Share

Bab 4

last update publish date: 2026-04-19 17:27:35

Eca dan Danan menoleh bersamaan pada pelayan yang baru datang. Terlihat jelas wajah mereka yang tegang.

“Tidak ada apa-apa, Bi,” jawab Eca dengan suara tegas. “Mulailah bekerja! Sebaiknya segera, karena aku sudah sangat lapar.”

“Tapi di meja sudah ada makanan, Nyonya,” sahut seorang pelayan lain yang berada di belakang.

“Aku tidak berselera,” tegas Eca. 

Mendengar jawaban itu, Danan menyapu wajah Eca. Di wajah lelaki itu tergambar pertanyaan bercampur kecewa.

“Apakah ada yang ingin kamu sampaikan Danan?” tanya Eca tanpa menurunkan nada suaranya.

“Tidak, Nyonya. Saya permisi,” jawab Danan sambil memutar tubuh dan berjalan keluar.

“Tunggu,” ucap Eca dengan nada tinggi. “Bawa makananmu atau buang!”

Danan menghentikan langkahnya dan seketika berbalik. Tangannya dengan cepat membereskan dan membawa makanan yang sempat diberikan pada Eca.

“Jangan pernah menyia-nyiakan makanan, Nyonya!” ucap Danan sambil berjalan keluar.

Tak lama kemudian, Eca dapat mendengar deru mobil meninggalkan halaman rumah. Wajah wanita itu menampakkan kelegaan. 

“Ya, Tuhan, ini gila,” ecap Eca lirih sembari menyembunyikan kepala di antara kedua tangan yang berada di meja.

Di lain tempat, Danan sudah berada di ruangan Kumara untuk memberikan sarapan yang diminta. Pria itu juga menata semua makanan di meja tamu yang ada di ruangan tersebut. 

“Bagaimana keadaan Eca saat kamu jemput semalam?” tanya Kumara sambil menyuap makanan.

“Nyonya mabuk berat. Saya mengantar Nyonya pulang,” jawab Danan.

“Apakah kamu pergi setelah mengantar Eca pulang?” tanya Kumara lagi sambil menatap sang asisten.

“Saya tidak segera pulang, tapi menunggu Nyonya tertidur,” ujar Danan dengan tenang.

Kumara terlihat puas dengan jawaban Danan. “Apa Eca bertingkah aneh?”

“Nyonya mengira saya adalah Anda. Nyonya meluapkan kemarahannya dengan kata-kata kasar,” jawab Danan dengan hati-hati.

“Hmm, tidak usah didengarkan perkataan Eca. Itu adalah perkataan orang yang sedang mabuk,” sahut Kumara sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. 

Jawaban dengan nada datar itu membuat Danan memperhatikan wajah tuannya. Danan tak melihat ada tanda-tanda penyesalan atau khawatir di wajah tampan Kumara.

“Ya, Tuan,” ujar Danan mengiyakan perintah Kumara.

“Danan, apakah tadi malam tidak terjadi sesuatu yang lain?” tanya Kumara sambil memandang Danan lekat.

Detak jantung Danan terdengar layaknya berdetak berpuluh kali lebih cepat mendengar pertanyaan Kumara.

“Maksud Tuan kejadian seperti apa?” tanya Danan untuk meyakinkan diri pada arah pertanyaan Kumara. 

“Mengapa kamu tampak tegang?” tanya Kumara lagi dengan tersenyum. “Aku tidak menuduhmu macam-macam. Atau sebenarnya memang terjadi sesuatu semalam saat Echa mabuk?”

“Tidak, Tuan,” jawab Danan berusaha setenang mungkin. “Tetapi kalau maksud Tuan adalah ucapan Nyonya saat mabuk, maaf Tuan, sepertinya Nyonya mengatakan semua masalahnya dengan Anda.”

“Semua? Dengan marah?” tanya Kumara tampak antusias.

“Iya, Tuan,” jawab Danan menunduk.

Kumara tertawa kecil. “Biasanya Echa tidak akan mudah mengumbar masalahnya begitu saja.”

“Mungkin karena Nyonya mengira saya adalah Anda,” sahut Danan.

“Apakah dia tidak melakukan hal di luar nalar lainnya?” tanya Kumara kembali.

“Maksud Tuan?” tanya Danan dengan kening berkerut.

“Mungkin saja seperti di film-film itu terjadi pada kalian. Ada wanita mabuk dan melakukan hal yang tidak seharusnya di antara pria dan wanita,” kata Kumara begitu tenang dengan menikmati makanannya.

Kumara mengatakan hal tersebut dengan menatap tajam tepat di mata bawahannya itu. Lelaki itu mencari ketidakjujuran di mata pria yang hampir selama dua puluh empat jam ada untuknya dan melakukan semua perintahnya, termasuk meluluhkan hati sang istri. Namun, yang Kumara dapati adalah mata coklat kebiruan yang jernih tanpa ada riak di sana.

