LOGINTeman-teman kantornya sudah mulai pulang satu per satu, namun Nayla masih terus berkutik dengan laptop dan beberapa majalah di tangannya.
Dia melirik jam dinding dihadapannya, menunjukkan pukul 17.00. Memang sudah jam pulang kantor. Tapi Nayla masih betah dan asik dengan apa yang dikerjakannya, dia tau harus banyak belajar untuk bisa berkontribusi banyak Elevation.
“Belum pulang?” suara Adit mengejutkan Nayla.
“Eh Mas Adit. Belum nih, masih sore, nanti saja.”
“Semangat kerja ya?” canda Adit.
“Ya habis dirumah juga gak ada kerjaan, Mas,” jawab Nayla sambil tertawa kecil.
“Aku lagi lihat-lihat Elevation edisi yang lalu-lalu, pengen pelajarin lebih. Sama pelajarin majalah saingannya Elevation juga, pengen tahu apa yang bikin dia bisa mencuri perhatian pasar.” lanjut Nayla sambil memperlihatkan tumpukan majalah di mejanya.
“Lulusan luar memang beda ya. Ayo ikut saya, kita makan malam sambil ngobrol soal ide-ide baru. Mungkin kamu bisa kasih masukan ide segar seperti yang diinginkan Pak Rino.” ajak Adit.
Nayla yang tidak enak menolak ajakan Adit pun akhirnya mengangguk dan membereskan mejanya, lalu mematikan komputer di hadapannya.
Walaupun sebenarnya masih ingin menghabiskan waktu di kantor, namun dia berpikir kesempatan diskusi dengan atasannya ini mungkin tidak datang dua kali. Nayla berpikir makan malam ini bisa jadi kesempatannya untuk belajar juga dari Adit.
Adit kemudian mengajak Nayla makan di sebuah restoran masakan Indonesia yang terkenal di dekat kantor. Sebuah restoran yang cukup besar, dan mulai ramai dengan pengunjung.
Saat masuk langsung terasa dekorasi gaya nusantara yang rapi dan bersih, membuat pengunjung langsung merasa nyaman. Mereka kemudian memilih duduk di salah satu sisi pojok restoran, agar lebih sepi dan mudah berdiskusi.
“Makanan disini enak-enak lho Nay. Kamu pasti kangen makanan Indo kan,” kata Adit sambil menyodorkan buku menu.
“Bener Mas, emang gak ada makanan yang seenak masakan Indonesia deh, dimakan tiap hari juga gak pernah bosen,” ucap Nayla sambil membolak-balik buku menu di tangannya.
“Saya pesan nasi goreng buntut satu ya, dibuat sedikit pedas,” kata Adit pada pelayan yang berdiri di samping meja mereka. “Minumnya es teh tawar saja.” lanjut Adit.
“Hmm.. Saya pesan nasi rawon dan es teh tawar juga ya, Mbak,” kata Nayla sambil menutup buku menunya.
“Baik, satu nasi goreng buntut, satu nasi rawon, dan dua es teh tawar ya,” pelayan tersebut mengulang pesanan mereka memastikan semua sudah tepat.
“Bener, Mbak,” jawab Adit.
“Baik, ditunggu ya,” balas pelayan tadi kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
“Mas sering makan disini ya?” tanya Nayla karena melihat Adit langsung memesan tanpa melihat buku menu lagi.
“Sering banget. Kalau perlu lembur, ya paling cepet makan disini. Dekat, enak pula,” jelas Adit.
“Jadi apa yang nih yang mau kita bahas?” pancing Adit, dia bisa melihat semangat dan rasa tidak sabar Nayla untuk menyampaikan sesuatu.
“Kalau saya lihat ya Mas, majalah baru tadi isinya lebih ringan dan beragam,” Nayla langsung menjelaskan dengan nada penuh semangat.
“Mungkin kita bisa memikirkan satu rubrik baru yang isinya pendatang baru dalam dunia bisnis, atau pebisnis muda seperti Nugie kemarin,” lanjut Nayla.
“Ide bagus.” Ujar Adit singkat. Dia tahu Nayla belum selesai berbicara.
“Mereka bisa berbagi cerita mereka mulai bisnis itu, dan visi kedepannya apa, siapa tahu itu bisa jadi inspirasi buat orang-orang yang pengen memulai bisnis juga.” Nayla sibuk mengeluarkan ide di kepalanya.
“Misalnya restoran ini, bisa juga diwawancarai pemiliknya dan ditanya apa visi misinya bisa sampai bikin restoran yang membuat orang gak bosen untuk kembali lagi dan lagi.” lanjut Nayla.
