Share

Bab 3

Author: Echo
"Rivan, minta maaf atas perbuatanmu. Sekarang!" Suaraku meledak, memecah keheningan ruang keluarga yang luas.

Foto paling berharga milik Ibu kini tergeletak hancur di lantai, pecahannya berserakan di kaki anak kurang ajar itu.

"Kenapa aku harus minta maaf?" Rivan mendongakkan dagu, tatapannya menantang. "Ibuku bilang, ini sekarang rumahku."

Chyntia bangkit dari sofa lalu melangkah anggun ke sisi Rivan. Ia meletakkan tangan di bahu pria itu, sikapnya protektif sekaligus penuh kepemilikan. "Benar, Sayang. Rumah ini sekarang dikelola pihak baru."

Pada saat yang sama, bunyi kunci beradu di pintu. Alessandro datang. Dia masuk dan langsung menyapu ruangan dengan pandangan tajam. Melihat bingkai foto yang pecah di lantai, tubuhku yang kaku menegang. Alisnya berkerut. "Ada apa ini?"

"Putramu baru saja menghancurkan satu-satunya foto ibuku yang kumiliki." Suaraku bergetar, tetapi tetap kutahan. Jariku menunjuk serpihan kaca yang berkilau di lantai. "Aku mau dia minta maaf."

Tatapan Alessandro berpindah dari aku ke Chyntia. Dia lalu menghela napas panjang. Terlalu panjang, terlalu dramatis.

"Saskia, kamu berlebihan," katanya akhirnya. "Dia baru lima tahun. Kamu tak bisa salahkan anak kecil atas sebuah kecelakaan."

"Berlebihan?" Aku tak percaya dengan kata-kata itu.

"Sebagai calon nyonya keluarga ini, kamu seharusnya belajar lebih berlapang dada." Alessandro lalu melangkah ke arah dapur, seakan urusan itu sudah tuntas. "Chyntia dan Rivan lapar. Kenapa kamu tidak siapkan makan malam untuk mereka? Anggap saja latihan sebelum jadi seorang istri."

Aku menatap punggungnya. Sebuah kesadaran datang tiba-tiba, tajam dan menyilaukan. "Alessandro, ini apartemenku."

"Dan saat ini, Chyntia dan Rivan butuh tempat yang aman." Nada suaranya mengeras, tak memberi ruang bantahan. "Saskia, jangan egois. Kamu tidak mungkin tega mengusir seorang ibu dan anaknya ke jalan, 'kan?"

Chyntia memeluk Rivan erat, wajahnya dipenuhi ekspresi rapuh yang terasa terlalu sempurna dan jelas tidak tulus. "Saskia, kami sungguh tak punya tempat lain lagi," katanya lirih. "Tolong … demi Rivan."

Aku hampir saja suruh mereka pergi ke tempat yang pantas, ketika tiba-tiba Rivan menyambar pisau steik dari nampan di atas meja kopi dan melemparkannya ke arahku. Bilahnya hanya menggores lengan bawahku, tetapi cukup dalam untuk meninggalkan garis merah terang yang langsung menyala di kulit.

"Perempuan jahat! Jangan buli ibuku!" teriak Rivan.

Secara refleks, aku mendorongnya menjauh. Tubuh kecil itu terhuyung sebelum akhirnya jatuh ke lantai, lalu pecah dalam tangis yang terlalu dramatis untuk ukuran anak seusianya.

"Saskia!" Alessandro langsung bergegas menghampiri. Wajahnya menegang, amarah terukir jelas. "Bagaimana bisa kamu begitu tega menyentuh anak kecil?"

"Dia menyayatku dengan pisau!" Aku mengulurkan lenganku. Darah sudah merembes, menodai kain putih gaunku.

"Itu cuma pisau makan! Dia ketakutan. Dia hanya bela ibunya!" Alessandro bahkan tak menoleh ke arah lukaku. Dia justru berjongkok di hadapan Rivan, memeriksanya seolah bocah itu benar-benar terluka, padahal tak ada memar sedikit pun.

