LOGIN“Nyonya,” sapa Danan pada wanita anggun yang tengah membaca buku di halaman belakang rumah yang dapat dikatakan mewah.
Eca tak segera menjawab sapaan Danan. Wanita itu mengangkat wajahnya sekilas, memandang pada asisten sang suami dengan sinis. Tanpa menjawab, dia kembali fokus pada buku yang ada di tangannya.
“Nyonya, Tuan meminta saya untuk menjemput dan mengantar Anda ke tempat yang telah disiapkan Tuan,” ujar Danan menjelaskan tujuan kedatangannya.
“Mengapa tidak Mas Kumara sendiri yang datang?” tanya Eca tanpa mengangkat kepala.
“Tuan sedang ada agenda yang tidak bisa ditinggalkan, Nyonya,” jawab Danan sambil menundukkan kepala.
“Alasan klasik,” gumam Eca sembari menutup buku dan berdiri.
“Siapa yang menyiapkan tempat? Mas Kumara atau kamu?” tanya Eca dengan sinis dan menatap Danan tajam.
“Saya yang menyiapkan atas perintah Tuan Kumara,” jawab Danan merendah.
Eca menyunggingkan bibirnya mendengar jawaban Danan. “Terserahlah, kalian sama-sama laki-laki,” kata Eca pelan.
“Nyonya,” panggil Danan kembali. Sayangnya, Eca telah melangkah memasuki rumah dan sepertinya tak mendengar panggilan Danan, walaupun suara Danan seharusnya masih cukup keras untuk didengar Eca.
Danan hanya bisa memandang punggung Eca yang menjauh dan hilang di balik tembok. Tatapan pria itu melembut kala menatap wanita yang kini telah menjadi istri bosnya itu. Sebuah senyum yang selama ini tak pernah diperlihatkannya pun muncul tanpa disadarinya. Namun, sesaat kemudian senyum itu luntur seiring kesadarannya yang kembali akan posisi dan kedudukannya. Tegas dan dingin pun kembali menghiasi wajahnya.
Danan begitu terpukau dengan penampilan Eca yang tengah menuruni tangga. Gaun berwarna merah dengan kerah tinggi dan lengan tertutup hingga siku terlihat begitu pas di tubuh wanita itu. Penampilan Eca ditunjang dengan sepatu hak tinggi dan clutch yang dipegang menambah kesan elegan dan berkelas.
“Apalagi yang kamu tunggu? Bukankah kamu datang untuk menjemputku?” tanya Eca yang suaranya mampu menyeret Danan kembali dari lamunannya.
“Ya, Nyonya, silakan!” sahut Danan seraya mempersilakan Eca untuk berjalan di depan.
Sesampainya di mobil yang telah siap di depan pintu rumah, Danan membukakan pintu untuk Eca. Setelah duduk di belakang kemudi, Danan melajukan mobil dengan hati-hati. Suasana di dalam mobil begitu sunyi dan dingin. Tak ada percakapan ataupun sekedar basa-basi oleh Danan dan Eca. Bahkan, Eca membuang pandangannya ke luar jendela. Sepertinya, wanita itu lebih merasa nyaman untuk melihat pemandangan lalu lintas di petang itu.
“Nyonya, saya …,” ucap Danan mencoba mengajak Eca berbicara.
“Aku tidak ingin berbicara denganmu, Danan, dan sebaiknya kamu diam,” sahut Eca tanpa melihat serta tak membiarkan pria itu menyelesaikan ucapannya.
Keduanya pun terdiam hingga kendaraan yang mereka tumpangi berhenti di salah satu restoran paling terkenal di kota tersebut. Danan membuka pintu untuk Eca. Wanita itu segera memasuki restoran tanpa menunggu Danan, hingga asisten suaminya itu harus melangkah cepat untuk menyusul setelah menyerahkan kunci mobil pada pelayan di sana.
Eca baru berhenti di tengah restoran karena memang dia tidak mengetahui ruangan yang dipesan Kumara. Danan dengan sigap mengantarkan Eca ke ruangan Kumara tanpa banyak bicara. Lelaki itu juga membukakan pintu ruangan. Bahkan, setelah Eca memasuki ruangan tersebut, Danan menutup pintu dengan rapat dari luar.
“Sayang,” sapa Kumara sembari berdiri dari duduknya untuk menyambut Eca.
Eca tersenyum kecil sebagai balasan pada Kumara. Namun, tangannya tetap membalas pelukan sang suami.
“Apa Danan menjemputmu dengan aman?” tanya Kumara setelah mempersilahkan Eca duduk dengan menarik kursi untuk sang istri.