“Maaf, Tuan, karena Nyonya mengira saya adalah Anda, Nyonya sempat hendak melepas pakaiannya,” kata Danan dengan ragu,

“Lalu, apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak tertarik pada Echa?” tanya Kumara dengan memusatkan pandangannya ke wajah sang asisten.

“Saya ….” Ucapan Danan terhenti sebelum menyelesaikan kalimatnya. 

“Apakah terjadi sesuatu antara dirimu dan Echa semalam?” tanya Kumara kembali pelan dan tegas.

“Saya menghormati Nyonya layaknya menghormati Anda, Tuan. Saya tidak akan melakukan sesuatu yang menghancurkan hal tersebut,” ujar Danan dengan kembali menundukkan kepala.

Kumara menepukkan kedua tangannya dengan keras hingga menggema di ruangan yang cukup  luas tersebut. “Bagus, kamu memang asistenku yang setia dan sangat bisa dipercaya. Kamu memang yang terbaik, Danan.”

“Apakah Anda mempercayai saya, Tuan?” tanya Danan pada Kumara yang terlihat begitu senang.

“Percaya,” ucap Kumara penuh keyakinan. “Dengan sikapmu yang seperti ini, Echa tidak akan melirikmu, bahkan mungkin membencimu. Dia itu suka dengan segala keromantisan dalam hubungan, bukan dengan sikapmu yang blak-blakan dan cenderung dingin.”

“Terima kasih atas pujian, Tuan,” sahut Danan.

“Baiklah, kembalilah bekerja,” titah Kumara.

“Tuan, maaf, jika saya lancang, apa tidak sebaiknya Tuan pulang terlebih dahulu dan menenangkan Nyonya?” usul Danan dengan sangat hati-hati.

“Tidak perlu. Kamu tidak perlu memikirkannya Danan, tugasmu adalah mengikuti perintahku. Eca sedang emosi, dia akan semakin emosi dan ngamuk kalau melihatku. Sudahlah, beberapa saat lagi dia pasti akan selesai dengan marahnya,” jawab Kumara.

“Tuan, mungkin Anda bisa pulang lebih awal nantinya,” usul Danan kembali. 

“Itu usul bagus. Aku akan pulang lebih awal. Ah, sebaiknya nanti malam aku ajak Eca untuk makan malam. Kamu bisa siapkan semuanya, Danan?” ujar Kumara.

“Baik, Tuan, saya permisi,” pamit Danan seraya meninggalkan ruangan Kumara.

Danan terhenti dari gerakannya menutup pintu. Dipandangnya kembali tuannya yang makan dengan sangat tenang. Danan menghela napas berat dan pikirannya mulai mengembara pada permasalahan yang tengah dihadapi oleh Tuan dan Nyonyanya. Danan pun menutup pintu ruangan itu dan meninggalkan Kumara yang sepertinya tak terlalu memikirkan permasalahannya dengan sang istri.

“Maaf, Tuan, saya terpaksa berbohong kepada Anda karena Nyonya menginginkan untuk menutup rapat hal tersebut dari Anda,” ucap Danan di dalam hati.

Tak ingin terlibat lebih jauh dengan kehidupan pribadi tuannya, Danan kembali menyibukkan diri pada tumpukan dokumen dan layar komputer. Pria itu mulai membuka dokumen di mejanya satu per satu. Kemudian mencocokkan dengan data di layar komputer. Memeriksa setiap bagian hingga setiap kalimat agar pas dan benar sehingga ketika sampai di meja Kumara dokumen tersebut sudah tidak ada kekeliruan. 

Menyelesaikan beberapa dokumen, konsentrasi Danan mulai terpecah. Pikirannya terpecah pada ingatan tentang kejadian semalam. Masih terekam jelas di ingatan pria itu bagaimana ucapan Echa semalam serta penolakan Echa pagi tadi. Danan mencari kontak Eca di telepon pintarnya. Tangannya berusaha mengetik kata maaf. Namun, sekian lama mengetik, seluruh kalimat itu dihapusnya dan diganti kalimat baru. 

Dering telepon membangunkan Danan yang masih larut dalam lamunan. Memperhatikan siapa yang memanggilnya, baru dia menyadari bahwa pesannya tadi telah terkirim pada Eca. 

“Danan, aku tidak butuh maafmu. Lupakan kejadian semalam, aku tidak mau mengungkitnya lagi! Juga, katakan pada Mas Kumara, aku tidak mau makan malam,” ujar dari seberang begitu Danan menggeser tombol hijau. 

“Nyonya, saya sungguh minta maaf. Soal Tuan Kumara, saya hanya mengikuti perintah beliau,” sahut Danan. 