Chyntia menarik anak itu ke dalam pelukannya. "Kamu lihat, Alessandro?" katanya, suaranya penuh tuduhan. "Inilah perempuan yang kamu pilih. Dia berbahaya bagi putra kita."

Melihat sandiwara konyol itu terus dipertontonkan, kesabaranku akhirnya habis. "Ini apartemenku. Pergi. Sekarang. Kalian semua."

Alessandro bangkit perlahan hingga berdiri tegak sepenuhnya. Sorot matanya mengeras, dingin setajam baja. "Kalau kamu mengusir mereka ...." katanya tanpa emosi. "Pertunangan kita selesai sampai di sini. Aku tidak akan jadikan perempuan yang kejam dan tak mampu mengendalikan diri sebagai Nyonya Keluarga Wijanarko."

Aku nyaris tertawa. Gelar itu tak berarti apa-apa, dan pertunangan ini tak lebih dari sebuah lelucon. Dia tidak tahu aku sudah menjadi istri Kresna.

Aku hanya mengangkat bahu, acuh. "Terserah kamu."

Alessandro terpaku, jelas tak menyangka aku sama sekali tidak runtuh seperti yang dia bayangkan. Dia pasti mengira sikapku barusan hanyalah gertakan. "Saskia, aku akui aku sudah salah padamu," katanya akhirnya. "Tapi apa kamu benar-benar tak punya salah? Kamu terlalu larut dalam urusan bisnis Keluarga Hardjono. Kamu tak pernah menjadi perempuan yang lembut dan penuh perhatian seperti yang kubutuhkan. Andai saja kamu mau terima Rivan dan Chyntia, semua ini tak perlu terjadi."

Dia melangkah mendekat, suaranya melunak, berubah membujuk, "Aku bahkan bisa memaafkan sandiwara kecilmu dengan Kresna Kartawijaya. Tapi kamu harus sadar. Pria sekelas dia hanya sedang mempermainkanmu. Akulah yang benar-benar mencintaimu. Akulah yang akan selalu ada untukmu .…"

Aku menatap pria yang selama lima tahun kucintai. Namun, yang kulihat kini hanyalah seorang lelaki sombong, terperangkap dalam delusinya sendiri. Memalukan. Sungguh memalukan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku berbalik dan melangkah menuju kamar tidur utama. Begitu pintunya terbuka, bau keringat basi yang bercampur parfum murahan langsung menusuk inderaku. Seprai di ranjang kami kusut, seolah tak sempat dirapikan. Di dalam tempat sampah, sebuah kondom bekas teronggok begitu saja.

Perutku melilit, rasa pahit menjalar hingga ke tenggorokan. Ranjang ini yang seharusnya menjadi tempat kami memulai hidup sebagai suami istri kini terasa kotor, ternodai.

Dengan gerakan tenang dan terukur, aku memasukkan barang-barang terpenting ke dalam tas kecil. Kartu identitasku, kartu kredit, hal-hal yang benar-benar kubutuhkan. Setelah itu, aku melangkah pergi dari apartemen itu.

Dari kehidupan itu. Tanpa menoleh ke belakang.

...

Setengah jam kemudian, aku sudah berada di sebuah suite mewah di salah satu hotel milik Kresna. Keheningan menyelimuti, memberi ketenangan yang hampir terasa seperti obat.

Ponselku bergetar. Sebuah video masuk dari nomor tak dikenal.

Aku membukanya. Jantungku seketika terasa jatuh ke dasar dada.

Itu sebuah video seks Alessandro dan Chyntia. Dilakukan tepat di atas tempat tidurku.

Suara Alessandro terdengar serak dan liar dalam rekaman itu. "Sial, Chyntia … rasanya luar biasa. Aku benar-benar mencintaimu .…" desahnya, diselingi erangan yang membuat dadaku mengeras.

