Share

Ketika Aku Memilih Dunia Gelap
Ketika Aku Memilih Dunia Gelap
Penulis: Echo

Bab 1

Penulis: Echo
Pria baik dan lembut yang kucintai akhirnya menampakkan wajah aslinya. Tepat pada hari pesta pertunangan kami, ketika perempuan simpanannya datang bersama putra mereka yang baru berusia lima tahun dan mengacaukan segalanya. Tanpa ragu, dia menyuruhku menyingkir. Dalam sekejap mata, statusku berubah, bukan lagi tunangannya, melainkan simpanan.

Cahaya hangat lampu kristal memantul di setiap sudut ruangan. Gelas-gelas sampanye berkilau di atas nampan perak.

Jemariku menyusuri kilau berlian di cincin pertunanganku.

Malam ini adalah pesta pertunanganku dengan Alessandro Wijanarko. Seharusnya aku diliputi kebahagiaan.

"Saskia, kamu kelihatan tegang." Lengan Alessandro melingkar di pinggangku, suaranya lembut, setenang sentuhan yang sudah begitu kukenal.

"Cuma terlalu bersemangat." Aku menoleh padanya sambil tersenyum. "Setelah malam ini, kita resmi bertunangan."

Senyum di wajah Alessandro sempat meredup. Ia tampak ragu, lalu membuka mulut. "Saskia, ada sesuatu yang perlu aku ...."

BRAK!

Pintu-pintu besar aula dansa terhempas terbuka. Riuh percakapan mendadak lenyap, seolah disedot ke dalam keheningan yang tegang. Seorang perempuan berambut cokelat kusut menerobos masuk, wajahnya pucat dan dipenuhi keputusasaan.

Yang membuat semua orang terpaku adalah kemunculan seorang bocah kecil di belakangnya. Wajah anak itu seolah cetakan sempurna Alessandro versi mini.

Begitu matanya menangkap sosok Alessandro, dia langsung melepaskan genggaman perempuan yang bersamanya dan berlari tanpa ragu ke arah kami.

"Ayah! Ayah! Akhirnya aku menemukanmu!"

Aula itu mendadak membeku. Keheningan jatuh begitu pekat, seakan detak jantung tiap orang di ruangan itu dapat terdengar jelas.

Pikiranku sempat menganggap ini lelucon yang keterlaluan. Tanganku bergerak refleks, siap memberi isyarat pada para satpam agar menyeret mereka keluar.

Namun, detik berikutnya, aku menangkap wajah Alessandro yang mendadak pucat, seakan seluruh darahnya tersedot habis.

"Rivan? Apa yang kamu .... Chyntia, kenapa kamu membawanya ke sini?" Nada suaranya bercampur antara keterkejutan dan amarah yang tertahan.

Chyntia? Tatapanku tertahan pada perempuan itu. Dia membalas menatapku, senyum kemenangannya terpampang tanpa sedikit pun usaha untuk menyembunyikannya.

"Aku capek menunggu, Alessandro. Lima tahun. Aku sudah muak hidup di balik bayang-bayang."

"Lima tahun?" Suaraku terdengar terlalu tenang, menyeramkan, bahkan sementara aku bisa merasakan tatapan para tamu menghunjam kulitku satu per satu.

Alessandro mengembuskan napas panjang, seolah drama ini benar-benar mengguncang perasaannya.

Dia menoleh ke arahku. Tatapannya kini dingin dan belum pernah kulihat sebelumnya.

"Saskia, ini Chyntia. Dan ini putraku, Rivan. Itu … kecelakaan. Lima tahun lalu."

Kecelakaan? Pandangan mataku tertuju pada perempuan itu saat dia merapatkan tubuhnya ke Alessandro. Gerakannya posesif, dan sangat intim.

Dan saat itu juga aku tahu, dengan keyakinan yang membuat dadaku menciut. Ini bukan kecelakaan.

"Alessandro, aku tahu seharusnya aku tidak datang .…" Suara Chyntia bergetar. "Tapi aku harus. Demi putra kita. Demi memberinya status yang sah." Dia menatap Alessandro, mata beningnya berkilau oleh air mata. Sebuah adegan yang dipentaskan nyaris sempurna. "Rivan butuh ayahnya. Keluarga yang utuh," lanjutnya pelan. "Dan aku juga."

"Lalu aku ini apa?" Suaraku menegang, kemarahanku begitu tajam hingga nyaris terdengar seperti tawa yang pecah di ujung kalimat.

