共有

Bab 2

last update 公開日: 2026-04-19 17:25:07

“Apa?” teriak Eca yang tenggelam ditelan suara musik yang berdentum keras.

“Kamu, ya, suami kaya raya, tajir, hidup enak, masih saja mangajakku ke klub. Tumben juga kamu ngajak ke sini, sejak menikah kamu ga pernah mau diajak ke klub,” seru Mika tak kalah keras dari Eca.

“Suntuk,” jawab Eca lugas seraya menyesap minuman di tangannya.

“Yaelah, Neng. Duit kamu banyak, ngapain habiskan di sini? Mending habisin tu duit suamimu di mall.”

“Males, aku sudah punya semua barang di mall ,” jawab Eca.

“OK, terserah kamu saja lah. Yang pasti kalau kamu mabuk, aku akan telepon suamimu itu.”

Eca manggut-manggut menanggapi Mika. Dia seakan tidak peduli dengan ucapan temannya. 

“Lagian kamu suntuk kenapa, Ca? “

“Keluarga sudah maksa kita untuk segera punya anak. Tapi sampai saat ini aku belum hamil juga,” jawab Eca. 

“Duit kalian banyak, asal datang ke dokter kelar itu masalah. Dokter jago bikin pasien punya anak banyak, Ca di dunia ini. Kalau ga percaya dokter lokal, pergi gih ke luar negeri. Duit bejibun ngapain susah dan repot mikirnya, seperti orang miskin saja.”

“Nah itu masalahnya. Kumara tidak mau pergi ke dokter karena selalu gagal. Malah sekarang ngide gila suruh aku hamil anak orang.”

“Apa?” teriak Mika begitu keras. “Suami kamu masih waras?”

Eca menggeleng pelan. “Kayaknya dia sudah gila.”

“Emang gila suami kamu itu. Istri cantik dan baik gini malah suruh hamil sama orang lain.”

Kedua wanita itu pun kembali menikmati minuman di atas meja sembari menikmati musik yang memekakkan telinga. 

“Sudah, Ca. Kamu sudah mabuk. Aku gak mau, ya, nganterin kamu pulang,” cegah Mika saat Eca hendak menuang minuman kembali ke gelasnya. 

“Gapapalah, sedikit doang,” jawab Eca menepis tangan Mika. 

Mila hanya geleng-geleng kepala menyaksikan sahabatnya yang mulai tak dapat duduk tegak. Wanita itu pun mengambil telepon genggamnya dan mengetik sesuatu. Lega terpancar dari wajah tatkala Mika kembali menyimpan telepon genggamnya. Wanita itu juga mencegah Eca kembali menenggak minuman di hadapannya. 

“Nyonya,” sapa seorang pria yang muncul di hapadan Eca dan Mika. 

“Siapa kamu?” tanya Mika untuk meyakinkan. 

“Saya, Danan, asisten Tuan Kumara. Beliau meminta saya untuk menjemput Nyonya Almirzha,” jawab Danan dengan sopan. 

“Mengapa bukan Kumara sendiri yang menjemput Eca?” tanya Mika keberatan dengan keputusan Kumara. 

“Maaf, Tuan sedang ada hal yang tidak bisa ditinggalkan.”

“Sepenting apa sih sampai istrinya diserahkan ke orang lain. Lagian ini juga sudah hampir tengah malam,” gumam Mika yang masih dapat didengar oleh Danan. “Dia sudah mabuk. Kamu harus antar Eca sampai rumah dengan aman.”

“Baik, Nyonya. Terima kasih sudah menjaga Nyonya Almirzha,” sahut Danan seraya meraih tangan Almirzha. 

Pria itu memapah Almirzha yang sudah tak mampu lagi berdiri dengan tegak. Di belakangnya Mika pun mengikuti meninggalkan tempat tersebut. Mereka pun berpisah di parkiran. Mika menuju mobilnya sendiri, sedangkan Danan duduk di belakang kemudi setelah mendudukkan Eca di bangku belakang. 

Danan melakukan mobil dengan cepat. Sesekali pria itu menoleh dan menggaruk telinganya. Istri bosnya itu tak bisa diam di belakang sana. Sejak tadi wanita itu mengeluarkan seluruh sumpah serapah yang diketahuinya yang membuat Danan geleng kepala. 

“Kemana hilangnya keanggunan yang selama ini aku lihat?” gumam Danan sambil terus mencoba untuk fokus ke jalanan. 

