Share

Bab 2

Author: Echo
"Apakah kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan?" Alessandro menatapku tajam. Amarah membekukan wajahnya, meski dia tetap menjaga jarak dari Kresna.

"Justru aku sangat tahu." Aku menyelipkan lenganku ke lengan Kresna. "Aku memilih pria sejati."

Tangan Kresna menutup tanganku, ibu jarinya mengusap pelan buku-buku jariku. Tatapannya beralih pada Alessandro. Saat dia bicara, suaranya rendah dan terkendali. Sebuah ancaman tenang yang jauh lebih mengerikan daripada teriakan mana pun.

"Alessandro, sebaiknya kamu terima kenyataan ini. Saskia sekarang berada di bawah perlindunganku."

Rahang Alessandro menegang, tetapi dia memilih diam. Di Vantros, tak ada orang sebodoh itu untuk menantang Kresna secara terbuka.

"Ayo," ujar Kresna kepadaku. Nadanya terdengar tenang, tetapi jelas bukan sebuah ajakan, melainkan perintah yang diselubungi kepedulian.

Saat kami melangkah menyusuri gedung parkir yang lengang, adrenalin yang tadi membuncah perlahan surut. Barulah saat itu keberanian nekat dari tindakanku, menghantam kesadaranku dengan keras.

Aku tidak menyesal.

Tepat saat itu, layar ponselku menyala oleh notifikasi berita. Baku tembak besar terjadi di Distrik Selatan. Diduga bermula dari transaksi senjata yang berakhir kacau.

Laporan singkat itu menyebutkan bahwa Kresna Kartawijaya tak pernah muncul dalam negosiasi bernilai triliunan dengan kartel senjata besar asal Santa Rojana. Kesepakatan pun runtuh. Dermaga berubah jadi medan kekacauan.

Aku menatapnya, terpaku. "Kamu melewatkan kesepakatan sebesar itu .… hanya untuk datang ke pesta pertunanganku?"

Kresna menyalakan mesin. Mobil itu menggeram pelan, siap melaju. Dia melirikku sekilas dan tersenyum tipis. "Tidak ada kesepakatan yang lebih penting daripada kamu, Saskia."

Kata-katanya membuat jantungku berdegup keras, lalu langsung disergap rasa bersalah. "Sebenarnya …. Aku minta maaf. Tadi aku hanya memanfaatkanmu untuk ...."

"Tidak masalah," potong Kresna, suaranya tegas tanpa memberi ruang untuk bantahan. "Aku senang kamu menganggapku berguna. Lagi pula, bahkan kalau pun malam ini kamu tidak datang padaku, aku tetap akan membawamu pergi."

"Sekarang," katanya, tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. "Kita resmikan."

Mobil berhenti tepat di depan Kantor Catatan Sipil. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi gedung itu masih terang benderang. Para staf tampak sudah bersiap, jelas menunggu kedatangan kami.

"Ini .…" Aku belum sempat menyelesaikan kalimat ketika Kresna lebih dulu menarikku keluar dari mobil.

"Bos, semuanya sudah siap," lapor seorang pejabat kota yang menyambut kami dengan tubuh sedikit membungkuk, sikapnya penuh hormat.

Seluruh proses pendaftaran pernikahan itu selesai dalam waktu kurang dari lima belas menit. Begitu petugas menyatakan kami resmi menjadi suami istri, Kresna langsung memutar tubuhku. Kedua tangannya menangkup wajahku sebelum dia menarikku ke dalam ciuman panas. Ciuman yang sarat klaim, seolah ingin menegaskan kepemilikan.

"Sekarang tak akan ada siapa pun yang bisa mengambilmu dariku," bisiknya di bibirku. Suaranya rendah dan penuh posesif, menimbulkan getar yang aneh. Antara mendebarkan dan membuat bulu kudukku meremang.

"Aku akan siapkan pernikahan kita. Pernikahan yang sesungguhnya," katanya mantap. "Tunggulah aku, calon pengantinku."

Kepalaku masih terasa pening ketika aku duduk di kursi belakang taksi, melaju kembali ke apartemenku di pusat kota.

Begitu pintu apartemen terbuka, rasa mual itu langsung menghantam perutku, datang tanpa ampun.

Televisi meraung di ruang tamu. Kotak-kotak pizza setengah kosong berantakan di atas meja kopi desainer. Dan di sanalah Chyntia, bersantai di sofaku, mengenakan jubah sutraku, dengan tenang mengecat kuku seolah tempat ini miliknya.

"Oh, lihat siapa yang akhirnya pulang," katanya malas tanpa menoleh. "Kupikir kamu akan menghabiskan malam di tempat lain."