“Elevation kan selama ini lebih banyak masukin pebisnis yang udah sukses, kiat-kiat memulai bisnis, mungkin kali rubrik baru itu bisa jadi warna berbeda untuk majalah kita Mas karena lebih practical, gimana menurut Mas Adit?”
“Ide bagus. Saya suka. Kamu yang pegang rubrik baru itu, oke?” respon Adit dengan santainya, sontak membuat Nayla terdiam kaget.
“Lho kenapa? Kamu gak mau?” tanya Adit yang sadar lawan bicaranya yang sejak tadi gak berhenti ngomong jadi mematung.
“Bukan gitu Mas, cuma saya kan baru kerja masa sudah disuruh pegang rubrik baru? Saya belum banyak ngerti, belum ada pengalaman sama sekali.”
“Wawancara kemarin dengan Nugie Hermawan sudah jadi pengalaman pertama kamu kan. Tenang saja, nanti saya bantu, yang penting kamu siap untuk isi rubrik itu dan cari sumbernya setiap bulan.” ucap Adit dengan tenang.
Saat Nayla masih berusaha memproses semua ucapan Adit, makanan yang mereka pesan sudah datang dan disiapkan di hadapan mereka masing-masing.
“Nah makanan kita udah dateng, kita makan dulu saja.” ajak Adit sekaligus menyadarkan Nayla dari lamunannya.
Nayla cuma bisa mengangguk kecil, masih bingung harus berespon apa. Dia sungguh tidak menduga akan langsung dipercayakan bagian sebesar itu.
Bayangannya hanya akan mengisi artikel kecil yang ditaruh dibelakang halaman supaya tidak banyak dibaca orang. Paling tidak tiga bulan kedepan selama masa percobaan.
Namun ada rasa lain dalam dirinya, sebuah rasa ingin untuk mencoba. Dia merasa ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Matanya melirik pada Adit yang sedang asik menikmati makanannya. Dalam hatinya Nayla bersyukur dipertemukan dengan Adit, jika orang lain yang menjadi atasannya, mungkin ceritanya tidak akan semenarik ini.
Adit bersihkeras membawa Nayla ke apartemennya. Dia tidak yakin meninggalkan Nayla sendirian di rumah itu dengan kondisi emosionalnya saat ini. Nayla akhirnya menurut, mungkin Adit bisa menenangkan perasaannya yang sedang hancur berkeping-keping. Adit membawakan segelas teh hangat untuk Nayla yang duduk di ruang tamu dengan wajah sembab."Makasih, Mas," ucap Nayla sambil menerima gelas hangat itu. Tidak lama kemudian terdengar suara bel, seorang pria pengantar makanan menyodorkan sebuah kantong pada Adit."Kita makan dulu ya," kata Adit sambil menyiapkan makanan yang dipesannya. Mereka berdua hanya makan bersama, tidak ada kata-kata yang terucap. Adit tahu tidak perlu membahasnya sekarang. Lebih penting untuk mengisi energi dan menenangkan diri terlebih dahulu. Selesai makan, Nayla merasa lebih baik. Hatinya lebih tenang dan emosinya mereda. Melihat wajah Nayla yang sudah lebih segar, Adit akhirnya meminta Nayla untuk mencerita semua kejadian itu."Aku memang kaget pas tahu soal Pa
"Apa kita harus tetap diam soal ini, Om? Aku merasa ada yang mengganjal tiap kali bersama Nayla karena menutupi ini semua dari dia." Siang itu Nugie mampir ke rumah Iwan setelah memastikan Nayla sudah berangkat kerja. Pikirannya masih terus terganggu dengan masalah Ayahnya Nayla. "Sejujurnya tidak adik untuk Nayla, dia berhak untuk tahu," jawab Iwan. "Tapi apa kita semua udah siap dengan reaksinya?" tanya Nugie lagi dengan wajah khawatir. "Tante belum siap, Gie," Ina yang terlihat paling takut jika sudah membahas masalah ini. Dia takut Nayla marah dan meninggalkan mereka. "Tahu soal apa?" tiba-tiba Nayla sudah berdiri di dekat pintu masuk dan kaget dengan pembicaraan yang dia dengar. Ketiga orang di ruang tamu itu pun tidak kalah panik saat melihat Nayla. "Nay? Kamu kok disini?" tanya Nugie dengan wajah panik. "Agenda aku ketinggalan. Kamu sendiri ngapain disini? Kenapa gak bilang aku kalau mau kesini?" "Aku.." Nugie berusaha untuk mencari alasan yang tepat. "Apa yang k