“Kita sudah sampai, Nyonya,” kata Danan seraya membuka pintu belakang. 

Ternyata Eca telah terlelap di sana. Danan menjadi ragu untuk membangunkannya atau langsung membawanya ke dalam. Namun, dia juga harus bergegas kembali ke kantor menemani Kumara yang masih lembur. Biasanya, kalau sampai tengah malam bekerja, Kumara akan menginap di kantor. Sehingga menjadi tugasnya untuk menyiapkan keperluan Kumara di kantor. 

Saat Danan tengah berpikir, Eca pun menggeliat. Matanya menerawang dan berusaha bangkit. 

“Nyonya, Anda sudah bangun,” kata Danan seraya membantu Eca keluar dari mobil. 

Tanpa menjawab Eca berjalan sempoyongan memasuki rumah yang telah gelap. Eca kesulitan mencari kunci rumah di dalam tas. Tanpa menunggu perintah, Danan mengambil alih tas Eca untuk mencari kunci rumah. Danan pun membuka pintu rumah segera setelah menemukan kuncinya. Pria itu membantu Eca berjalan hingga memasuki kamarnya walaupun mendapat penolakan. Namun, Danan tak segera meninggalkan Eca karena tahu rumah utama tuannya itu akan sepi di malam hari karena para pelayan tinggal di rumah yang berbeda. 

“Nyonya, biar saya bantu ke atas,” ucap Danan walaupun dia ragu Eca akan paham maksudnya. 

“Jangan sentuh, aku bisa sendiri! Pergi saja, Mas, aku tidak butuh bantuanmu! Aku masih marah padamu,” kata Eca yang mengira Danan adalah Kumara. 

Danan tak menghiraukan perkataan Eca. Lelaki itu tetap membawa Eca ke lantai atas tempat kamar Tuannya berada. Dia seakan tidak peduli dengan pukulan Eca yang terasa kian melemah kehabisan tenaga. Dengan susah payah, akhirnya Danan mendudukkan Eca di ranjang pada kamar yang cukup luas itu.

“Aku bilang pergi, Mas,” kata Eca dengan nada tinggi menggema di ruangan tersebut.

“Maaf, Nyonya. Ini tugas saya untuk memastikan Nyonya dalam keadaan selamat,” sahut Danan seraya membungkuk setelah berhasil menciptakan jarak dari sang Nyonya.

“Aku benci kamu, Mas. Aku mau kita berusaha, tapi kamu malah minta yang lain,” racau Eca yang terdengar jelas di telinga Danan.

Danan berusaha untuk tidak melihat ke arah Eca, tetapi pria yang masih berpakaian rapi itu juga enggan untuk beranjak dari sana. Bahkan, dia juga tidak bergeming ketika bantal dan guling mengenai tubuhnya.

Danan membelalakkan mata seraya mencoba menyeimbangkan tubuhnya ketika Eca tiba-tiba memeluknya. Danan berusaha memejamkan mata saat menyadari Eca telah menanggalkan sebagian besar pakaiannya.

“Kita berusaha lagi saja ya, Mas,” ucap Eca lembut di dada Danan.

Tak cukup sampai di sana, tangan Eca tak diam, tetapi mulai bergerilya di tubuh pria yang di matanya adalah Kumara. Eca mendorong tubuh Danan hingga tubuh lelaki itu membentur tembok. Wanita itu juga kembali melepas pakaian yang masih melekat di tubuhnya.

“Nyonya, Saya Danan, bukan Tuan Kumara,” kata Danan dengan kedua tangan mencoba menghalangi apa yang dilakukan Eca.

“Apa setelah kita bertengkar kamu tidak mau denganku, Mas?” tanya Eca dengan suara serak.

“Nyonya, jangan seperti ini!” jelas Danan mencoba menyadarkan Eca.

Eca yang terus bergerak membuat Danan semakin lama semakin tak berdaya. Danan pun mulai berkeringat menghadapi Eca karena bagaimanapun Danan tetaplah pria normal. Hingga akhirnya pria yang mulai tidak fokus itu terjatuh dengan Eca berada di atas tubuhnya. 

