LOGIN"Zhue!"Diego, Yenzing, dan Yoss berlari kencang menyusuri lorong yang paling gelap, becek, dan pengap.Suara cipratan air dari lantai yang tergenang mengiringi langkah terburu-buru mereka menuju ruangan yang berada di paling sudut."Kak Freya! Bibi Ziang!" jerit Zhue menangis histeris dari dalam ruangan itu.Diego mempercepat ayunan kakinya, menerobos kegelapan hingga ia sampai paling awal di ambang pintu besi.Deg!Jantung Diego seolah berhenti berdetak seketika. Di balik keremangan cahaya, matanya menangkap tubuh dua wanita yang sangat ia cintai terbaring tak berdaya di atas lantai yang lembap.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Diego mencabut senjatanya dan menembak gembok rantai yang mengikat kaki Freya hingga hancur berkeping-keping.Dengan napas memburu dan dada bergemuruh panik, ia merengkuh tubuh istrinya yang terkulai lemas, lalu menggendong erat-erat."Bawa Bibi Ziang keluar dari sini sekarang!" titah Diego dengan suara bergetar, lalu berlari membawa Freya keluar s
"BABY!""Bibi Ziang! Kalian di mana?"Freya yang sudah berada di ambang kesadaran perlahan membuka kelopak mata yang terasa amat berat.Suara bernada cemas yang menggema di luar sana terasa begitu familier di telinga."Di mana kamu? Baby! Katakan kamu di mana! Baby!"Ya, suara itu bukan hanya halusinasi. Dia benar-benar Diego.Senyum tipis terukir di bibir pucat Freya. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia berusaha bangkit, meski pada akhirnya hanya sanggup duduk bersandar pada dinding sel yang dingin dan berlumut.Tubuhnya kian melemah drastis. Pasokan oksigen di paru-paru nyaris habis terkikis gas beracun, meninggalkan rasa sesak yang luar biasa membakar di dada.Pandangan Freya memburam. Perlahan ia menatap wajah Bibi Ziang yang sudah membiru dan terbujur kaku sejak berjam-jam lalu.Dengan jemari yang gemetar hebat, Freya membelai lembut pipi keriput wanita tua yang sangat disayanginya itu."Bi ... pria kesayangan Bibi sudah datang. Akhirnya dia mencari kita ...." ucap Freya le
"Yoss! Apa yang kamu lakukan?" teriak Zhue histeris saat melihat tubuh Ray mendadak ambruk di atas lantai, tergeletak bersimbah darah dan tewas seketika akibat tembakan tepat di kepala.Dengan lutut gemetar hebat, Zhue merosot, terduduk lemas di samping Ray yang tak lagi bernyawa."Tidak! Jangan mati, Ray! Jangan mati! Bangun Ray! Kamu harus bangun!" teriak Zhue histeris, menyapu darah yang mengalir di wajah pria itu.Buk! Buk! Zhue memukuli dada Ray, menggerakkan tubuh itu dengan kencang sambil terus berteriak.Melihat kekasihnya histeris, Yenzing langsung berlari kencang mendekati Zhue, lalu ikut terduduk lemas di samping tubuh Ray."Ray! Urusan kita belum selesai. Aku tidak mengijinkan kamu mati! Cepat bangun! Bangun Ray!" Wajah Yenzing pucat pasi, tatapannya kosong menatap jasad di depannya.Sementara itu, Yoss melangkah mendekat dengan senapan yang masih ia genggam di tangan, menatap bingung pada kedua pasangan di hadapannya. Kenapa Zhue justru menangisi kematian pengkhianat
Dengan langkah gontai dan dada bergemuruh hebat, Zhue menghampiri Ray yang berdiri dengan kedua tangan terborgol di bawah kuncian erat Yenzing.Melihat wanita cantik itu melangkah mendekat, sudut bibir Ray terangkat menyunggingkan senyum lebar, culas."Zhue, akhirnya kamu datang juga. Kemarilah ... kita akan pergi dari tempat sialan ini dan hidup bahagia bersama," ucap Ray percaya diri.Mendengar ocehan tak tahu diri itu, emosi Yenzing seketika meluap ke puncak.Bug! Bug!Tanpa ampun, ia melayangkan pukulan mentah tepat ke tengkuk kepala Ray hingga pria itu meringis kesakitan dengan pandangan berkunang-kunang."Jaga mulut busukmu! Bangsat!" umpat Yenzing. Ingin rasanya membunuh Ray detik ini juga."Lepaskan aku, Brengsek!" Ray memberontak sambil melotot tajam menatap Yenzing. "Biarkan aku bicara dengan Zhue tanpa gangguanmu!"
Sementara itu, jauh di balik lorong bawah tanah yang terisolasi, kondisi Freya mendadak memburuk secara drastis.Dada wanita itu terasa seperti terhimpit beban berat, napasnya tersengal-sengal sesak, dan pening luar biasa menghantam kepalanya hingga pandangannya perlahan mengabur.Rasa panas membakar mulai menggerogoti tenggorokan yang kering.Freya berusaha untuk tetap bertahan meski kondisi fisiknya makin drop.Di tengah kesadarannya yang kian menipis, Freya menyapu pandang ke sekeliling ruangan yang remang-remang dan lembap itu.Matanya tertuju pada sudut dinding dan celah lantai batu yang dipenuhi hamparan jamur berwarna hitam pekat dengan spora yang melayang tipis di udara.Seketika itu Freya sadar, rumor mengerikan tentang keberadaan jamur beracun yang mematikan di ruangan ini bukan hanya cerita kosong. Udara yang ia hirup secara perlahan telah beruba
Melihat arah mata Wenny tertuju pada Ray, pria hitam manis itu semakin gelisah. Kedua tangannya mengepal kuat-kuat. Sementara otaknya bekerja cepat, mencari cara agar wanita subur itu bungkam."Katakan!" bentak Diego murka.Wenny tersentak kaget, lalu kembali mengatakan, "D-dia .... ""Cepat katakan, Brengsek!"Bug!Tiba-tiba saja Ray berlari mendekat dan mendaratkan pukulan keras tepat di leher Wenny hingga wanita bertubuh subur itu terhuyung dan tak sadarkan diri.Melihat aksi nekat itu, amarah Diego kian meledak, pun dengan Yenzing yang matanya langsung berkilat murka."Bangsat!" Yenzing melepas cengkeraman tangannya dari lengan Wenny, membiarkan tubuh subur itu tergeletak tak berdaya di atas lantai.Tanpa membuang waktu, Yenzing langsung berbalik dan menghajar Ray secara membabi buta.
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat







