Share

Kepergian yang Tak Berujung Pulang
Kepergian yang Tak Berujung Pulang
Penulis: Lion

Bab 1

Penulis: Lion
Kereta kuda itu tidak kembali ke Kediaman Pangeran Pemangku Raja.

Aku meminta kusir mengubah arah menuju Rumah Dagang Guandra di selatan kota. Tempat itu merupakan usaha milik pamanku yang ditinggalkannya di ibu kota. Usaha tersebut menjalin perdagangan antara utara dan selatan, dengan kapal-kapal dagang yang berlayar menuju Kota Rama setiap bulan.

Melihatku datang larut malam, Kepala Rumah Dagang terkejut dan buru-buru menyambutku dari balik konter.

Aku meletakkan selembar uang kertas di atas meja. "Lima belas hari lagi, aku mau satu tiket kapal menuju Kota Rama."

Kepala Rumah Dagang melirik pakaian Putri yang kukenakan dan tidak menerima uang itu.

"Kalau Tuan mengetahui bahwa Anda pergi ke selatan seorang diri, saya khawatir beliau akan menyalahkan hamba."

"Gunakan nama Susan Gunawan untuk tiket kapal itu. Tidak perlu beri tahu siapa pun."

Susan Gunawan adalah nama lain yang diberikan ibu kepadaku. Tidak banyak orang di ibu kota yang mengetahuinya. Tentu saja Andias tidak akan tahu juga.

Kepala Rumah Dagang ragu dalam waktu cukup lama. Pada akhirnya, dia mengeluarkan daftar nama rombongan dagang dan mencantumkan namaku di urutan paling bawah.

Dia menyerahkan sebuah plakat tembaga bertuliskan kata "Rumah Dagang Guandra" kepadaku. "Lima belas hari lagi, kapal akan berangkat pada tengah malam. Kapal tidak akan menunggu siapa pun yang terlambat."

Saat meninggalkan rumah dagang itu, Ingga masih menyeka air matanya. Dia sudah menemaniku dari aku masih tinggal di Kediaman Keluarga Gunawan hingga menikah dan tinggal di Kediaman Pangeran. Dia menyaksikan sendiri bagaimana aku berubah menjadi seorang Putri dari Pangeran Pemangku Raja yang piawai mengurus pembukuan dan memahami seluk-beluk hubungan antarmanusia.

"Nona, apakah Anda benar-benar tega meninggalkan semua ini?"

Tidak tega. Tujuh tahun bukanlah tujuh hari.

Pria itu pernah menggendongku melewati hamparan salju. Pada malam pernikahan kami, dia juga pernah melepaskan mahkota pengantinku dengan tangannya sendiri dan berjanji bahwa dia tidak akan membiarkanku menderita sepanjang hidupku.

Namun, tidak tega meninggalkannya bukan berarti aku harus mengorbankan sisa hidupku demi dirinya.

"Justru karena aku tidak tega, aku pun harus pergi."

Saat kembali ke Kediaman Pangeran, waktu sudah lewat pukul tujuh malam. Pintu aula utama terbuka. Dinda Santoso duduk di sisi Andias. Di atas meja tersaji arak dan kue buatannya sendiri.

Andias mengenakan pakaian sehari-harinya. Raut wajahnya tampak dingin. Dia biasanya tidak menyukai makanan manis. Namun, ketika Dinda menyodorkan kue kepadanya, dia malah tidak menolak.

Melihatku memasuki ruangan, Andias hanya melirik sekilas surat yang kupegang. "Sebagai Putri, kamu semakin bertingkah. Bahkan surat keluarga pun kamu jadikan bahan untuk membuat keributan."

Andias mengira surat itu adalah surat keluarga. Betul juga, bagaimana mungkin dia tahu bahwa isinya adalah surat cerai jika dia bahkan tidak pernah membukanya?

Aku berdiri di ambang pintu, memberinya satu kesempatan terakhir untuk menyadari kesalahannya.

"Apa Pangeran benar-benar mengira surat itu hanya surat keluarga biasa?"

Andias mengangkat cawan araknya. Ekspresinya sama sekali tidak berubah. "Paling-paling hanya berisi urusan sepele di kediaman ini. Kalau kamu kekurangan uang, ambil saja dari bagian keuangan."

Ternyata, di matanya, segala kepedihan yang kurasakan bisa diringkas menjadi pengeluaran.

Dinda berdeham pelan.

Andias segera meletakkan cawan araknya, lalu mengambil jubah tebal dari sandaran kursi dan menyampirkannya ke bahu wanita itu.

"Malam hari udaranya dingin. Kondisi tubuhmu lemah, tidak seharusnya kamu terlalu lama di luar."

Dinda merapatkan jubah itu ke tubuhnya, lalu tersenyum kepadaku dengan wajah penuh rasa bersalah. "Kak, jangan salah paham. Pangeran hanya mengkhawatirkanku karena kondisi tubuhku memang lemah sejak kecil."

