Masuk"Aku sendiri juga nggak tahu gimana caranya Valerie bisa masuk ke kamarku saat aku mandi, Ma," ujar Devan, mencoba membela diri.
"Alasan aja kamu!""Demi Allah, Ma! Aku nggak melakukan apapun dengan Valerie," tegas Devan. "Kami tinggal di kamar yang berbeda. Aku ketemu dia cuman saat kumpul bersama klien di luar. Aku nggak bohong!"Debby menyipitkan matanya, menatap Devan dengan pandangan menyelidik. "Tapi dengan sikapmu yang plin-plan dan selalu membela dia begini, kamu telah melDi bawah gulungan selimut, Devan menggeser tubuhnya mendekat, lalu melingkarkan lengannya, memeluk Zahwa dari belakang. Kecupan-kecupan ringan sesekali ia daratkan di puncak kepala dan bahu Zahwa.Saat ini Zahwa benar-benar merasa lemas, seluruh sendinya seolah kehilangan daya setelah malam panas pertama mereka yang baru saja usai. Namun Zahwa merasa puas karena akhirnya ia bisa menyempurnakan pernikahannya.Meski rasa trauma sempat membayangi benaknya, tapi ia bisa mengalihkan perhatiannya dengan menatap wajah Devan.Sentuhan lembut, tatapan penuh damba, dan aroma maskulin dari Devan perlahan-lahan membuat rasa traumanya memudar.Kini, perhatiannya sepenuhnya tersita oleh pria yang sedang memeluknya ini. Hatinya masih berbunga-bunga saat mengingat bagaimana Devan membisikkan kata cinta di sela-sela pergulatan gairah mereka tadi. Itu adalah pengakuan yang paling dinantikannya.Jari Devan tiba-tiba terulur, mengusap bahu kanan Zahwa, mengelus dengan lembut bekas luka yang cukup leba
Zahwa terkekeh pelan. "Sejak kapan kamu jadi narsis begini, Mas?""Sejak nikah sama kamu," sahut Devan tanpa ragu."Kamu tahu, Zahwa? Sebenarnya dari awal, aku sadar kalau kamu menyukaiku. Kamu sering memberiku perhatian, bersikap sabar, bahkan tetap setia meski aku belum bisa membuka hatiku padamu," lanjut Devan yang seketika membuat senyum di bibir Zahwa lenyap.Sejelas itukah perasaannya hingga Devan langsung menyadarinya sejak awal?Ingin rasanya Zahwa menarik tangan, membalikkan badan dan bersembunyi di balik selimut sekarang juga. Namun entah mengapa tubuhnya mendadak kaku."Tapi karena belum siap membuka hati, aku nggak mau memberimu harapan. Jadi aku memilih untuk bersikap dingin sejak awal kita menikah."Kata-kata Devan barusan menghantam dada Zahwa, menyisakan rasa sesak. "Ah, gitu ya..."Entah kenapa bibir Zahwa mengulas senyum padahal hatinya tersayat-sayat mendengar penolakan sejelas itu.Zahwa mengerjapkan matanya berkali-kali, beru
Sesampainya di rumah, Zahwa bergegas menuju kamar, berniat melepas gaunnya dan membersihkan diri.Namun saat ia memutar kedua tangannya ke belakang punggung, ia baru teringat kalau ritsleting itu susah digapai oleh jarinya sendiri. Setelah beberapa kali mencoba hingga lengannya terasa pegal, Zahwa akhirnya menyerah. Ia terpaksa keluar dari kamar mandi. Begitu keluar, ia mendapati Devan sedang berdiri di dekat jendela, sibuk berbicara dengan seseorang di seberang telepon.Devan menoleh begitu melihat Zahwa berjalan menghampirinya. Pria itu menjauhkan ponselnya dari telinga sejenak."Ada apa?" tanyanya berbisik.Zahwa menggigit bibir bawahnya sekilas, lalu menunjuk ke arah punggungnya sendiri. "Tolong bantuin aku buka ritsletingnya, Mas," jawabnya, ikut berbisik.Devan mengangguk paham. Sambil menempelkan kembali ponselnya ke telinga, ia memberi isyarat pada Zahwa untuk memutar badan membelakanginya. Zahwa menurut. Ia membalikkan tubuhnya, membelakan
