Share

Bab 57 -

Penulis: Pipin
last update Tanggal publikasi: 2026-01-05 13:06:35

Rinjani hanya duduk di kursi utama, berusaha keras tidak terlihat gemetar saat puluhan mata menanti jawabannya atas pertanyaan teknis yang bahkan belum sempat ia pelajari. Beruntung, Maya selalu sigap membisikkan kata kunci atau menyodorkan grafik yang tepat.

​Setelah pintu tertutup dan para vendor meninggalkan ruangan, keheningan yang mencekam kembali menyelimuti. Dian tidak langsung keluar. Ia merapikan dokumennya dengan gerakan yang sangat lambat, lalu berjalan mendekati kursi Rin
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 230 - Lampu "kuning"

    "Astaga... Bisa nggak sih, nih anak nggak balas cuma pakai 'Ya' doang?!" gerutu Lana kesal, menatap layar ponselnya pagi itu dengan mata mendelik.Lana menghitung jumlah baris pesannya yang sudah seperti cerpen akuntansi, menceritakan keluh kesahnya kemarin dengan sangat detail. Sementara balasan Eran di paling bawah cuma berupa satu kata keramat: *Ya.* Itu pun tanpa titik, tanpa kapital, singkat, padat, dan sukses memicu darah tinggi pagi-pagi.Kekesalan Lana semakin memuncak saat pemilik nomor tersebut tiba-tiba masuk ke dalam kelas dan langsung mengambil tempat di kursi kosong tepat di sampingnya. Eran meletakkan tas ransel bututnya, lalu menyandarkan punggung dengan wajah super lelah. Lingkar hitam di bawah matanya terlihat lebih tegas dari biasanya. Parahnya, pria itu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan sama sekali tidak membahas soal pesan itu.Lana menoleh, menyipitkan mata dengan tangan bersedekap. "Eran, lo bener-bener ya. Gue *chat* panjang lebar dari ujung Sabang samp

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 229 - Ayah

    Sepulang dari kantor, Eran menghentikan motor bututnya di seberang jalan, mengedarkan pandangan ke arah gerbang besi rumah tahanan itu. Sudah setahun berlalu sejak ayahnya, Hasan, mendekam di balik jeruji besi ini.​"Aku bisa. Aku pasti bisa," bisik Eran meyakinkan dirinya sendiri.​Setiap kali Eran mengajukan permohonan kunjungan, Hasan selalu menolak untuk menemuinya. Namun hari ini, entah karena mukjizat apa, pintu itu akhirnya terbuka. Biar bagaimanapun, seburuk dan sekejam apa pun perlakuan pria itu dulu di masa lalu—dengan makian dan pukulan yang membekas di tubuh Eran—Hasan adalah satu-satunya darah daging yang Eran punya di dunia ini.​Setelah melewati birokrasi dan pemeriksaan ketat, Eran duduk di ruang kunjungan, menunggu dengan cemas di balik pembatas kaca. Hingga akhirnya, pintu sel dalam terbuka. Sosok pria tua dengan seragam tahanan oranye melangkah keluar. Gurat wajah Hasan terlihat jauh lebih tua, rambutnya memutih, namun tatapan matanya yang tajam dan sarat akan keben

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 228 - Bujuk dia Pa!

    Sepulang dari kampus, Lana tidak langsung pulang ke rumah. Gadis itu justru mengarahkan mobilnya menuju kantor pusat Baskara Group. Jelas sekali, tujuan utamanya sore ini adalah menemui sang Office Boy paruh waktu yang merangkap sebagai pria incarannya.​Eran.​Lana melangkah keluar dari lift di lantai dasar, matanya langsung menyapu area lobi yang luas dan mengkilap. Kosong. Hanya ada beberapa resepsionis dan satpam yang menyapanya dengan hormat. Lana mendengus kesal, lalu naik ke lantai berikutnya.​"Di mana sih, tuh anak? Kenapa nggak kelihatan ya dari tadi?" gumam Lana dengan wajah merengut, celingukan ke kanan dan ke kiri sembari memegang tali tasnya erat-erat.​Ia berjalan menyusuri koridor kaca dengan langkah menghentak. Rasa kesalnya pada Bagas di kafe tadi mendadak menguap, berganti dengan rasa rindu bercampur gemas karena pesannya sejak siang hanya dibalas Eran dengan satu huruf: "Y".​"Kenapa juga punya Papa harus punya gedung setinggi dan sekeren ini sih? Lantainya banyak