“Danan, kita tahu persis satu sama lain. Jangan sampai kamu melewati batasku!” kata Eca penuh penekanan. 

“Nyonya, … ,” belum sempat Danan mengatakan sesuatu, layar ponsel telah padam. “Sekarang, saya asisten suami Anda.” kata Danan lirih pada layar yang berwarna hitam. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 12

    “Jangan bercanda, Eca! Apa dia bukan anakku?” tanya Kumara dengan nada yang mulai meninggi.“Kamu bisa memikirkannya sendiri, Mas, apakah dia anakmu atau bukan,” terang Eca tanpa memberikan kejelasan.Tangan Kumara terayun ke atas. Namun, belum sampai pria itu melakukan sesuatu, dering ponsel di saku jas menghentikan aksinya. Setelah membaca nama penelepon, Kumara menggeser tombol hijau. Dahinya berkerut sempurna mendengar penjelasan dari seberang. Dia pun berjanji akan segera datang sebelum memutus panggilan.“Eca, Sayang, aku tidak akan mempermasalahkan tentang ayah biologis anak di dalam perutmu. Yang pasti, aku bahagia karena akan menjadi ayah dan kita akan menjadi orang tua. Aku berjanji akan membahagiakan kalian. Istirahatlah, aku harus ke kantor!” ucap Kumara seakan tak mempermasalahkan percakapan mereka sebelumnya.Sebelum meninggalkan ruangan, Kumara mencium kening Eca. Lelaki itu tak melepaskan senyuman di wajahnya. Eca hanya membalas senyuman tersebut dengan wajah dingin.

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 11

    “Nyonya,” teriak salah satu pelayan yang menghampiri Eca.Pelayan paruh baya itu menepuk bahu Eca pelan. Wajahnya menyiratkan kasihan pada sang majikan. Wanita paruh baya itu juga menopang tubuh Eca yang mulai melemah di kamar mandi ruang tidurnya.Eca menepuk dadanya perlahan. Tubuhnya terlihat lemah. Ditambah dengan wajah yang begitu pucat. Eca hanya menurut ketika pelayan memapah tubuhnya yang mulai meluruh. Wanita itu juga membiarkan pelayan untuk menyelimuti tubuhnya. Eca hanya memejamkan matanya mencoba meredam segala rasa di tubuhnya.“Nyonya, apa perlu saya buatkan sesuatu?” tanya pelayan paruh baya itu.“Aku tidak ingin sesuatu, Bi. Rasanya tidak nyaman sekali,” keluh Eca.“Badan Anda tidak panas, Nyonya. Apa yang Anda rasakan?” tanya Bibi pelayan kembali.“Kepalaku pusing sekali, Bi. Perutku juga tidak nyaman, rasanya mual,” jawab Eca lirih.“Anda sangat pucat, Nyonya. Jangan menolak! Saya akan membuatkan sesuatu untuk Nyonya,” sahut Bibi dengan nada khawatir.Belum sempat p

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 10

    “Eca, Sayang, kamu yakin dengan yang kamu katakan?” tanya Mika sangat pelan hingga nyaris seperti gumamam.“Yakin sekali,” jawab Eca seraya mengangguk mantab.“Eca, Sayangku, Teman terbaikku, apakah kamu masih ingat terakhir kali kamu pergi ke sana?” sahut Mika merayu Eca.“Mika,” ucap Eca sambil memegang pundak temannya. “Berdo’alah itu tidak akan terjadi! Jadi, kita pergi sekarang!”“Sekarang jam berapa, Ca? Belum buka tempat itu,” ucap Mika sembari melepaskan kedua tangan Eca.“Jangan bercanda! Tempat itu milik suamimu, artinya kamu bisa masuk kapan saja,” kata Eca pura-pura marah.Benar-benar tak ingin dibantah, Mika membawa Eca ke tempat tujuannya. Mereka sampai di tempat tujuan ketika matahari telah berada tergelincir ke arah barat. Mika dan Eca berjalan di belakang karyawan yang memandu mereka menuju ruang pribadi. Tak ingin berdiri terlalu lama, Eca langsung duduk begitu pintu ruang pribadi itu tertutup. Mika hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Namun, m

