Share

Bab 4

Author: Echo
Aku nyaris tak memejamkan mata semalaman. Gambaran-gambaran menjijikkan itu terus berputar di kepalaku. Apartemen itu bukan sekadar kotor, tempat itu telah dinodai. Harus dikosongkan sepenuhnya, difumigasi, bahkan kalau perlu, diusir segala setan yang sempat bersemayam di sana.

Keesokan paginya, ketika aku tengah mengatur tim keamanan untuk menyingkirkan secara paksa para penghuni yang tak diinginkan, sebuah kiriman tiba di suite-ku.

Itu adalah undangan pertunangan.

Atas nama Alessandro Wijanarko dan Chyntia Rahardjo.

Namun, yang memantik amarah buta dalam diriku bukanlah undangan itu. Melainkan foto-foto yang beredar di media sosial. Chyntia berpose tanpa rasa bersalah di depan kamera mengenakan pusaka keluargaku. Sebuah kalung safir yang diwariskan turun-temurun, melewati tiga generasi perempuan Keluarga Hardjono.

Ibuku sendiri yang mengalungkan kalung itu ke leherku di ranjang kematiannya. Dan Alessandro, pria yang mengetahui sejarahnya, malah memberikannya pada perempuan murahan simpanannya.

Aku harus merebutnya kembali.

Pukul tujuh malam, aku tiba di alamat yang tertera di undangan. Apartemen pencakar langit milik Alessandro.

Begitu aku melangkah keluar dari lift, sekelompok anak buah Alessandro sudah menunggu. Mereka maju dengan sikap angkuh, mengelilingiku seakan aku adalah mangsa.

"Wah, wah, lihat siapa yang muncul," ejek salah satu dari mereka, suaranya penuh sindiran. "Datang untuk menyaksikan bos kita bertunangan … dengan wanita sejati, ya?"

"Jangan halangi jalanku." Aku mendorong mereka dengan tegas, mencoba menembus kerumunan mereka.

Mereka mendorongku lebih dekat, napas mereka berbau wiski murahan dan kebencian yang pekat.

"Dengar-dengar sekarang kamu tidur dengan Kresna," ejek seorang pria, bekas luka panjang di wajahnya menambah kesan menakutkan. "Tsk, tsk … sepertinya kamu pandai memanfaatkan hubungan intim demi keuntungan, ya?"

"Diam." Suaraku rendah, dingin, penuh bahaya, seakan bisa memotong udara di sekeliling kami.

Gelombang kesedihan menyelimuti hatiku, dalam dan menusuk. Kesedihan karena kebutaan diri sendiri. Lima tahun telah kupersembahkan untuk keluarga ini, namun di mata mereka, aku tak pernah lebih dari sekadar batu loncatan. Bukan calon nyonya masa depan.

"Ooh, dia pemarah," ejek Genta, suaranya berderai tawa sinis. Tanpa menunggu, dia menumpahkan gelasnya, menyiramkan wiski ke bagian depan gaun desainerku. "Nah, gitu baru benar."

Yang lain tertawa terbahak-bahak. Salah satu dari mereka menarik bagian belakang gaunku, membuat kainnya meregang. Aku berusaha melepaskan diri, tetapi terlalu banyak yang menahan. Tak ada celah untuk kabur.

"Cukup!" Suara tegas memotong ejekan mereka, tajam dan tidak bisa diabaikan.

Alessandro dan Chyntia keluar dari apartemen, tampak rapi dalam balutan busana formal yang dirancang khusus. Mereka tampak seperti pasangan bahagia. Senyum tipis tampak di wajah Chyntia, kalung safir yang berkilau di lehernya, biru pekat seolah mengejekku.

"Apa yang kalian lakukan?" Alessandro menatap tajam ke arah para bawahannya.

"Bos … dia … mencoba menyusup ke pesta." Genta menjawab, suaranya lancar meski jelas berbohong.

Chyntia meluncur mendekat, tangannya menyinggung kalung itu dengan gerakan sengaja provokatif. "Oh, Saskia. Kamu datang untuk ini? Alessandro bilang kalung ini jauh lebih indah dipakai oleh wanita asli."

"Kalung itu milik ibuku. Kembalikan," kataku, menatap matanya tanpa berkedip.

Chyntia pura-pura merenung sebentar, lalu senyumnya melengkung menjadi sesuatu yang dingin dan kejam. "Kalau kamu begitu menginginkannya … mungkin ada cara tertentu agar kamu bisa mendapatkannya."

"Apa syaratnya?"

Dia melangkah, sepatu hak tingginya berkilau di cahaya ruangan. Dengan santai, dia mengangkat kaki. "Berlututlah dan poles sepatuku. Pakai lidahmu. Kalau kamu melakukannya dengan benar, mungkin aku akan mempertimbangkannya."

"Chyntia!" Suara seorang wanita lebih tua memotong udara. Itu adalah ibunya Alessandro. "Bagaimana bisa kamu perlakukan Saskia seperti ini? Dia hampir seperti keluarga kita."