“Apa dia berani macam-macam? Bagaimana kalau ketahuan dirimu, Mas?” balas Eca dengan pertanyaan.
Kumara mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Dia memang sangat patuh,” kata Kumara dengan angkuh.
Eca memandang Kumara lekat. Wajah wanita itu terlihat rumit, tetapi sesaat kemudian senyum terukir di wajahnya. Keduanya pun saling mengunci mata dengan senyum yang terus berada di bibir mereka. Kumara pun tersenyum semakin lebar hingga tertawa.
“Sudahlah, ayo makan dulu!” ajak Kumara pada Eca yang masih menatapnya lekat.
Sepasang suami istri itu pun kembali fokus pada makanan yang telah tersaji di meja. Mereka juga makan dengan diam, seakan pertemuan ini tak berarti setelah beberapa hari Kumara tidak pulang ke rumah.
“Eca,” panggil Kumara setelah meletakkan sendoknya. “Bagaimana pendapatmu tentang Danan?”
Pertanyaan Kumara membuat Eca menghentikan kegiatannya. Wanita itu menelan makanannya perlahan sambil meletakkan sendok di piring. Di tatapnya kembali suami yang telah menemarinya beberapa tahun terakhir.
“Dia asisten yang baik dan pekerja keras. Dia juga memahamimu dengan baik. Aku lihat selama ini kamu sangat puas dengan hasil kerja Danan,” jawab Eca jujur sesuai dengan penilaiannya.
“Aku tahu tentang itu. Aku tanya tentang hal lain,” sanggah Kumara.
“Aku tidak mengerti maksudmu, Mas,” ujar Eca tak mengerti pada pertanyaan Kumara.
“Kamu harus segera hamil, Eca, dan aku akan membiarkanmu hamil dengan lelaki yang kamu pilih. Tapi, sepertinya aku belum melihatmu bersama seorang pria. Makanya, mungkin kamu tertarik dengan Danan, apakah kamu bersedia?” jelas Kumara kemudian.
Mendengar perkataan Kumara, seketika wajah wanita itu berubah warna. Namun, wanita itu berusaha untuk mengendalikan dirinya hingga tak meledakkan kemarahan di hati.
“Kamu masih mempertahankan ide gila itu, Mas?” tanya Eca dengan suara tertahan.
“Ini bukan ide gila, Eca. Ini adalah langkah terakhir yang bisa kita lakukan, Sayang,” jawab Kumara dengan memegang tangan kanan Eca di atas meja.
“Aku hanya tidak habis pikir, Mas. Aku berusaha untuk selalu setia, tapi kamu malah memintaku untuk hamil dengan pria lain. Apa kamu yakin dengan konsekuensinya, Mas?” sahut Eca.
“Aku akan terima ketika kamu hamil dan melahirkan. Aku akan membuat anak itu menjadi anak kandung kita, Sayang,” kata Kumara meyakinkan Eca.
“Apa kamu tidak akan cemburu, Mas? Bahkan ketika nanti kamu melihat wajah anak itu yang tidak mirip denganmu, apa kamu akan menerimanya, Mas?” tanya Eca kembali.
“Aku akan menerimanya, Eca. Aku akan membiarkanmu melakukannya di manapun, bahkan di hotel atau rumah kita. Aku tidak munafik dengan tidak marah atau cemburu, tapi aku bisa menghindar sementara sampai suasana hatiku membaik,” jawab Kumara dengan yakin. “Apa yang masih mengganggumu, Eca? Kita sudah didesak oleh orang tua kita.”
“Sungguh, aku tidak tahu dengan jalan pikiranmu, Mas,” sahut Eca lirih.
“Sebenarnya semua ini cukup sederhana, Sayang. Silakan kamu temukan pria yang kamu suka, hamil, dan kita akan punya anak!” ujar Kumara.
“Apakah kamu benar-benar yakin, Mas? Apa kamu tidak akan menyesal?” tanya Eca penuh penekanan.
Kumara menggelengkan kepala untuk meyakinkan Eca. “Ini jalan terakhir untuk kita, Sayang, kalau kita ingin memiliki anak. Cara apapun yang sudah kita coba tidak ada yang berhasil, Eca. Percayalah ini demi kebaikan kita dan kelangsungan rumah tangga kita!” bujuk Kumara pada sang istri.
“Baik, kalau kamu sudah yakin, Mas. Tapi, aku mau aku sendiri yang mencari lelaki itu dan kamu tidak boleh ikut campur,” kata Eca akhirnya menyerah pada keinginan Kumara.
