Share

Kematian Diana Mustera
Kematian Diana Mustera
Author: Bonnie

Bab 1

Author: Bonnie
Setelah menutup telepon, aku membalas email perekrutan dari kantor pusat Caraga menggunakan identitas baruku.

Sebuah pemberitahuan konfirmasi muncul di layar.

[Selamat datang, Silvi Huntara.]

Aku baru saja menutup laptop ketika mendengar langkah kaki dari lorong.

Sedetik kemudian, pintu kamar terbuka.

"Diana, kau belum tidur?"

Suaranya rendah dan lembut di tengah kegelapan. Andre Diandra melepas mantel hitamnya dan menyampirkannya di bahuku dengan gerakan luwes, seperti pria yang telah melakukannya ribuan kali sebelumnya.

Tingginya hampir dua meter, dengan bahu lebar yang seolah menghalangi separuh ruangan. Lengan bajunya digulung hingga ke lengan bawah, memperlihatkan lengannya yang kuat dan ramping dengan kulit kecoklatan. Ketika mata biru keabu-abuan itu menatapku, terlihat sorot mata pengabdian lembut yang sama, yang telah membuat separuh warga Nerosia iri padaku selama bertahun-tahun.

Semua orang mengenal Andre.

Dia adalah pewaris Keluarga Diandra, Sang ketua mafia muda yang mengendalikan pelabuhan, kasino, dan separuh uang ilegal kota ini. Dia juga tampan, kaya, bahkan kejam jika diperlukan.

Dia sangat sabar hanya padaku.

Setidaknya, itulah yang diyakini semua orang.

Sebelum kehangatan tubuhnya menyentuhku, aku sudah mencium aroma di kerah bajunya.

Parfum mawar.

Itu bukan milikku.

Aku melangkah menjauh darinya.

Mantel itu meluncur dari bahuku ke lantai. Andre membungkuk untuk mengambilnya, wajahnya tetap tenang, penuh dengan pengertian.

“Kau masih kesal?” tanyanya. “Situasi Valeri semakin buruk. Suaminya sekarat, dan Keluarga Coradon menginginkan ahli waris sebelum dia meninggal. Mereka menekannya setiap hari. Dia tidak punya tempat lain untuk berlindung.”

Aku menatapnya dan tertawa dingin. “Jadi, apa aku seharusnya berterima kasih karena kau sudah tidur dengan wanita lain?”

“Bukan seperti itu.” Dia mengusap dahinya. “Ini hanya pengaturan medis. Tidak lebih.”

Aku menatapnya. “Lalu, kenapa kau pulang dengan aroma tubuhnya?”

Untuk sesaat, dia tidak mengatakan apa-apa.

Lalu tangannya turun ke perut bagian bawahku, seolah-olah dia pikir bisa menenangkanku dengan cara itu.

“Diana, kau sudah cukup menderita. Enam puluh enam kali percobaan bayi tabung. Enam puluh enam kali melihatmu keluar dari klinik dengan wajah seperti akan pingsan. Aku tidak bisa membiarkanmu terus menyiksa diri sendiri seperti itu.”

Jari-jariku mencengkeram lebih erat stik plastik yang tersembunyi di saku jubahku.

Dua garis merah muda.

Positif.

Aku telah melakukan tes kehamilan itu tadi siang, dan berencana untuk memberitahunya di hari pernikahan kami.

Sekarang aku berdiri di sana memegang bukti masa depan di dalam rahimku, sementara dia berbicara seolah-olah tubuhku telah mengecewakannya selamanya.

Andre terus berbicara, suaranya lembut dengan cara yang paling kejam, “Valeri bilang begitu bayinya lahir, kau bisa menjadi ibu angkatnya. Dan, kalau dia punya anak kembar, dia bahkan akan membiarkanmu membesarkan salah satunya. Kau tidak perlu menderita lagi, dan kau juga bisa memiliki seorang anak.”

Aku menatapnya tajam.

Lalu aku berkata dengan sangat pelan, “Aku bisa punya anak sendiri. Aku tidak butuh Valeri memberikannya padaku.”

Dia mengerutkan kening, seolah menganggap aku hanya sedang bersikap tak masuk akal.

Aku menatap lurus ke arahnya.

“Aku sudah bertahun-tahun berusaha untuk memberi kita anak,” kataku. “Setiap perawatan. Setiap janji temu. Setiap upaya. Aku memaksakan diri sampai titik tertinggi.”

Jari-jariku mencengkeram erat alat tes kehamilan di sakuku itu.

“Dan sekarang kau berdiri di sini mengatakan padaku kalau wanita lain bisa memberimu apa yang tidak bisa kuberikan dengan cepat?”

Sesuatu berubah di wajah Andre.

Mungkin rasa bersalah.

