Share

Bab 5

last update publish date: 2026-04-19 17:28:26

“Nyonya,” sapa Danan pada wanita anggun yang tengah membaca buku di halaman belakang rumah yang dapat dikatakan mewah.

Eca tak segera menjawab sapaan Danan. Wanita itu mengangkat wajahnya sekilas, memandang pada asisten sang suami dengan sinis. Tanpa menjawab, dia kembali fokus pada buku yang ada di tangannya.

“Nyonya, Tuan meminta saya untuk menjemput dan mengantar Anda ke tempat yang telah disiapkan Tuan,” ujar Danan menjelaskan tujuan kedatangannya.

“Mengapa tidak Mas Kumara sendiri yang datang?” tanya Eca tanpa mengangkat kepala.

“Tuan sedang ada agenda yang tidak bisa ditinggalkan, Nyonya,” jawab Danan sambil menundukkan kepala.

“Alasan klasik,” gumam Eca sembari menutup buku dan berdiri. 

“Siapa yang menyiapkan tempat? Mas Kumara atau kamu?” tanya Eca dengan sinis dan menatap Danan tajam.

“Saya yang menyiapkan atas perintah Tuan Kumara,” jawab Danan merendah.

Eca menyunggingkan bibirnya mendengar jawaban Danan. “Terserahlah, kalian sama-sama laki-laki,” kata Eca pelan.

“Nyonya,” panggil Danan kembali. Sayangnya, Eca telah melangkah memasuki rumah dan sepertinya tak mendengar panggilan Danan, walaupun suara Danan seharusnya masih cukup keras untuk didengar Eca.

Danan hanya bisa memandang punggung Eca yang menjauh dan hilang di balik tembok. Tatapan pria itu melembut kala menatap wanita yang kini telah menjadi istri bosnya itu. Sebuah senyum yang selama ini tak pernah diperlihatkannya pun muncul tanpa disadarinya. Namun, sesaat kemudian senyum itu luntur seiring kesadarannya yang kembali akan posisi dan kedudukannya. Tegas dan dingin pun kembali menghiasi wajahnya.

Danan begitu terpukau dengan penampilan Eca yang tengah menuruni tangga. Gaun berwarna merah dengan kerah tinggi dan lengan tertutup hingga siku terlihat begitu pas di tubuh wanita itu. Penampilan Eca ditunjang dengan sepatu hak tinggi dan clutch yang dipegang menambah kesan elegan dan berkelas. 

“Apalagi yang kamu tunggu? Bukankah kamu datang untuk menjemputku?” tanya Eca yang suaranya mampu menyeret Danan kembali dari lamunannya.

“Ya, Nyonya, silakan!” sahut Danan seraya mempersilakan Eca untuk berjalan di depan.

Sesampainya di mobil yang telah siap di depan pintu rumah, Danan membukakan pintu untuk Eca. Setelah duduk di belakang kemudi, Danan melajukan mobil dengan hati-hati. Suasana di dalam mobil begitu sunyi dan dingin. Tak ada percakapan ataupun sekedar basa-basi oleh Danan dan Eca. Bahkan, Eca membuang pandangannya ke luar jendela. Sepertinya, wanita itu lebih merasa nyaman untuk melihat pemandangan lalu lintas di petang itu.

“Nyonya, saya …,” ucap Danan mencoba mengajak Eca berbicara.

“Aku tidak ingin berbicara denganmu, Danan, dan sebaiknya kamu diam,” sahut Eca tanpa melihat serta tak membiarkan pria itu menyelesaikan ucapannya. 

Keduanya pun terdiam hingga kendaraan yang mereka tumpangi berhenti di salah satu restoran paling terkenal di kota tersebut. Danan membuka pintu untuk Eca. Wanita itu segera memasuki restoran tanpa menunggu Danan, hingga asisten suaminya itu harus melangkah cepat untuk menyusul setelah menyerahkan kunci mobil pada pelayan di sana.

Eca baru berhenti di tengah restoran karena memang dia tidak mengetahui ruangan yang dipesan Kumara. Danan dengan sigap mengantarkan Eca ke ruangan Kumara tanpa banyak bicara. Lelaki itu juga membukakan pintu ruangan. Bahkan, setelah Eca memasuki ruangan tersebut, Danan menutup pintu dengan rapat dari luar.

“Sayang,” sapa Kumara sembari berdiri dari duduknya untuk menyambut Eca.

Eca tersenyum kecil sebagai balasan pada Kumara. Namun, tangannya tetap membalas pelukan sang suami.

“Apa Danan menjemputmu dengan aman?” tanya Kumara setelah mempersilahkan Eca duduk dengan menarik kursi untuk sang istri.

