LOGINEca dan Danan menoleh bersamaan pada pelayan yang baru datang. Terlihat jelas wajah mereka yang tegang.
“Tidak ada apa-apa, Bi,” jawab Eca dengan suara tegas. “Mulailah bekerja! Sebaiknya segera, karena aku sudah sangat lapar.”
“Tapi di meja sudah ada makanan, Nyonya,” sahut seorang pelayan lain yang berada di belakang.
“Aku tidak berselera,” tegas Eca.
Mendengar jawaban itu, Danan menyapu wajah Eca. Di wajah lelaki itu tergambar pertanyaan bercampur kecewa.
“Apakah ada yang ingin kamu sampaikan Danan?” tanya Eca tanpa menurunkan nada suaranya.
“Tidak, Nyonya. Saya permisi,” jawab Danan sambil memutar tubuh dan berjalan keluar.
“Tunggu,” ucap Eca dengan nada tinggi. “Bawa makananmu atau buang!”
Danan menghentikan langkahnya dan seketika berbalik. Tangannya dengan cepat membereskan dan membawa makanan yang sempat diberikan pada Eca.
“Jangan pernah menyia-nyiakan makanan, Nyonya!” ucap Danan sambil berjalan keluar.
Tak lama kemudian, Eca dapat mendengar deru mobil meninggalkan halaman rumah. Wajah wanita itu menampakkan kelegaan.
“Ya, Tuhan, ini gila,” ecap Eca lirih sembari menyembunyikan kepala di antara kedua tangan yang berada di meja.
Di lain tempat, Danan sudah berada di ruangan Kumara untuk memberikan sarapan yang diminta. Pria itu juga menata semua makanan di meja tamu yang ada di ruangan tersebut.
“Bagaimana keadaan Eca saat kamu jemput semalam?” tanya Kumara sambil menyuap makanan.
“Nyonya mabuk berat. Saya mengantar Nyonya pulang,” jawab Danan.
“Apakah kamu pergi setelah mengantar Eca pulang?” tanya Kumara lagi sambil menatap sang asisten.
“Saya tidak segera pulang, tapi menunggu Nyonya tertidur,” ujar Danan dengan tenang.
Kumara terlihat puas dengan jawaban Danan. “Apa Eca bertingkah aneh?”
“Nyonya mengira saya adalah Anda. Nyonya meluapkan kemarahannya dengan kata-kata kasar,” jawab Danan dengan hati-hati.
“Hmm, tidak usah didengarkan perkataan Eca. Itu adalah perkataan orang yang sedang mabuk,” sahut Kumara sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
Jawaban dengan nada datar itu membuat Danan memperhatikan wajah tuannya. Danan tak melihat ada tanda-tanda penyesalan atau khawatir di wajah tampan Kumara.
“Ya, Tuan,” ujar Danan mengiyakan perintah Kumara.
“Danan, apakah tadi malam tidak terjadi sesuatu yang lain?” tanya Kumara sambil memandang Danan lekat.
Detak jantung Danan terdengar layaknya berdetak berpuluh kali lebih cepat mendengar pertanyaan Kumara.
“Maksud Tuan kejadian seperti apa?” tanya Danan untuk meyakinkan diri pada arah pertanyaan Kumara.
“Mengapa kamu tampak tegang?” tanya Kumara lagi dengan tersenyum. “Aku tidak menuduhmu macam-macam. Atau sebenarnya memang terjadi sesuatu semalam saat Echa mabuk?”
“Tidak, Tuan,” jawab Danan berusaha setenang mungkin. “Tetapi kalau maksud Tuan adalah ucapan Nyonya saat mabuk, maaf Tuan, sepertinya Nyonya mengatakan semua masalahnya dengan Anda.”
“Semua? Dengan marah?” tanya Kumara tampak antusias.
“Iya, Tuan,” jawab Danan menunduk.
Kumara tertawa kecil. “Biasanya Echa tidak akan mudah mengumbar masalahnya begitu saja.”
“Mungkin karena Nyonya mengira saya adalah Anda,” sahut Danan.
