LOGINKeheningan yang mencekik seketika melingkupi pelataran kayu Paviliun Bukit Minglian. Desir angin pegunungan yang tadinya membawa kehangatan kini serasa membeku di udara. A’Ning yang berdiri di samping meja batu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan napas seraya melangkah mundur secara perlahan untuk memberi ruang bagi sepasang suami istri tersebut. Lian Xue masih mematung di kursi kayunya. Cangkir teh porselen yang dipegangnya terasa amat dingin di jemari. Manik matanya yang bening menatap lurus ke arah sosok tegap yang berdiri di ujung tangga. Shen Yang melangkah maju secara perlahan. Setiap derap langkah sepatu kulitnya di atas papan kayu terdengar amat nyaring. Jubah dinas hitamnya yang pekat tampak berdebu, menyuarakan perjalanan jauh yang ditempuhnya tanpa henti. "Mengapa tidak boleh menyebut namaku, Putri Lian Xue?" ulang Shen Yang. Sepasang mata elangnya mengunci paras ayu Lian Xue tanpa berkedip. Lian Xue menelan ludah, memaksakan dirinya berdiri dari kursi. I
Cahaya fajar menerobos lewat celah jendela kayu Paviliun Bukit Minglian, membiaskan sinar keemasan yang hangat di atas lantai porselen. Lian Xue perlahan membuka matanya. Ia menghela napas panjang, tertegun merasakan kesegaran yang mendadak melingkupi seluruh tubuhnya. Rasa kebas, sendi yang ngilu, serta rasa terbakar akibat demam dan flu yang menyiksanya semalam kini telah lenyap tanpa bekas. Lian Xue mendudukkan tubuhnya di atas ranjangnya, memandangi telapak tangan kanannya yang terhampar kosong. Ia meraba permukaan kasur di sampingnya yang telah dingin. Ada kehangatan asing yang mendadak hilang dari genggaman jarinya. Pintu kamar terbuka pelan. A'Ning melangkah masuk membawa baki berisi cawan air hangat dan kain bersih. Begitu matanya menangkap sosok Lian Xue yang sedang duduk tegak, dayang setia itu mendadak menghentikan langkahnya, matanya membelalak penuh kejutan. "Putri!" seru A'Ning terperanjat, bergegas meletakkan baki di meja rias. "Bagaimana keadaan Putri? Semalam
Sudah tiga hari Lian Xue mengasingkan diri di Bukit Minglian. Namun, bukannya ketenangan yang didapat, bayangan wajah tegas dan mata elang Shen Yang justru kian gencar bergentayang di benaknya. Siang itu, puncak kekesalannya membuncah. Lian Xue yang kehilangan kendali emosi membanting cangkir porselen hingga hancur berkeping-keping. "Kenapa wajah pria kaku itu terus muncul di kepalaku?!" desisnya murka pada kesendiriannya. Namun, saat berniat membereskan pecahan porselen itu, ujung jarinya tergores tajam hingga menyebarkan pendar darah segar di atas lantai. Melihat junjungannya yang kian tenggelam dalam kesedihan dan keputusasaan, A'Ning yang tak tega. Ia berinisiatif mengajak Lian Xue melangkah keluar. "Putri, mari kita mencari bunga liar di lereng bukit. Udara luar mungkin bisa sedikit menyegarkan pikiranmu," bujuk A'Ning lembut. Lian Xue akhirnya mengangguk pasrah. Sayangnya, takdir seolah tak berpihak padanya. Baru saja mereka sampai di jalan setapak lereng bukit, lang
Matahari siang merambat naik di atas atap-atap Istana namun kehangatannya tak sedikit pun menyentuh dingin yang membeku di dalam Paviliun Yue Hua. Lian Xue duduk membisu di dekat meja teh, memandangi cangkir porselen yang airnya telah dingin sejak dua jam lalu. Paras ayunya pucat, sementara lingkar kehitaman di bawah matanya tak sanggup disembunyikan meski A'Ning telah memoleskan bedak tipis.Keheningan pecah ketika A'Ning melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Derap langkah kaki dayang setia itu terdengar panik, raut wajahnya diliputi keterkejutan yang amat sangat."Putri!" seru A'Ning seraya berlutut di hadapan Lian Xue, suaranya bergetar hebat. "Ada ... ada kabar dari Paviliun Yang Hua."Lian Xue menegakkan punggungnya, berusaha memulihkan kedinginannya yang tersisa. "Kabar apa lagi yang berembus dari paviliun Selir Wang?""Selir Wang jatuh sakit keras sejak pertengahan hari tadi, Putri!" jawab A'Ning cepat. "Tabib istana dikirim ke sana karena beliau mengalami demam tinggi da