Nayla terlihat sangat ceria akhirnya bisa kembali ke kantor. Dia menyapa hampir semua orang yang berpapasan dengannya, seolah-olah sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Tidak lupa semua tim diberikan oleh-oleh. Nayla sudah jauh berbeda dari Nayla yang pertama kali menginjakkan kaki di Elevation."Asik! Nay, lo sering-sering deh jalan-jalan. Biar gue dapet oleh-oleh terus," goda Willy."Ada-ada aja lo, Wil!" tawa Nayla pun lepas."Kak Nay, mana buat aku?" tagih Widya begitu melihat Nayla."Dateng-dateng langsung minta oleh-oleh kamu, Wid. Nih." Nayla menyodorkan sebuah bingkisan yang khusus dia beli untuk Widya. "Makasih Kakakku yang paling cantik dan bawel," goda Widya.Nayla cuma geleng-geleng melihat kelakuan Widya. "Wid, Mas Adit kemana? Tumben belum kelihatan."Widya mengangkat bahunya sebagai tanda tidak tahu menahu kemana Adit pergi. "Beberapa hari ini Mas Adit banyak meeting keluar, kayaknya lagi ada urusan soal iklan," jelas Widya sambil sibuk memfoto oleh-oleh dari Nayla, ag
Keesokan paginya, setelah sarapan mereka langsung naik shinkansen menuju Osaka. Nayla tidak seceria biasanya pagi itu, wajahnya terlihat agak lesu. "Kamu kenapa, Nay?" tanya Nugie dengan nada khawatir. "Gpp, Gie. Mungkin agak capek aja," jawab Nayla yang menghindari pembicaraan lebih lanjut. Suasana hatinya memang memburuk sejak kejadian semalam. Tapi dia tidak mau merusak sisa liburannya dengan Nugie yang tinggal beberapa hari lagi. Dia memutuskan untuk mengendalikan perasaannya, membuang jauh pikiran-pikiran negatif dari kepalanya. "Istirahat aja dulu, Nay. Lumayan ada satu jam lebih," ucap Nugie dengan lembut. "Gak mau, Gie. Aku mau lihat pemandangannya, dan nikmatin pengalaman ini. Sayang banget kalau tidur," balas Nayla berusaha tersenyum, berusaha memulihkan suasana. Perjalanan satu jam itu pun terasa singkat, tidak terasa mereka sudah sampai di Osaka. Liburan mereka bersama yang sesungguhnya pun dimulai disana. Bagi mereka ini juga kesempatan untuk saling mengenal satu s
Pagi itu mereka hanya sempat sarapan bersama di hotel sebelum Nugie dijemput oleh mobil yang disiapkan untuknya. Begitu Nugie berangkat, Nayla pun bersiap-siap untuk membuat jadwalnya sendiri hari itu. Dia membuka kembali peta dan catatan yang diberikan Nugie kemarin, dan mulai memilih tempat mana yang akan dia kunjungi.Setelah lama memilih, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke daerah Ginza. Walaupun dia tidak suka belanja, tapi dia ingin menikmati daerah itu. Terlebih lagi letaknya dekat dengan Tsukiji Market, dimana dia bisa menikmati jajanan khas Jepang dan sushi.Nayla memang cukup ahli membaca peta transportasi, karena itu bukan hal baru untuknya. Sampai di Ginza, Nayla disuguhi toko-toko di sepanjang kiri dan kanan jalan, kebanyakan adalah toko barang branded dengan harga selangit, yang tentu saja langsung dilewati begitu saja oleh Nayla.Dia hanya sibuk menikmati daerah yang walaupun bukan hari libur tapi tetap saja ramai dengan orang-orang, baik turis maupun warga lokal. Ke
Hari yang ditunggu-tunggu Nugie dan Nayla akhirnya tiba. Setelah menempuh penerbangan kurang lebih enam jam, akhirnya mereka sampai di bandara Internasional Narita. Karena sudah beristirahat sepanjang perjalanan, keduanya tampak segar dan bersemangat saat menginjakkan kaki mereka di bandara itu. Selesai proses imigrasi dan pengambilan koper, mereka langsung menuju loket tiket untuk membeli tiket kereta yang akan mengantarkan mereka menuju pusat kota Tokyo. Perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih satu setengah jam itu tidak terasa sama sekali, mereka sibuk menikmati pemandangan luar yang dihiasi salju. “Cakep banget ya, Gie," ujar Nayla dengan mata berbinar-binar. Nugie mengangguk setuju, matanya kemudian tidak bisa lepas menatap Nayla yang tampak cantik dengan wajah cerianya. Dia merasa keputusannya untuk menunda memberitahukan Nayla tentang Ayahnya adalah keputusan yang tepat. Satu setengah jam kemudian mereka pun turun dari kereta ketika sampai di stasiun yang mereka t