Sebuah secercah harapan menyelinap di dadaku. Mungkin … setidaknya, dia masih punya sedikit rasa hormat.

Tapi kata-kata berikutnya memadamkan semua kemarahanku. "Saskia, demi kedamaian, turuti saja ucapannya. Chyntia sedang mengandung anak kedua Alessandro. Kita tak boleh membuatnya marah."

Chyntia menepakkan tangan di perutnya yang sedikit membuncit, senyum kemenangan tersungging di wajahnya, menatapku penuh tantangan.

Aku tidak peduli padanya, atau pada anak yang katanya dikandungnya. Akan tetapi, harga diriku? Itu bukan sesuatu yang bisa dipermainkan.

"Aku menolak." Aku berbalik pergi. "Dan kalian semua akan dapat hukuman untuk ini."

Jika aku tidak bisa merebut kembali kalung itu malam ini, aku akan menemukan cara lain. Cara yang jauh lebih permanen.

"Hentikan dia!" bentak Alessandro, suaranya dingin tetapi penuh kemarahan.

Anak buahnya segera menghadang jalanku, tangan-tangan mereka meraih dengan kasar, agresif. Aku melawan, tetapi genggaman mereka terlalu kuat untuk bisa kulawan sendiri.

Alessandro melangkah mendekat, jarinya menangkup daguku, mengangkatnya dengan lembut tetapi penuh dominasi. Senyum kejam terukir di bibirnya.

"Saskia, ini kesempatan terakhirmu." Suaranya dingin menembus. "Minta maaf padaku. Mohon ampun atas tingkah lakumu. Siapa tahu … mungkin aku akan bersikap belas kasihan."

Aku menelan ludah, tetapi yang keluar hanyalah sepatah ludah yang menetes di sepatu licinnya. "Mimpi."

"Bawa dia ke ruangan belakang. Ajari dia rasa hormat." Suara Alessandro dipenuhi kepuasan yang kejam. "Buat dia tahu posisinya."

Mereka mulai menyeretku pergi. Putus asa merayap di tubuhku, menekan setiap otot, menelan napasku. Lalu .…

BOM!

Pintu utama meledak, terlepas dari engselnya, bingkainya hancur ketika menghantam dinding.

Sosok itu berdiri di ambang pintu, memancarkan aura ancaman yang tak terbantahkan. Jas hitam pesanan khusus menempel rapi di tubuhnya, sementara mata abu-abunya menusuk, dingin seperti serpihan es. Kresna Kartawijaya tampak seperti dewa pembalasan, dikelilingi selusin anak buahnya yang membawa senjata berat.

"Siapa di antara kalian ...." Suaranya rendah, mematikan, bergema di keheningan mendadak. "Yang berani menyentuh istriku?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 8

    Tiga bulan kemudian, kami kembali dari bulan madu yang membentang melintasi beberapa benua.Aku duduk di ruang kerja berlapis kulit di kediaman Kresna, menatap laporan rinci yang terbentang di atas mejaku. Bab terakhir Keluarga Wijanarko yang gelap dan kelam akhirnya ada di hadapanku."Kenapa kamu masih memikirkan mereka?" Lengan Kresna merangkulku dari belakang. Dagunya bertumpu di bahuku, posesif namun hangat, seperti kenyamanan yang sudah kukenal di luar kepala. "Pikiranmu seharusnya hanya untukku."Aku tersenyum, lalu berbalik di dalam pelukannya, jemariku menyusuri rahangnya. "Aku bersumpah, kamu satu-satunya pria di hatiku," kataku pelan. "Aku hanya … sedang menutup kisah lama itu."Kresna memanfaatkan kesempatan itu untuk mencuri ciuman yang dalam, membuatku terengah-engah dan pipiku memerah.Aku menoleh, lalu membuka halaman pertama laporan itu.Setelah diusir ke wilayah Santosa, Alessandro ditangkap dan disiksa dengan cara yang sistematis. Musuh-musuhnya tampak punya kepuasan

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 7

    Seminggu kemudian, Kresna dan aku menikah dalam sebuah upacara yang bisa dibilang megah bak kerajaan. Acara digelar di gedung paling eksklusif di Vantros, dengan halaman yang dipenuhi lautan mawar dan lili putih. Daftar tamunya bukan sembarangan, keluarga-keluarga paling berpengaruh di Vantros, politisi, dan taipan bisnis hadir untuk menyaksikan. Aku mengenakan gaun Valentino kustom seharga 30 miliar, sementara Kresna berdiri di sisiku dengan jas Itala hasil jahitan khusus, bak raja gelap yang memegang dunia kami dan aku adalah ratunya."Kamu begitu cantik, sampai-sampai aku merasa napasku tertahan," bisik Kresna saat kami berdiri di hadapan pendeta.Pendeta itu mengangkat pandangannya, suaranya tenang tetapi tegas. "Jika ada di antara kalian yang menolak pernikahan ini, bicaralah sekarang … atau diam selamanya."Seolah menepati waktu, pintu yang berat terbuka dengan suara gemuruh yang dramatis.Alessandro melangkah masuk dengan langkah goyah. Tangannya disangga, wajahnya memar dengan