Belum sempat aku mencerna semuanya, sebuah pesan masuk menyusul layar video itu: [Dia bilang, bercinta denganku di ranjangmu adalah pengalaman terbaik yang pernah dia rasakan.]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 8

    Tiga bulan kemudian, kami kembali dari bulan madu yang membentang melintasi beberapa benua.Aku duduk di ruang kerja berlapis kulit di kediaman Kresna, menatap laporan rinci yang terbentang di atas mejaku. Bab terakhir Keluarga Wijanarko yang gelap dan kelam akhirnya ada di hadapanku."Kenapa kamu masih memikirkan mereka?" Lengan Kresna merangkulku dari belakang. Dagunya bertumpu di bahuku, posesif namun hangat, seperti kenyamanan yang sudah kukenal di luar kepala. "Pikiranmu seharusnya hanya untukku."Aku tersenyum, lalu berbalik di dalam pelukannya, jemariku menyusuri rahangnya. "Aku bersumpah, kamu satu-satunya pria di hatiku," kataku pelan. "Aku hanya … sedang menutup kisah lama itu."Kresna memanfaatkan kesempatan itu untuk mencuri ciuman yang dalam, membuatku terengah-engah dan pipiku memerah.Aku menoleh, lalu membuka halaman pertama laporan itu.Setelah diusir ke wilayah Santosa, Alessandro ditangkap dan disiksa dengan cara yang sistematis. Musuh-musuhnya tampak punya kepuasan

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 7

    Seminggu kemudian, Kresna dan aku menikah dalam sebuah upacara yang bisa dibilang megah bak kerajaan. Acara digelar di gedung paling eksklusif di Vantros, dengan halaman yang dipenuhi lautan mawar dan lili putih. Daftar tamunya bukan sembarangan, keluarga-keluarga paling berpengaruh di Vantros, politisi, dan taipan bisnis hadir untuk menyaksikan. Aku mengenakan gaun Valentino kustom seharga 30 miliar, sementara Kresna berdiri di sisiku dengan jas Itala hasil jahitan khusus, bak raja gelap yang memegang dunia kami dan aku adalah ratunya."Kamu begitu cantik, sampai-sampai aku merasa napasku tertahan," bisik Kresna saat kami berdiri di hadapan pendeta.Pendeta itu mengangkat pandangannya, suaranya tenang tetapi tegas. "Jika ada di antara kalian yang menolak pernikahan ini, bicaralah sekarang … atau diam selamanya."Seolah menepati waktu, pintu yang berat terbuka dengan suara gemuruh yang dramatis.Alessandro melangkah masuk dengan langkah goyah. Tangannya disangga, wajahnya memar dengan

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 6

    Dunia Chyntia hancur berkeping-keping. Tatapannya tertuju pada Alessandro, mata yang membara mengekspresikan pengkhianatan terdalam."Kamu bohong padaku!" teriaknya. Tanpa ragu, dia meraih pisau buah di meja terdekat dan menusukkannya ke bahu Alessandro. "Kamu bilang kamu pewaris keluarga mafia! Kamu bilang aku akan jadi nyonya bos mafia!"Alessandro menjerit kesakitan saat darah menghitam di kemeja putihnya. "Chyntia … tenang.""Tenang?" Chyntia tertawa, suaranya nyaring, hampir terdengar gila. "Aku memberimu lima tahun! Aku memberimu seorang anak laki-laki! Dan untuk apa semua itu? Hanya supaya terikat dengan pembohong miskin dan menyedihkan?"Lalu dia berputar menatapku, matanya liar penuh iri. "Dan kamu! Kamu bisa menikahi bos mafia sungguhan dengan mudah. Kenapa? Apa yang membuatmu begitu istimewa?"Kresna mengayunkan tangannya dengan acuh. Anak buahnya sigap, segera menahan Chyntia yang histeris dan Alessandro yang berdarah."Singkirkan mereka," perintah Kresna, sambil melingkark

