MasukDunia ibarat roda yang terus berputar. Kadang akan membawa kita kepuncak kebahagiaan tanpa duga dan bisa juga membawa kita pada jurang nestapa.
Setelah kehilangan Ayah nya dan kini menikah dengan laki-laki arogan bermarga Mahesa, yang menjadi satu-satunya penerus di keluarga itu. Dunia Aluna seketika berubah setelah keluar dari Gedung Gama, kini dirinya menyandang status baru, yaitu Nyonya Kenzo. Bagi kebanyakan perempuan di luar sana akan menjadi suatu kebanggaan tersendiri bisa menikah dengan Tuan Kenzo yang dikagumi banyak perempuan. Namun tidak dengan Aluna yang justru dengan gelar itu membuat nya merasa terbebani. Apalagi pernikahan mereka terjadi bukan karena saling cinta. Dengan membawa segudang rasa gundah nya, Aluna berjalan meninggalkan area gedung. Pesta megah yang tadi di gelar, tak ada istimewa nya sama sekali bagi Aluna. Riuh tepuk tangan dan sorak sorai dari para tamu seolah tak membuat Aluna bahagia. Tak ada janji manis yang biasa diucapkan oleh mempelai laki-laki pada pasangan nya. Tapi setidak nya Tuan Kenzo masih memiliki sisi kemanusian, menyematkan sebuah cincin berlian di jari manis tangan kanan Aluna. Entah itu di lakukan nya secara terpaksa atau tidak, setidaknya Aluna masih bisa bersyukur. Sedangkan Tuan Kenzo? jangan lagi ditanya, jelas laki-laki yang tak menginginkan pernikahan nya itu langsung melepas cincin nikahnya setelah acara selesai, bahkan sebelum keluar dari gedung itu. Aluna yang melihat nya, hanya bisa berbesar hati menerimanya. Aluna di bawa pergi dengan salah satu mobil mewah milik keluarga Mahesa, dib belakang nya terdapat iring-iringan mobil jeep yang di kendarai oleh para bodyguard yang sedang mengawalnya menuju sebuah mansion besar milik Tuan Kenzo. "Kenzo Ethan Mahesa. Benarkah aku sekarang sudah menjadi istrinya? aku bahkan nyaris tak percaya." Aluna menatap ke arah luar jendela kaca mobil, ia menatap deretan gedung yang menjulang tinggi. Gerimis yang turun seolah mengeri akan perasaan yang sedang Aluna rasakan. Mobil yang membawa Aluna pergi berjalan mulus dijalanan Kota B yang tampak ramai meskipun hujan mulai turun. Mobil itu berbelok kearah kanan menuju jalanan yang lebih kecil namun masih bisa dilalui oleh dua mobil, dengan media jalan di tengahnya. Setelah 5 meter dari jalan utama, tampak gerbang yang berdiri dengan kokoh nya, mobil itu masuk ke dalam gerbang yang dijaga ketat oleh pengawal seperti yang sedanh mengawal Aluna saat ini. Kanan kiri jalan itu tampak di tanami pohon glodokan tiang yang berjejer rapi sebagai tanaman pengarah, setiap 10 meter darinya tumbuh pohon ketapang kencana yang tumbuh sebagai tanaman peneduh sehingga jalanan tampak asri tak terpapar panas matahari. Selain itu, di sepanjang median jalan tumbuh bunga flamboyan dengan aneka warna bunganya yang indah, sungguh pemandangan yang memanjakan mata. Aluna bisa menebak jika desain lansecap tempat ini pasti melibatkan jasa Arsitek, karena semua tampak tertata sesuai kaidah Arsitektur. Mobil berhenti di area yang sangat luas, mungkin luasnya puluhan hektar. Lebih terlihat seperti kompleks perumahan yang terdapat beberapa bangunan di dalamnya, dengan bangunan