LOGINMata wanita itu belum sepenuhnya terbuka, namun tangannya sudah memukul-mukul kepala pelan. Eca juga melenguh pelan tanpa mengubah posisi. Keterkejutan terlihat jelas di matanya kala menatap langit-langit kamar. Seingatnya semalam dia minum di club hingga mabuk bersama temannya.
“Kepalaku sakit dan pusing. Apa ini pengaruh minuman semalam?” gumam Eca.
Wanita itu menghembuskan napas panjang karena merasa bersalah setelah benar-benar tidak ingat siapa yang membawanya pulang. Namun, matanya seketika membola melihat lengan yang polos. Eca dengan cepat membuka selimutnya. Wanita itu hampir berteriak mendapati dirinya yang tak memakai pakaian di bawah selimut. Eca menutup matanya. Di wajahnya yang terpejam tergambar penyesalan yang begitu dalam.
“Sudah sepantasnya, seharusnya aku tidak mabuk semalam. Ini ulah siapa?” tanya Eca seiring air mata yang mulai meleleh dari kedua matanya.
Merasakan pergerakan dari sampingnya, Eca pun menoleh. Matanya semakin terbuka mendapati seorang lelaki yang juga tanpa pakaian tengkurap dengan majah membelakanginya.
“Siapa kamu?” teriak Eca seraya membangunkan lelaki di ranjangnya itu.
Lelaki itu melenguh. Dia berdiri tanpa melihat pada wanita yang terbaring di sampingnya. Dia pun memunguti pakaiannya dan mengenakannya seadanya.
Eca yang tak mendapat tanggapan dari lelaki itu, mulai terbakar emosi. Wanita itu duduk di ranjang serta melilitkan selimut di tubuhnya.
“Jangan diam saja! Siapa kamu?” tanya Eca lagi pada lelaki itu.
Gerakan lelaki itu terhenti. “Maaf, Nyonya, biarkan saya berpakaian terlebih dahulu!” jawab lelaki itu.
Eca tak percaya, sepertinya dia mengenal baik suara lelaki ini.
“Kau,” ujar Eca dengan terkejut.
“Maaf, Nyonya, saya bersalah,” ucap lelaki itu yang telah berdiri dengan pakaian lengkap dan formal.
“Gila, kamu tahu apa yang kamu lakukan Danan?” tanya Eca dengan nada tinggi.
“Saya sungguh minta maaf, Nyonya. Saya seharusnya semalam bisa menahan diri, tapi saya malah bertindak sendiri,” jawab Danan sambil menunduk.
“Apa kamu tidak berpikir kalau aku ini istri Tuanmu, Danan?” tanya Eca kembali.
“Maafkan saya, Nyonya. Saya khilaf, saya sangat bersalah. Saya rela dihukum oleh Anda dan Tuan Kumara.”
“Semua tidak cukup dengan hukuman yang kamu inginkan itu.”
“Saya siap bertanggung jawab, Nyonya.”
“Bertanggung jawab?” tanya Eca sambil tertawa sinis. “Kau lupa aku sudah bersuami.”
Tanpa menunggu jawaban Danan, Eca berlalu ke kamar mandi. Eca membersihkan dirinya seakan membersihkan diri dari kotoran yang telah dilakukannya semalam. Bahkan, Danan masih dapat mendengar isakan Eca diantara gemericik air.
Danan segera keluar dari kamar itu. Wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan ruangan tersebut, Danan menghampiri ranjang tempatnya tidur semalam. Dia merapikannya dan mengambil selimut dan sprei kotor.
Setelah membersihkan dan merapikan dirinya, Eca turun dari kamarnya menuju ruang makan. Tanpa memperhatikan sekeliling, Eca mendudukkan diri di kursi. Sesaat memperhatikan sekeliling, wanita itu menyadari rumahnya terlalu sepi. Bahkan, sekian lama dia duduk tidak ada satu pun pelayan yang mendekatinya.
