valeri membungkuk dengan suara kesakitan yang tiba-tiba."Andre ...." Dia menekan kedua tangan ke perutnya dan tersedak cukup keras hingga air matanya berlinangan. "Aku sudah terlambat haid dua bulan. Kurasa ... kurasa aku hamil." Seluruh tubu

  • Kematian Diana Mustera   Bab 6

    Aku melihatnya begitu melangkah keluar dari lobi.Dia tampak lebih tua dari seharusnya hanya setelah waktu setahun. Dia lebih kurus, lebih kasar, dan wajahnya kurang terawat. Angin telah memerahkan kulitnya, dan salju menempel di mantel gelap dan bulu matanya.Tetapi, semua itu tidak lagi bisa memengaruhiku seperti dulu."Katakan apa yang ingin kau katakan," kataku padanya. "Dan cepatlah. Aku tidak butuh permintaan maaf. Jadwalku padat."Sesuatu yang tidak stabil terlintas di sorot matanya."Aku di sini untuk memintamu kembali," katanya. "Aku tidak tahu kalau Valeri mengirimimu hal-hal itu. Foto-foto, pesan-pesan, dan rekaman itu. Aku bersumpah padamu, Diana, aku tidak tahu."Aku menatapnya lama."Kau tahu ataupun tidak, itu tidak akan mengubah apa yang telah kau lakukan."Lalu, aku mengerutkan kening. "Kenapa kau tersenyum?"Karena, dia memang tersenyum.Senyum yang tulus, tampak rusak di sudut-sudutnya, tetapi jelas menunjukkan ekspresi lega."Karena kau bicara denganku," katanya. "A

  • Kematian Diana Mustera   Bab 5

    Satu tahun kemudian.Asisten Andre mengetuk pintu tiga kali sebelum akhirnya mencoba memutar gagang pintu.Tidak ada jawaban.Masalahnya cukup mendesak sehingga dia memutuskan untuk tetap masuk.Aroma menyengat menusuk hidungnya terlebih dahulu.Aroma Wiski, keringat, bau seks yang pekat, dan juga bau anyir darah dari satu sudut di ruangan itu.Dia melangkah masuk ke dalam kamar tidur griya tawang, melihat apa yang terjadi di tempat tidur, dan segera memalingkan wajahnya ke arah dinding.Andre dalam keadaan setengah mabuk dan setengah telanjang, dia sedang dalam posisi membungkuk di atas tubuh Valeri dengan mata tertutup, satu tangannya mencengkeram rambut Valeri."Diana," gumamnya di tenggorokan Valeri. "Diana ... aku mencintaimu."Kulit Valeri tampak dipenuhi bintik ungu dan biru bekas cengkeraman tangan Andre. Amarah melintas di wajahnya ketika melihat asisten itu, tetapi dia masih tetap berusaha terdengar tenang."Ada apa?"Asisten itu menelan ludah. "Tuan, kami sudah menemukannya.

  • Kematian Diana Mustera   Bab 4

    Saat api akhirnya berhasil dipadamkan, gedung pernikahan itu hanya tinggal puing-puing hangus yang menghitam.Mereka menemukan sisa-sisa dekorasi terlebih dahulu. Tempat lilin yang meleleh. Kerangka besi yang bengkok. Bunga lili yang hangus menempel di marmer seperti tulang belulang. Kemudian, setengah terkubur di bawah abu dekat puncak tangga, Andre melihat selembar kertas yang entah bagaimana masih utuh.Dia membungkuk dan mengambilnya dengan jari-jari yang gemetar.Cuma sudutnya yang terbakar di dua sisi. Namun, dia langsung bisa mengenali tulisan tangan itu.Itu surat pertama yang pernah dia tulis untuk Diana.Dia ingat pernah memberikannya bertahun-tahun yang lalu, sebelum ada uang, sebelum ada kekuasaan, sebelum orang-orang mulai menyebut namanya dengan penuh ketakutan. Diana tertawa ketika menerimanya dan mengatakan kepada Andre bahwa dia akan menyembunyikannya di suatu tempat yang hanya diketahui olehnya.“Dan jika aku membiarkanmu melihatnya lagi, Andre, itu berarti aku sudah

  • Kematian Diana Mustera   Bab 3

    Pukul empat sore, deretan mobil pengantin berwarna hitam berhenti di depan gedung.Andre keluar lebih dulu dengan setelan jas hitam khusus, tinggi dan rapi, lambang Diandra perak tersemat di dadanya.Valeri mengikuti di samping dengan gaun yang seharusnya menjadi milikku, wajahnya berseri-seri karena kegembiraan yang sulit disembunyikan.Andre sendiri yang memilih gedung ini. Sebuah vila batu yang menghadap ke Hudarinam, cukup besar untuk mengesankan kaum elit lama dan cukup mahal untuk membuat separuh Kota Menawa merasa iri.Namun saat dia mendongak, ada sesuatu yang terasa salah.Tidak ada musik.Tidak ada staf yang menunggu di pintu masuk.Tidak ada pembawa bunga yang bergegas keluar masuk. Tidak ada perencana pesta pernikahan dengan papan klip. Tidak ada suara dan pergerakan.Seluruh gedung itu berdiri di tengah keheningan yang begitu dalam sehingga terasa disengaja.Dan dari tempatnya berdiri di bawah tangga, Andre sudah bisa melihat kain hitam tergantung di dalam aula depan melal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status