Alessandro bahkan tak ragu sedetik pun. Kata-kata yang keluar berikutnya membuat darahku langsung membeku.

"Saskia, cobalah berpikir masuk akal." Nada suaranya ditahan, seolah dia masih ingin terdengar tulus. "Aku bersumpah, perasaanku padamu tidak berubah. Aku masih mencintaimu. Tapi Rivan adalah pewaris Keluarga Wijanarko. Kehadirannya mengacaukan segalanya, termasuk posisiku di dalam keluarga. Sebelum kita menikah, aku harus memberi status yang jelas untuk dia dan Chyntia."

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih tenang, nyaris persuasif, "Anggap saja ini ujian sebelum kamu resmi menjadi Nyonya Keluarga Wijanarko. Aku mau kamu menunjukkan kalau kamu bisa lapang dada dan mengerti situasi. Jangan khawatir, ini hanya sementara. Aku akan bersama Chyntia selama enam bulan. Setelah itu, kita akan mengadakan pesta pertunangan kita lagi."

Dia melangkah mendekat. Suaranya direndahkan, berubah menjadi bisikan penuh kendali.

"Sekarang kamu ikut aku tangani semua ini. Di depan para rekan bisnis, kita tak boleh terlihat lemah. Mengerti?"

Aku belum sempat menjawab ketika ia sudah melambaikan tangan, memanggil seorang fotografer. "Foto keluarga. Kita harus menunjukkan persatuan dan kekuatan Wijanarko."

Persatuan? Kekuatan?

Aku menatap Alessandro, pria yang telah kupersembahkan lima tahun hidupku. Untuk pertama kalinya, aku melihat apa yang selama ini tersembunyi di balik pesonanya. Sosok yang dingin, penuh perhitungan, dan kejam.

"Tentu saja aku masih mencintaimu, Saskia," bisiknya di telingaku. "Ini hanya urusan politik. Seorang pria di posisiku harus membuat pilihan-pilihan sulit."

Baginya, pilihan sulit itu sederhana saja, yaitu menurunkanku dari status tunangannya menjadi sosok terhina.

Aku melangkah mundur perlahan, pandanganku menyisir seluruh ruangan. Para tamu yang beberapa saat lalu berebut mengucapkan selamat kini menatapku dengan campuran rasa iba, rasa ingin tahu, dan ketertarikan yang nyaris kejam.

Lalu mataku tertahan pada sebuah meja di sudut ruangan. Seorang pria duduk di sana. Rambut gelapnya tersisir rapi ke belakang, sementara mata abu-abu yang dalam mengamati kekacauan ini dengan ketenangan yang mengusik. Ada aura kekuasaan yang melekat padanya. Begitu kuat hingga terasa bahkan saat dia hanya duduk diam. Tubuhnya yang menjulang hampir tak tertampung oleh setelan jas berpotongan sempurna, seolah pakaian itu sekadar mengikuti, bukan membentuk wibawanya.

Dia Kresna Kartawijaya. Bos mafia paling berkuasa di Vantros.

Dia juga menyandang satu gelar lain, gelar yang hanya aku yang tahu, yaitu pria yang selama ini berusaha menjadikanku miliknya.

Aku sudah menolaknya. Berkali-kali.

Saat pandangan kami bertaut, dia bangkit berdiri perlahan, setiap gerakannya penuh kesengajaan.

Ketegangan di ruangan itu menegang seperti arus listrik. Bahkan Alessandro pun tanpa sadar melangkah mundur.

Aku menarik napas dalam-dalam, memaksa diriku tetap tenang. Cincin berlian besar itu kulepas dari jariku, lalu aku melangkah lurus menuju Kresna.

"Kresna." Aku berhenti tepat di hadapannya. Suaraku mantap, cukup keras untuk menjangkau seluruh aula. "Aku sedang butuh tunangan baru. Kamu tertarik tidak?"

Senyum tipis yang langka, nyaris tak pernah muncul terbit di wajah Kresna yang biasanya dingin, seketika mengubah ekspresinya. "Saskia, aku sudah menunggu sepuluh tahun hanya untuk mendengar pertanyaan itu."

"Apa? Saskia, kamu sudah gila?" Ketidakpercayaan bercampur amarah jelas terdengar di nada Alessandro.

Aku bahkan tak menoleh. Fokusku tertambat pada tangan yang Kresna ulurkan ke arahku. "Jadi, Kresna," ucapku pelan. "Apa jawabanmu?"

