LOGINZhue mendongak, menatap lekat wajah pria yang tengah memeluknya sangat erat. "Kamu ... kenapa bisa ada di sini?" tanyanya bingung.Ia merasa sudah melajukan mobil sejauh mungkin dari kejaran anak buah Zhang, bahkan ia tidak tahu di pelosok mana posisi mobilnya sekarang. Namun, secara tiba-tiba Yenzing sudah berdiri tepat di hadapannya.Kejadian ini terasa sangat janggal, seperti mimpi indah dengan alur serbabingung yang sulit diterima logika.Dari mana Yenzing bisa tahu ia berada di gang buntu ini, di saat ia tengah terdesak oleh kepungan anak buah Zhang?"Yenzing, jawab aku!" desak Zhue, suaranya bergetar. "Apa jangan-jangan semua ini benar-benar hanya mimpi? Atau aku memang sudah mati karena kecelakaan?"Mendengar pertanyaan panik itu, Yenzing tersenyum lembut. "Semua ini bukan mimpi, Zhue. Semua ini nyata. Sebaiknya kita ke mobil dulu, nanti aku jelaskan semuanya di sana."Yenzing beranjak berdiri lalu membimbing Zhue menuju mobil serba hitam yang terparkir di pinggir jalan u
"Tunggu aku, Yenzing!" ucap Zhue sambil menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam menuju rumah sakit tempat sang kekasih dirawat.Namun, harapan perjalanan itu akan berjalan mulus seketika sirna saat matanya melirik kaca spion.Iring-iringan mobil hitam milik anak buah ayahnya melaju kencang, mengekor ketat di belakang bagai bayangan maut."Sial!" gerutu Zhue dengan dada bergemuruh panik.Kemalangan seolah tidak berhenti di situ. Karena terlalu cemas dan antusias, jarum suntik berisi racun mematikan yang sejak tadi ia genggam erat mendadak terlepas dari jemarinya, menggelincir jatuh ke lantai mobil.Zhue melirik ke bawah dengan panik, mencarinya, namun benda itu hilang tak berbekas. Sementara itu, mobil para pengejarnya kian merapat di belakang."Tidak ... aku tidak boleh membiarkan perjuanganku keluar dari neraka bawah tanah itu sia-sia begitu saja!" bisik Zhue penuh tekad membara.Dengan nekat, ia menekan pedal gas hingga batas maksimal. Mobil melesat bagai anak panah, meliuk l
"Ini semua bukti tentang kematian orang tuamu yang aku miliki," ucap Diego sambil menyerahkan sebuah map cokelat tebal pada Freya. "Setelah kamu memeriksa semuanya dan memberiku maaf, aku berjanji akan menyelamatkan Zhue."Freya menerima map tersebut dengan jemari gemetar. Satu per satu lembaran berkas medis, laporan autopsi, dan hasil visum ia keluarkan lalu diamati dengan saksama.Namun, raut wajahnya berubah keruh seketika. Semua dokumen yang diberikan Diego terasa sangat familier, sama persis dengan salinan berkas rumah sakit yang pernah ia terima dulu.Freya mengerutkan kening. Mendongak, menatap suaminya yang berdiri tegap di hadapan. "Semua bukti ini sama persis dengan apa yang pernah aku baca. Lalu di mana letak pembelaanmu? Kamu hanya ingin mempertegas kalau kamu memang membunuh orang tuaku atas perintah kakekmu?"Diego menggeleng tegas. "Coba amati kembali berkas-berkas itu lebih teliti, Baby. Banyak kejanggalan di sana. Aku sudah mengonfirmasi langsung ke pihak rumah s
Hanya dalam hitungan menit, Dokter kepercayaan Zhang tiba di ruangan pengap itu dan bergegas memeriksa keadaan Zhue."Apa yang terakhir dimakan oleh Nona Zhue?" tanya sang Dokter tegas pada tiga anak buah Zhang yang berdiri di sisi ranjang.Ketiganya saling menatap sejenak sebelum salah satu dari mereka menjawab gugup, "Nona hanya makan mie dan daging asap, Dok."Dokter mengalihkan pandangan ke arah rantang sisa makanan di lantai, lalu beranjak berdiri untuk memeriksanya.Memanfaatkan fokus semua orang yang teralih pada rantang tersebut, Zhue membuka matanya tipis.Tatapannya tertuju pada tas peralatan medis milik Dokter yang terbuka di atas meja kecil.Dengan gerakan secepat kilat dan tanpa suara, jarinya menyambar sebuah alat suntik yang sudah terisi cairan obat.Setelah berhasil mengamankan benda itu, ia menyembunyikan suntikan tersebut di balik bantal lalu kembali memejamkan mata, berpura-pura tak sadarkan diri."Hanya makanan ini, Dok. Seingat kami Nona tidak pernah alergi
Di dalam ruangan pengap berdinding besi baja, Zhue tampak tengah melamun. Pikirannya berputar keras mencari cara agar bisa meloloskan diri dari mansion sang ayah.Ia mengedarkan pandangan, menyisir setiap sudut untuk menemukan celah melarikan diri.Namun, usahanya sia-sia. Seluruh ventilasi tertutup rapat, bahkan tidak ada satu pun jendela di ruangan itu."Lama-lama tinggal di sini, aku bisa gila," gerutu Zhue kesal. "Kenapa Ayah tidak langsung membunuhku saja? Lebih baik aku mati menyusul Ibu daripada disiksa seperti ini!"Zhue mengembus napas kasar. Perlahan berdiri lalu melangkah mendekati pintu besi yang tebal.Melalui kaca kecil tebal di pintu baja itu, Zhue berusaha memanggil penjaga di luar. "Tolong ambilkan aku makan! Aku lapar!"Suaranya tidak langsung terdengar karena ruangan itu kedap suara. Namun, gerakan bayangan Zhue yang terlihat dari balik kaca berhasil menarik perhatian salah satu penjaga."Kami tidak diperbolehkan berbicara dengan Anda, Nona," ucap penjaga itu
"Aku mendengar semuanya!"Diego terhenyak kaget saat baru saja membuka pintu kamar perawatan putranya.Tiba-tiba saja Freya sudah berdiri tepat di belakang pintu sambil berkacak pinggang dengan tatapan mata sangar.Seketika itu, ekspresi dingin Diego melunak. Pria itu menyunggingkan senyum semanis mungkin untuk meluluhkan Wanita Kesayangan."Tentang apa, hmm? Kenapa berdiri di sini? Kamu menungguku, Baby?" Diego melangkah mendekat, hendak merangkul lengan Freya dengan lembut.Namun, Freya menepis kasar tangan itu sambil melotot tajam. "Aku mendengar semua percakapanmu dengan Yenzing di kamar tadi! Aku tahu kamu meminta Yenzing melupakan Zhue. Apa kamu sadar saat mengatakan itu? Apa kamu bisa melupakan wanita yang kamu cintai dengan semudah itu? Dan memaksa Yenzing mencari wanita lain yang lebih cantik? Memangnya cinta bisa datang hanya karena melihat wajah cantik? Kamu pikir Yenzing pria dangkal seperti itu?" cecar Freya tanpa jeda.Napas Freya memburu, wajahnya memerah menahan
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me







