LOGIN“Apa?” teriak Eca yang tenggelam ditelan suara musik yang berdentum keras.
“Kamu, ya, suami kaya raya, tajir, hidup enak, masih saja mangajakku ke klub. Tumben juga kamu ngajak ke sini, sejak menikah kamu ga pernah mau diajak ke klub,” seru Mika tak kalah keras dari Eca.
“Suntuk,” jawab Eca lugas seraya menyesap minuman di tangannya.
“Yaelah, Neng. Duit kamu banyak, ngapain habiskan di sini? Mending habisin tu duit suamimu di mall.”
“Males, aku sudah punya semua barang di mall ,” jawab Eca.
“OK, terserah kamu saja lah. Yang pasti kalau kamu mabuk, aku akan telepon suamimu itu.”
Eca manggut-manggut menanggapi Mika. Dia seakan tidak peduli dengan ucapan temannya.
“Lagian kamu suntuk kenapa, Ca? “
“Keluarga sudah maksa kita untuk segera punya anak. Tapi sampai saat ini aku belum hamil juga,” jawab Eca.
“Duit kalian banyak, asal datang ke dokter kelar itu masalah. Dokter jago bikin pasien punya anak banyak, Ca di dunia ini. Kalau ga percaya dokter lokal, pergi gih ke luar negeri. Duit bejibun ngapain susah dan repot mikirnya, seperti orang miskin saja.”
“Nah itu masalahnya. Kumara tidak mau pergi ke dokter karena selalu gagal. Malah sekarang ngide gila suruh aku hamil anak orang.”
“Apa?” teriak Mika begitu keras. “Suami kamu masih waras?”
Eca menggeleng pelan. “Kayaknya dia sudah gila.”
“Emang gila suami kamu itu. Istri cantik dan baik gini malah suruh hamil sama orang lain.”
Kedua wanita itu pun kembali menikmati minuman di atas meja sembari menikmati musik yang memekakkan telinga.
“Sudah, Ca. Kamu sudah mabuk. Aku gak mau, ya, nganterin kamu pulang,” cegah Mika saat Eca hendak menuang minuman kembali ke gelasnya.
“Gapapalah, sedikit doang,” jawab Eca menepis tangan Mika.
Mila hanya geleng-geleng kepala menyaksikan sahabatnya yang mulai tak dapat duduk tegak. Wanita itu pun mengambil telepon genggamnya dan mengetik sesuatu. Lega terpancar dari wajah tatkala Mika kembali menyimpan telepon genggamnya. Wanita itu juga mencegah Eca kembali menenggak minuman di hadapannya.
“Nyonya,” sapa seorang pria yang muncul di hapadan Eca dan Mika.
“Siapa kamu?” tanya Mika untuk meyakinkan.
“Saya, Danan, asisten Tuan Kumara. Beliau meminta saya untuk menjemput Nyonya Almirzha,” jawab Danan dengan sopan.
“Mengapa bukan Kumara sendiri yang menjemput Eca?” tanya Mika keberatan dengan keputusan Kumara.
“Maaf, Tuan sedang ada hal yang tidak bisa ditinggalkan.”
“Sepenting apa sih sampai istrinya diserahkan ke orang lain. Lagian ini juga sudah hampir tengah malam,” gumam Mika yang masih dapat didengar oleh Danan. “Dia sudah mabuk. Kamu harus antar Eca sampai rumah dengan aman.”
“Baik, Nyonya. Terima kasih sudah menjaga Nyonya Almirzha,” sahut Danan seraya meraih tangan Almirzha.
Pria itu memapah Almirzha yang sudah tak mampu lagi berdiri dengan tegak. Di belakangnya Mika pun mengikuti meninggalkan tempat tersebut. Mereka pun berpisah di parkiran. Mika menuju mobilnya sendiri, sedangkan Danan duduk di belakang kemudi setelah mendudukkan Eca di bangku belakang.
Danan melakukan mobil dengan cepat. Sesekali pria itu menoleh dan menggaruk telinganya. Istri bosnya itu tak bisa diam di belakang sana. Sejak tadi wanita itu mengeluarkan seluruh sumpah serapah yang diketahuinya yang membuat Danan geleng kepala.
“Kemana hilangnya keanggunan yang selama ini aku lihat?” gumam Danan sambil terus mencoba untuk fokus ke jalanan.