“Apa dia berani macam-macam? Bagaimana kalau ketahuan dirimu, Mas?” balas Eca dengan pertanyaan.

Kumara mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Dia memang sangat patuh,” kata Kumara dengan angkuh.

Eca memandang Kumara lekat. Wajah wanita itu terlihat rumit, tetapi sesaat kemudian senyum terukir di wajahnya. Keduanya pun saling mengunci mata dengan senyum yang terus berada di bibir mereka. Kumara pun tersenyum semakin lebar hingga tertawa.

“Sudahlah, ayo makan dulu!” ajak Kumara pada Eca yang masih menatapnya lekat.

Sepasang suami istri itu pun kembali fokus pada makanan yang telah tersaji di meja. Mereka juga makan dengan diam, seakan pertemuan ini tak berarti setelah beberapa hari Kumara tidak pulang ke rumah.

“Eca,” panggil Kumara setelah meletakkan sendoknya. “Bagaimana pendapatmu tentang Danan?”

Pertanyaan Kumara membuat Eca menghentikan kegiatannya. Wanita itu menelan makanannya perlahan sambil meletakkan sendok di piring. Di tatapnya kembali suami yang telah menemarinya beberapa tahun terakhir.

“Dia asisten yang baik dan pekerja keras. Dia juga memahamimu dengan baik. Aku lihat selama ini kamu sangat puas dengan hasil kerja Danan,” jawab Eca jujur sesuai dengan penilaiannya.

“Aku tahu tentang itu. Aku tanya tentang hal lain,” sanggah Kumara.

“Aku tidak mengerti maksudmu, Mas,” ujar Eca tak mengerti pada pertanyaan Kumara.

“Kamu harus segera hamil, Eca, dan aku akan membiarkanmu hamil dengan lelaki yang kamu pilih. Tapi, sepertinya aku belum melihatmu bersama seorang pria. Makanya, mungkin kamu tertarik dengan Danan, apakah kamu bersedia?” jelas Kumara kemudian.

Mendengar perkataan Kumara, seketika wajah wanita itu berubah warna. Namun, wanita itu berusaha untuk mengendalikan dirinya hingga tak meledakkan kemarahan di hati.

“Kamu masih mempertahankan ide gila itu, Mas?” tanya Eca dengan suara tertahan.

“Ini bukan ide gila, Eca. Ini adalah langkah terakhir yang bisa kita lakukan, Sayang,” jawab Kumara dengan memegang tangan kanan Eca di atas meja.

“Aku hanya tidak habis pikir, Mas. Aku berusaha untuk selalu setia, tapi kamu malah memintaku untuk hamil dengan pria lain. Apa kamu yakin dengan konsekuensinya, Mas?” sahut Eca.

“Aku akan terima ketika kamu hamil dan melahirkan. Aku akan membuat anak itu menjadi anak kandung kita, Sayang,” kata Kumara meyakinkan Eca. 

“Apa kamu tidak akan cemburu, Mas? Bahkan ketika nanti kamu melihat wajah anak itu yang tidak mirip denganmu, apa kamu akan menerimanya, Mas?” tanya Eca kembali.

“Aku akan menerimanya, Eca. Aku akan membiarkanmu melakukannya di manapun, bahkan di hotel atau rumah kita. Aku tidak munafik dengan tidak marah atau cemburu, tapi aku bisa menghindar sementara sampai suasana hatiku membaik,” jawab Kumara dengan yakin. “Apa yang masih mengganggumu, Eca? Kita sudah didesak oleh orang tua kita.”

“Sungguh, aku tidak tahu dengan jalan pikiranmu, Mas,” sahut Eca lirih.

“Sebenarnya semua ini cukup sederhana, Sayang. Silakan kamu temukan pria yang kamu suka, hamil, dan kita akan punya anak!” ujar Kumara.

“Apakah kamu benar-benar yakin, Mas? Apa kamu tidak akan menyesal?” tanya Eca penuh penekanan.

Kumara menggelengkan kepala untuk meyakinkan Eca. “Ini jalan terakhir untuk kita, Sayang, kalau kita ingin memiliki anak. Cara apapun yang sudah kita coba tidak ada yang berhasil, Eca. Percayalah ini demi kebaikan kita dan kelangsungan rumah tangga kita!” bujuk Kumara pada sang istri.

“Baik, kalau kamu sudah yakin, Mas. Tapi, aku mau aku sendiri yang mencari lelaki itu dan kamu tidak boleh ikut campur,” kata Eca akhirnya menyerah pada keinginan Kumara. 