"Ya," jawabnya tanpa ragu. "Calon istriku." Tangannya menggenggam tanganku. Hangat, mantap, seolah keputusan itu tak pernah dipertanyakan.

"Perempuan jalang tak tahu malu!" teriak Chyntia, suaranya melengking. "Alessandro, lihat sampah yang kamu pilih! Dia bahkan berani melemparkan diri ke pria lain, tepat di depan matamu!"

Rivan tiba-tiba menerjang ke arahku. Jemari mungilnya mencengkeram ujung gaun coutureku, lalu menariknya sekuat tenaga. "Kamu perempuan jahat! Ibu bilang kamu sudah mencuri ayahku!"

Suara sutra yang terkoyak memuakkan telinga. Aku menunduk, menatap bocah itu. Kebencian terpahat jelas di wajahnya. Kebencian yang sama persis dengan milik ibunya.

Aku berlutut, merendahkan diri hingga mata kami sejajar. Suaraku hanya bisikan, lembut di permukaan, dingin seperti es. "Dengarkan baik-baik, Nak. Pertunanganku dengan ayahmu sudah berakhir. Kamu menang."

Aku pun bangkit, lalu menoleh ke Alessandro dan Chyntia. Sebuah senyum terbit di bibirku. Terlalu suci untuk situasi sekeji ini. "Aku mendoakan kalian berdua bahagia selamanya," kataku tenang. "Semoga kalian terikat satu sama lain … untuk selamanya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 8

    Tiga bulan kemudian, kami kembali dari bulan madu yang membentang melintasi beberapa benua.Aku duduk di ruang kerja berlapis kulit di kediaman Kresna, menatap laporan rinci yang terbentang di atas mejaku. Bab terakhir Keluarga Wijanarko yang gelap dan kelam akhirnya ada di hadapanku."Kenapa kamu masih memikirkan mereka?" Lengan Kresna merangkulku dari belakang. Dagunya bertumpu di bahuku, posesif namun hangat, seperti kenyamanan yang sudah kukenal di luar kepala. "Pikiranmu seharusnya hanya untukku."Aku tersenyum, lalu berbalik di dalam pelukannya, jemariku menyusuri rahangnya. "Aku bersumpah, kamu satu-satunya pria di hatiku," kataku pelan. "Aku hanya … sedang menutup kisah lama itu."Kresna memanfaatkan kesempatan itu untuk mencuri ciuman yang dalam, membuatku terengah-engah dan pipiku memerah.Aku menoleh, lalu membuka halaman pertama laporan itu.Setelah diusir ke wilayah Santosa, Alessandro ditangkap dan disiksa dengan cara yang sistematis. Musuh-musuhnya tampak punya kepuasan

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 7

    Seminggu kemudian, Kresna dan aku menikah dalam sebuah upacara yang bisa dibilang megah bak kerajaan. Acara digelar di gedung paling eksklusif di Vantros, dengan halaman yang dipenuhi lautan mawar dan lili putih. Daftar tamunya bukan sembarangan, keluarga-keluarga paling berpengaruh di Vantros, politisi, dan taipan bisnis hadir untuk menyaksikan. Aku mengenakan gaun Valentino kustom seharga 30 miliar, sementara Kresna berdiri di sisiku dengan jas Itala hasil jahitan khusus, bak raja gelap yang memegang dunia kami dan aku adalah ratunya."Kamu begitu cantik, sampai-sampai aku merasa napasku tertahan," bisik Kresna saat kami berdiri di hadapan pendeta.Pendeta itu mengangkat pandangannya, suaranya tenang tetapi tegas. "Jika ada di antara kalian yang menolak pernikahan ini, bicaralah sekarang … atau diam selamanya."Seolah menepati waktu, pintu yang berat terbuka dengan suara gemuruh yang dramatis.Alessandro melangkah masuk dengan langkah goyah. Tangannya disangga, wajahnya memar dengan

