Home / Fantasi / Kembalinya Sang Puteri Phoenix / Bab 59 - Antara Hangat dan Ragu

Share

Bab 59 - Antara Hangat dan Ragu

Author: Wei Yun
last update publish date: 2026-08-12 23:51:53

​Lian Xue merapatkan punggungnya ke dinding kayu yang dingin, menahan napas seraya menggenggam erat kotak besi di tangannya.

Langkah kaki di luar terhenti sejenak, disusul gesekan halus kain yang menyapu dedaunan di taman. Dengan gerakan seringan kapas, ia berjinjit mendekati jendela berukir, menyibak sedikit celah tirai untuk mengintip ke arah pelataran luar.

​Melalui temaram rembulan, Lian Xue melihat sesosok bayangan berbalut jubah hitam berkelebat cepat menyeberangi atap paviliun, lalu l
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 61- Muslihat Sang Penguasa

    ​Hening seketika terasa di dalam ruangan besar itu. Genggaman tangan Kaisar pada jemari Lian Xue mendadak membeku, dingin dan tanpa ketegangan seraya pandangannya terkunci lurus pada paras sang Putri.​Lian Xue menahan napas. Ia siap menerima ledakan amarah, guncangan ketidakpercayaan, atau bahkan sanggahan keras dari Ayahandanya. Namun, reaksi yang terjadi justru jauh dari dugaannya.​Perlahan, genggaman Kaisar terlepas. Sang Penguasa menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran, menghembuskan napas panjang yang terdengar bukan sebagai bentuk kemurkaan, melainkan sebuah keluhan berat yang teramat lelah.​"Ayah ... sudah menduganya," bisik Kaisar lirih.​Lian Xue membelalakkan matanya, terperanjat hebat. "Ayahanda ... sudah tahu?"​Kaisar memejamkan mata sejenak, mengurut pangkal hidungnya dengan jemari yang gemetar. "Ayah bukan pria bodoh, Xue'er. Malam ketika Wu Jian mengaku dirinya sedang mengandung, Ayah tahu betul bahwa Ayah tidak pernah memerintahkan Kasim untuk membiarkan beni

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 60 - Di balik Tangis Kaisar

    ​Lian Xue melangkah cepat menembus koridor sepi menuju Paviliun Yue Hua, membiarkan jubahnya tersapu angin pagi. Begitu menyeberangi ambang pintu kamarnya, ia langsung terduduk di depan meja kayu, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. ​Haruskah aku memberitahu Ayahanda bahwa janin yang dikandung Selir Wu sebenarnya bukan benihnya? batin Lian Xue resah.​Ingatannya melayang pada perjamuan ulang tahun semalam. Ayahandanya telah berusaha sekuat tenaga untuk tampil tegar dan tanpa cela di hadapan para pejabat serta utusan asing, meski guncangan hebat baru saja menghantam Istana Belakang. Apakah sang Kaisar sebegitu terpukulnya karena kehilangan calon pewaris tahta?​Lalu, bagaimana dengan Bibinya, Selir Agung Wei? Apakah tragedi ini murni hasil manipulasi dingin sang Bibi? Selir Wu tentu tidak memiliki keberanian untuk menolak tugas berat mengurus pesta perjamuan saat hamil muda, sebab wanita itu juga enggan kehilangan muka di hadapan Kaisar. Namun, apakah Selir Agung Wei sengaja mem

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 59 - Antara Hangat dan Ragu

    ​Lian Xue merapatkan punggungnya ke dinding kayu yang dingin, menahan napas seraya menggenggam erat kotak besi di tangannya. Langkah kaki di luar terhenti sejenak, disusul gesekan halus kain yang menyapu dedaunan di taman. Dengan gerakan seringan kapas, ia berjinjit mendekati jendela berukir, menyibak sedikit celah tirai untuk mengintip ke arah pelataran luar. ​Melalui temaram rembulan, Lian Xue melihat sesosok bayangan berbalut jubah hitam berkelebat cepat menyeberangi atap paviliun, lalu lenyap ditelan kegelapan malam. ​Siapa orang itu? batin Lian Xue dengan benak penuh tanda tanya. Apakah dia penyusup yang sengaja mengincar ruang kerja Shen Yang? Atau ... apakah ia menyadari ada orang di dalam sehingga membatalkan niatnya? Ataukah itu mata-mata suruhan Pei Zhen yang sedang mengawasiku? ​Kewaspadaan Lian Xue melonjak drastis. Tanpa membuang waktu, ia mengembalikan kotak besi kosong ke rongga dinding, lalu menyembunyikan plakat militer berat itu di dalam lipatan pakaian bagian a

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 58 - Kebohongan Manis dalam Dekapan Jenderal

