Share

Bab 2

Penulis: Lion
Pada hari kesepuluh sebelum keberangkatanku, hujan musim gugur mengguyur ibu kota. Penyakit dingin yang kuderita kambuh malam itu. Rasa sakitnya begitu hebat hingga jari-jariku pun tidak bisa ditekuk.

Tujuh tahun lalu, Andias pernah disergap oleh orang-orang yang hendak membunuhnya. Dia keracunan dan terjatuh ke sungai es. Aku melompat ke sungai untuk menyeretnya ke tepi, lalu membantunya menekan efek racun di tubuhnya.

Nyawanya berhasil diselamatkan, tetapi sejak saat itu, aku menderita penyakit dingin.

Ingga membawa tungku obat. Dia hendak pergi memanggil tabib dengan mata merahnya, tetapi aku menahannya.

"Pergilah ke halaman depan terlebih dahulu. Serahkan surat kepemilikan tiga toko yang baru selesai kubereskan hari ini kepada Kepala Rumah Dagang."

Rencana meninggalkan ibu kota tidak boleh terhenti.

Tidak lama setelah Ingga pergi, pintu kamar pun terbuka. Andias masuk sambil membawa semangkuk ramuan obat. Jelas bahwa dia baru saja kembali dari istana. Pedang yang tergantung di pinggangnya bahkan belum dilepas, sementara ujung lengan bajunya masih menyimpan hawa dingin dari air hujan.

"Kata tabib, penyakit lamamu kambuh. Malam ini, aku akan tinggal di kediaman utama."

Andias meletakkan obat di sisi ranjang, lalu membungkuk untuk memeriksa dahiku dengan tangannya. Tangan itu masih hangat dan kering seperti dulu.

Tujuh tahun lalu, ketika aku jatuh sakit hingga setengah sadar, dia juga pernah menjagaku seperti ini.

Aku pernah bertanya apakah dia akan merasa kerepotan mengurusku. Dia menyelimutiku, lalu hanya memberiku satu jawaban, "Sandora, kamu adalah istriku, bukan kerepotan."

Tujuh tahun telah berlalu, tetapi kalimat itu masih terngiang di telingaku. Ironisnya, mengingatnya kini justru membuat hatiku terasa perih.

Melihatku tidak bergerak, Andias mengangkat mangkuk obat. "Apa kamu masih marah karena surat pada malam Festival Hari Kasih Sayang itu?"

Aku tidak menjawab. "Kalau Pangeran benar-benar ingin menebus kesalahan, jangan pergi malam ini."

Ini adalah kali terakhir aku memintanya untuk tetap tinggal.

Andias terdiam sesaat, lalu meletakkan sendoknya. "Baik."

Hanya satu kata darinya sudah cukup untuk menghangatkan sedikit hatiku yang telah lama mati. Namun, sebelum kehangatan itu sempat menyebar, terdengar suara langkah kaki dari luar halaman.

Pelayan yang melayani Dinda berlutut di ambang pintu. Dia menangis tersedu-sedu hingga nyaris tidak mampu bernapas.

"Pangeran, Nona Dinda sangat ketakutan. Begitu mendengar suara petir tadi, dia langsung mengunci diri di dalam kamar dan tidak bersedia menemui siapa pun."

Tangan Andias yang memegang mangkuk obat terhenti di udara. Suara gemuruh petir kembali terdengar dari luar jendela.

Andias melirikku. Keraguan mulai tampak di wajahnya.

"Dulu, ayah Dinda gugur di medan perang demi menyelamatkan nyawaku. Setelah itu, dia terpaksa menumpang tinggal di rumah orang lain dan mengalami perlakuan buruk. Dia paling takut dengan petir. Aku sudah berjanji kepada ayahnya bahwa aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya."

"Pangeran sudah berjanji akan tetap tinggal di sini."

Andias tidak menyangkal perkataanku. Dia hanya meletakkan kembali mangkuk obat di atas meja, lalu menarik selimut untuk menyelimutiku.

"Selama ini kamu selalu bisa bersikap tegar, sedangkan Dinda tidak bisa hidup tanpa kehadiranku. Kalau obatnya sudah dingin, suruh pelayan untuk menghangatkannya. Besok, aku akan datang menjengukmu lagi."

Andias pergi dengan langkah tergesa-gesa.

Aku tidak memanggilnya lagi.

Malam itu, Ingga kuutus untuk mengurus surat-surat kepemilikan toko. Di halaman hanya tersisa dua orang pelayan perempuan yang bertugas mengerjakan pekerjaan berat.

Aku bertahan seorang diri hingga fajar tiba. Berkali-kali, aku menggigit bibir hingga terluka karena menahan rasa sakit.