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 12

    “Jangan bercanda, Eca! Apa dia bukan anakku?” tanya Kumara dengan nada yang mulai meninggi.“Kamu bisa memikirkannya sendiri, Mas, apakah dia anakmu atau bukan,” terang Eca tanpa memberikan kejelasan.Tangan Kumara terayun ke atas. Namun, belum sampai pria itu melakukan sesuatu, dering ponsel di saku jas menghentikan aksinya. Setelah membaca nama penelepon, Kumara menggeser tombol hijau. Dahinya berkerut sempurna mendengar penjelasan dari seberang. Dia pun berjanji akan segera datang sebelum memutus panggilan.“Eca, Sayang, aku tidak akan mempermasalahkan tentang ayah biologis anak di dalam perutmu. Yang pasti, aku bahagia karena akan menjadi ayah dan kita akan menjadi orang tua. Aku berjanji akan membahagiakan kalian. Istirahatlah, aku harus ke kantor!” ucap Kumara seakan tak mempermasalahkan percakapan mereka sebelumnya.Sebelum meninggalkan ruangan, Kumara mencium kening Eca. Lelaki itu tak melepaskan senyuman di wajahnya. Eca hanya membalas senyuman tersebut dengan wajah dingin.

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 11

    “Nyonya,” teriak salah satu pelayan yang menghampiri Eca.Pelayan paruh baya itu menepuk bahu Eca pelan. Wajahnya menyiratkan kasihan pada sang majikan. Wanita paruh baya itu juga menopang tubuh Eca yang mulai melemah di kamar mandi ruang tidurnya.Eca menepuk dadanya perlahan. Tubuhnya terlihat lemah. Ditambah dengan wajah yang begitu pucat. Eca hanya menurut ketika pelayan memapah tubuhnya yang mulai meluruh. Wanita itu juga membiarkan pelayan untuk menyelimuti tubuhnya. Eca hanya memejamkan matanya mencoba meredam segala rasa di tubuhnya.“Nyonya, apa perlu saya buatkan sesuatu?” tanya pelayan paruh baya itu.“Aku tidak ingin sesuatu, Bi. Rasanya tidak nyaman sekali,” keluh Eca.“Badan Anda tidak panas, Nyonya. Apa yang Anda rasakan?” tanya Bibi pelayan kembali.“Kepalaku pusing sekali, Bi. Perutku juga tidak nyaman, rasanya mual,” jawab Eca lirih.“Anda sangat pucat, Nyonya. Jangan menolak! Saya akan membuatkan sesuatu untuk Nyonya,” sahut Bibi dengan nada khawatir.Belum sempat p

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 10

    “Eca, Sayang, kamu yakin dengan yang kamu katakan?” tanya Mika sangat pelan hingga nyaris seperti gumamam.“Yakin sekali,” jawab Eca seraya mengangguk mantab.“Eca, Sayangku, Teman terbaikku, apakah kamu masih ingat terakhir kali kamu pergi ke sana?” sahut Mika merayu Eca.“Mika,” ucap Eca sambil memegang pundak temannya. “Berdo’alah itu tidak akan terjadi! Jadi, kita pergi sekarang!”“Sekarang jam berapa, Ca? Belum buka tempat itu,” ucap Mika sembari melepaskan kedua tangan Eca.“Jangan bercanda! Tempat itu milik suamimu, artinya kamu bisa masuk kapan saja,” kata Eca pura-pura marah.Benar-benar tak ingin dibantah, Mika membawa Eca ke tempat tujuannya. Mereka sampai di tempat tujuan ketika matahari telah berada tergelincir ke arah barat. Mika dan Eca berjalan di belakang karyawan yang memandu mereka menuju ruang pribadi. Tak ingin berdiri terlalu lama, Eca langsung duduk begitu pintu ruang pribadi itu tertutup. Mika hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Namun, m

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 9

    “Tidak ada apa-apa, Nyonya Besar. Nyonya Eca hanya meminta saran dari saya tentang suatu hal sebelum disampaikan pada Tuan Kumara. Kalau begitu, saya permisi Nyonya Besar dan Nyonya,” jelas Danan pada wanita paruh baya tersebut.Danan menundukkan kepala tanda hormat pada wanita paruh baya yang kini berdiri di hadapannya tersebut. Wanita itu juga membalas Danan dengan menganggukkan kepala. Setelah menjabat tangan wanita tersebut, Danan benar-benar meninggalkan rumah Kumara dan Eca. “Danan sangat mengerti pada Mas Kumara, Ma, karena itu aku minta sarannya dulu sebelum mengajukan pada Mas Kumara,” kata Eca turut menjelaskan dengan khawatir berharap sang mertua tidak mendengar sedikitpun pembicaraannya dengan Danan.Eca berdiri menyambut wanita paruh baya yang sedang berjalan ke arahnya. Wanita yang sebagian rambutnya telah mulai memutih tersebut masih tampak anggun. Pakaiannya yang sederhana tampak berkelas menunjukkan asal kastanya. Di jari dan pergelangan tangan serta lehernya melingk