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 9

    “Tidak ada apa-apa, Nyonya Besar. Nyonya Eca hanya meminta saran dari saya tentang suatu hal sebelum disampaikan pada Tuan Kumara. Kalau begitu, saya permisi Nyonya Besar dan Nyonya,” jelas Danan pada wanita paruh baya tersebut.Danan menundukkan kepala tanda hormat pada wanita paruh baya yang kini berdiri di hadapannya tersebut. Wanita itu juga membalas Danan dengan menganggukkan kepala. Setelah menjabat tangan wanita tersebut, Danan benar-benar meninggalkan rumah Kumara dan Eca. “Danan sangat mengerti pada Mas Kumara, Ma, karena itu aku minta sarannya dulu sebelum mengajukan pada Mas Kumara,” kata Eca turut menjelaskan dengan khawatir berharap sang mertua tidak mendengar sedikitpun pembicaraannya dengan Danan.Eca berdiri menyambut wanita paruh baya yang sedang berjalan ke arahnya. Wanita yang sebagian rambutnya telah mulai memutih tersebut masih tampak anggun. Pakaiannya yang sederhana tampak berkelas menunjukkan asal kastanya. Di jari dan pergelangan tangan serta lehernya melingk

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 8

    “Foto siapa ini? Aku tidak mengenalnya,” elak Kumara. “Aku lebih tidak mengenal lagi siapa dia,” kata Eca sembari duduk di pinggir ranjang setelah terlepas dari Kumara.Kumara pun berlutut di hadapan Eca. Lelaki itu berharap dia mampu meredakan emosi Eca. Cukup lama keduanya terdiam dalam posisi yang sama. Hingga akhirnya, Almirzha meminta Kumara untuk bangun. Tanpa menunggu, Kumara memeluk Eca erat. Keduanya pun berpelukan menuntaskan emosi hingga Kumara membimbing Eca duduk.“Aku berani bersumpah, Sayang, aku tidak mengenal wanita itu,” ucap Kumara sebelum Eca bersuara.“Baiklah, aku masih percaya padamu, Mas. Lalu, bagaimana wajahmu bisa babak belur seperti ini?” tanya Eca perlahan.“Kesalahpaham. Rudi memperhatikanmu, dan aku tidak suka itu,” jelas Kumara.Eca menghembuskan napas. Kejadian ini bukan hanya sekali terjadi. Tetapi, beberapa kali telah terjadi.“Sudahlah, Mas, ayo istirahat! Aku lelah, pusing, dan ingin istirahat,” ucap Eca kemudian.Kumara memeluk Eca sebelum memej

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 7

    Danan berlari memasuki restoran tempat Kumara berada. Kakinya terayun cepat menuju ruangan Kumara. Pria itu pun gegas membuka pintu yang masih tertutup rapat.“Apa yang terjadi?” tanya Danan lirih pada dirinya sendiri menyaksikan ruangan yang ia sewa telah berubah total.“Tuan!” panggil Danan sembari melangkah mengitari ruangan mencari keberadaan tuannya.Danan melangkah pelan di antara pecahan gelas yang berserakan serta ornamen dan aksesoris ruangan yang telah berpindah posisi di atas lantai. Tak hanya itu, ceceran darah berwarna merah turut menghiasi lantai.Sayup-sayup Danan mendengar suara dari luar pintu balkon ruangan. Pintu yang tak tertutup sempurna membuat tirai berkibar memberikan Danan penglihatan di sela-selanya. Angin pun turut mengabarkan pada Danan suara yang berada di luar.“Tuan Kumara, saya tahu Anda adalah salah satu pengusaha muda yang sangat sukses dan berpengaruh. Tetapi, saya tidak menyangka, Anda dapat melakukan hal seperti ini,” kata seseorang di luar jendela

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 6

    “Kamu mengancamku, Eca Sayang. Kamu pikir kamu siapa,” suara Kumara menggelegar di ruangan yang tertutup tersebut diikuti dengan suara gelas yang pecah terlempar ke lantai. Eca berhenti melangkah dan berbalik pada Kumara. Wanita itu tersenyum simpul. “Apa ini sifat aslimu, Mas?” tanya Eca tanpa me

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 5

    “Nyonya,” sapa Danan pada wanita anggun yang tengah membaca buku di halaman belakang rumah yang dapat dikatakan mewah.Eca tak segera menjawab sapaan Danan. Wanita itu mengangkat wajahnya sekilas, memandang pada asisten sang suami dengan sinis. Tanpa menjawab, dia kembali fokus pada buku yang ada d

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 3

    Mata wanita itu belum sepenuhnya terbuka, namun tangannya sudah memukul-mukul kepala pelan. Eca juga melenguh pelan tanpa mengubah posisi. Keterkejutan terlihat jelas di matanya kala menatap langit-langit kamar. Seingatnya semalam dia minum di club hingga mabuk bersama temannya. “Kepalaku sakit da

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 1

    “Gila kamu, Mas!” desis wanita berambut panjang yang masih mengenakan piyama tidur dan duduk di tepian ranjang.“Kamu sudah gila,” ucap wanita itu kembali dengan menekan setiap kata yang diucapkannya. “Kita memang menikah karena perjodohan dan tanpa cinta, tapi aku tidak akan mengkhianati ikatan in

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status