Wanita itu berdiri dan berhenti tepat di samping Kumara. “Kamu harus ingat satu hal, Mas, kita tidak bisa memprediksi masa depan. Setiap perbuatan pasti akan ada konsekuensinya,” ujar Eca tanpa menoleh dan meninggalkan Kumara yang terdiam dengan dahi berkerut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 12

    “Jangan bercanda, Eca! Apa dia bukan anakku?” tanya Kumara dengan nada yang mulai meninggi.“Kamu bisa memikirkannya sendiri, Mas, apakah dia anakmu atau bukan,” terang Eca tanpa memberikan kejelasan.Tangan Kumara terayun ke atas. Namun, belum sampai pria itu melakukan sesuatu, dering ponsel di saku jas menghentikan aksinya. Setelah membaca nama penelepon, Kumara menggeser tombol hijau. Dahinya berkerut sempurna mendengar penjelasan dari seberang. Dia pun berjanji akan segera datang sebelum memutus panggilan.“Eca, Sayang, aku tidak akan mempermasalahkan tentang ayah biologis anak di dalam perutmu. Yang pasti, aku bahagia karena akan menjadi ayah dan kita akan menjadi orang tua. Aku berjanji akan membahagiakan kalian. Istirahatlah, aku harus ke kantor!” ucap Kumara seakan tak mempermasalahkan percakapan mereka sebelumnya.Sebelum meninggalkan ruangan, Kumara mencium kening Eca. Lelaki itu tak melepaskan senyuman di wajahnya. Eca hanya membalas senyuman tersebut dengan wajah dingin.

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 11

    “Nyonya,” teriak salah satu pelayan yang menghampiri Eca.Pelayan paruh baya itu menepuk bahu Eca pelan. Wajahnya menyiratkan kasihan pada sang majikan. Wanita paruh baya itu juga menopang tubuh Eca yang mulai melemah di kamar mandi ruang tidurnya.Eca menepuk dadanya perlahan. Tubuhnya terlihat lemah. Ditambah dengan wajah yang begitu pucat. Eca hanya menurut ketika pelayan memapah tubuhnya yang mulai meluruh. Wanita itu juga membiarkan pelayan untuk menyelimuti tubuhnya. Eca hanya memejamkan matanya mencoba meredam segala rasa di tubuhnya.“Nyonya, apa perlu saya buatkan sesuatu?” tanya pelayan paruh baya itu.“Aku tidak ingin sesuatu, Bi. Rasanya tidak nyaman sekali,” keluh Eca.“Badan Anda tidak panas, Nyonya. Apa yang Anda rasakan?” tanya Bibi pelayan kembali.“Kepalaku pusing sekali, Bi. Perutku juga tidak nyaman, rasanya mual,” jawab Eca lirih.“Anda sangat pucat, Nyonya. Jangan menolak! Saya akan membuatkan sesuatu untuk Nyonya,” sahut Bibi dengan nada khawatir.Belum sempat p

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 10

    “Eca, Sayang, kamu yakin dengan yang kamu katakan?” tanya Mika sangat pelan hingga nyaris seperti gumamam.“Yakin sekali,” jawab Eca seraya mengangguk mantab.“Eca, Sayangku, Teman terbaikku, apakah kamu masih ingat terakhir kali kamu pergi ke sana?” sahut Mika merayu Eca.“Mika,” ucap Eca sambil memegang pundak temannya. “Berdo’alah itu tidak akan terjadi! Jadi, kita pergi sekarang!”“Sekarang jam berapa, Ca? Belum buka tempat itu,” ucap Mika sembari melepaskan kedua tangan Eca.“Jangan bercanda! Tempat itu milik suamimu, artinya kamu bisa masuk kapan saja,” kata Eca pura-pura marah.Benar-benar tak ingin dibantah, Mika membawa Eca ke tempat tujuannya. Mereka sampai di tempat tujuan ketika matahari telah berada tergelincir ke arah barat. Mika dan Eca berjalan di belakang karyawan yang memandu mereka menuju ruang pribadi. Tak ingin berdiri terlalu lama, Eca langsung duduk begitu pintu ruang pribadi itu tertutup. Mika hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Namun, m

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 9

    “Tidak ada apa-apa, Nyonya Besar. Nyonya Eca hanya meminta saran dari saya tentang suatu hal sebelum disampaikan pada Tuan Kumara. Kalau begitu, saya permisi Nyonya Besar dan Nyonya,” jelas Danan pada wanita paruh baya tersebut.Danan menundukkan kepala tanda hormat pada wanita paruh baya yang kini berdiri di hadapannya tersebut. Wanita itu juga membalas Danan dengan menganggukkan kepala. Setelah menjabat tangan wanita tersebut, Danan benar-benar meninggalkan rumah Kumara dan Eca. “Danan sangat mengerti pada Mas Kumara, Ma, karena itu aku minta sarannya dulu sebelum mengajukan pada Mas Kumara,” kata Eca turut menjelaskan dengan khawatir berharap sang mertua tidak mendengar sedikitpun pembicaraannya dengan Danan.Eca berdiri menyambut wanita paruh baya yang sedang berjalan ke arahnya. Wanita yang sebagian rambutnya telah mulai memutih tersebut masih tampak anggun. Pakaiannya yang sederhana tampak berkelas menunjukkan asal kastanya. Di jari dan pergelangan tangan serta lehernya melingk