Obat di sisi ranjang sudah lama mendingin. Aku mengangkat mangkuk itu, lalu menuangkan ramuan di dalamnya ke dalam genangan air berlumpur luar jendela.

Ternyata tujuh tahun hubungan kami hanya sebatas itu. Bukan berarti dia tidak tahu betapa sakitnya aku. Dia hanya terlalu yakin bahwa rasa sakit ini tidak akan merenggut nyawaku dan bahwa aku tidak akan pernah meninggalkannya.

Setelah langit terang, Ingga pun kembali. Begitu melihat bekas luka di pergelangan tanganku akibat kuku yang kutancapkan sendiri, air matanya langsung menetes.

Aku menyuruhnya mengambil keranjang jahit, lalu membawa tungku berisi bara api.

Selama bertahun-tahun ini, aku telah membuat tujuh potong pakaian musim dingin untuk Andias. Dia tidak menyukai motif yang terlalu rumit, jadi aku hanya menyulam motif awan kecil di bagian ujung lengan bajunya.

Pada tahun ketika Andias berperang di perbatasan utara, aku begadang selama tiga malam untuk menyelesaikan sebuah mantel bulu rubah, karena takut dia kedinginan saat berada di luar perbatasan.

Saat gunting mulai memotong, terdengar suara kain terkoyak.

Ingga meraih tanganku. "Nona, semua pakaian ini dijahit sendiri oleh Anda."

"Justru karena itulah, aku harus menghancurkannya dengan tanganku sendiri."

Pakaian musim dingin yang telah kugunting itu kulemparkan ke dalam tungku berisi bara api. Saat pakaian terakhir habis terbakar, kepala pelayan datang menyampaikan pesan.

Malam ini, Pangeran akan bermalam di Paviliun Kimara dan tidak akan datang ke kediaman utama.

Aku mencoret barang terakhir dalam daftar inventaris harta sesanku, yakni mantel bulu rubah penghangat tubuh.

Sembilan hari lagi, aku akan meninggalkan tempat ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 10

    Pada tahun berikutnya, Kedai Teh Sansan membuka cabang keduanya.Aku membawa pulang tiga perempuan yang tidak memiliki tempat untuk dituju dari kantor perantara tenaga kerja.Yang pertama diceraikan oleh keluarga suaminya. Yang kedua nyaris dijual karena ayahnya terlilit utang. Yang ketiga kehilangan tanahnya setelah menjanda karena dirampas kerabatnya.Awalnya, mereka bahkan tidak tahu cara berhitung. Aku mengajari mereka mulai dari pembukuan paling sederhana, lalu mengenali jenis teh, menghitung uang, hingga menawar harga dengan para pedagang.Ada yang menasihatiku agar tidak memberikan terlalu banyak uang kepada perempuan, khawatir mereka akan memiliki pikiran yang tidak semestinya.Aku hanya membagikan surat kepemilikan kedai kepada mereka."Seseorang baru bisa menentukan jalan mana yang ingin ditempuhnya setelah memiliki jalan keluar."Pada tahun kelima, kapal dagang milik Kedai Teh Sansan sudah mampu berlayar dari Kota Rama hingga ke perbatasan utara.Seorang kepala toko yang bar

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 9

    Tiga hari kemudian, para petugas kantor pemerintahan menyegel pintu Kedai Teh Sansan.Isi pengumuman itu tertulis dengan jelas bahwa istri dari Pangeran Pemangku Raja meninggalkan ibu kota tanpa izin, status dan dokumen identitasnya belum jelas, sehingga kedai teh harus menghentikan operasional untuk sementara waktu.Aku menurunkan pengumuman itu, lalu membawa surat cerai ke kantor pemerintahan setempat.Surat tersebut sudah dibubuhi cap resmi dari kantor pemerintahan ibu kota, tetapi belum dilengkapi tanda tangan dari Andias.Kepala daerah tidak berani menyinggung Pangeran Pemangku Raja. Dia hanya menyuruhku pulang untuk menunggu kabar.Menjelang petang, Andias berdiri di dalam kedai teh yang kini sedang kosong. Dia kembali mengenakan jubah resmi pangeran. Plakat tergantung di pinggangnya, sementara sorot mata dan raut wajahnya kembali sedingin dahulu.Di atas meja tergeletak surat-surat perjalanan untuk kembali ke ibu kota."Kembalilah bersamaku. Besok kedai tehmu sudah bisa dibuka l