utama yang menjadi focal point dari landsecap tersebut. Aluna menatap tempat itu dengan takjub juga dengan sejuta pertanyaan yang bersarang di kepalanya. "Kita sudah sampai nyonya." mobil berhenti di sebuah mansion besar dengan gaya arsitektur modern minimalis dengan cat putih hang mendominasi dan beberapa sisi terlihat mengusung konsep industrial. Supir yang membawa Aluna tadi, dengan gerakan lincah membukakan pintu untuk Aluna. Aluna hanya menatap Mansion itu dengan tatapan hampa, hati nya benar-benar kosong saat ini. Tidak tau harus merasa senang atau tidak menjadi nyonya di mansion itu. "Mari Nyonya ... " Ajak supir itu menggiring Aluna masuk ke dalam mansion. Aluna tampak berjalan dengan langkah ragu. Pintu tiba-tiba terbuka dengan sangat lebar, menampakkan seorang wanita sedikit tua yang kini berdiri di depan pintu. "Selamat datang Nyonya, ayo silahkan masuk!" Sapa wanita tua itu dengan sangat ramah menyambut kedatangan Aluna. Dengan pelan Aluna mengikuti langkah wanita tua itu. "Mari saya antar ke kamar." Aluna masih saja menurut, terus mengikut di belakang. "Ini kamar Nyonya, jika butuh sesuatu bisa langsung kabari saya saja. Kamar saya berada di belakang dekat area dapur, sedangkan kamar Tuan berada di lantai atas. Di dalam rumah ini tidak ada orang lagi yang tinggal selain kita bertiga. Untuk para pelayan dan penjaga lain nya tinggal di rumah-rumah yang Anda lewati tadi, mereka hanya datang untuk melakukan pekerjaan nya di rumah ini, lalu akan kembali pergi menuju tempat tinggal yang sudah di sediakan. Tuan Kenzo tidak suka keramain apalagi jika privasinya terekspos, untuk itu hanya saya yang menetap di mansion ini untuk menguruams kebutuhan Tuan Kenzo. Perkenalkan nama SayabTutik, Nyonya bisa panggil saya Bik Tutik." Aluna tersenyum hangat menyambut sapaan Bik Tutik yang begitu hangat itu. Aluna tidak menyangka jika mansion sebesar ink hanya ada Bik Tutik dan Tuan Kenzo sebelum dirinya datang. "Nama saya Aluna bik." "Kalau begitu silahkan Nyonya istirahat berganti pakaian terlebih dahulu. Tuan menunggu Anda di ruang kerjanya." Aluna hanya bisa mengangguk nurut kali ini, dirinya tidak ingin membuat masalah di tempat baru itu. ... "Duduk" perintah laki-laki yang beberapa jam lalu telah resmi menjadi suaminya itu. Dengan suaranya yang terdengar sedikit serak, berat dan mendominasi. Lelaki itu duduk dengan punggung bersandar di sandara kursi kayu. Kaki kirinya di naikkan menyilang di atas kaki kanan nya yang menjadi tumpuan utama. Celana panjang kain hitam membungkus tungkainya yang panjang, sementara badannya yang tegap berotot dilapisi kemeja putih polos dari bahan katun premium, dengan lengan kemeja yanh dilipat hingga ke siku. Tampak nya ia sudah melepas jas hitam yang digunakan saat pernikahan nya tadi. Aluna duduk dengan gerakan pelan di depan lelaki itu. Dia mencoba tegar, menatap lelaki di depan nya tanpa rasa takut, padahal jantung nya terasa ingin terlepas dari tempatnya. Hatinya terus menyakini jika mereka sudah menikah dan bagaimana pun kondisin pernikahan mereka, Aluna yakin jika suaminya tidak akan menyakitinya. "Baca dan tanda tangani" suara serak itu