Wanita itu berdiri dan berhenti tepat di samping Kumara. “Kamu harus ingat satu hal, Mas, kita tidak bisa memprediksi masa depan. Setiap perbuatan pasti akan ada konsekuensinya,” ujar Eca tanpa menoleh dan meninggalkan Kumara yang terdiam dengan dahi berkerut.
“Kamu gila, Eca,” kata Kumara keras sembari menyentak tubuh Eca.“Bukankah kamu ingin tahu, Mas? Aku sudah menjawabnya, tapi mengapa kamu malah marah?” tanya Eca pelan dengan senyum di bibir seraya membenarkan posisi duduknya.“Aku memintamu mencari lelaki lain untuk membuatmu hamil, tapi itu tidak berarti juga itu adalah Danan. Kamu tahu betul dia siapa, dia asistenku, Eca,” kata-kata Kumara begitu menggelegar di dalam ruangan pribadi mereka yang luas itu.“Kamu tidak memberikan syarat apapun tentang lelaki itu, Mas. Aku juga sudah katakan, aku sendiri yang akan memilih ayah anak yang kukandung,” sahut Eca tak kalah keras suaranya.“Tapi tidak Danan juga, Eca. Dia asistenku, bagaimana dia jika melihat anak kita?” kata Kumara melunak.“Tidak akan terjadi apa-apa. Anak ini akan tetap menjadi anakku, Mas, jangan khawatir!” ucap Eca memberikan kepastian.Kumara tertawa renyah memberikan jawaban tak meyakini yang dinyatakan Eca. “Aku tetap tidak terima, Eca. kamu seharusnya bisa mencari l
“Ya, Nyonya,” kata Danan menjawab suara dari seberang.“Apa Mas Kumara ada di kantor?” terdengar suara Eca dari seberang.“Beliau baru saja pergi, Nyonya. Tuan mengatakan akan pulang,” jelas Danan sembari meninggalkan ruangan yang cukup besar dengan banyak furniture yang terbuat dari kayu alam.“Hmmm, baiklah, terima kasih,” ucap Eca dibalik benda pipih dalam genggaman Danan.“Nyonya, bolehkah saya bertanya?” tanya Danan pelan sembari memasuki ruang pribadinya dengan tangan kanan membawa berkas dari kantor Kumara.“Apa yang ingin kamu tanyakan, Danan?” tanya Eca “Nyonya, maaf saya lancang berkata, saya tetap akan bertanggung jawab pada kehamilan Anda,” ucap Danan yang kini berdiri menghadap jendela besar di ruangannya dengan lantang.Dahi Danan berkerut tatkala mendengar suara tertawa Eca melalui benda yang tertempel di telinga kirinya.“Nyonya, saya sungguh-sungguh,” kata Danan kembali penuh kesungguhan.“Apa kamu lupa, Danan? Kalau kamu lupa, aku akan dengan senang hati mengingatka
Pertanyaan Eca masih terngiang di telinga pria dengan setelan jas itu hingga saat ini. Laksana suara yang mengikuti setiap langkah dan pergerakannya. Tidak bisa dihilangkan dengan mudah, bahkan menjadi begitu melekat. Aroma kopi yang menguar dari cangkir di meja pun tak mampu mengurai kekusutan di pikirannya. Bahkan, untuk sekedar menghilangkan gejolak di hati pun tak mampu.“Ada apa, Nan?” sapa pria muda yang kini duduk di depan Danan.“Puyeng,” jawab Danan setelah tepukan lelaki itu membawanya ke dunia nyata.“Kerjaan? Bos kamu lagi?” tanya pria itu kembali.“Pribadi,” sahut Danan. “Justin, aku menghamili perempuan.”“Apa?” teriak Justin yang membuat orang-orang di tempat tersebut menoleh padanya. “Bisa santai tidak?” tegur Danan dengan suara yang cukup pelan.“Membuat anak orang hamil itu berat, Nan,” ucap Justin setelah semua mata di ruangan itu kembali tertuju ke arah semula.“Aku tahu,” sahut Danan seraya menganggukan kepala.“Lalu, siapa perempuan itu? Dan, yang paling pentin