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 6

    Dunia Chyntia hancur berkeping-keping. Tatapannya tertuju pada Alessandro, mata yang membara mengekspresikan pengkhianatan terdalam."Kamu bohong padaku!" teriaknya. Tanpa ragu, dia meraih pisau buah di meja terdekat dan menusukkannya ke bahu Alessandro. "Kamu bilang kamu pewaris keluarga mafia! Kamu bilang aku akan jadi nyonya bos mafia!"Alessandro menjerit kesakitan saat darah menghitam di kemeja putihnya. "Chyntia … tenang.""Tenang?" Chyntia tertawa, suaranya nyaring, hampir terdengar gila. "Aku memberimu lima tahun! Aku memberimu seorang anak laki-laki! Dan untuk apa semua itu? Hanya supaya terikat dengan pembohong miskin dan menyedihkan?"Lalu dia berputar menatapku, matanya liar penuh iri. "Dan kamu! Kamu bisa menikahi bos mafia sungguhan dengan mudah. Kenapa? Apa yang membuatmu begitu istimewa?"Kresna mengayunkan tangannya dengan acuh. Anak buahnya sigap, segera menahan Chyntia yang histeris dan Alessandro yang berdarah."Singkirkan mereka," perintah Kresna, sambil melingkark

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 5

    Suara Kresna menggantung di udara bagai vonis mati. Sunyi menyelimuti koridor, sampai detak jantung yang panik terdengar bergema.Para anak buah yang beberapa detik lalu memperlakukanku dengan kasar tiba-tiba melepaskanku. Wajah mereka berubah pucat, putih bagai kertas. Semua penjahat di Vantros tahu betul apa artinya memancing amarah Kresna Kartawijaya.Kresna melangkah mendekat, melepaskan jas mahalnya dan menyampirkannya di bahuku, menutupi gaunku yang basah dan sobek. Sentuhannya lembut, tetapi tatapannya … tajam, seolah menyimpan ancaman kematian."Apa mereka menyakitimu?" tanyanya, ibu jarinya lembut menyentuh bekas merah di pipiku, tempat aku sempat dipukul."Aku … aku baik-baik saja." Suaraku bergetar tipis.Kresna berbalik menatap barisan anak buahnya yang ketakutan. Suaranya terdengar tenang, tetapi setiap kata mengandung ancaman. "Aku tanya sekali lagi … siapa yang menyentuhnya?"Kresna menoleh, menatap barisan anak buah Alessandro yang tampak ketakutan. Suaranya tenang, tet

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 4

    Aku nyaris tak memejamkan mata semalaman. Gambaran-gambaran menjijikkan itu terus berputar di kepalaku. Apartemen itu bukan sekadar kotor, tempat itu telah dinodai. Harus dikosongkan sepenuhnya, difumigasi, bahkan kalau perlu, diusir segala setan yang sempat bersemayam di sana.Keesokan paginya, ketika aku tengah mengatur tim keamanan untuk menyingkirkan secara paksa para penghuni yang tak diinginkan, sebuah kiriman tiba di suite-ku.Itu adalah undangan pertunangan.Atas nama Alessandro Wijanarko dan Chyntia Rahardjo.Namun, yang memantik amarah buta dalam diriku bukanlah undangan itu. Melainkan foto-foto yang beredar di media sosial. Chyntia berpose tanpa rasa bersalah di depan kamera mengenakan pusaka keluargaku. Sebuah kalung safir yang diwariskan turun-temurun, melewati tiga generasi perempuan Keluarga Hardjono.Ibuku sendiri yang mengalungkan kalung itu ke leherku di ranjang kematiannya. Dan Alessandro, pria yang mengetahui sejarahnya, malah memberikannya pada perempuan murahan si

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 3

    "Rivan, minta maaf atas perbuatanmu. Sekarang!" Suaraku meledak, memecah keheningan ruang keluarga yang luas.Foto paling berharga milik Ibu kini tergeletak hancur di lantai, pecahannya berserakan di kaki anak kurang ajar itu."Kenapa aku harus minta maaf?" Rivan mendongakkan dagu, tatapannya menantang. "Ibuku bilang, ini sekarang rumahku."Chyntia bangkit dari sofa lalu melangkah anggun ke sisi Rivan. Ia meletakkan tangan di bahu pria itu, sikapnya protektif sekaligus penuh kepemilikan. "Benar, Sayang. Rumah ini sekarang dikelola pihak baru."Pada saat yang sama, bunyi kunci beradu di pintu. Alessandro datang. Dia masuk dan langsung menyapu ruangan dengan pandangan tajam. Melihat bingkai foto yang pecah di lantai, tubuhku yang kaku menegang. Alisnya berkerut. "Ada apa ini?""Putramu baru saja menghancurkan satu-satunya foto ibuku yang kumiliki." Suaraku bergetar, tetapi tetap kutahan. Jariku menunjuk serpihan kaca yang berkilau di lantai. "Aku mau dia minta maaf."Tatapan Alessandro b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status