Share

Keberuntungan

Author: Melody
last update publish date: 2026-07-27 13:04:27

Teman-teman kantornya sudah mulai pulang satu per satu, namun Nayla masih terus berkutik dengan laptop dan beberapa majalah di tangannya. 

Dia melirik jam dinding dihadapannya, menunjukkan pukul 17.00. Memang sudah jam pulang kantor. Tapi Nayla masih betah dan asik dengan apa yang dikerjakannya, dia tau harus banyak belajar untuk bisa berkontribusi banyak Elevation.

“Belum pulang?” suara Adit mengejutkan Nayla.

“Eh Mas Adit. Belum nih, masih sore, nanti saja.”

“Semangat kerja ya?” canda Adit.

“Ya habis dirumah juga gak ada kerjaan, Mas,” jawab Nayla sambil tertawa kecil. 

“Aku lagi lihat-lihat Elevation edisi yang lalu-lalu, pengen pelajarin lebih. Sama pelajarin majalah saingannya Elevation juga, pengen tahu apa yang bikin dia bisa mencuri perhatian pasar.” lanjut Nayla sambil memperlihatkan tumpukan majalah di mejanya.

“Lulusan luar memang beda ya. Ayo ikut saya, kita makan malam sambil ngobrol soal ide-ide baru. Mungkin kamu bisa kasih masukan ide segar seperti yang diinginkan Pak Rino.” ajak Adit.

Nayla yang tidak enak menolak ajakan Adit pun akhirnya mengangguk dan membereskan mejanya, lalu mematikan komputer di hadapannya. 

Walaupun sebenarnya masih ingin menghabiskan waktu di kantor, namun dia berpikir kesempatan diskusi dengan atasannya ini mungkin tidak datang dua kali. Nayla berpikir makan malam ini bisa jadi kesempatannya untuk belajar juga dari Adit. 

Adit kemudian mengajak Nayla makan di sebuah restoran masakan Indonesia yang terkenal di dekat kantor. Sebuah restoran yang cukup besar, dan mulai ramai dengan pengunjung.

Saat masuk langsung terasa dekorasi gaya nusantara yang rapi dan bersih, membuat pengunjung langsung merasa nyaman. Mereka kemudian memilih duduk di salah satu sisi pojok restoran, agar lebih sepi dan mudah berdiskusi.

“Makanan disini enak-enak lho Nay. Kamu pasti kangen makanan Indo kan,” kata Adit sambil menyodorkan buku menu.

“Bener Mas, emang gak ada makanan yang seenak masakan Indonesia deh, dimakan tiap hari juga gak pernah bosen,” ucap Nayla sambil membolak-balik buku menu di tangannya.

“Saya pesan nasi goreng buntut satu ya, dibuat sedikit pedas,” kata Adit pada pelayan yang berdiri di samping meja mereka. “Minumnya es teh tawar saja.” lanjut Adit. 

“Hmm.. Saya pesan nasi rawon dan es teh tawar juga ya, Mbak,” kata Nayla sambil menutup buku menunya.

“Baik, satu nasi goreng buntut, satu nasi rawon, dan dua es teh tawar ya,” pelayan tersebut mengulang pesanan mereka memastikan semua sudah tepat.

“Bener, Mbak,” jawab Adit.

“Baik, ditunggu ya,” balas pelayan tadi kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. 

“Mas sering makan disini ya?” tanya Nayla karena melihat Adit langsung memesan tanpa melihat buku menu lagi.

“Sering banget. Kalau perlu lembur, ya paling cepet makan disini. Dekat, enak pula,” jelas Adit. 

“Jadi apa yang nih yang mau kita bahas?” pancing Adit, dia bisa melihat semangat dan rasa tidak sabar Nayla untuk menyampaikan sesuatu.

“Kalau saya lihat ya Mas, majalah baru tadi isinya lebih ringan dan beragam,” Nayla langsung menjelaskan dengan nada penuh semangat. 

“Mungkin kita bisa memikirkan satu rubrik baru yang isinya pendatang baru dalam dunia bisnis, atau pebisnis muda seperti Nugie kemarin,” lanjut Nayla. 

“Ide bagus.” Ujar Adit singkat. Dia tahu Nayla belum selesai berbicara.

“Mereka bisa berbagi cerita mereka mulai bisnis itu, dan visi kedepannya apa, siapa tahu itu bisa jadi inspirasi buat orang-orang yang pengen memulai bisnis juga.” Nayla sibuk mengeluarkan ide di kepalanya.

“Misalnya restoran ini, bisa juga diwawancarai pemiliknya dan ditanya apa visi misinya bisa sampai bikin restoran yang membuat orang gak bosen untuk kembali lagi dan lagi.” lanjut Nayla. 

“Elevation kan selama ini lebih banyak masukin pebisnis yang udah sukses, kiat-kiat memulai bisnis, mungkin kali rubrik baru itu bisa jadi warna berbeda untuk majalah kita Mas karena lebih practical, gimana menurut Mas Adit?”