“Apakah dia tidak melakukan hal di luar nalar lainnya?” tanya Kumara kembali.
“Maksud Tuan?” tanya Danan dengan kening berkerut.
“Mungkin saja seperti di film-film itu terjadi pada kalian. Ada wanita mabuk dan melakukan hal yang tidak seharusnya di antara pria dan wanita,” kata Kumara begitu tenang dengan menikmati makanannya.
Kumara mengatakan hal tersebut dengan menatap tajam tepat di mata bawahannya itu. Lelaki itu mencari ketidakjujuran di mata pria yang hampir selama dua puluh empat jam ada untuknya dan melakukan semua perintahnya, termasuk meluluhkan hati sang istri. Namun, yang Kumara dapati adalah mata coklat kebiruan yang jernih tanpa ada riak di sana.
“Maaf, Tuan, karena Nyonya mengira saya adalah Anda, Nyonya sempat hendak melepas pakaiannya,” kata Danan dengan ragu,
“Lalu, apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak tertarik pada Echa?” tanya Kumara dengan memusatkan pandangannya ke wajah sang asisten.
“Saya ….” Ucapan Danan terhenti sebelum menyelesaikan kalimatnya.
“Apakah terjadi sesuatu antara dirimu dan Echa semalam?” tanya Kumara kembali pelan dan tegas.
“Saya menghormati Nyonya layaknya menghormati Anda, Tuan. Saya tidak akan melakukan sesuatu yang menghancurkan hal tersebut,” ujar Danan dengan kembali menundukkan kepala.
Kumara menepukkan kedua tangannya dengan keras hingga menggema di ruangan yang cukup luas tersebut. “Bagus, kamu memang asistenku yang setia dan sangat bisa dipercaya. Kamu memang yang terbaik, Danan.”
“Apakah Anda mempercayai saya, Tuan?” tanya Danan pada Kumara yang terlihat begitu senang.
“Percaya,” ucap Kumara penuh keyakinan. “Dengan sikapmu yang seperti ini, Echa tidak akan melirikmu, bahkan mungkin membencimu. Dia itu suka dengan segala keromantisan dalam hubungan, bukan dengan sikapmu yang blak-blakan dan cenderung dingin.”
“Terima kasih atas pujian, Tuan,” sahut Danan.
“Baiklah, kembalilah bekerja,” titah Kumara.
“Tuan, maaf, jika saya lancang, apa tidak sebaiknya Tuan pulang terlebih dahulu dan menenangkan Nyonya?” usul Danan dengan sangat hati-hati.
“Tidak perlu. Kamu tidak perlu memikirkannya Danan, tugasmu adalah mengikuti perintahku. Eca sedang emosi, dia akan semakin emosi dan ngamuk kalau melihatku. Sudahlah, beberapa saat lagi dia pasti akan selesai dengan marahnya,” jawab Kumara.
“Tuan, mungkin Anda bisa pulang lebih awal nantinya,” usul Danan kembali.
“Itu usul bagus. Aku akan pulang lebih awal. Ah, sebaiknya nanti malam aku ajak Eca untuk makan malam. Kamu bisa siapkan semuanya, Danan?” ujar Kumara.
“Baik, Tuan, saya permisi,” pamit Danan seraya meninggalkan ruangan Kumara.
Danan terhenti dari gerakannya menutup pintu. Dipandangnya kembali tuannya yang makan dengan sangat tenang. Danan menghela napas berat dan pikirannya mulai mengembara pada permasalahan yang tengah dihadapi oleh Tuan dan Nyonyanya. Danan pun menutup pintu ruangan itu dan meninggalkan Kumara yang sepertinya tak terlalu memikirkan permasalahannya dengan sang istri.
“Maaf, Tuan, saya terpaksa berbohong kepada Anda karena Nyonya menginginkan untuk menutup rapat hal tersebut dari Anda,” ucap Danan di dalam hati.