“Bibi, Mba,” panggil Eca. Sayangnya panggilan tersebut tidak mendapat sahutan.
“Maaf, Nyonya, tadi malam saya meminta mereka untuk berada di pavilium belakang dan tidak datang ke rumah utama hingga pagi,” ucap Danan dari belakang Eca.
Eca menoleh pada lelaki yang ternyata membawa beberapa kantong. Dilihat dari tulisannya, kantong-kantong itu berisi makanan. Eca tidak menyahut perkataan Danan. Wanita itu hanya memperhatikan ketika asisten pribadi suaminya tersebut menata makanan di meja. Tak lupa, pria itu juga meletakkan gelas berisi minuman di depan Eca. Eca masih terus memperhatikan Danan yang sekarang duduk di seberang Eca.
“Kamu santai sekali, Danan. Bukankah seharusnya kamu ke kantor? Bagaimana dengan Mas Kumara kalau kamu masih di sini?” tanya Eca tanpa menunjukkan keramahan.
“Tuan Kumara sudah menghubungi saya untuk membawakan beliau sarapan dan pakaian ganti. Jadi, saya bisa sekalian membelikan Nyonya sarapan,” jawab Danan datar.
Eca menghembuskan napas panjang. Sebenarnya dia enggan untuk makan makanan yang telah tersedia, tetapi rasa lapar tidak dapat dikendalikannya. Wanita itu pun akhirnya menyantap makanan dengan lambat.
“Maaf, saya kurang paham makanan kesukaan Nyonya. Saya hanya membelikan Anda makanan sesuai dengan pesanan Tuan Kumara,” lanjut Danan.
“Danan,” panggil Eca setelah mereka selesai makan. “Kejadian semalam, simpan rapat-rapat dari kepada Mas Kumara!”
“Baik, Nyonya,” jawab Danan dengan formal.
“Tadi malam, kita …,” kata Eca yang sepertinya tidak mampu diselesaikannya.
Danan yang semula menunduk pun mengangkat kepalanya hingga netra keduanya bertemu.
“Maaf, Nyonya, saya yang salah,” ujar Danan kemudian sembari kembali menundukkan kepala.
“Apa maksudmu?” tanya Eca dengan suara yang mulai meninggi. “Kamu tahu aku mabuk dan kamu memanfaatkan kesempatan itu.”
“Bukan seperti itu juga, Nyonya,” sahut Danan masih dengan nada yang tenang dan terkontrol. “Nyonya memang mabuk berat semalam. Nyonya mengira saya sebagai Tuan Kumara sejak kita berada di mobil. Bahkan, ketika memasuki rumah Nyonya sudah mulai merayu saya. Karena itu, saya lancang meminta semua pelayan untuk pergi.”
“Jadi, kamu mengatakan kalau aku menganggapmu sebagai Mas Kumara? Kalau kamu tahu aku mabuk, mengapa tidak membiarkan para pelayan yang membantuku? Kamu malah membuat mereka semua pergi dari sini,” kata Eca begitu nyaring disertai ledakan emosi.
Danan semakin menunduk yang membuat Eca semakin tersulut emosi.
“Kamu memang sengaja, Danan,” desis Eca penuh penekanan.
“Maaf, Nyonya, saya benar-benar khilaf. Namun, saya harus menyangkal tuduhan Anda. Saya sungguh tidak berniat melakukannya, Nyonya.”
“Lalu, apa yang terjadi semalam? Kamu sudah berbuat tidak seharusnya.”
“Nyonya, Anda yang memaksa saya. Saya sudah berusaha untuk menahan diri dan mengingatkan Anda. Namun, Anda tidak melepaskan saya hingga hal itu terjadi, Nyonya.”
Eca terkekeh sinis mendengar jawaban Danan.
“Jadi, kamu menyalahkanku, Danan,” ujar Eca.