Eca tersenyum tipis pada lelaki yang masih betah berdiri di dekatnya. Wajah lelaki itu tampak mengeras dan penasaran menunggu jawaban si wanita. Sayangnya, Eca tak merespon hal itu dan masih bertahan untuk tak menjawab pertanyaan Danan.“Duduklah, Danan! Apa kamu tidak lelah terus berdiri?” tanya Eca sembari mempersilakan Danan duduk.“Saya lebih baik berdiri, Nyonya,” jawab Danan tegas.“Aku tidak nyaman jika harus berbicara dengan orang yang berdiri di sampingku,” ucap Eca yang menyiratkan keinginannya tak ingin dibantah.“Baik, Nyonya,” sahut Danan kemudian.Danan pun akhirnya duduk di kursi yang tersedia. Dirinya dan Eca hanya dibatasi oleh meja pendek berisi makan siang dan buah yang tinggal separuh. Danan memperhatikan meja tersebut dengan seksama. Makanan dan buah yang ada di sana masih sama dengan barang yang diantarnya tadi pagi sesuai perintah Kumara. “Nyonya, tolong katakan pada saya yang sejujurnya!” pinta Danan pada wanita yang kini masih betah memperhatikan tanaman di h
“Nyonya Besar,” sahut Danan seraya membungkuk hormat. Wanita paruh baya dengan rambut yang masih legam mendekati Eca. Matanya melirik tajam pada Danan, sang asisten. “Apa kamu tidak punya pekerjaan?” tanya wanita itu kembali sembari meraih piring dan sendok dari tangan Danan. “Maaf, Nyonya Besar, Tuan Kumara meminta saya mengantar makanan untuk Nyonya Eca,” jawab Danan tegas. “Pergilah! Lain kali kamu harus tahu batasanmu,” ucap Nyonya Renita seakan sengaja mengusir sang asisten. Lelaki yang telah menemani Kumara cukup lama itu tak segera beranjak. Wajahnya menunduk tetapi matanya melirik pada istri tuannya yang bersandar di ranjang. Seakan paham dengan pemikirannya, Danan membungkukkan badan seraya berpamitan pada Nyonya Renita. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan tersebut, Danan terhenti di depan pintu memperhatikan interaksi ibu dan menantu di sana. Walaupun Danan memahami interaksi mereka tak sehangat dulu, namun lelaki itu juga tidak bisa berbuat banyak. Mendapatkan ta
“Jangan bercanda, Eca! Apa dia bukan anakku?” tanya Kumara dengan nada yang mulai meninggi.“Kamu bisa memikirkannya sendiri, Mas, apakah dia anakmu atau bukan,” terang Eca tanpa memberikan kejelasan.Tangan Kumara terayun ke atas. Namun, belum sampai pria itu melakukan sesuatu, dering ponsel di saku jas menghentikan aksinya. Setelah membaca nama penelepon, Kumara menggeser tombol hijau. Dahinya berkerut sempurna mendengar penjelasan dari seberang. Dia pun berjanji akan segera datang sebelum memutus panggilan.“Eca, Sayang, aku tidak akan mempermasalahkan tentang ayah biologis anak di dalam perutmu. Yang pasti, aku bahagia karena akan menjadi ayah dan kita akan menjadi orang tua. Aku berjanji akan membahagiakan kalian. Istirahatlah, aku harus ke kantor!” ucap Kumara seakan tak mempermasalahkan percakapan mereka sebelumnya.Sebelum meninggalkan ruangan, Kumara mencium kening Eca. Lelaki itu tak melepaskan senyuman di wajahnya. Eca hanya membalas senyuman tersebut dengan wajah dingin.
Eca dan Danan menoleh bersamaan pada pelayan yang baru datang. Terlihat jelas wajah mereka yang tegang.“Tidak ada apa-apa, Bi,” jawab Eca dengan suara tegas. “Mulailah bekerja! Sebaiknya segera, karena aku sudah sangat lapar.”“Tapi di meja sudah ada makanan, Nyonya,” sahut seorang pelayan lain ya
“Apa?” teriak Eca yang tenggelam ditelan suara musik yang berdentum keras.“Kamu, ya, suami kaya raya, tajir, hidup enak, masih saja mangajakku ke klub. Tumben juga kamu ngajak ke sini, sejak menikah kamu ga pernah mau diajak ke klub,” seru Mika tak kalah keras dari Eca.“Suntuk,” jawab Eca lugas s
“Gila kamu, Mas!” desis wanita berambut panjang yang masih mengenakan piyama tidur dan duduk di tepian ranjang.“Kamu sudah gila,” ucap wanita itu kembali dengan menekan setiap kata yang diucapkannya. “Kita memang menikah karena perjodohan dan tanpa cinta, tapi aku tidak akan mengkhianati ikatan in
Mata wanita itu belum sepenuhnya terbuka, namun tangannya sudah memukul-mukul kepala pelan. Eca juga melenguh pelan tanpa mengubah posisi. Keterkejutan terlihat jelas di matanya kala menatap langit-langit kamar. Seingatnya semalam dia minum di club hingga mabuk bersama temannya. “Kepalaku sakit da