    Shen Yang menatap wajah istrinya dalam-dalam. "Kamarku tidak cukup luas jika harus ditiduri oleh kita berdua, Lian Xue." ​Lian Xue tersenyum tipis di dalam dekapan suaminya. Binar kejahilan terpancar jelas dari matanya ketika mendapati gurat gundah dan gugup yang amat langka di paras tegas Panglima Biro Penyelidik itu. ​"Mengapa?" goda Lian Xue halus, merapatkan kepalanya di dada Shen Yang. "Apakah kau yakin ... berniat tidur bersama denganku malam ini, Jenderal?" ​"Bukan itu maksudku," sahut Shen Yang cepat, napasnya agak tertahan seraya memalingkan wajahnya yang mendadak hangat. "Ranjangnya terlalu sempit ... bahkan jika hanya untuk dirimu seorang." ​Lian Xue berpura-pura menekuk wajahnya, menunjukkan rasa kesal yang dibuat-buat. "Kalau kau memang tidak suka aku beristirahat di Paviliun Tian Lang, turunkan aku sekarang juga. Aku bisa berjalan sendiri kembali ke Paviliun Yue Hua." ​Shen Yang mendengkus pelan, namun bukannya menurunkan Lian Xue, ia justru mempererat dekapannya da

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 57 - Taktik di balik Dekapan

    ​Lian Xue melangkah keluar dari balik lipatan sutra merah tebal dengan wajah memerah, wujud antara kekesalan dan kemarahan yang menumpuk di dadanya. Jemarinya yang gemetar mengepal erat di dalam lipatan lengan jubahnya. Pengakuan Pei Zhen tentang Jenderal Wang Xing yang telah berada di genggamannya benar-benar membuat pijakan Lian Xue terasa goyah. ​Ia tahu betul risiko besar di balik Plakat Militer Kekaisaran. Terdapat tiga plakat utama yang jika disatukan akan memiliki kekuatan maha dahsyat tanpa tanding: Plakat milik Jenderal Wang Xing selaku Panglima Perang garis depan, Plakat milik Shen Yang selaku Jenderal Tertinggi Biro Penyelidik Istana, dan Plakat Utama yang dipegang oleh Ayahandanya selaku penguasa tertinggi kekuasaan. ​Penggabungan tiga plakat itu, siapa pun pemegangnya, tak hanya mampu mengudeta seluruh struktur kekaisaran, tetapi juga memiliki wewenang mutlak menggerakkan seluruh lini pasukan untuk menyerang kerajaan lain. ​Pei Zhen masih ingin terobsesi menjadi pemimp

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 56 - Menebak Konspirasi Pei Zhen

    ​Hari yang ditentukan akhirnya tiba. Matahari terbenam diiringi dentang lonceng kekaisaran yang bergema, menandai perayaan ulang tahun Sang Penguasa. Istana kini menjelma menjadi lautan kain sutra merah dan emas, dihiasi ribuan lampion yang berpendar megah, menyamarkan sepenuhnya ketegangan yang terjadi beberapa jam sebelumnya. ​Kaisar duduk di atas takhta naga dengan jubah kebesarannya yang paling megah. Meski garis-garis kelelahan dan muram masih tersirat samar di sudut matanya, Sang Pemimpin dengan lihai membungkus wajahnya dalam keagungan yang dingin. ​Tak ada satu pun utusan asing atau pejabat daerah yang menyadari bahwa sehari sebelumnya, amarah sang penguasa baru saja mengguncang Istana Belakang. Selir Agung Wei tetap berada di Aula Leluhur merenungi kesalahannya, sementara ketidakhadiran Selir Wu ditutupi rapat dengan alasan kesehatan yang mendadak menurun. ​Di samping kanan takhta naga, berdiri Lian Xue. ​Sang Putri mengenakan gaun kebesaran berwarna biru malam bersula

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 6 - Secangkir teh penekan Kasim

    Suara langkah kaki Kasim Zhang menggema di selasar kayu Paviliun Lily. Saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan, aroma dupa cendana seolah memudar, digantikan oleh hawa otoritas yang kaku. Kasim kepercayaan kaisar itu membungkuk dalam, memberikan hormat yang sempurna kepada Selir Agung Wei. ​"

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 5 - Air Mata sang Selir

    Pintu kayu berukir itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Selir Wen yang melangkah masuk dengan tergesa. Guratan kecemasan tak mampu disembunyikan dari wajahnya yang pucat. Ia mengenakan jubah sutra berwarna hijau zamrud, warna penuh ketenangan, namun pagi ini tampak kontras dengan kegelisahan

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 4 - Kilau Emas, Hati yang Panas

    Angin pagi membawa aroma dupa cendana menyusup melalui jendela Paviliun Shengde, namun kehangatan sinar matahari tidak mampu mencairkan suasana yang mendadak beku. Di atas meja perjamuan, piring-piring porselen berisi hidangan mewah seolah kehilangan daya tariknya saat Kasim Zhang melangkah maju.

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 3 - Interogasi Malam Pertama

    "Tuan Putri, bangunlah! Selir Agung memintamu dan Jenderal Shen untuk hadir dalam perjamuan makan pagi bersama Kaisar."Suara lembut A'Ning, dayang pribadinya, perlahan membangunkan Lian Xue. Ia mengerjap, menarik kesadarannya. Saat matanya terbuka sempurna, ia tersentak menyadari sekelilingnya. In

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status