“Bukan seperti itu, Nyonya.”
“Apapun alasanmu, seharusnya kamu bisa mencegah hal itu terjadi. Ada banyak cara agar kamu tidak perlu melakukannya. Tapi apa? Semalam, aku yakin kamu menikmatinya,” ucap Eca penuh penekanan. Netra ayu itu juga mulai mengembun dan siap tumpah kapan pun.
“Maaf, Nyonya, saya benar-benar khilaf,” ucap Danan.
“Tidak semudah itu, Danan. Kamu sudah merusak apa yang selama ini aku pertahankan di hadapan Mas Kumara,” kata Eca dibarengi dengan isakan yang tertahan.
“Saya siap bertanggung jawab, Nyonya, dan menanggung akibat atas apa yang saya lakukan,” ujar Danan tegas.
“Aku tidak butuh maafmu, Danan,” pungkas Eca. “Pergilah, Mas Kumara pasti telah menunggumu. Jangan katakan apapun padanya tentang kejadian semalam!”
“Nyonya, apa yang harus saya lakukan agar Anda memaafkan saya,” ucap pria itu kembali.
“Pergilah! Biarkan aku sendiri!”
“Nyonya, saya …”
“Aku bilang pergi, Danan,” teriak Eca.
“Nyonya, Tuan Danan, apa yang terjadi?” tanya seorang pelayan yang berdiri di pintu ruang makan dan membuat keduanya terdiam dalam kekagetan.
“Nyonya,” sapa Danan pada wanita anggun yang tengah membaca buku di halaman belakang rumah yang dapat dikatakan mewah.Eca tak segera menjawab sapaan Danan. Wanita itu mengangkat wajahnya sekilas, memandang pada asisten sang suami dengan sinis. Tanpa menjawab, dia kembali fokus pada buku yang ada di tangannya.“Nyonya, Tuan meminta saya untuk menjemput dan mengantar Anda ke tempat yang telah disiapkan Tuan,” ujar Danan menjelaskan tujuan kedatangannya.“Mengapa tidak Mas Kumara sendiri yang datang?” tanya Eca tanpa mengangkat kepala.“Tuan sedang ada agenda yang tidak bisa ditinggalkan, Nyonya,” jawab Danan sambil menundukkan kepala.“Alasan klasik,” gumam Eca sembari menutup buku dan berdiri. “Siapa yang menyiapkan tempat? Mas Kumara atau kamu?” tanya Eca dengan sinis dan menatap Danan tajam.“Saya yang menyiapkan atas perintah Tuan Kumara,” jawab Danan merendah.Eca menyunggingkan bibirnya mendengar jawaban Danan. “Terserahlah, kalian sama-sama laki-laki,” kata Eca pelan.“Nyonya,”
Eca dan Danan menoleh bersamaan pada pelayan yang baru datang. Terlihat jelas wajah mereka yang tegang.“Tidak ada apa-apa, Bi,” jawab Eca dengan suara tegas. “Mulailah bekerja! Sebaiknya segera, karena aku sudah sangat lapar.”“Tapi di meja sudah ada makanan, Nyonya,” sahut seorang pelayan lain yang berada di belakang.“Aku tidak berselera,” tegas Eca. Mendengar jawaban itu, Danan menyapu wajah Eca. Di wajah lelaki itu tergambar pertanyaan bercampur kecewa.“Apakah ada yang ingin kamu sampaikan Danan?” tanya Eca tanpa menurunkan nada suaranya.“Tidak, Nyonya. Saya permisi,” jawab Danan sambil memutar tubuh dan berjalan keluar.“Tunggu,” ucap Eca dengan nada tinggi. “Bawa makananmu atau buang!”Danan menghentikan langkahnya dan seketika berbalik. Tangannya dengan cepat membereskan dan membawa makanan yang sempat diberikan pada Eca.“Jangan pernah menyia-nyiakan makanan, Nyonya!” ucap Danan sambil berjalan keluar.Tak lama kemudian, Eca dapat mendengar deru mobil meninggalkan halaman