terdengar lagi. Kali ini pemilik suara mengangkat wajahnya yang tadi hanya melihat ke atas meja, dimana sebuah map hitam tergeletak di atasnya. Dengan tangan yang dingin dan gemetar, Aluna perlahan meraih map itu dan membukanya dengan pelan. Membaca setiap deretan huruf yang dirangkai menjadi sebuah kalimat hingga membentuk sebuah perjanjian pernikahan. Hati Aluna mencelos saat membaca poin terakhir pada perjanjian itu, hingga Aluna membacanya sekali lagi untuk memastikan jika dirinya tak salah dalam membaca. Namun sebanyak apapu Aluna mengulang, hasil nya tetap sama, barisan kalimat itu tidak akan berubah begitu saja. "Apa maksud poin terakhir?" Tanya Aluna dengan suaranya yang pelan, meskipun dirinya paham namun hanya ingin memastikan nya takut jika dirinya salah dalam mengartikan nya. Tuan Kenzo, lelaki yang duduk di depan nya itu memandangnya dengan pandangan mencemooh. Sebuah seringai tipis terbentuk dari sudut bibirnya. Membuat wajah nya yang suram tampak semakin menakutkan. "Apa kamu tidak mengerti? atau pura-pura bodoh?" Matanya menatap tajam ke arah Aluna. Aluna hanya bisa terdiam mendengar kalimat cacian itu. "Tapi, tidak bisakah kita menjalani pernikahan ini dengan normal? maksud ku, aku tak masalah jika kamu tidak mencintaiku atau bahkan menganggapku tidak ada sekalipun. Asalkan kita jangan bercerai setelah setahun seperti isi perjanjian ini. Bagiku pernikahan itu adalah sesuatu hal yang sakral dan aku tidak ingin mempermainkan sebuah pernikahan ini." Ungkap Aluna dengan jujur, meskipun tubuh nya gemetar menahan rasa takut akibat tatapan membunuh dari lawan bicaranya. "Haha sesuatu yang sakral katamu? jika bukan karena kamu merayu kakek tua itu, mana mungkin aku akan menikahimu. Ingat kamu hanya mainan bagiku, pernikahan ini hanya terjadi sementara saja agar kakek tua itu tidak terus memaksaku. Jadi jangan pernah merasa istimewa di sini kamu tak lebih dari seorang babu yang harus melayani ku di rumah ini seperti para pelayan lain nya." Suara itu tajam tanpa belas kasih. Aluna masih menatap bibir itu tak percaya, setiap kata yang keluar hanya untuk merendahkan dan menyakiti nya saja. Hingga akhirnya Aluna mengambil bolpoin yang sudah di sediakan dan langsung menandatangani nya meskipun dengan berat hati, dirinya sadar tidak lagi ada pilihan untuknya.Mas aku bawakan bekal untuk mu sarapan, kenapa tadi tidak sarapan dulu di rumah?" kata Aluna yang mengabaikan tatapan dingin Tuan Kenzo. "Aku sibuk, dan sudah sarapan tadi di mobil. Lebih baik kamu bawa pulang kembali saja makanan itu!" Jawab Tuan Kenzo tegas tanpa mempedulikan perasaan dan perubahan raut wajah Aluna yang tiba-tiba berubah. "Sarapan apa di mobil mas?" Tanya Aluna yang masih tak ingin menyerah. "Sandwich, Rangga yang membelinya." Jawab Tuan Kenzo dengan santainya. Sedangkan nama yang tiba-tiba terseret itu pun sedikit terkejut juga panik berada di antara drama rumah tangga Tuan nya. "Ya sayang sekali, padahal aku sudah memasakkan nya untuk mu dan bela-belain datang supaya kita bisa makan bersama." Jelas Aluna yang tampak sedikit kecewa dengan jawaban Tuan Kenzo, meskipun begitu tidak membuat Tuan Kenzo merasa iba. "Aku tidak memintamu untuk masak dan mengantarkan nya ke kantor. Lebih baik sekarang kamu bawa kembali makanan mu itu dan segera kembali ke man