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 8

    “Foto siapa ini? Aku tidak mengenalnya,” elak Kumara. “Aku lebih tidak mengenal lagi siapa dia,” kata Eca sembari duduk di pinggir ranjang setelah terlepas dari Kumara.Kumara pun berlutut di hadapan Eca. Lelaki itu berharap dia mampu meredakan emosi Eca. Cukup lama keduanya terdiam dalam posisi yang sama. Hingga akhirnya, Almirzha meminta Kumara untuk bangun. Tanpa menunggu, Kumara memeluk Eca erat. Keduanya pun berpelukan menuntaskan emosi hingga Kumara membimbing Eca duduk.“Aku berani bersumpah, Sayang, aku tidak mengenal wanita itu,” ucap Kumara sebelum Eca bersuara.“Baiklah, aku masih percaya padamu, Mas. Lalu, bagaimana wajahmu bisa babak belur seperti ini?” tanya Eca perlahan.“Kesalahpaham. Rudi memperhatikanmu, dan aku tidak suka itu,” jelas Kumara.Eca menghembuskan napas. Kejadian ini bukan hanya sekali terjadi. Tetapi, beberapa kali telah terjadi.“Sudahlah, Mas, ayo istirahat! Aku lelah, pusing, dan ingin istirahat,” ucap Eca kemudian.Kumara memeluk Eca sebelum memej

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 7

    Danan berlari memasuki restoran tempat Kumara berada. Kakinya terayun cepat menuju ruangan Kumara. Pria itu pun gegas membuka pintu yang masih tertutup rapat.“Apa yang terjadi?” tanya Danan lirih pada dirinya sendiri menyaksikan ruangan yang ia sewa telah berubah total.“Tuan!” panggil Danan sembari melangkah mengitari ruangan mencari keberadaan tuannya.Danan melangkah pelan di antara pecahan gelas yang berserakan serta ornamen dan aksesoris ruangan yang telah berpindah posisi di atas lantai. Tak hanya itu, ceceran darah berwarna merah turut menghiasi lantai.Sayup-sayup Danan mendengar suara dari luar pintu balkon ruangan. Pintu yang tak tertutup sempurna membuat tirai berkibar memberikan Danan penglihatan di sela-selanya. Angin pun turut mengabarkan pada Danan suara yang berada di luar.“Tuan Kumara, saya tahu Anda adalah salah satu pengusaha muda yang sangat sukses dan berpengaruh. Tetapi, saya tidak menyangka, Anda dapat melakukan hal seperti ini,” kata seseorang di luar jendela

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 6

    “Kamu mengancamku, Eca Sayang. Kamu pikir kamu siapa,” suara Kumara menggelegar di ruangan yang tertutup tersebut diikuti dengan suara gelas yang pecah terlempar ke lantai. Eca berhenti melangkah dan berbalik pada Kumara. Wanita itu tersenyum simpul. “Apa ini sifat aslimu, Mas?” tanya Eca tanpa me

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 4

    Eca dan Danan menoleh bersamaan pada pelayan yang baru datang. Terlihat jelas wajah mereka yang tegang.“Tidak ada apa-apa, Bi,” jawab Eca dengan suara tegas. “Mulailah bekerja! Sebaiknya segera, karena aku sudah sangat lapar.”“Tapi di meja sudah ada makanan, Nyonya,” sahut seorang pelayan lain ya

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 3

    Mata wanita itu belum sepenuhnya terbuka, namun tangannya sudah memukul-mukul kepala pelan. Eca juga melenguh pelan tanpa mengubah posisi. Keterkejutan terlihat jelas di matanya kala menatap langit-langit kamar. Seingatnya semalam dia minum di club hingga mabuk bersama temannya. “Kepalaku sakit da

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 1

    “Gila kamu, Mas!” desis wanita berambut panjang yang masih mengenakan piyama tidur dan duduk di tepian ranjang.“Kamu sudah gila,” ucap wanita itu kembali dengan menekan setiap kata yang diucapkannya. “Kita memang menikah karena perjodohan dan tanpa cinta, tapi aku tidak akan mengkhianati ikatan in

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status