Jubah tebal itu kubuat dengan buru-buru untuk Andias pada musim dingin tahun lalu. Kini, jubah itu berada di tubuh wanita lain. Ukurannya malah tergolong pas.

Sepertinya Andias akhirnya menyadari bahwa aku terus terdiam. Kedua alisnya sedikit berkerut.

"Kalau kamu juga merasa dingin, besok aku akan menyuruh seseorang mengantarkan jubah lain ke kediaman utama."

Andias bersedia memberiku kompensasi. Dia tidak pernah pelit dalam memberikan pakaian, perhiasan, maupun uang. Hanya satu hal yang tidak pernah rela dia kembalikan kepadaku, yaitu kasih sayang istimewanya.

Aku berlutut dan memberi hormat. "Terima kasih, Pangeran. Tidak perlu."

Tatapan Andias berhenti beberapa saat di wajahku. Dia tampak tidak terbiasa melihatku setenang ini.

Aku tidak memberinya kesempatan untuk bertanya lebih jauh. Aku berbalik dan meninggalkan aula utama.

Setibanya di kediaman utama, aku menyuruh Ingga membuka seluruh gudang penyimpanan. Harta sesanku terdiri dari 128 tandu barang. Selama tujuh tahun terakhir, 40 persen di antaranya telah digunakan untuk menambal pengeluaran Kediaman Pangeran Pemangku Raja.

Aku mengeluarkan satu per satu surat kepemilikan tanah dan toko, serta surat berharga yang masih tersisa, lalu mulai merapikannya.

Sementara itu, perhiasan dan kain yang dihadiahkan Andias kepadaku kucatat secara terpisah dalam buku lainnya. Semuanya tetap kusimpan utuh di dalam gudang.

Saat membalik halaman terakhir, aku melihat surat pernikahan kami dari tujuh tahun lalu. Kertas merah itu sudah sedikit usang, tetapi tulisan di atasnya masih tampak jelas dan tegas.

Andias pernah menuliskan sendiri bahwa dia bersedia menua bersama Sandora Gunawan hingga akhir hayat.

Aku menatapnya selama beberapa saat, lalu meletakkan surat pernikahan itu di dasar kotak. Lima belas hari kemudian, surat itu tidak akan bisa mengikatku lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 10

    Pada tahun berikutnya, Kedai Teh Sansan membuka cabang keduanya.Aku membawa pulang tiga perempuan yang tidak memiliki tempat untuk dituju dari kantor perantara tenaga kerja.Yang pertama diceraikan oleh keluarga suaminya. Yang kedua nyaris dijual karena ayahnya terlilit utang. Yang ketiga kehilangan tanahnya setelah menjanda karena dirampas kerabatnya.Awalnya, mereka bahkan tidak tahu cara berhitung. Aku mengajari mereka mulai dari pembukuan paling sederhana, lalu mengenali jenis teh, menghitung uang, hingga menawar harga dengan para pedagang.Ada yang menasihatiku agar tidak memberikan terlalu banyak uang kepada perempuan, khawatir mereka akan memiliki pikiran yang tidak semestinya.Aku hanya membagikan surat kepemilikan kedai kepada mereka."Seseorang baru bisa menentukan jalan mana yang ingin ditempuhnya setelah memiliki jalan keluar."Pada tahun kelima, kapal dagang milik Kedai Teh Sansan sudah mampu berlayar dari Kota Rama hingga ke perbatasan utara.Seorang kepala toko yang bar

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 9

    Tiga hari kemudian, para petugas kantor pemerintahan menyegel pintu Kedai Teh Sansan.Isi pengumuman itu tertulis dengan jelas bahwa istri dari Pangeran Pemangku Raja meninggalkan ibu kota tanpa izin, status dan dokumen identitasnya belum jelas, sehingga kedai teh harus menghentikan operasional untuk sementara waktu.Aku menurunkan pengumuman itu, lalu membawa surat cerai ke kantor pemerintahan setempat.Surat tersebut sudah dibubuhi cap resmi dari kantor pemerintahan ibu kota, tetapi belum dilengkapi tanda tangan dari Andias.Kepala daerah tidak berani menyinggung Pangeran Pemangku Raja. Dia hanya menyuruhku pulang untuk menunggu kabar.Menjelang petang, Andias berdiri di dalam kedai teh yang kini sedang kosong. Dia kembali mengenakan jubah resmi pangeran. Plakat tergantung di pinggangnya, sementara sorot mata dan raut wajahnya kembali sedingin dahulu.Di atas meja tergeletak surat-surat perjalanan untuk kembali ke ibu kota."Kembalilah bersamaku. Besok kedai tehmu sudah bisa dibuka l