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 8

    “Foto siapa ini? Aku tidak mengenalnya,” elak Kumara. “Aku lebih tidak mengenal lagi siapa dia,” kata Eca sembari duduk di pinggir ranjang setelah terlepas dari Kumara.Kumara pun berlutut di hadapan Eca. Lelaki itu berharap dia mampu meredakan emosi Eca. Cukup lama keduanya terdiam dalam posisi yang sama. Hingga akhirnya, Almirzha meminta Kumara untuk bangun. Tanpa menunggu, Kumara memeluk Eca erat. Keduanya pun berpelukan menuntaskan emosi hingga Kumara membimbing Eca duduk.“Aku berani bersumpah, Sayang, aku tidak mengenal wanita itu,” ucap Kumara sebelum Eca bersuara.“Baiklah, aku masih percaya padamu, Mas. Lalu, bagaimana wajahmu bisa babak belur seperti ini?” tanya Eca perlahan.“Kesalahpaham. Rudi memperhatikanmu, dan aku tidak suka itu,” jelas Kumara.Eca menghembuskan napas. Kejadian ini bukan hanya sekali terjadi. Tetapi, beberapa kali telah terjadi.“Sudahlah, Mas, ayo istirahat! Aku lelah, pusing, dan ingin istirahat,” ucap Eca kemudian.Kumara memeluk Eca sebelum memej

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 7

    Danan berlari memasuki restoran tempat Kumara berada. Kakinya terayun cepat menuju ruangan Kumara. Pria itu pun gegas membuka pintu yang masih tertutup rapat.“Apa yang terjadi?” tanya Danan lirih pada dirinya sendiri menyaksikan ruangan yang ia sewa telah berubah total.“Tuan!” panggil Danan sembari melangkah mengitari ruangan mencari keberadaan tuannya.Danan melangkah pelan di antara pecahan gelas yang berserakan serta ornamen dan aksesoris ruangan yang telah berpindah posisi di atas lantai. Tak hanya itu, ceceran darah berwarna merah turut menghiasi lantai.Sayup-sayup Danan mendengar suara dari luar pintu balkon ruangan. Pintu yang tak tertutup sempurna membuat tirai berkibar memberikan Danan penglihatan di sela-selanya. Angin pun turut mengabarkan pada Danan suara yang berada di luar.“Tuan Kumara, saya tahu Anda adalah salah satu pengusaha muda yang sangat sukses dan berpengaruh. Tetapi, saya tidak menyangka, Anda dapat melakukan hal seperti ini,” kata seseorang di luar jendela

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 6

    “Kamu mengancamku, Eca Sayang. Kamu pikir kamu siapa,” suara Kumara menggelegar di ruangan yang tertutup tersebut diikuti dengan suara gelas yang pecah terlempar ke lantai. Eca berhenti melangkah dan berbalik pada Kumara. Wanita itu tersenyum simpul. “Apa ini sifat aslimu, Mas?” tanya Eca tanpa me

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 5

    “Nyonya,” sapa Danan pada wanita anggun yang tengah membaca buku di halaman belakang rumah yang dapat dikatakan mewah.Eca tak segera menjawab sapaan Danan. Wanita itu mengangkat wajahnya sekilas, memandang pada asisten sang suami dengan sinis. Tanpa menjawab, dia kembali fokus pada buku yang ada d

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 4

    Eca dan Danan menoleh bersamaan pada pelayan yang baru datang. Terlihat jelas wajah mereka yang tegang.“Tidak ada apa-apa, Bi,” jawab Eca dengan suara tegas. “Mulailah bekerja! Sebaiknya segera, karena aku sudah sangat lapar.”“Tapi di meja sudah ada makanan, Nyonya,” sahut seorang pelayan lain ya

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 3

    Mata wanita itu belum sepenuhnya terbuka, namun tangannya sudah memukul-mukul kepala pelan. Eca juga melenguh pelan tanpa mengubah posisi. Keterkejutan terlihat jelas di matanya kala menatap langit-langit kamar. Seingatnya semalam dia minum di club hingga mabuk bersama temannya. “Kepalaku sakit da

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status