“Aku tidak lupa,” katanya dengan suara serak. Dia menarikku ke dalam pelukannya. “Diana, aku tidak pernah lupa. Kau itu wanita terpenting dalam hidupku. Besok, kau akan resmi menjadi istriku. Aku akan memberimu pernikahan yang tak akan pernah dilupakan Nerosia.”

Sebelumnya, kalimat seperti itu akan melunakkan hatiku.

Sebelumnya, aku akan memercayainya.

Lalu, ponselnya bergetar.

Dia langsung melepaskan genggaman dan mundur selangkah, memalingkan layar ponselnya dariku.

Gerakan kecil itu memberitahuku lebih banyak daripada setiap janji yang pernah dia buat.

"Valeri lagi?" tanyaku.

Ponsel itu bergetar untuk kedua kalinya.

Dia menghela napas. “Terjadi sesuatu, jadi aku harus pergi. Diana, percayalah padaku. Aku hanya mengurus janda temanku yang sudah meninggal.”

Aku tidak mengatakan apa pun.

Aku berjalan ke jendela dan memperhatikan pria yang tidak pernah kehilangan ketenangannya itu, bahkan dengan darah menetes di tangannya, hampir berlari melintasi halaman. Dia masuk ke mobil hitamnya dan pergi dengan tergesa-gesa.

Lampu depan mobilnya menghilang ke dalam kegelapan.

Baru saat itulah, aku mengeluarkan alat tes kehamilan dari sakuku.

Dua garis merah muda yang jelas menatapku.

Aku meletakkan tangan di atas perutku dan menutup mata.

Aku ingin memberikan berita bahagia ini sebagai bagian dari sumpah pernikahanku kepada Andre.

Tapi sekarang, aku tidak akan memberitahunya lagi.

Dalam empat puluh delapan jam, Diana Mustera akan meninggal di hari pernikahannya sendiri.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kematian Diana Mustera   Bab 8

    Empat tahun kemudian."Andre ... Andre."Dia membuka matanya karena mendengar suara seorang wanita ... dan untuk sesaat yang rapuh itu, dia mengira akhirnya bisa kembali ke salah satu mimpinya.Dia berguling ke arah wanita itu dan membenamkan wajah di lehernya."Diana," bisiknya, nama itu terucap di bibirnya.Wanita di sampingnya terpaku sebelum memaksakan diri untuk bersikap melunak.Kemudian, sebuah lengan yang penuh bekas luka melingkari punggungnya dan mengusap beberapa kali, seolah-olah dia sedang menenangkan seorang anak kecil, bukannya seorang pria yang dua kali lipat lebih berbahaya.Itu adalah Valeri.Setelah kejadian di Caraga, Andre tidak pernah benar-benar melepaskannya.Dia menahan Valeri di sebuah apartemen, di bawah pengamanan yang dia sebut perlindungan dan oleh orang lain akan disebut sebagai tawanan. Dia minum di sana, tidur di sana, memanfaatkannya ketika Andre terlalu mabuk, terlalu terpengaruh obat-obatan, atau terlalu putus asa untuk bertahan hidup di malam-malam

  • Kematian Diana Mustera   Bab 7

    "Diana, aku minta maaf," kata Valeri tiba-tiba, lalu menoleh kepadaku dengan air mata berlinang. "Tolong jangan salahkan Andre untuk semuanya. Akulah yang memaksa. Setelah kau pergi, dia selalu mabuk setiap malam. Dia tidak bisa berhenti membicarakanmu. Dia ....""Hentikan," kataku.Dia terdiam."Apa pun yang terjadi antara kalian berdua ...." kataku. "Itu bukan kecelakaan, dan bukan kesalahpahaman. Tidak ada yang menyeret kalian berdua ke tempat tidur dengan todongan senjata."Aku lalu berbalik untuk pergi.Andre melangkah mengejarku. "Diana, aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya selama berbulan-bulan. Aku tidak tahu dia akan datang ke sini. Aku tidak memintanya untuk mengikutiku."Penolakan itu belum sepenuhnya keluar dari mulutnya ketika Valeri membungkuk dengan suara kesakitan yang tiba-tiba."Andre ...." Dia menekan kedua tangan ke perutnya dan tersedak cukup keras hingga air matanya berlinangan. "Aku sudah terlambat haid dua bulan. Kurasa ... kurasa aku hamil." Seluruh tubu