“Kita sudah sampai, Nyonya,” kata Danan seraya membuka pintu belakang.
Ternyata Eca telah terlelap di sana. Danan menjadi ragu untuk membangunkannya atau langsung membawanya ke dalam. Namun, dia juga harus bergegas kembali ke kantor menemani Kumara yang masih lembur. Biasanya, kalau sampai tengah malam bekerja, Kumara akan menginap di kantor. Sehingga menjadi tugasnya untuk menyiapkan keperluan Kumara di kantor.
Saat Danan tengah berpikir, Eca pun menggeliat. Matanya menerawang dan berusaha bangkit.
“Nyonya, Anda sudah bangun,” kata Danan seraya membantu Eca keluar dari mobil.
Tanpa menjawab Eca berjalan sempoyongan memasuki rumah yang telah gelap. Eca kesulitan mencari kunci rumah di dalam tas. Tanpa menunggu perintah, Danan mengambil alih tas Eca untuk mencari kunci rumah. Danan pun membuka pintu rumah segera setelah menemukan kuncinya. Pria itu membantu Eca berjalan hingga memasuki kamarnya walaupun mendapat penolakan. Namun, Danan tak segera meninggalkan Eca karena tahu rumah utama tuannya itu akan sepi di malam hari karena para pelayan tinggal di rumah yang berbeda.
“Nyonya, biar saya bantu ke atas,” ucap Danan walaupun dia ragu Eca akan paham maksudnya.
“Jangan sentuh, aku bisa sendiri! Pergi saja, Mas, aku tidak butuh bantuanmu! Aku masih marah padamu,” kata Eca yang mengira Danan adalah Kumara.
Danan tak menghiraukan perkataan Eca. Lelaki itu tetap membawa Eca ke lantai atas tempat kamar Tuannya berada. Dia seakan tidak peduli dengan pukulan Eca yang terasa kian melemah kehabisan tenaga. Dengan susah payah, akhirnya Danan mendudukkan Eca di ranjang pada kamar yang cukup luas itu.
“Aku bilang pergi, Mas,” kata Eca dengan nada tinggi menggema di ruangan tersebut.
“Maaf, Nyonya. Ini tugas saya untuk memastikan Nyonya dalam keadaan selamat,” sahut Danan seraya membungkuk setelah berhasil menciptakan jarak dari sang Nyonya.
“Aku benci kamu, Mas. Aku mau kita berusaha, tapi kamu malah minta yang lain,” racau Eca yang terdengar jelas di telinga Danan.
Danan berusaha untuk tidak melihat ke arah Eca, tetapi pria yang masih berpakaian rapi itu juga enggan untuk beranjak dari sana. Bahkan, dia juga tidak bergeming ketika bantal dan guling mengenai tubuhnya.
Danan membelalakkan mata seraya mencoba menyeimbangkan tubuhnya ketika Eca tiba-tiba memeluknya. Danan berusaha memejamkan mata saat menyadari Eca telah menanggalkan sebagian besar pakaiannya.
“Kita berusaha lagi saja ya, Mas,” ucap Eca lembut di dada Danan.
Tak cukup sampai di sana, tangan Eca tak diam, tetapi mulai bergerilya di tubuh pria yang di matanya adalah Kumara. Eca mendorong tubuh Danan hingga tubuh lelaki itu membentur tembok. Wanita itu juga kembali melepas pakaian yang masih melekat di tubuhnya.
“Nyonya, Saya Danan, bukan Tuan Kumara,” kata Danan dengan kedua tangan mencoba menghalangi apa yang dilakukan Eca.
“Apa setelah kita bertengkar kamu tidak mau denganku, Mas?” tanya Eca dengan suara serak.
“Nyonya, jangan seperti ini!” jelas Danan mencoba menyadarkan Eca.
Eca yang terus bergerak membuat Danan semakin lama semakin tak berdaya. Danan pun mulai berkeringat menghadapi Eca karena bagaimanapun Danan tetaplah pria normal. Hingga akhirnya pria yang mulai tidak fokus itu terjatuh dengan Eca berada di atas tubuhnya.