“Ide bagus. Saya suka. Kamu yang pegang rubrik baru itu, oke?” respon Adit dengan santainya, sontak membuat Nayla terdiam kaget. 

“Lho kenapa? Kamu gak mau?” tanya Adit yang sadar lawan bicaranya yang sejak tadi gak berhenti ngomong jadi mematung.

“Bukan gitu Mas, cuma saya kan baru kerja masa sudah disuruh pegang rubrik baru? Saya belum banyak ngerti, belum ada pengalaman sama sekali.”

“Wawancara kemarin dengan Nugie Hermawan sudah jadi pengalaman pertama kamu kan. Tenang saja, nanti saya bantu, yang penting kamu siap untuk isi rubrik itu dan cari sumbernya setiap bulan.” ucap Adit dengan tenang.

Saat Nayla masih berusaha memproses semua ucapan Adit, makanan yang mereka pesan sudah datang dan disiapkan di hadapan mereka masing-masing.

“Nah makanan kita  udah dateng, kita makan dulu saja.” ajak Adit sekaligus menyadarkan Nayla dari lamunannya.

Nayla cuma bisa mengangguk kecil, masih bingung harus berespon apa. Dia sungguh tidak menduga akan langsung dipercayakan bagian sebesar itu.

Bayangannya hanya akan mengisi artikel kecil yang ditaruh dibelakang halaman supaya tidak banyak dibaca orang. Paling tidak tiga bulan kedepan selama masa percobaan. 

Namun ada rasa lain dalam dirinya, sebuah rasa ingin untuk mencoba. Dia merasa ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. 

Matanya melirik pada Adit yang sedang asik menikmati makanannya. Dalam hatinya Nayla bersyukur dipertemukan dengan Adit, jika orang lain yang menjadi atasannya, mungkin ceritanya tidak akan semenarik ini. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kembali untuk Bertemu   Perasaan Harus Diucapkan

    Hari itu akhirnya tiba, hari keberangkatan Nayla ke China. Malam itu Nayla sudah bersiap untuk berangkat ke bandara bersama Adit. Ina memutuskan untuk tidak ikut mengantar karena takut tidak bisa menahan perasaannya nanti. Bagi Ina ini menjadi perpisahan yang cukup berat, rumah akan kembali sunyi dan sepi tanpa Nayla."Aku berangkat dulu ya, Om, Tante. Aku tunggu Om dan Tante main ke Beijing ya," ucap Nayla sambil memeluk kedua orangtua angkatnya itu."Denger kan, Pa, kita harus kunjungin Nayla ya nanti kalau kanget banget. Sekalian jalan-jalan, iya kan Nay?" ucap Ina."Iya dong, aku akan ajak Om dan Tante ke semua tempat cantik dan restoran enak pokoknya," jawab Nayla bersemangat."Jaga diri kamu ya, Nay. Sering-sering telpon kami ya," pesan Iwan."Pasti, Om. Aku jalan dulu ya," pamit Nayla."Om, Tante, aku pamit juga ya," ucap Adit sambil membawakan koper Nayla dan memasukkannya ke bagasi mobilnya.Nayla kembali melambaikan tangan pada Iwan dan Ina sebelum mobil Adit melaju pergi. M

  • Kembali untuk Bertemu   Hubungan yang Sulit Dijelaskan

    "Rat, aku udah ketemu sama anak kita. Dia cantik seperti kamu," ucap Rino sambil tersenyum dan menatap Nayla. "Kamu tahu betapa aku merindukan kamu, Rat?" Rino tidak dapat menahan air matanya dan menangis tersedu-sedu sambil memengang batu nisan cinta pertamanya itu. Nayla mengelus punggung Bapaknya untuk menenangkannya, sambil dia sendiri juga menahan air matanya. "Maafin aku, Rat. Aku udah bikin hidup kamu susah. Sekarang aku janji akan jaga anak kita baik-baik," lanjut Rino."Bu, aku sudah memaafkan Bapak. Aku yakin Ibu juga tidak pernah menyimpan kebencian pada Bapak. Karena Ibu tidak pernah menyalahkan Bapak ataupun keadaan. Pasti sekarang Ibu bahagia kan aku bisa ketemu sama Bapak," ucap Nayla kemudian menatap Rino sambil tersenyum. "Bu, setelah ini aku akan berangkat sekolah lagi ke China, dibiayain oleh Bapak. Mungkin aku gak bisa sering-sering kesini, tapi Ibu tahu kan Ibu selalu ada di hati aku," lanjut Nayla. Dia kemudian memeluk batu nisan itu, seolah sedang memeluk Ib