Mas aku bawakan bekal untuk mu sarapan, kenapa tadi tidak sarapan dulu di rumah?" kata Aluna yang mengabaikan tatapan dingin Tuan Kenzo. "Aku sibuk, dan sudah sarapan tadi di mobil. Lebih baik kamu bawa pulang kembali saja makanan itu!" Jawab Tuan Kenzo tegas tanpa mempedulikan perasaan dan perubahan raut wajah Aluna yang tiba-tiba berubah. "Sarapan apa di mobil mas?" Tanya Aluna yang masih tak ingin menyerah. "Sandwich, Rangga yang membelinya." Jawab Tuan Kenzo dengan santainya. Sedangkan nama yang tiba-tiba terseret itu pun sedikit terkejut juga panik berada di antara drama rumah tangga Tuan nya. "Ya sayang sekali, padahal aku sudah memasakkan nya untuk mu dan bela-belain datang supaya kita bisa makan bersama." Jelas Aluna yang tampak sedikit kecewa dengan jawaban Tuan Kenzo, meskipun begitu tidak membuat Tuan Kenzo merasa iba. "Aku tidak memintamu untuk masak dan mengantarkan nya ke kantor. Lebih baik sekarang kamu bawa kembali makanan mu itu dan segera kembali ke man
Mas aku bawakan bekal untuk mu sarapan, kenapa tadi tidak sarapan dulu di rumah?" kata Aluna yang mengabaikan tatapan dingin Tuan Kenzo. "Aku sibuk, dan sudah sarapan tadi di mobil. Lebih baik kamu bawa pulang kembali saja makanan itu!" Jawab Tuan Kenzo tegas tanpa mempedulikan perasaan dan perubahan raut wajah Aluna yang tiba-tiba berubah. "Sarapan apa di mobil mas?" Tanya Aluna yang masih tak ingin menyerah. "Sandwich, Rangga yang membelinya." Jawab Tuan Kenzo dengan santainya. Sedangkan nama yang tiba-tiba terseret itu pun sedikit terkejut juga panik berada di antara drama rumah tangga Tuan nya. "Ya sayang sekali, padahal aku sudah memasakkan nya untuk mu dan bela-belain datang supaya kita bisa makan bersama." Jelas Aluna yang tampak sedikit kecewa dengan jawaban Tuan Kenzo, meskipun begitu tidak membuat Tuan Kenzo merasa iba. "Aku tidak memintamu untuk masak dan mengantarkan nya ke kantor. Lebih baik sekarang kamu bawa kembali makanan mu itu dan segera kembali ke man
Mas aku bawakan bekal untuk mu sarapan, kenapa tadi tidak sarapan dulu di rumah?" kata Aluna yang mengabaikan tatapan dingin Tuan Kenzo. "Aku sibuk, dan sudah sarapan tadi di mobil. Lebih baik kamu bawa pulang kembali saja makanan itu!" Jawab Tuan Kenzo tegas tanpa mempedulikan perasaan dan perubahan raut wajah Aluna yang tiba-tiba berubah. "Sarapan apa di mobil mas?" Tanya Aluna yang masih tak ingin menyerah. "Sandwich, Rangga yang membelinya." Jawab Tuan Kenzo dengan santainya. Sedangkan nama yang tiba-tiba terseret itu pun sedikit terkejut juga panik berada di antara drama rumah tangga Tuan nya. "Ya sayang sekali, padahal aku sudah memasakkan nya untuk mu dan bela-belain datang supaya kita bisa makan bersama." Jelas Aluna yang tampak sedikit kecewa dengan jawaban Tuan Kenzo, meskipun begitu tidak membuat Tuan Kenzo merasa iba. "Aku tidak memintamu untuk masak dan mengantarkan nya ke kantor. Lebih baik sekarang kamu bawa kembali makanan mu itu dan segera kembali ke man