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 8

    Andias sudah tinggal di rumah seberang selama sebulan. Dia tidak lagi menerobos masuk ke kedai teh, juga tidak lagi memohon agar aku kembali.Saat atap rumah bocor, dia menyuruh orang mengantarkan genting. Ketika petugas datang untuk memeriksa dokumen kependudukan para pedagang dari luar daerah, dia lebih dahulu meminta orang mengirimkan surat cerai dari ibu kota yang sudah dibubuhi cap resmi. Namun, dia tak kunjung membubuhkan tanda tangannya sendiri.Dia telah melakukan banyak hal. Hanya saja, dia tetap tidak bersedia untuk melepaskanku.Setiap pagi, Andias selalu duduk di tempat paling dekat dengan pintu kedai teh dan memesan secangkir teh hijau.Dulu, Andias hanya minum teh pekat. Kini, dia meminum teh kesukaanku. Entah apakah itu caranya menghukum diri sendiri atau mengingatkanku bahwa dia masih mengingat masa lalu.Hari itu, setelah kedai tutup, dia mengadangku di pintu belakang. Di tangannya tidak ada hadiah, juga tidak ada plakat Pangeran Pemangku Raja."Sandora, dulu aku mengi

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 7

    Enam bulan kemudian, Kedai Teh Sansan mulai dikenal di Kota Rama. Kedainya tidak besar, tetapi terkenal karena daun tehnya yang segar dan kue-kue lezat yang disajikan dengan apik.Para pedagang di sekitar kedai tahu bahwa aku seorang janda yang berasal dari kota di utara. Tidak seorang pun bertanya lebih jauh tentang masa laluku.Aku mengenakan pakaian berwarna polos, mencatat pembukuan sendiri, dan sesekali duduk di dekat jendela untuk menyeduh teh bagi para pelanggan.Pada suatu hari ketika hujan musim semi, aku sedang bersiap menutup kedai. Sebuah tangan menahan pintu yang hendak kututup. Tangan itu panjang dan kuat, dengan bekas luka lama di antara ibu jari dan telunjuk. Aku mengenalinya. Andias berdiri di luar pintu tanpa pengawal maupun iring-iringan kebesaran yang biasanya menyertai seorang pangeran. Dia hanya mengenakan jubah biru kehitaman yang telah basah kuyup. Tubuhnya jauh lebih kurus. Garis rahangnya tampak lebih tegas, sementara lingkaran hitam terlihat di bawah matany

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 6

    Selama bulan pertama setelah tiba di Kota Rama, aku tidak langsung membuka kedai teh.Meskipun rumah dagang milik pamanku bisa memberiku tempat tinggal sementara, aku tetap tidak ingin bergantung pada keluargaku seumur hidup. Dengan hasil penjualan barang-barang berhargaku, aku menyewa sebuah toko tua. Aku mengurus semuanya sendiri, mulai dari memilih teh, mencatat keuangan hingga memperbaiki pintu serta jendela. Dulu, untuk mengurus semua ini, aku hanya perlu memberi perintah. Para pelayan Kediaman Pangeran akan segera membereskannya.Kini, bahkan untuk menentukan harga papan nama toko, aku harus berunding dengan tukang kayu selama setengah hari.Pada malam hari, ketika jari-jariku begitu pegal hingga nyaris tidak sanggup menggenggam kuas, aku terkadang tanpa sadar melirik ke arah pintu.Seandainya Andias berada di sini, cukup dengan sepucuk surat perintah darinya, semua kesulitan ini pasti akan teratasi. Namun, setelah terlalu lama bergantung pada seseorang, bahkan untuk pergi pun

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 5

    Pada hari ketujuh sejak meninggalkan ibu kota, kapal dagang bersandar di Dermaga Linantara untuk mengisi perbekalan.Kepala Rumah Dagang Guandra menyerahkan sepucuk surat kepadaku. Surat itu dititipkan Ridman, mantan kepala pelayan, melalui Rumah Dagang Guandra. Di bagian depan amplop hanya tertulis, "Khusus untuk Nona Sandora".Saat ibuku masih hidup, Ridman sudah merawatku. Dia juga termasuk segelintir orang di Kediaman Pangeran Pemangku Raja yang masih bersedia memanggilku dengan sebutan Nona.Surat itu tebal, dengan tulisan sepanjang enam halaman. Setelah membukanya, barulah aku mengetahui bahwa pada malam kepergianku, Andias kembali ke kediaman utama.Saat itu, waktu sudah lewat tengah malam. Dia mendorong pintu kamar, lalu menyuruh seseorang menambahkan arang ke dalam tungku, juga meminta orang dapur mengantarkan secangkir teh hangat. Namun, tidak ada balasan.Ridman melangkah masuk ke dalam ruangan. Saat melihat meja rias yang telah kosong, dia menyadari ada sesuatu yang tidak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status