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 5

    Suara Kresna menggantung di udara bagai vonis mati. Sunyi menyelimuti koridor, sampai detak jantung yang panik terdengar bergema.Para anak buah yang beberapa detik lalu memperlakukanku dengan kasar tiba-tiba melepaskanku. Wajah mereka berubah pucat, putih bagai kertas. Semua penjahat di Vantros tahu betul apa artinya memancing amarah Kresna Kartawijaya.Kresna melangkah mendekat, melepaskan jas mahalnya dan menyampirkannya di bahuku, menutupi gaunku yang basah dan sobek. Sentuhannya lembut, tetapi tatapannya … tajam, seolah menyimpan ancaman kematian."Apa mereka menyakitimu?" tanyanya, ibu jarinya lembut menyentuh bekas merah di pipiku, tempat aku sempat dipukul."Aku … aku baik-baik saja." Suaraku bergetar tipis.Kresna berbalik menatap barisan anak buahnya yang ketakutan. Suaranya terdengar tenang, tetapi setiap kata mengandung ancaman. "Aku tanya sekali lagi … siapa yang menyentuhnya?"Kresna menoleh, menatap barisan anak buah Alessandro yang tampak ketakutan. Suaranya tenang, tet

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 4

    Aku nyaris tak memejamkan mata semalaman. Gambaran-gambaran menjijikkan itu terus berputar di kepalaku. Apartemen itu bukan sekadar kotor, tempat itu telah dinodai. Harus dikosongkan sepenuhnya, difumigasi, bahkan kalau perlu, diusir segala setan yang sempat bersemayam di sana.Keesokan paginya, ketika aku tengah mengatur tim keamanan untuk menyingkirkan secara paksa para penghuni yang tak diinginkan, sebuah kiriman tiba di suite-ku.Itu adalah undangan pertunangan.Atas nama Alessandro Wijanarko dan Chyntia Rahardjo.Namun, yang memantik amarah buta dalam diriku bukanlah undangan itu. Melainkan foto-foto yang beredar di media sosial. Chyntia berpose tanpa rasa bersalah di depan kamera mengenakan pusaka keluargaku. Sebuah kalung safir yang diwariskan turun-temurun, melewati tiga generasi perempuan Keluarga Hardjono.Ibuku sendiri yang mengalungkan kalung itu ke leherku di ranjang kematiannya. Dan Alessandro, pria yang mengetahui sejarahnya, malah memberikannya pada perempuan murahan si

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 3

    "Rivan, minta maaf atas perbuatanmu. Sekarang!" Suaraku meledak, memecah keheningan ruang keluarga yang luas.Foto paling berharga milik Ibu kini tergeletak hancur di lantai, pecahannya berserakan di kaki anak kurang ajar itu."Kenapa aku harus minta maaf?" Rivan mendongakkan dagu, tatapannya menantang. "Ibuku bilang, ini sekarang rumahku."Chyntia bangkit dari sofa lalu melangkah anggun ke sisi Rivan. Ia meletakkan tangan di bahu pria itu, sikapnya protektif sekaligus penuh kepemilikan. "Benar, Sayang. Rumah ini sekarang dikelola pihak baru."Pada saat yang sama, bunyi kunci beradu di pintu. Alessandro datang. Dia masuk dan langsung menyapu ruangan dengan pandangan tajam. Melihat bingkai foto yang pecah di lantai, tubuhku yang kaku menegang. Alisnya berkerut. "Ada apa ini?""Putramu baru saja menghancurkan satu-satunya foto ibuku yang kumiliki." Suaraku bergetar, tetapi tetap kutahan. Jariku menunjuk serpihan kaca yang berkilau di lantai. "Aku mau dia minta maaf."Tatapan Alessandro b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status