Compartilhar

Bab 57 -

Autor: Pipin
last update Data de publicação: 2026-01-05 13:06:35

Rinjani hanya duduk di kursi utama, berusaha keras tidak terlihat gemetar saat puluhan mata menanti jawabannya atas pertanyaan teknis yang bahkan belum sempat ia pelajari. Beruntung, Maya selalu sigap membisikkan kata kunci atau menyodorkan grafik yang tepat.

​Setelah pintu tertutup dan para vendor meninggalkan ruangan, keheningan yang mencekam kembali menyelimuti. Dian tidak langsung keluar. Ia merapikan dokumennya dengan gerakan yang sangat lambat, lalu berjalan mendekati kursi Rin
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Kesayangan Tuan Elian    Bab 237 - Kosong

    "Loh Sayang, ini kenapa murung?" tanya Jonathan lembut saat melihat putrinya murung. Karin menghela napas berat, jemarinya memainkan ujung bantal sofa dengan gelisah. "Yah... besok ulang tahunnya Saka.""Terus, kenapa?" tanya Jonathan santai, nadanya memancing. "Bukannya dari awal kamu emang nggak suka ya sama dia? Kok belakangan ini, sejak nggak ada kabar dan gangguan dari dia, kamu malah jadi melow begini? Mana sifat cuek anak Ayah yang biasanya?"Karin hanya terdiam, menggigit bibir bawahnya seraya menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena hatinya sendiri pun sedang kacau bukan main. Jonathan mengusap pundak Karin dengan tangan besarnya yang hangat. "Dan soal undangan itu... kalau kamu emang nggak niat atau ngerasa terbebani buat datang, ya nggak usah datang. Nggak ada yang maksa. Ayah nggak mau lihat anak Ayah pergi ke pesta tapi mukanya kayak mau pergi melayat begitu."Karin menoleh, menatap ayahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tapi Yah... Saka bilang, aku ini

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 236 - Undangan

    Sebulan lamanya didiamkan oleh Saka, dan di sisi lain terus didekati oleh Gio, akhirnya Karin membulatkan suaranya. "Aku suka Gio. Dia nggak lembek, bisa diandalkan, dan kami juga punya hobi yang sama, suka buku," batin Karin, mencoba meyakinkan hatinya sendiri yang entah kenapa terasa kian hambar setiap harinya. Pagi itu di koridor kampus, langkah kaki Karin dan Saka saling bertentangan dari arah berlawanan. Jarak mereka mengikis, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Saka menghentikan langkahnya tepat di depan Karin. Cowok itu merogoh tasnya, lalu menyerahkan selembar undangan elegan berwarna hitam-emas. "Kalau lo nggak sibuk, lo bisa datang, kan? Walau bagaimanapun, kita tetap teman," ucap Saka. Nada suaranya terlampau tenang, tidak ada lagi getaran gugup seperti dulu. Karin menerima undangan itu. Undangan ulang tahun Saka. Di bawah kacamata besarnya, Karin menatap tulisan nama Saka di undangan tersebut, dan tanpa sadar, sorot matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 235 -Dinding pembatas

    Beberapa hari kemudian, suasana di koridor kampus terasa sangat berbeda bagi Karin. Langkah kakinya melambat saat dari kejauhan, ia melihat kerumunan mahasiswa, khususnya mahasiswi, yang tampak heboh di dekat area loker. Di pusat kerumunan itu, berdiri Saka. Untuk pertama kalinya dalam sekian bulan terakhir, Saka kembali menjadi sosok yang dulu selalu dibicarakan orang-orang di kampus ternama ini. Cowok populer, tampan, dan ramah yang selalu dikerubungi cewek-cewek cantik. Saka tampak tertawa lepas meladeni candaan seorang mahasiswi modis di sebelahnya, bahkan dengan santai membantu membawakan beberapa buku milik cewek lain. Tidak ada lagi Saka yang berdiri sendirian untuknya dengan tampang bodoh, dan tidak ada lagi cowok nekat yang rela mengabaikan harga dirinya demi menunggu balasan pesan teks dari seorang gadis cuek. Saka yang sekarang adalah pangeran kampus yang kembali ke takhtanya. Karin menghentikan langkahnya tepat di jalur yang a