"Kita mau kemana Tuan?" Tanya Aluna yang merasa keheranan saat kuda yang di tungganginya itu mulai keluar dari area berkuda tempatnya berkeliling tadi. "Kenapa tidak panggil "Mas" Lagi?" Kata Tuan Kenzo yang justru berbalik bertanya pada Aluna, bukan nya menjawab pertanyaan Aluna sebelum nya. Aluna sendiri sampai merasa malas mendengar pertanyaan Tuan Kenzo tadi, bahkan dia sampai memutar bola matanya dengan malas tanpa sepengetahuan Tuan Kenzo. "Lupa." jawab Aluna singkat dan benar-benar malas dibuat nya. "Sekarang?" tanya Tuan Kenzo kembali, seolah benar-benar mengejar jawaban dari Aluna. "Huhf... " Aluna membuang nafasnya dengan berat, merasa muak dengan pertanyaan tak bermutu Tuan Kenzo. "Mas Kenzo sayang, kita mau ke mana?" tanya Aluna kembali dengan nada yang di buat-buat selembut mungkin dan dengan senyum yang di paksakan mengembang. Tepat di saat itu juga dia membalikkan kepalanya menghadap ke arah Tuan Kenzo sehingga keduanya sempat saling tatap sebelum akhirnya
Mas aku bawakan bekal untuk mu sarapan, kenapa tadi tidak sarapan dulu di rumah?" kata Aluna yang mengabaikan tatapan dingin Tuan Kenzo. "Aku sibuk, dan sudah sarapan tadi di mobil. Lebih baik kamu bawa pulang kembali saja makanan itu!" Jawab Tuan Kenzo tegas tanpa mempedulikan perasaan dan perubahan raut wajah Aluna yang tiba-tiba berubah. "Sarapan apa di mobil mas?" Tanya Aluna yang masih tak ingin menyerah. "Sandwich, Rangga yang membelinya." Jawab Tuan Kenzo dengan santainya. Sedangkan nama yang tiba-tiba terseret itu pun sedikit terkejut juga panik berada di antara drama rumah tangga Tuan nya. "Ya sayang sekali, padahal aku sudah memasakkan nya untuk mu dan bela-belain datang supaya kita bisa makan bersama." Jelas Aluna yang tampak sedikit kecewa dengan jawaban Tuan Kenzo, meskipun begitu tidak membuat Tuan Kenzo merasa iba. "Aku tidak memintamu untuk masak dan mengantarkan nya ke kantor. Lebih baik sekarang kamu bawa kembali makanan mu itu dan segera kembali ke man
Setelah tau akan menikah dengan Tuan Kenzo, saat ingin berangkat ke Gedung Gama untuk melangsungkan pernikahan nya, orang-orang suruhan Tuan Kenzo sudah datang untuk mengambil barang-barang milik Aluna untuk dibawa nya ke mansion. Sehingga barang-barang milik Aluna sudah tertata rapi di dalam kam
Pagi sang surya bangunkan mimpi, embun pagi yang telah menghilang akan cahaya mentari yang kini mulai menyinari bumi dengan kehangatan sinarnya. Membangunkan setiap insan yang terlelap dari mimpi malamnya. Hari Minggu yang seharusnya Aluna nikmati dengan begitu santai nya. Hari Minggu yang seharus
"Harus Kenzo katakan berapa kali agar Kakek bisa paham, sampai kapanpun Kenzo tidak akan mau menikah lagi. Sekalipun perempuan itu pilihan kakek." Ucap laki-laki berbadan tinggi besar yang kini sedang duduk tegak di sebuah sofa yang menghadap langsung dengan laki-laki paruhbaya yang dipanggilnya ka
"Akkh ... sakit ... tolong lepaskan!" Pinta Aluna yang meringis menahan perih di pergelangan tangan nya."Masuk..!" Satu kata penuh ketegasan juga kemarahan yang memuncak."Aauu ..." Tubuh ramping Aluna terlempar begitu saja di kursi penumpang. Tak lama tubuh besar lain nya ikut masuk dengan nafas