Mata wanita itu belum sepenuhnya terbuka, namun tangannya sudah memukul-mukul kepala pelan. Eca juga melenguh pelan tanpa mengubah posisi. Keterkejutan terlihat jelas di matanya kala menatap langit-langit kamar. Seingatnya semalam dia minum di club hingga mabuk bersama temannya. “Kepalaku sakit dan pusing. Apa ini pengaruh minuman semalam?” gumam Eca.Wanita itu menghembuskan napas panjang karena merasa bersalah setelah benar-benar tidak ingat siapa yang membawanya pulang. Namun, matanya seketika membola melihat lengan yang polos. Eca dengan cepat membuka selimutnya. Wanita itu hampir berteriak mendapati dirinya yang tak memakai pakaian di bawah selimut. Eca menutup matanya. Di wajahnya yang terpejam tergambar penyesalan yang begitu dalam. “Sudah sepantasnya, seharusnya aku tidak mabuk semalam. Ini ulah siapa?” tanya Eca seiring air mata yang mulai meleleh dari kedua matanya.Merasakan pergerakan dari sampingnya, Eca pun menoleh. Matanya semakin terbuka mendapati seorang lelaki yang
“Apa?” teriak Eca yang tenggelam ditelan suara musik yang berdentum keras.“Kamu, ya, suami kaya raya, tajir, hidup enak, masih saja mangajakku ke klub. Tumben juga kamu ngajak ke sini, sejak menikah kamu ga pernah mau diajak ke klub,” seru Mika tak kalah keras dari Eca.“Suntuk,” jawab Eca lugas seraya menyesap minuman di tangannya.“Yaelah, Neng. Duit kamu banyak, ngapain habiskan di sini? Mending habisin tu duit suamimu di mall.”“Males, aku sudah punya semua barang di mall ,” jawab Eca.“OK, terserah kamu saja lah. Yang pasti kalau kamu mabuk, aku akan telepon suamimu itu.”Eca manggut-manggut menanggapi Mika. Dia seakan tidak peduli dengan ucapan temannya. “Lagian kamu suntuk kenapa, Ca? ““Keluarga sudah maksa kita untuk segera punya anak. Tapi sampai saat ini aku belum hamil juga,” jawab Eca. “Duit kalian banyak, asal datang ke dokter kelar itu masalah. Dokter jago bikin pasien punya anak banyak, Ca di dunia ini. Kalau ga percaya dokter lokal, pergi gih ke luar negeri. Duit b
“Gila kamu, Mas!” desis wanita berambut panjang yang masih mengenakan piyama tidur dan duduk di tepian ranjang.“Kamu sudah gila,” ucap wanita itu kembali dengan menekan setiap kata yang diucapkannya. “Kita memang menikah karena perjodohan dan tanpa cinta, tapi aku tidak akan mengkhianati ikatan ini, Mas.”Sang suami yang duduk di sampingnya pun mendesah pelan. Tangannya mengacak kasar rambut yang tak sepenuhnya rapi. Ada rasa frustasi yang coba diungkapkannya.“Aku hanya memintamu untuk hamil, Eca. Aku bahkan sudah merelakanmu untuk hamil anak orang lain, setelahnya kita akan merawat anak itu. Apa aku perlu untuk mencarikan kamu lelaki itu?”“Sudah kubilang aku tidak mau, Mas. Itu sama saja dengan aku selingkuh.”“Lalu aku harus bagaimana, Eca?” tanyanya lemah. “Aku tidak tahu lagi bagaimana harus menjawab pertanyaan orang tua kita. Apalagi orang tuaku terus mendesak hanya karena aku anak tunggal.”“Aku mengerti mereka memaksamu untuk memiliki keturunan karena mereka membutuhkan pewa