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 6

    Dunia Chyntia hancur berkeping-keping. Tatapannya tertuju pada Alessandro, mata yang membara mengekspresikan pengkhianatan terdalam."Kamu bohong padaku!" teriaknya. Tanpa ragu, dia meraih pisau buah di meja terdekat dan menusukkannya ke bahu Alessandro. "Kamu bilang kamu pewaris keluarga mafia! Kamu bilang aku akan jadi nyonya bos mafia!"Alessandro menjerit kesakitan saat darah menghitam di kemeja putihnya. "Chyntia … tenang.""Tenang?" Chyntia tertawa, suaranya nyaring, hampir terdengar gila. "Aku memberimu lima tahun! Aku memberimu seorang anak laki-laki! Dan untuk apa semua itu? Hanya supaya terikat dengan pembohong miskin dan menyedihkan?"Lalu dia berputar menatapku, matanya liar penuh iri. "Dan kamu! Kamu bisa menikahi bos mafia sungguhan dengan mudah. Kenapa? Apa yang membuatmu begitu istimewa?"Kresna mengayunkan tangannya dengan acuh. Anak buahnya sigap, segera menahan Chyntia yang histeris dan Alessandro yang berdarah."Singkirkan mereka," perintah Kresna, sambil melingkark

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 5

    Suara Kresna menggantung di udara bagai vonis mati. Sunyi menyelimuti koridor, sampai detak jantung yang panik terdengar bergema.Para anak buah yang beberapa detik lalu memperlakukanku dengan kasar tiba-tiba melepaskanku. Wajah mereka berubah pucat, putih bagai kertas. Semua penjahat di Vantros tahu betul apa artinya memancing amarah Kresna Kartawijaya.Kresna melangkah mendekat, melepaskan jas mahalnya dan menyampirkannya di bahuku, menutupi gaunku yang basah dan sobek. Sentuhannya lembut, tetapi tatapannya … tajam, seolah menyimpan ancaman kematian."Apa mereka menyakitimu?" tanyanya, ibu jarinya lembut menyentuh bekas merah di pipiku, tempat aku sempat dipukul."Aku … aku baik-baik saja." Suaraku bergetar tipis.Kresna berbalik menatap barisan anak buahnya yang ketakutan. Suaranya terdengar tenang, tetapi setiap kata mengandung ancaman. "Aku tanya sekali lagi … siapa yang menyentuhnya?"Kresna menoleh, menatap barisan anak buah Alessandro yang tampak ketakutan. Suaranya tenang, tet

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 4

    Aku nyaris tak memejamkan mata semalaman. Gambaran-gambaran menjijikkan itu terus berputar di kepalaku. Apartemen itu bukan sekadar kotor, tempat itu telah dinodai. Harus dikosongkan sepenuhnya, difumigasi, bahkan kalau perlu, diusir segala setan yang sempat bersemayam di sana.Keesokan paginya, ketika aku tengah mengatur tim keamanan untuk menyingkirkan secara paksa para penghuni yang tak diinginkan, sebuah kiriman tiba di suite-ku.Itu adalah undangan pertunangan.Atas nama Alessandro Wijanarko dan Chyntia Rahardjo.Namun, yang memantik amarah buta dalam diriku bukanlah undangan itu. Melainkan foto-foto yang beredar di media sosial. Chyntia berpose tanpa rasa bersalah di depan kamera mengenakan pusaka keluargaku. Sebuah kalung safir yang diwariskan turun-temurun, melewati tiga generasi perempuan Keluarga Hardjono.Ibuku sendiri yang mengalungkan kalung itu ke leherku di ranjang kematiannya. Dan Alessandro, pria yang mengetahui sejarahnya, malah memberikannya pada perempuan murahan si

  • Ketika Aku Memilih Dunia Gelap   Bab 3

    "Rivan, minta maaf atas perbuatanmu. Sekarang!" Suaraku meledak, memecah keheningan ruang keluarga yang luas.Foto paling berharga milik Ibu kini tergeletak hancur di lantai, pecahannya berserakan di kaki anak kurang ajar itu."Kenapa aku harus minta maaf?" Rivan mendongakkan dagu, tatapannya menantang. "Ibuku bilang, ini sekarang rumahku."Chyntia bangkit dari sofa lalu melangkah anggun ke sisi Rivan. Ia meletakkan tangan di bahu pria itu, sikapnya protektif sekaligus penuh kepemilikan. "Benar, Sayang. Rumah ini sekarang dikelola pihak baru."Pada saat yang sama, bunyi kunci beradu di pintu. Alessandro datang. Dia masuk dan langsung menyapu ruangan dengan pandangan tajam. Melihat bingkai foto yang pecah di lantai, tubuhku yang kaku menegang. Alisnya berkerut. "Ada apa ini?""Putramu baru saja menghancurkan satu-satunya foto ibuku yang kumiliki." Suaraku bergetar, tetapi tetap kutahan. Jariku menunjuk serpihan kaca yang berkilau di lantai. "Aku mau dia minta maaf."Tatapan Alessandro b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status