Suara derap langkah kaki Lian Xue menyapu lorong beratap Paviliun Yue Hua dengan terburu-buru. Sesampainya di kamarnya, ia mendorong pintu kayu tebal dan menutupnya rapat-rapat. Lian Xue menyandarkan punggungnya di balik pintu, dadanya naik-turun memburu hebat. Telapak tangan kanannya masih menyengat panas—bekas tamparan keras yang ia layangkan tepat di pipi tegap Shen Yang. A'Ning yang bergegas mendekat dengan jubah bulu hangat terhenti seketika saat melihat binar mata sang Putri yang berkaca-kaca serta perawakannya yang gemetar. "Putri ...," panggil A'Ning panik. "Apa yang terjadi? Wajah Putri—" "Tinggalkan aku sendiri, A'Ning," potong Lian Xue, suaranya parau dan hampir pecah. "Kunci pintu luar. Siapa pun ... siapa pun tidak boleh masuk malam ini." A'Ning membelalak halus, namun melihat ketegangan hebat yang meliputi junjungannya, ia hanya mampu membungkuk dalam lalu menyelinap keluar dengan seribu pertanyaan yang tertahan. Begitu keheningan malam melingkupi ruangan se
Keheningan seketika melingkupi kamar utama Paviliun Yang Hua setelah pintu kamar Selir Wang tertutup rapat. Bau harum racikan herbal yang tumpah di atas lantai porselen bercampur dengan aroma minyak wijen yang membakar pelan di sudut ruangan. Lian Xue masih berada dalam posisi duduk di atas pangkuan tegap Shen Yang dengan gaun sutra mewahnya yang terhampar. Namun, begitu bayangan Wang Xu Lin menghilang, ketenangan palsu yang ditunjukkannya seketika runtuh. Dadanya naik-turun cepat, mencoba menata kembali deru napasnya yang memburu. Setiap hembusan napasnya serasa menyulut rasa panas yang masih menyisakan bekas di bibirnya yang sedikit membengkak. Tidak, aku tidak boleh terbawa perasaan, batin Lian Xue sambil berusaha meredakan debaran hebat dan gejolak asing yang merayapi seluruh persendiannya. Rencana awalnya amat sederhana dan dingin. Ia menggunakan keintiman palsu untuk meremukkan keangkuhan Wang Xu Lin, membalas taktik busuk wanita itu, dan mengusirnya dari ruang utama
Suara langkah kaki Kasim Zhang menggema di selasar kayu Paviliun Lily. Saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan, aroma dupa cendana seolah memudar, digantikan oleh hawa otoritas yang kaku. Kasim kepercayaan kaisar itu membungkuk dalam, memberikan hormat yang sempurna kepada Selir Agung Wei. "
Pintu kayu berukir itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Selir Wen yang melangkah masuk dengan tergesa. Guratan kecemasan tak mampu disembunyikan dari wajahnya yang pucat. Ia mengenakan jubah sutra berwarna hijau zamrud, warna penuh ketenangan, namun pagi ini tampak kontras dengan kegelisahan
Angin pagi membawa aroma dupa cendana menyusup melalui jendela Paviliun Shengde, namun kehangatan sinar matahari tidak mampu mencairkan suasana yang mendadak beku. Di atas meja perjamuan, piring-piring porselen berisi hidangan mewah seolah kehilangan daya tariknya saat Kasim Zhang melangkah maju.
"Tuan Putri, bangunlah! Selir Agung memintamu dan Jenderal Shen untuk hadir dalam perjamuan makan pagi bersama Kaisar."Suara lembut A'Ning, dayang pribadinya, perlahan membangunkan Lian Xue. Ia mengerjap, menarik kesadarannya. Saat matanya terbuka sempurna, ia tersentak menyadari sekelilingnya. In







