Share

Bab 7

last update publish date: 2026-05-11 07:55:21

Danan berlari memasuki restoran tempat Kumara berada. Kakinya terayun cepat menuju ruangan Kumara. Pria itu pun gegas membuka pintu yang masih tertutup rapat.

“Apa yang terjadi?” tanya Danan lirih pada dirinya sendiri menyaksikan ruangan yang ia sewa telah berubah total.

“Tuan!” panggil Danan sembari melangkah mengitari ruangan mencari keberadaan tuannya.

Danan melangkah pelan di antara pecahan gelas yang berserakan serta ornamen dan aksesoris ruangan yang telah berpindah posisi di atas lantai.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 9

    “Tidak ada apa-apa, Nyonya Besar. Nyonya Eca hanya meminta saran dari saya tentang suatu hal sebelum disampaikan pada Tuan Kumara. Kalau begitu, saya permisi Nyonya Besar dan Nyonya,” jelas Danan pada wanita paruh baya tersebut.Danan menundukkan kepala tanda hormat pada wanita paruh baya yang kini berdiri di hadapannya tersebut. Wanita itu juga membalas Danan dengan menganggukkan kepala. Setelah menjabat tangan wanita tersebut, Danan benar-benar meninggalkan rumah Kumara dan Eca. “Danan sangat mengerti pada Mas Kumara, Ma, karena itu aku minta sarannya dulu sebelum mengajukan pada Mas Kumara,” kata Eca turut menjelaskan dengan khawatir berharap sang mertua tidak mendengar sedikitpun pembicaraannya dengan Danan.Eca berdiri menyambut wanita paruh baya yang sedang berjalan ke arahnya. Wanita yang sebagian rambutnya telah mulai memutih tersebut masih tampak anggun. Pakaiannya yang sederhana tampak berkelas menunjukkan asal kastanya. Di jari dan pergelangan tangan serta lehernya melingk

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 8

    “Foto siapa ini? Aku tidak mengenalnya,” elak Kumara. “Aku lebih tidak mengenal lagi siapa dia,” kata Eca sembari duduk di pinggir ranjang setelah terlepas dari Kumara.Kumara pun berlutut di hadapan Eca. Lelaki itu berharap dia mampu meredakan emosi Eca. Cukup lama keduanya terdiam dalam posisi yang sama. Hingga akhirnya, Almirzha meminta Kumara untuk bangun. Tanpa menunggu, Kumara memeluk Eca erat. Keduanya pun berpelukan menuntaskan emosi hingga Kumara membimbing Eca duduk.“Aku berani bersumpah, Sayang, aku tidak mengenal wanita itu,” ucap Kumara sebelum Eca bersuara.“Baiklah, aku masih percaya padamu, Mas. Lalu, bagaimana wajahmu bisa babak belur seperti ini?” tanya Eca perlahan.“Kesalahpaham. Rudi memperhatikanmu, dan aku tidak suka itu,” jelas Kumara.Eca menghembuskan napas. Kejadian ini bukan hanya sekali terjadi. Tetapi, beberapa kali telah terjadi.“Sudahlah, Mas, ayo istirahat! Aku lelah, pusing, dan ingin istirahat,” ucap Eca kemudian.Kumara memeluk Eca sebelum memej

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 7

    Danan berlari memasuki restoran tempat Kumara berada. Kakinya terayun cepat menuju ruangan Kumara. Pria itu pun gegas membuka pintu yang masih tertutup rapat.“Apa yang terjadi?” tanya Danan lirih pada dirinya sendiri menyaksikan ruangan yang ia sewa telah berubah total.“Tuan!” panggil Danan sembari melangkah mengitari ruangan mencari keberadaan tuannya.Danan melangkah pelan di antara pecahan gelas yang berserakan serta ornamen dan aksesoris ruangan yang telah berpindah posisi di atas lantai. Tak hanya itu, ceceran darah berwarna merah turut menghiasi lantai.Sayup-sayup Danan mendengar suara dari luar pintu balkon ruangan. Pintu yang tak tertutup sempurna membuat tirai berkibar memberikan Danan penglihatan di sela-selanya. Angin pun turut mengabarkan pada Danan suara yang berada di luar.“Tuan Kumara, saya tahu Anda adalah salah satu pengusaha muda yang sangat sukses dan berpengaruh. Tetapi, saya tidak menyangka, Anda dapat melakukan hal seperti ini,” kata seseorang di luar jendela