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 8

    Andias sudah tinggal di rumah seberang selama sebulan. Dia tidak lagi menerobos masuk ke kedai teh, juga tidak lagi memohon agar aku kembali.Saat atap rumah bocor, dia menyuruh orang mengantarkan genting. Ketika petugas datang untuk memeriksa dokumen kependudukan para pedagang dari luar daerah, dia lebih dahulu meminta orang mengirimkan surat cerai dari ibu kota yang sudah dibubuhi cap resmi. Namun, dia tak kunjung membubuhkan tanda tangannya sendiri.Dia telah melakukan banyak hal. Hanya saja, dia tetap tidak bersedia untuk melepaskanku.Setiap pagi, Andias selalu duduk di tempat paling dekat dengan pintu kedai teh dan memesan secangkir teh hijau.Dulu, Andias hanya minum teh pekat. Kini, dia meminum teh kesukaanku. Entah apakah itu caranya menghukum diri sendiri atau mengingatkanku bahwa dia masih mengingat masa lalu.Hari itu, setelah kedai tutup, dia mengadangku di pintu belakang. Di tangannya tidak ada hadiah, juga tidak ada plakat Pangeran Pemangku Raja."Sandora, dulu aku mengi

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 7

    Enam bulan kemudian, Kedai Teh Sansan mulai dikenal di Kota Rama. Kedainya tidak besar, tetapi terkenal karena daun tehnya yang segar dan kue-kue lezat yang disajikan dengan apik.Para pedagang di sekitar kedai tahu bahwa aku seorang janda yang berasal dari kota di utara. Tidak seorang pun bertanya lebih jauh tentang masa laluku.Aku mengenakan pakaian berwarna polos, mencatat pembukuan sendiri, dan sesekali duduk di dekat jendela untuk menyeduh teh bagi para pelanggan.Pada suatu hari ketika hujan musim semi, aku sedang bersiap menutup kedai. Sebuah tangan menahan pintu yang hendak kututup. Tangan itu panjang dan kuat, dengan bekas luka lama di antara ibu jari dan telunjuk. Aku mengenalinya. Andias berdiri di luar pintu tanpa pengawal maupun iring-iringan kebesaran yang biasanya menyertai seorang pangeran. Dia hanya mengenakan jubah biru kehitaman yang telah basah kuyup. Tubuhnya jauh lebih kurus. Garis rahangnya tampak lebih tegas, sementara lingkaran hitam terlihat di bawah matany

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 6

    Selama bulan pertama setelah tiba di Kota Rama, aku tidak langsung membuka kedai teh.Meskipun rumah dagang milik pamanku bisa memberiku tempat tinggal sementara, aku tetap tidak ingin bergantung pada keluargaku seumur hidup. Dengan hasil penjualan barang-barang berhargaku, aku menyewa sebuah toko tua. Aku mengurus semuanya sendiri, mulai dari memilih teh, mencatat keuangan hingga memperbaiki pintu serta jendela. Dulu, untuk mengurus semua ini, aku hanya perlu memberi perintah. Para pelayan Kediaman Pangeran akan segera membereskannya.Kini, bahkan untuk menentukan harga papan nama toko, aku harus berunding dengan tukang kayu selama setengah hari.Pada malam hari, ketika jari-jariku begitu pegal hingga nyaris tidak sanggup menggenggam kuas, aku terkadang tanpa sadar melirik ke arah pintu.Seandainya Andias berada di sini, cukup dengan sepucuk surat perintah darinya, semua kesulitan ini pasti akan teratasi. Namun, setelah terlalu lama bergantung pada seseorang, bahkan untuk pergi pun

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 5

    Pada hari ketujuh sejak meninggalkan ibu kota, kapal dagang bersandar di Dermaga Linantara untuk mengisi perbekalan.Kepala Rumah Dagang Guandra menyerahkan sepucuk surat kepadaku. Surat itu dititipkan Ridman, mantan kepala pelayan, melalui Rumah Dagang Guandra. Di bagian depan amplop hanya tertulis, "Khusus untuk Nona Sandora".Saat ibuku masih hidup, Ridman sudah merawatku. Dia juga termasuk segelintir orang di Kediaman Pangeran Pemangku Raja yang masih bersedia memanggilku dengan sebutan Nona.Surat itu tebal, dengan tulisan sepanjang enam halaman. Setelah membukanya, barulah aku mengetahui bahwa pada malam kepergianku, Andias kembali ke kediaman utama.Saat itu, waktu sudah lewat tengah malam. Dia mendorong pintu kamar, lalu menyuruh seseorang menambahkan arang ke dalam tungku, juga meminta orang dapur mengantarkan secangkir teh hangat. Namun, tidak ada balasan.Ridman melangkah masuk ke dalam ruangan. Saat melihat meja rias yang telah kosong, dia menyadari ada sesuatu yang tidak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status