Pandangan mataku bergeser ke dinding tempat lukisan asli Monet yang dulu bernilai tujuh setengah miliar terpajang dengan anggun. Kini kanvas itu penuh coretan warna-warni kekanak-kanakan. Rivan duduk di lantai, kuas cat masih di tangannya, menatap hasil karya agungnya dengan wajah penuh kebanggaan.

"Ngapain kamu di rumahku?" Aku berusaha menjaga suaraku tetap stabil, meski getarnya hampir tak tertahan.

"Alessandro bilang di sini lebih aman untuk kami." Chyntia akhirnya mengangkat kepala. Tatapannya tajam penuh tantangan. "Dan sebagai ibu dari anaknya, aku punya hak sepenuhnya untuk berada di sini."

Amarah mendidih di dadaku. Namun, detik berikutnya, hawa dingin merambat di pembuluh darahku. Rivan tertatih menuju meja konsol di dekat pintu masuk, lalu meraih satu-satunya foto berbingkai yang kumiliki, yaitu foto mendiang ibuku.

"Letakkan itu." Suaraku bergetar, nyaris pecah, menahan amarah yang siap meledak.

Anak lima tahun itu hanya menyeringai. Di wajah kecilnya terlukis ekspresi dewasa yang jelas tidak sesuai dengan usianya. Terlalu dingin. Dia mengangkat bingkai foto itu setinggi dada, lalu membantingnya ke lantai marmer tanpa ragu. Belum puas, sepatu kecilnya menginjak pecahan kaca satu per satu, seolah ingin memastikan tak ada yang tersisa.

"Perempuan tua ini siapa?" katanya ketus. "Mulai sekarang, di rumah ini cuma boleh ada foto ibuku!"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 8

    Tiga bulan kemudian, kami kembali dari bulan madu yang membentang melintasi beberapa benua.Aku duduk di ruang kerja berlapis kulit di kediaman Kresna, menatap laporan rinci yang terbentang di atas mejaku. Bab terakhir Keluarga Wijanarko yang gelap dan kelam akhirnya ada di hadapanku."Kenapa kamu masih memikirkan mereka?" Lengan Kresna merangkulku dari belakang. Dagunya bertumpu di bahuku, posesif namun hangat, seperti kenyamanan yang sudah kukenal di luar kepala. "Pikiranmu seharusnya hanya untukku."Aku tersenyum, lalu berbalik di dalam pelukannya, jemariku menyusuri rahangnya. "Aku bersumpah, kamu satu-satunya pria di hatiku," kataku pelan. "Aku hanya … sedang menutup kisah lama itu."Kresna memanfaatkan kesempatan itu untuk mencuri ciuman yang dalam, membuatku terengah-engah dan pipiku memerah.Aku menoleh, lalu membuka halaman pertama laporan itu.Setelah diusir ke wilayah Santosa, Alessandro ditangkap dan disiksa dengan cara yang sistematis. Musuh-musuhnya tampak punya kepuasan

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 7

    Seminggu kemudian, Kresna dan aku menikah dalam sebuah upacara yang bisa dibilang megah bak kerajaan. Acara digelar di gedung paling eksklusif di Vantros, dengan halaman yang dipenuhi lautan mawar dan lili putih. Daftar tamunya bukan sembarangan, keluarga-keluarga paling berpengaruh di Vantros, politisi, dan taipan bisnis hadir untuk menyaksikan. Aku mengenakan gaun Valentino kustom seharga 30 miliar, sementara Kresna berdiri di sisiku dengan jas Itala hasil jahitan khusus, bak raja gelap yang memegang dunia kami dan aku adalah ratunya."Kamu begitu cantik, sampai-sampai aku merasa napasku tertahan," bisik Kresna saat kami berdiri di hadapan pendeta.Pendeta itu mengangkat pandangannya, suaranya tenang tetapi tegas. "Jika ada di antara kalian yang menolak pernikahan ini, bicaralah sekarang … atau diam selamanya."Seolah menepati waktu, pintu yang berat terbuka dengan suara gemuruh yang dramatis.Alessandro melangkah masuk dengan langkah goyah. Tangannya disangga, wajahnya memar dengan