  • Kembali untuk Bertemu   Reuni yang Dirindukan

    "Bapak sudah sehat?" tanya Nayla dengan wajah khawatir. Mereka mencari waktu untuk bertemu setelah pertemuan di rumah sakit waktu itu. Nayla ingin memastikan Ayahnya baik-baik saja."Seperti yang kamu lihat, sudah lebih segar," jawab Rino sambil tersenyum.Dia tidak ingin Nayla khawatir dengannya. Dia ingin Nayla fokus dengan masa depannya dan tidak terhambat oleh kondisi kesehatannya. "Bagaimana dengan Tante Inge dan Widya?" Nayla bertanya dengan hati-hati."Kamu gak usah mengkhawatirkan mereka, Nay. Fokus saja dengan masa depan kamu. Mereka biar Bapak yang urus ya.""Apa sebaiknya aku ketemu dengan mereka sebelum berangkat?"Rino terdiam. Dia sendiri bingung. Apakah perlu Nayla bertemu dengan Inge dan Widya? Atau membiarkan semuanya pulih dengan sendirinya?"Tapi kalau Bapak gak nyaman, lebih baik gak usah ya, Pak," kata Nayla yang menangkap rasa ragu di wajah Rino."Bapak cuma gak yakin Inge mau ketemu kamu, Nay. Tampaknya dia masih terpukul," Rino berusaha menjelaskan.Nayla men

  • Kembali untuk Bertemu   Terlalu Berat untuk Memaafkan

    Suasana di rumah Rino masih terasa aneh. Meja makan menjadi sunyi, rumah itu pun terasa sepi. Mereka tetap makan bersama, Inge tetap merawat Rino, namun tidak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Begitu juga dengan Widya, gadis yang biasanya ramai dan ceria, berubah total sejak kejadian semalam.Rino hanya bisa menerima, dia tahu setelah kesalahan yang dia buat, dia tidak berhak meminta apapun. Keluarganya masih bertahan dan tidak meninggalkan dia saja sudah sebuah pencapaian. "Ini obatnya diminum dulu," ucap Inge sambil menyodorkan secangkir kecil berisi beberapa butir obat yang harus diminum rutin oleh Rino.Rino yang sedang berbaring di tempat tidur langsung bangkit, duduk, dan menerima obat yang disodorkan Inge. "Kamu masih marah?" tanya Rino dengan lembut sambil menggenggam tangan istrinya. Inge hanya diam, bahkan membuang pandangannya ke arah lain. Dia tidak ingin menatap Rino."Duduk dulu, Nge. Kita bicara berdua," bujuk Rino.Inge merasa aneh melihat suaminya yang se

  • Kembali untuk Bertemu   Perpisahan untuk Sementara

    Nayla akhirnya menemukan kampus yang dia sukai. Setelah mencari informasi yang dia perlukan, akhirnya dia mendaftarkan dirinya. Kebetulan pendaftaran sedang dibuka dan dia bisa mulai ikut tahun ajaran baru yang akan dimulai satu bulan lagi. Sejak hari itu Nayla sibuk mempersiapkan semua hal yang dia perlukan. Termasuk berpamitan dengan teman-temannya di Elevation. Tentu saja hubungannya dengan Rino menjadi rahasia di Elevation. Hanya Adit dan Fajar yang tahu. Nayla mengundurkan diri dengan alasan ingin kuliah lagi setelah hampir dua tahun bekerja. Dia berjanji akan kembali lagi ke Elevation setelah lulus nanti. Willy menjadi orang yang paling kaget dengan keputusan Nayla. Dia tidak menyangka seorang yang gila kerja seperti Nayla akan memilih untuk sekolah lagi."Gue bakal kehilangan temen gue yang paling rajin di gedung ini," ucap Willy.Nayla mengajaknya untuk minum kopi di cafe dekat kantin. Willy adalah orang pertama yang menerimanya di Elevation, jadi dia ingin berpamitan dengan

  • Kembali untuk Bertemu   Rumitnya sebuah Perasaan

    "Kita mau kemana?" tanya Widya pada Adit begitu masuk dan duduk dalam mobil Adit."Kamu pilih ya, dimana saja yang kamu suka, saya traktir," jawab Adit berusaha menghibur Widya."Bener ya, kalau gitu aku mau makan steak wagyu."Sebenarnya Widya tidak serius, dia hanya ingin melihat apakah Adit akan benar-benar memenuhi keinginannya. "Oke," jawab Adit sambil memasang sabuk pengaman, dan melajukan mobilnya.Widya kaget, lalu tersenyum. Dia tahu Adit akan membuat suasana hatinya menjadi lebih baik. Widya termasuk perempuan yang banyak didekati pria-pria. Dia bahkan tidak pernah menjomblo lebih dari enam bulan. Namun jika ada sesuatu yang serius menganggu hatinya, dia selalu lebih nyaman dengan Adit dibandingkan kekasih-kekasihnya. "Kenapa Mas gak cerita soal Kak Nay?" tanya Widya."Bukan hak saya untuk menceritakan ke kamu dan Tante Inge. Saya hanya orang luar, Wid.""Tapi Mas kan sudah seperti keluarga sendiri," protes Widya."Tapi masalah ini berbeda Wid, saya gak berhak ikut campur.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status