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 227 -

    Beberapa bulan kemudian, dinamika kampus mulai terasa semakin sibuk. Lana melangkah masuk ke sebuah kafe di dekat kampus dengan wajah yang ditekuk habis-habis. Matanya langsung menangkap sosok familiar di sudut ruangan.​"Sonya!" teriak Lana, suaranya sukses membuat beberapa pengunjung menoleh.​Sonya yang tengah menikmati minumannya sedikit tersentak. "Lana..."​Tanpa menunggu izin, Lana langsung mengempaskan dirinya di kursi samping Sonya. Ia sedang dalam fase "BT akut". Eran baru saja menolaknya lagi—kali ini lebih tegas, lebih logis, dan itu yang membuatnya semakin kesal. Lana butuh asupan gula dosis tinggi untuk melampiaskan emosinya.​"Kamu ada masalah? Wajahmu sudah seperti benang kusut," tanya Sonya heran.​Lana mengembuskan napas kasar, lalu menirukan gaya bicara Eran dengan nada mengejek. "'Gue harus fokus kuliah, bukan pacaran! Kita bisa jumpa tiap hari di kampus, satu jurusan, satu kelas, kenapa juga harus pacaran?'... Begitu katanya, Son! Dia terus saja menggantung hubung

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 226

    "Kita hadapi ini bersama, tapi tolong jangan pernah pergi dari aku. Itu saja mauku, Om..." bisik Sonya sembari menggenggam tangan pria itu.​Antonio menatap netra gadis di depannya, lalu menghela napas panjang. "Kamu benar-benar keras kepala, Sonya."​Saat Antonio mencoba berdiri untuk berpindah tempat ke area yang lebih privasi, ia tiba-tiba meringis pelan sembari memegangi pinggangnya. Gerakannya tertahan, dan wajahnya sedikit memucat.​"Luka baru lagi?" tanya Sonya dengan nada yang mendadak dingin namun sarat akan kekhawatiran. "Peluru?" sambungnya singkat.​Antonio hanya mengangguk tipis. Beruntung peluru itu hanya menyerempet bagian pinggang dan sudah berhasil dikeluarkan secara mandiri sebelum ia menemui Sonya. Luka-luka seperti ini sudah menjadi "makanan harian" yang ia santap sejak lama di dunia gelapnya.​Sonya mengembuskan napas panjang. "Sampai kapan calon suamiku ini bakal luka terus? Nanti yang membekas di badan Om cuma luka-luka ini, bukan aku," keluh Sonya, mencoba meny

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 225

    "Papa!" teriak Lana sembari menggebrak pintu. Elian yang tengah serius meninjau laporan di meja kerjanya sampai tersentak dan hampir menjatuhkan pena. ​"Ya ampun, Lana! Kamu mau bikin Papa masuk rumah sakit karena jantungan?" Elian mengurut dadanya, menatap putrinya yang sudah duduk dengan wajah ditekuk di depannya.​"Pa, kenapa Eran nggak kerja hari ini?" tanya Lana tanpa basa-basi.​Elian menghela napas, mencoba kembali tenang. "Ini hari Minggu, Lana. Dia masih mahasiswa dan butuh hari libur, bukan? Papa bukan mandor yang kejam."​"Terus kalau Eran bakal kena bully kalau diistimewakan ?​"Diistimewakan?" Elian menaikkan sebelah alisnya. "Kamu pikir karena Eran kenalan kamu, Papa bakal kasih keistimewaan? Di kantor, dia bukan siapa-siapa bagi Papa. Paham?" tegas Elian.​Rinjani masuk ke ruangan sambil membawa camilan, tersenyum kecil melihat tingkah suami dan putrinya. Ia duduk di samping Lana dan mengusap bahunya. "Jadi benar, kamu beneran menyukai pria itu?" tanya Rinjani lembut.

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 78 - Jangan menyerah

    "Mama nggak akan pernah merestui kamu dengan dia. Mama nggak mau keluarga kita jadi bahan tertawaan karena kamu memilih pria yang... entahlah, Mama bahkan ragu menyebutnya pria. Dengar itu baik-baik, Maya," ucap wanita itu dengan nada final yang dingin sebelum melangkah masuk ke dalam mobilnya da

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 84 - Antara Restu dan Pilihan Hati

    "Papa, Mama... ngapain ke sini?" tanya Maya yang baru balik dari kantin membelikan Elian kopi. ​Bu Santi melipat tangan di dada, menatap putrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki seolah sedang memastikan Maya tidak terluka. "Tadi Papa dan Mama kira kamu sedang bersama Boy. Makanya kami ke sini.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 79 - Pilihan Maya

    Malam itu, restoran bintang lima tersebut terasa begitu menyesakkan bagi Maya. Di hadapannya, Abil duduk dengan senyum percaya diri, dikelilingi oleh keluarga besar mereka yang tengah sibuk membicarakan detail pertunangan.​"May," sapa Boy singkat.​Ia tidak datang sendiri. Di b

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 77 - Takdir Yang tak merestui

    ​Matahari siang itu terasa menyengat di depan gedung megah Baskara Group, namun suasana di antara Boy dan Maya jauh lebih panas. Sudah dua hari Boy menghilang bak ditelan bumi, meninggalkan Maya dalam kegelisahan yang menyiksa. ​"Mas... Mas sengaja cuekin aku?" tanya Maya dengan suara bergetar. La

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status