  • Kematian Diana Mustera   Bab 6

    Aku melihatnya begitu melangkah keluar dari lobi.Dia tampak lebih tua dari seharusnya hanya setelah waktu setahun. Dia lebih kurus, lebih kasar, dan wajahnya kurang terawat. Angin telah memerahkan kulitnya, dan salju menempel di mantel gelap dan bulu matanya.Tetapi, semua itu tidak lagi bisa memengaruhiku seperti dulu."Katakan apa yang ingin kau katakan," kataku padanya. "Dan cepatlah. Aku tidak butuh permintaan maaf. Jadwalku padat."Sesuatu yang tidak stabil terlintas di sorot matanya."Aku di sini untuk memintamu kembali," katanya. "Aku tidak tahu kalau Valeri mengirimimu hal-hal itu. Foto-foto, pesan-pesan, dan rekaman itu. Aku bersumpah padamu, Diana, aku tidak tahu."Aku menatapnya lama."Kau tahu ataupun tidak, itu tidak akan mengubah apa yang telah kau lakukan."Lalu, aku mengerutkan kening. "Kenapa kau tersenyum?"Karena, dia memang tersenyum.Senyum yang tulus, tampak rusak di sudut-sudutnya, tetapi jelas menunjukkan ekspresi lega."Karena kau bicara denganku," katanya. "A

  • Kematian Diana Mustera   Bab 5

    Satu tahun kemudian.Asisten Andre mengetuk pintu tiga kali sebelum akhirnya mencoba memutar gagang pintu.Tidak ada jawaban.Masalahnya cukup mendesak sehingga dia memutuskan untuk tetap masuk.Aroma menyengat menusuk hidungnya terlebih dahulu.Aroma Wiski, keringat, bau seks yang pekat, dan juga bau anyir darah dari satu sudut di ruangan itu.Dia melangkah masuk ke dalam kamar tidur griya tawang, melihat apa yang terjadi di tempat tidur, dan segera memalingkan wajahnya ke arah dinding.Andre dalam keadaan setengah mabuk dan setengah telanjang, dia sedang dalam posisi membungkuk di atas tubuh Valeri dengan mata tertutup, satu tangannya mencengkeram rambut Valeri."Diana," gumamnya di tenggorokan Valeri. "Diana ... aku mencintaimu."Kulit Valeri tampak dipenuhi bintik ungu dan biru bekas cengkeraman tangan Andre. Amarah melintas di wajahnya ketika melihat asisten itu, tetapi dia masih tetap berusaha terdengar tenang."Ada apa?"Asisten itu menelan ludah. "Tuan, kami sudah menemukannya.

  • Kematian Diana Mustera   Bab 4

    Saat api akhirnya berhasil dipadamkan, gedung pernikahan itu hanya tinggal puing-puing hangus yang menghitam.Mereka menemukan sisa-sisa dekorasi terlebih dahulu. Tempat lilin yang meleleh. Kerangka besi yang bengkok. Bunga lili yang hangus menempel di marmer seperti tulang belulang. Kemudian, setengah terkubur di bawah abu dekat puncak tangga, Andre melihat selembar kertas yang entah bagaimana masih utuh.Dia membungkuk dan mengambilnya dengan jari-jari yang gemetar.Cuma sudutnya yang terbakar di dua sisi. Namun, dia langsung bisa mengenali tulisan tangan itu.Itu surat pertama yang pernah dia tulis untuk Diana.Dia ingat pernah memberikannya bertahun-tahun yang lalu, sebelum ada uang, sebelum ada kekuasaan, sebelum orang-orang mulai menyebut namanya dengan penuh ketakutan. Diana tertawa ketika menerimanya dan mengatakan kepada Andre bahwa dia akan menyembunyikannya di suatu tempat yang hanya diketahui olehnya.“Dan jika aku membiarkanmu melihatnya lagi, Andre, itu berarti aku sudah

  • Kematian Diana Mustera   Bab 3

    Pukul empat sore, deretan mobil pengantin berwarna hitam berhenti di depan gedung.Andre keluar lebih dulu dengan setelan jas hitam khusus, tinggi dan rapi, lambang Diandra perak tersemat di dadanya.Valeri mengikuti di samping dengan gaun yang seharusnya menjadi milikku, wajahnya berseri-seri karena kegembiraan yang sulit disembunyikan.Andre sendiri yang memilih gedung ini. Sebuah vila batu yang menghadap ke Hudarinam, cukup besar untuk mengesankan kaum elit lama dan cukup mahal untuk membuat separuh Kota Menawa merasa iri.Namun saat dia mendongak, ada sesuatu yang terasa salah.Tidak ada musik.Tidak ada staf yang menunggu di pintu masuk.Tidak ada pembawa bunga yang bergegas keluar masuk. Tidak ada perencana pesta pernikahan dengan papan klip. Tidak ada suara dan pergerakan.Seluruh gedung itu berdiri di tengah keheningan yang begitu dalam sehingga terasa disengaja.Dan dari tempatnya berdiri di bawah tangga, Andre sudah bisa melihat kain hitam tergantung di dalam aula depan melal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status