Tak ingin terlibat lebih jauh dengan kehidupan pribadi tuannya, Danan kembali menyibukkan diri pada tumpukan dokumen dan layar komputer. Pria itu mulai membuka dokumen di mejanya satu per satu. Kemudian mencocokkan dengan data di layar komputer. Memeriksa setiap bagian hingga setiap kalimat agar pas dan benar sehingga ketika sampai di meja Kumara dokumen tersebut sudah tidak ada kekeliruan.
Menyelesaikan beberapa dokumen, konsentrasi Danan mulai terpecah. Pikirannya terpecah pada ingatan tentang kejadian semalam. Masih terekam jelas di ingatan pria itu bagaimana ucapan Echa semalam serta penolakan Echa pagi tadi. Danan mencari kontak Eca di telepon pintarnya. Tangannya berusaha mengetik kata maaf. Namun, sekian lama mengetik, seluruh kalimat itu dihapusnya dan diganti kalimat baru.
Dering telepon membangunkan Danan yang masih larut dalam lamunan. Memperhatikan siapa yang memanggilnya, baru dia menyadari bahwa pesannya tadi telah terkirim pada Eca.
“Danan, aku tidak butuh maafmu. Lupakan kejadian semalam, aku tidak mau mengungkitnya lagi! Juga, katakan pada Mas Kumara, aku tidak mau makan malam,” ujar dari seberang begitu Danan menggeser tombol hijau.
“Nyonya, saya sungguh minta maaf. Soal Tuan Kumara, saya hanya mengikuti perintah beliau,” sahut Danan.
“Danan, kita tahu persis satu sama lain. Jangan sampai kamu melewati batasku!” kata Eca penuh penekanan.
“Nyonya, … ,” belum sempat Danan mengatakan sesuatu, layar ponsel telah padam. “Sekarang, saya asisten suami Anda.” kata Danan lirih pada layar yang berwarna hitam.
“Nyonya,” sapa Danan pada wanita anggun yang tengah membaca buku di halaman belakang rumah yang dapat dikatakan mewah.Eca tak segera menjawab sapaan Danan. Wanita itu mengangkat wajahnya sekilas, memandang pada asisten sang suami dengan sinis. Tanpa menjawab, dia kembali fokus pada buku yang ada di tangannya.“Nyonya, Tuan meminta saya untuk menjemput dan mengantar Anda ke tempat yang telah disiapkan Tuan,” ujar Danan menjelaskan tujuan kedatangannya.“Mengapa tidak Mas Kumara sendiri yang datang?” tanya Eca tanpa mengangkat kepala.“Tuan sedang ada agenda yang tidak bisa ditinggalkan, Nyonya,” jawab Danan sambil menundukkan kepala.“Alasan klasik,” gumam Eca sembari menutup buku dan berdiri. “Siapa yang menyiapkan tempat? Mas Kumara atau kamu?” tanya Eca dengan sinis dan menatap Danan tajam.“Saya yang menyiapkan atas perintah Tuan Kumara,” jawab Danan merendah.Eca menyunggingkan bibirnya mendengar jawaban Danan. “Terserahlah, kalian sama-sama laki-laki,” kata Eca pelan.“Nyonya,”
Eca dan Danan menoleh bersamaan pada pelayan yang baru datang. Terlihat jelas wajah mereka yang tegang.“Tidak ada apa-apa, Bi,” jawab Eca dengan suara tegas. “Mulailah bekerja! Sebaiknya segera, karena aku sudah sangat lapar.”“Tapi di meja sudah ada makanan, Nyonya,” sahut seorang pelayan lain yang berada di belakang.“Aku tidak berselera,” tegas Eca. Mendengar jawaban itu, Danan menyapu wajah Eca. Di wajah lelaki itu tergambar pertanyaan bercampur kecewa.“Apakah ada yang ingin kamu sampaikan Danan?” tanya Eca tanpa menurunkan nada suaranya.“Tidak, Nyonya. Saya permisi,” jawab Danan sambil memutar tubuh dan berjalan keluar.“Tunggu,” ucap Eca dengan nada tinggi. “Bawa makananmu atau buang!”Danan menghentikan langkahnya dan seketika berbalik. Tangannya dengan cepat membereskan dan membawa makanan yang sempat diberikan pada Eca.“Jangan pernah menyia-nyiakan makanan, Nyonya!” ucap Danan sambil berjalan keluar.Tak lama kemudian, Eca dapat mendengar deru mobil meninggalkan halaman