"Oh ya? Kok bisa?" Seketika raut wajah Gunawan berubah penuh simpati.Zahwa pun menjelaskan secara garis besar mengenai masalah internal yang menimpa yayasan hingga membuat yayasan terjerat utang."Sayang sekali... padahal yayasan itu sudah banyak membantu orang, khususnya anak-anak yatim piatu yang terlantar.""Itulah, Pak," sahut Zahwa. "Makanya saat ini, saya bersama Pak Alex sedang berusaha mencari jalan keluar secara hukum maupun finansial, supaya yayasan bisa diselamatkan dan kembali berjalan seperti dulu."Gunawan mengangguk-angguk, begitupun dengan beberapa investor yang ikut menyimak. Mereka ikut bersimpati."Bagus, Zahwa. Keputusan yang mulia," ujar Gunawan mantap. Kemudian pria paruh baya itu merogoh saku jasnya, mengeluarkan selembar kartu nama."Ini kartu nama saya. " Gunawan mengulurkan kartu nama itu langsung ke tangan Zahwa."Hubungi saya kapan saja kamu butuh dana bantuan. Berapapun nominal yang dibutuhkan, akan saya bantu demi mengembalikan yayasan itu agar bisa kemb
Zahwa mengedarkan pandangannya ke sekitar. Setelah merasa cukup aman, ia kembali menatap Sean dengan senyum yang sedikit canggung."Em... saya datang karena diajak bapak mertua, Pak Sean," jawab Zahwa dengan nada suara yang sedikit merendah.Kening Sean berkerut, mencoba mencerna informasi tersebut. "Bapak mertua? Maksudmu...?" Sean menghentikan kalimatnya saat menyadari posisi Zahwa di acara ini. Matanya melebar perlahan, menatap Zahwa dengan tidak percaya."Tunggu, tadi saya sempat lihat kamu jalan sama... jangan bilang kalau bapak mertuamu itu..." Pak Sean menunjuk samar ke arah barisan meja VIP di mana Irfan dan Debby tadi sempat berdiri.Zahwa hanya memberikan anggukan kecil sebagai konfirmasi, lengkap dengan senyum sopan yang tampak pasrah."Luar biasa..." gumam Sean, menggeleng-gelengkan kepalanya menatap takjub. "Jadi kamu itu menantunya Pak Irfan? Saya nggak tahu kalau putranya menikahimu.""Tapi bukannya suamimu yang ada di pojok itu, Zahwa?"Zahwa refleks mengikuti arah
Debby dan Irfan spontan saling menatap dengan raut bingung. Di sisi lain, Devan juga mengerutkan keningnya."Kebetulan Bapak pernah menjadi pembicara utama di seminar nasional kampus saya," sahut Zahwa."Ahhh!" Krisna menjentikkan jarinya saat ingatan itu melintas di kepalanya. Wajah Krisna berubah menjadi antusias. "Aku ingat sekarang! Kamu mahasiswa manajemen bisnis yang brilian itu, kan? Yang memberikan sesi tanya jawab tentang strategi branding pariwisata daerah?"Zahwa tersenyum malu-malu dan mengangguk. "Betul, Pak.""Luar biasa! Gimana kabarmu sekarang?" tanya Krisna dengan binar mata kagum."Sampai sekarang, aku masih kagum dengan analisis yang kamu berikan waktu itu. Ide-idemu sangat visioner!""Terima kasih, Pak," balas Zahwa dengan tersenyum santun.Setelah berbincang basa-basi dan bertukar kartu nama, Irfan akhirnya pamit undur diri karena harus menemui beberapa kolega dari jajaran pemerintahan. Irfan membawa Debby bersamanya, meninggalkan Devan dan Zahwa berdua.Begitu k