“Kamu gila, Eca,” kata Kumara keras sembari menyentak tubuh Eca.“Bukankah kamu ingin tahu, Mas? Aku sudah menjawabnya, tapi mengapa kamu malah marah?” tanya Eca pelan dengan senyum di bibir seraya membenarkan posisi duduknya.“Aku memintamu mencari lelaki lain untuk membuatmu hamil, tapi itu tidak berarti juga itu adalah Danan. Kamu tahu betul dia siapa, dia asistenku, Eca,” kata-kata Kumara begitu menggelegar di dalam ruangan pribadi mereka yang luas itu.“Kamu tidak memberikan syarat apapun tentang lelaki itu, Mas. Aku juga sudah katakan, aku sendiri yang akan memilih ayah anak yang kukandung,” sahut Eca tak kalah keras suaranya.“Tapi tidak Danan juga, Eca. Dia asistenku, bagaimana dia jika melihat anak kita?” kata Kumara melunak.“Tidak akan terjadi apa-apa. Anak ini akan tetap menjadi anakku, Mas, jangan khawatir!” ucap Eca memberikan kepastian.Kumara tertawa renyah memberikan jawaban tak meyakini yang dinyatakan Eca. “Aku tetap tidak terima, Eca. kamu seharusnya bisa mencari l
“Ya, Nyonya,” kata Danan menjawab suara dari seberang.“Apa Mas Kumara ada di kantor?” terdengar suara Eca dari seberang.“Beliau baru saja pergi, Nyonya. Tuan mengatakan akan pulang,” jelas Danan sembari meninggalkan ruangan yang cukup besar dengan banyak furniture yang terbuat dari kayu alam.“Hmmm, baiklah, terima kasih,” ucap Eca dibalik benda pipih dalam genggaman Danan.“Nyonya, bolehkah saya bertanya?” tanya Danan pelan sembari memasuki ruang pribadinya dengan tangan kanan membawa berkas dari kantor Kumara.“Apa yang ingin kamu tanyakan, Danan?” tanya Eca “Nyonya, maaf saya lancang berkata, saya tetap akan bertanggung jawab pada kehamilan Anda,” ucap Danan yang kini berdiri menghadap jendela besar di ruangannya dengan lantang.Dahi Danan berkerut tatkala mendengar suara tertawa Eca melalui benda yang tertempel di telinga kirinya.“Nyonya, saya sungguh-sungguh,” kata Danan kembali penuh kesungguhan.“Apa kamu lupa, Danan? Kalau kamu lupa, aku akan dengan senang hati mengingatka
Pertanyaan Eca masih terngiang di telinga pria dengan setelan jas itu hingga saat ini. Laksana suara yang mengikuti setiap langkah dan pergerakannya. Tidak bisa dihilangkan dengan mudah, bahkan menjadi begitu melekat. Aroma kopi yang menguar dari cangkir di meja pun tak mampu mengurai kekusutan di pikirannya. Bahkan, untuk sekedar menghilangkan gejolak di hati pun tak mampu.“Ada apa, Nan?” sapa pria muda yang kini duduk di depan Danan.“Puyeng,” jawab Danan setelah tepukan lelaki itu membawanya ke dunia nyata.“Kerjaan? Bos kamu lagi?” tanya pria itu kembali.“Pribadi,” sahut Danan. “Justin, aku menghamili perempuan.”“Apa?” teriak Justin yang membuat orang-orang di tempat tersebut menoleh padanya. “Bisa santai tidak?” tegur Danan dengan suara yang cukup pelan.“Membuat anak orang hamil itu berat, Nan,” ucap Justin setelah semua mata di ruangan itu kembali tertuju ke arah semula.“Aku tahu,” sahut Danan seraya menganggukan kepala.“Lalu, siapa perempuan itu? Dan, yang paling pentin
Eca tersenyum tipis pada lelaki yang masih betah berdiri di dekatnya. Wajah lelaki itu tampak mengeras dan penasaran menunggu jawaban si wanita. Sayangnya, Eca tak merespon hal itu dan masih bertahan untuk tak menjawab pertanyaan Danan.“Duduklah, Danan! Apa kamu tidak lelah terus berdiri?” tanya Eca sembari mempersilakan Danan duduk.“Saya lebih baik berdiri, Nyonya,” jawab Danan tegas.“Aku tidak nyaman jika harus berbicara dengan orang yang berdiri di sampingku,” ucap Eca yang menyiratkan keinginannya tak ingin dibantah.“Baik, Nyonya,” sahut Danan kemudian.Danan pun akhirnya duduk di kursi yang tersedia. Dirinya dan Eca hanya dibatasi oleh meja pendek berisi makan siang dan buah yang tinggal separuh. Danan memperhatikan meja tersebut dengan seksama. Makanan dan buah yang ada di sana masih sama dengan barang yang diantarnya tadi pagi sesuai perintah Kumara. “Nyonya, tolong katakan pada saya yang sejujurnya!” pinta Danan pada wanita yang kini masih betah memperhatikan tanaman di h