Mata wanita itu belum sepenuhnya terbuka, namun tangannya sudah memukul-mukul kepala pelan. Eca juga melenguh pelan tanpa mengubah posisi. Keterkejutan terlihat jelas di matanya kala menatap langit-langit kamar. Seingatnya semalam dia minum di club hingga mabuk bersama temannya. “Kepalaku sakit dan pusing. Apa ini pengaruh minuman semalam?” gumam Eca.Wanita itu menghembuskan napas panjang karena merasa bersalah setelah benar-benar tidak ingat siapa yang membawanya pulang. Namun, matanya seketika membola melihat lengan yang polos. Eca dengan cepat membuka selimutnya. Wanita itu hampir berteriak mendapati dirinya yang tak memakai pakaian di bawah selimut. Eca menutup matanya. Di wajahnya yang terpejam tergambar penyesalan yang begitu dalam. “Sudah sepantasnya, seharusnya aku tidak mabuk semalam. Ini ulah siapa?” tanya Eca seiring air mata yang mulai meleleh dari kedua matanya.Merasakan pergerakan dari sampingnya, Eca pun menoleh. Matanya semakin terbuka mendapati seorang lelaki yang
“Apa?” teriak Eca yang tenggelam ditelan suara musik yang berdentum keras.“Kamu, ya, suami kaya raya, tajir, hidup enak, masih saja mangajakku ke klub. Tumben juga kamu ngajak ke sini, sejak menikah kamu ga pernah mau diajak ke klub,” seru Mika tak kalah keras dari Eca.“Suntuk,” jawab Eca lugas seraya menyesap minuman di tangannya.“Yaelah, Neng. Duit kamu banyak, ngapain habiskan di sini? Mending habisin tu duit suamimu di mall.”“Males, aku sudah punya semua barang di mall ,” jawab Eca.“OK, terserah kamu saja lah. Yang pasti kalau kamu mabuk, aku akan telepon suamimu itu.”Eca manggut-manggut menanggapi Mika. Dia seakan tidak peduli dengan ucapan temannya. “Lagian kamu suntuk kenapa, Ca? ““Keluarga sudah maksa kita untuk segera punya anak. Tapi sampai saat ini aku belum hamil juga,” jawab Eca. “Duit kalian banyak, asal datang ke dokter kelar itu masalah. Dokter jago bikin pasien punya anak banyak, Ca di dunia ini. Kalau ga percaya dokter lokal, pergi gih ke luar negeri. Duit b
“Gila kamu, Mas!” desis wanita berambut panjang yang masih mengenakan piyama tidur dan duduk di tepian ranjang.“Kamu sudah gila,” ucap wanita itu kembali dengan menekan setiap kata yang diucapkannya. “Kita memang menikah karena perjodohan dan tanpa cinta, tapi aku tidak akan mengkhianati ikatan ini, Mas.”Sang suami yang duduk di sampingnya pun mendesah pelan. Tangannya mengacak kasar rambut yang tak sepenuhnya rapi. Ada rasa frustasi yang coba diungkapkannya.“Aku hanya memintamu untuk hamil, Eca. Aku bahkan sudah merelakanmu untuk hamil anak orang lain, setelahnya kita akan merawat anak itu. Apa aku perlu untuk mencarikan kamu lelaki itu?”“Sudah kubilang aku tidak mau, Mas. Itu sama saja dengan aku selingkuh.”“Lalu aku harus bagaimana, Eca?” tanyanya lemah. “Aku tidak tahu lagi bagaimana harus menjawab pertanyaan orang tua kita. Apalagi orang tuaku terus mendesak hanya karena aku anak tunggal.”“Aku mengerti mereka memaksamu untuk memiliki keturunan karena mereka membutuhkan pewa