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 6

    Dunia Chyntia hancur berkeping-keping. Tatapannya tertuju pada Alessandro, mata yang membara mengekspresikan pengkhianatan terdalam."Kamu bohong padaku!" teriaknya. Tanpa ragu, dia meraih pisau buah di meja terdekat dan menusukkannya ke bahu Alessandro. "Kamu bilang kamu pewaris keluarga mafia! Kamu bilang aku akan jadi nyonya bos mafia!"Alessandro menjerit kesakitan saat darah menghitam di kemeja putihnya. "Chyntia … tenang.""Tenang?" Chyntia tertawa, suaranya nyaring, hampir terdengar gila. "Aku memberimu lima tahun! Aku memberimu seorang anak laki-laki! Dan untuk apa semua itu? Hanya supaya terikat dengan pembohong miskin dan menyedihkan?"Lalu dia berputar menatapku, matanya liar penuh iri. "Dan kamu! Kamu bisa menikahi bos mafia sungguhan dengan mudah. Kenapa? Apa yang membuatmu begitu istimewa?"Kresna mengayunkan tangannya dengan acuh. Anak buahnya sigap, segera menahan Chyntia yang histeris dan Alessandro yang berdarah."Singkirkan mereka," perintah Kresna, sambil melingkark

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 5

    Suara Kresna menggantung di udara bagai vonis mati. Sunyi menyelimuti koridor, sampai detak jantung yang panik terdengar bergema.Para anak buah yang beberapa detik lalu memperlakukanku dengan kasar tiba-tiba melepaskanku. Wajah mereka berubah pucat, putih bagai kertas. Semua penjahat di Vantros tahu betul apa artinya memancing amarah Kresna Kartawijaya.Kresna melangkah mendekat, melepaskan jas mahalnya dan menyampirkannya di bahuku, menutupi gaunku yang basah dan sobek. Sentuhannya lembut, tetapi tatapannya … tajam, seolah menyimpan ancaman kematian."Apa mereka menyakitimu?" tanyanya, ibu jarinya lembut menyentuh bekas merah di pipiku, tempat aku sempat dipukul."Aku … aku baik-baik saja." Suaraku bergetar tipis.Kresna berbalik menatap barisan anak buahnya yang ketakutan. Suaranya terdengar tenang, tetapi setiap kata mengandung ancaman. "Aku tanya sekali lagi … siapa yang menyentuhnya?"Kresna menoleh, menatap barisan anak buah Alessandro yang tampak ketakutan. Suaranya tenang, tet

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 4

    Aku nyaris tak memejamkan mata semalaman. Gambaran-gambaran menjijikkan itu terus berputar di kepalaku. Apartemen itu bukan sekadar kotor, tempat itu telah dinodai. Harus dikosongkan sepenuhnya, difumigasi, bahkan kalau perlu, diusir segala setan yang sempat bersemayam di sana.Keesokan paginya, ketika aku tengah mengatur tim keamanan untuk menyingkirkan secara paksa para penghuni yang tak diinginkan, sebuah kiriman tiba di suite-ku.Itu adalah undangan pertunangan.Atas nama Alessandro Wijanarko dan Chyntia Rahardjo.Namun, yang memantik amarah buta dalam diriku bukanlah undangan itu. Melainkan foto-foto yang beredar di media sosial. Chyntia berpose tanpa rasa bersalah di depan kamera mengenakan pusaka keluargaku. Sebuah kalung safir yang diwariskan turun-temurun, melewati tiga generasi perempuan Keluarga Hardjono.Ibuku sendiri yang mengalungkan kalung itu ke leherku di ranjang kematiannya. Dan Alessandro, pria yang mengetahui sejarahnya, malah memberikannya pada perempuan murahan si

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 3

    "Rivan, minta maaf atas perbuatanmu. Sekarang!" Suaraku meledak, memecah keheningan ruang keluarga yang luas.Foto paling berharga milik Ibu kini tergeletak hancur di lantai, pecahannya berserakan di kaki anak kurang ajar itu."Kenapa aku harus minta maaf?" Rivan mendongakkan dagu, tatapannya menantang. "Ibuku bilang, ini sekarang rumahku."Chyntia bangkit dari sofa lalu melangkah anggun ke sisi Rivan. Ia meletakkan tangan di bahu pria itu, sikapnya protektif sekaligus penuh kepemilikan. "Benar, Sayang. Rumah ini sekarang dikelola pihak baru."Pada saat yang sama, bunyi kunci beradu di pintu. Alessandro datang. Dia masuk dan langsung menyapu ruangan dengan pandangan tajam. Melihat bingkai foto yang pecah di lantai, tubuhku yang kaku menegang. Alisnya berkerut. "Ada apa ini?""Putramu baru saja menghancurkan satu-satunya foto ibuku yang kumiliki." Suaraku bergetar, tetapi tetap kutahan. Jariku menunjuk serpihan kaca yang berkilau di lantai. "Aku mau dia minta maaf."Tatapan Alessandro b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status