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 6

    “Kamu mengancamku, Eca Sayang. Kamu pikir kamu siapa,” suara Kumara menggelegar di ruangan yang tertutup tersebut diikuti dengan suara gelas yang pecah terlempar ke lantai. Eca berhenti melangkah dan berbalik pada Kumara. Wanita itu tersenyum simpul. “Apa ini sifat aslimu, Mas?” tanya Eca tanpa mendekat. “Aku tak akan marah kalau kamu tidak mengancamku, Eca. Kamu merendahkanku sebagai suami,” jawab Kumara sambil melangkah mendekati istrinya. “Aku tidak mengancam, Mas. Aku hanya menyampaikan kemungkinan yang akan terjadi. Dan, bukankah aku sudah menurutimu, Mas? Aku patuh padamu untuk mencari lelaki lain agar aku hamil,” balas Eca terlihat tanpa rasa takut. “Bicaralah dengan baik dan lembut denganku, Eca! Bukankah kamu adalah istriku yang lembut, pengertian, dan penurut?” tanya Kumara setelah berada di hadapan Eca dengan lembut. Eca menahan napas yang dihirupnya sebelum melepaskannya pelan untuk meredakan ketegangan yang terlihat jelas di wajahnya. “Baik, Mas, aku sudah katakan a

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 5

    “Nyonya,” sapa Danan pada wanita anggun yang tengah membaca buku di halaman belakang rumah yang dapat dikatakan mewah.Eca tak segera menjawab sapaan Danan. Wanita itu mengangkat wajahnya sekilas, memandang pada asisten sang suami dengan sinis. Tanpa menjawab, dia kembali fokus pada buku yang ada di tangannya.“Nyonya, Tuan meminta saya untuk menjemput dan mengantar Anda ke tempat yang telah disiapkan Tuan,” ujar Danan menjelaskan tujuan kedatangannya.“Mengapa tidak Mas Kumara sendiri yang datang?” tanya Eca tanpa mengangkat kepala.“Tuan sedang ada agenda yang tidak bisa ditinggalkan, Nyonya,” jawab Danan sambil menundukkan kepala.“Alasan klasik,” gumam Eca sembari menutup buku dan berdiri. “Siapa yang menyiapkan tempat? Mas Kumara atau kamu?” tanya Eca dengan sinis dan menatap Danan tajam.“Saya yang menyiapkan atas perintah Tuan Kumara,” jawab Danan merendah.Eca menyunggingkan bibirnya mendengar jawaban Danan. “Terserahlah, kalian sama-sama laki-laki,” kata Eca pelan.“Nyonya,”

  • Kesayangan Tuan Muda   Bab 4

    Eca dan Danan menoleh bersamaan pada pelayan yang baru datang. Terlihat jelas wajah mereka yang tegang.“Tidak ada apa-apa, Bi,” jawab Eca dengan suara tegas. “Mulailah bekerja! Sebaiknya segera, karena aku sudah sangat lapar.”“Tapi di meja sudah ada makanan, Nyonya,” sahut seorang pelayan lain yang berada di belakang.“Aku tidak berselera,” tegas Eca. Mendengar jawaban itu, Danan menyapu wajah Eca. Di wajah lelaki itu tergambar pertanyaan bercampur kecewa.“Apakah ada yang ingin kamu sampaikan Danan?” tanya Eca tanpa menurunkan nada suaranya.“Tidak, Nyonya. Saya permisi,” jawab Danan sambil memutar tubuh dan berjalan keluar.“Tunggu,” ucap Eca dengan nada tinggi. “Bawa makananmu atau buang!”Danan menghentikan langkahnya dan seketika berbalik. Tangannya dengan cepat membereskan dan membawa makanan yang sempat diberikan pada Eca.“Jangan pernah menyia-nyiakan makanan, Nyonya!” ucap Danan sambil berjalan keluar.Tak lama kemudian, Eca dapat mendengar deru mobil meninggalkan halaman

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status