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 234 - Saran mantan preman

    Jonathan meletakkan kunci mobilnya di atas meja. Lalu berkata. "Dari restoran, nyari angin. Kamu kenapa? Tumben mukanya ditekuk kayak cucian belum disetrika gitu?" Tanyanya santai. Melihat ekspresi tak biasa putrinya, Jonathan ikut duduk di sofa sebelah Karin. Merasa tidak bisa memendamnya sendiri, Karin akhirnya menceritakan semua kejadian di mal tadi tanpa ada yang dikurangi. Tentang Saka yang marah, dan tentang bagaimana dia membawa Gio ke tengah-tengah kencan mereka. Jonathan mendengarkan dengan saksama sambil manggut-manggut. "Jadi... pemuda yang namanya Saka itu marah besar?" "Ya gitu," Karin bersedekap, mencoba membela diri. "Tapi Yah, kalau aku mau bicara atau akrab sama siapa aja kan bebas. Lagian Saka itu bukan siapa-siapanya aku. Udah ditolak berkali-kali tapi masih ngeyel, makanya akhirnya aku kasih jurus jitu pakai Gio biar dia kapok." Jonathan terkekeh pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keras kepal

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 233 - Ucapan selamat tinggal

    "Apaan sih lo, cupu. Sana pergi, nggak usah ikut campur," usir Saka ketus. Matanya menatap Gio dengan kilatan permusuhan. Enak saja cowok asing ini datang-datang langsung merusak suasana dan melabelinya sebagai penguntit. "Apaan sih, Saka! Kamu aja yang pergi kalau nggak suka. Gio, ayo gabung duduk di sini," potong Karin cepat. Suaranya terdengar tegas, membela Gio tanpa ragu sedikit pun. Gio tersenyum tipis, tampak dengan senang hati menarik kursi kosong di sebelah Karin lalu duduk. Setelah memesan minuman pada pelayan yang lewat, Gio kembali memfokuskan perhatiannya pada Karin. Sesekali ia melemparkan senyum hangat yang langsung dibalas dengan anggukan ramah oleh gadis itu. Dalam waktu singkat, obrolan santai dan mengalir langsung tercipta di antara keduanya. Mereka membahas soal buku, lingkungan kompleks rumah baru mereka, hingga dosen-dosen di kampus. Semuanya terasa begitu nyambung. Pemandangan itu berbanding terbalik 180 derajat saat Karin bersamanya. Bersama Gio, Karin terl

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 232 - Mengusir Benalu

    "Ah, akhirnya hari ini datang juga," batin Saka, sesekali mencuri pandang pada gadis incarannya yang berjalan dengan langkah santun namun tegas di sampingnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya, sebuah sensasi asing yang ia rasakan hanya pada Karin. Saka berdeham kecil, mencoba memecah keheningan. "Makasih ya, lo akhirnya mau menerima ajakan jalan gue hari ini."Karin hanya mendesah singkat, wajahnya tetap sedatar papan tulis. Setelah puluhan kali menolak ajakan cowok itu, ia akhirnya menyerah juga hari ini. Bagaimana bisa dia membiarkan pemuda di depannya ini terus-menerus mengganggu ketenangannya di kampus? Mulai dari membuntutinya di koridor, sampai sengaja mengintipnya dari balik jendela perpustakaan saat dia sedang belajar.Karin kadang heran, apakah Saka ini terlalu banyak waktu kosong atau memang tidak punya kerjaan? Padahal mereka satu angkatan di semester lima, dan tugas kuliah harusnya sudah menumpuk setinggi gunung. Tapi nyatanya, Saka tetap saja jadi co

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 78 - Jangan menyerah

    "Mama nggak akan pernah merestui kamu dengan dia. Mama nggak mau keluarga kita jadi bahan tertawaan karena kamu memilih pria yang... entahlah, Mama bahkan ragu menyebutnya pria. Dengar itu baik-baik, Maya," ucap wanita itu dengan nada final yang dingin sebelum melangkah masuk ke dalam mobilnya da

    last updateÚltima atualização : 2026-03-26
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 84 - Antara Restu dan Pilihan Hati

    "Papa, Mama... ngapain ke sini?" tanya Maya yang baru balik dari kantin membelikan Elian kopi. ​Bu Santi melipat tangan di dada, menatap putrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki seolah sedang memastikan Maya tidak terluka. "Tadi Papa dan Mama kira kamu sedang bersama Boy. Makanya kami ke sini.

    last updateÚltima atualização : 2026-03-26
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 79 - Pilihan Maya

    Malam itu, restoran bintang lima tersebut terasa begitu menyesakkan bagi Maya. Di hadapannya, Abil duduk dengan senyum percaya diri, dikelilingi oleh keluarga besar mereka yang tengah sibuk membicarakan detail pertunangan.​"May," sapa Boy singkat.​Ia tidak datang sendiri. Di b

    last updateÚltima atualização : 2026-03-26
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 77 - Takdir Yang tak merestui

    ​Matahari siang itu terasa menyengat di depan gedung megah Baskara Group, namun suasana di antara Boy dan Maya jauh lebih panas. Sudah dua hari Boy menghilang bak ditelan bumi, meninggalkan Maya dalam kegelisahan yang menyiksa. ​"Mas... Mas sengaja cuekin aku?" tanya Maya dengan suara bergetar. La

    last updateÚltima atualização : 2026-03-25
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status