“Nyonya Besar,” sahut Danan seraya membungkuk hormat. Wanita paruh baya dengan rambut yang masih legam mendekati Eca. Matanya melirik tajam pada Danan, sang asisten. “Apa kamu tidak punya pekerjaan?” tanya wanita itu kembali sembari meraih piring dan sendok dari tangan Danan. “Maaf, Nyonya Besar, Tuan Kumara meminta saya mengantar makanan untuk Nyonya Eca,” jawab Danan tegas. “Pergilah! Lain kali kamu harus tahu batasanmu,” ucap Nyonya Renita seakan sengaja mengusir sang asisten. Lelaki yang telah menemani Kumara cukup lama itu tak segera beranjak. Wajahnya menunduk tetapi matanya melirik pada istri tuannya yang bersandar di ranjang. Seakan paham dengan pemikirannya, Danan membungkukkan badan seraya berpamitan pada Nyonya Renita. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan tersebut, Danan terhenti di depan pintu memperhatikan interaksi ibu dan menantu di sana. Walaupun Danan memahami interaksi mereka tak sehangat dulu, namun lelaki itu juga tidak bisa berbuat banyak. Mendapatkan ta
“Jangan bercanda, Eca! Apa dia bukan anakku?” tanya Kumara dengan nada yang mulai meninggi.“Kamu bisa memikirkannya sendiri, Mas, apakah dia anakmu atau bukan,” terang Eca tanpa memberikan kejelasan.Tangan Kumara terayun ke atas. Namun, belum sampai pria itu melakukan sesuatu, dering ponsel di saku jas menghentikan aksinya. Setelah membaca nama penelepon, Kumara menggeser tombol hijau. Dahinya berkerut sempurna mendengar penjelasan dari seberang. Dia pun berjanji akan segera datang sebelum memutus panggilan.“Eca, Sayang, aku tidak akan mempermasalahkan tentang ayah biologis anak di dalam perutmu. Yang pasti, aku bahagia karena akan menjadi ayah dan kita akan menjadi orang tua. Aku berjanji akan membahagiakan kalian. Istirahatlah, aku harus ke kantor!” ucap Kumara seakan tak mempermasalahkan percakapan mereka sebelumnya.Sebelum meninggalkan ruangan, Kumara mencium kening Eca. Lelaki itu tak melepaskan senyuman di wajahnya. Eca hanya membalas senyuman tersebut dengan wajah dingin.
“Nyonya,” sapa Danan pada wanita anggun yang tengah membaca buku di halaman belakang rumah yang dapat dikatakan mewah.Eca tak segera menjawab sapaan Danan. Wanita itu mengangkat wajahnya sekilas, memandang pada asisten sang suami dengan sinis. Tanpa menjawab, dia kembali fokus pada buku yang ada d
Eca dan Danan menoleh bersamaan pada pelayan yang baru datang. Terlihat jelas wajah mereka yang tegang.“Tidak ada apa-apa, Bi,” jawab Eca dengan suara tegas. “Mulailah bekerja! Sebaiknya segera, karena aku sudah sangat lapar.”“Tapi di meja sudah ada makanan, Nyonya,” sahut seorang pelayan lain ya
Mata wanita itu belum sepenuhnya terbuka, namun tangannya sudah memukul-mukul kepala pelan. Eca juga melenguh pelan tanpa mengubah posisi. Keterkejutan terlihat jelas di matanya kala menatap langit-langit kamar. Seingatnya semalam dia minum di club hingga mabuk bersama temannya. “Kepalaku sakit da
“Gila kamu, Mas!” desis wanita berambut panjang yang masih mengenakan piyama tidur dan duduk di tepian ranjang.“Kamu sudah gila,” ucap wanita itu kembali dengan menekan setiap kata yang diucapkannya. “Kita memang menikah karena perjodohan dan tanpa cinta, tapi aku tidak akan mengkhianati ikatan in







