Se connecter"Aku sendiri juga nggak tahu gimana caranya Valerie bisa masuk ke kamarku saat aku mandi, Ma," ujar Devan, mencoba membela diri.
"Alasan aja kamu!""Demi Allah, Ma! Aku nggak melakukan apapun dengan Valerie," tegas Devan. "Kami tinggal di kamar yang berbeda. Aku ketemu dia cuman saat kumpul bersama klien di luar. Aku nggak bohong!"Debby menyipitkan matanya, menatap Devan dengan pandangan menyelidik. "Tapi dengan sikapmu yang plin-plan dan selalu membela dia begini, kamu telah melZahwa akhirnya menuruti saran Ares. Ia mengalah dan memesan taksi online untuk ia dan Mbok Minah pulang.Sepanjang sisa hari itu, hati Zahwa tak terasa tenang. Perasaan cemas menggelayuti dadanya. Bahkan ketika Devan sudah pulang dari kantornya di malam hari, pikiran Zahwa tetap tertinggal di rumah petak gang sempit itu. Ares belum memberikan kabar sedikit pun.Jarum jam di dinding kamar sudah menunjuk angka sepuluh malam saat Zahwa hendak memejamkan mata, dan mendadak ponselnya di atas nakas berdering panjang.Zahwa tersentak bangun, menyambar ponselnya. Nama Ares terpampang di layar."Halo, Res? Gimana?" cecar Zahwa tanpa membuang waktu. Devan yang tadinya setengah memejamkan mata langsung menegakkan posisi duduknya, memperhatikan istrinya"Mbak... aku udah lihat orangnya. Aku berhasil ambil foto mukanya pas dia baru turun dari taksi dan buka masker." Suara Ares di seberang telepon terdengar agak terengah. "Dan Mbak tahu ternyata siapa?""Siapa, Res?" bisik Zahwa sangat ingin
Zahwa memutuskan untuk tidak pergi sendiri. Selain mengajak Ares, ia juga memboyong Mbok Minah. Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan, Mbok Minah yang duduk di kursi belakang menepuk pundak Zahwa."Non Zahwa, kira-kira siapa ya orang jahat yang tega banget sama usaha kita? Mbok semalam sampai nggak nyenyak tidur gara-gara mikirin kardus returan numpuk gitu."Ares yang fokus mengemudi melirik dari spion tengah. "Aku juga heran, Bu. Kalau pesaing bisnis, rasanya toko kita enggak pernah ada masalah sama UMKM sebelah. Produk kita unik.""Itu dia yang bikin bingung," timpal Zahwa seraya menatap layar ponselnya yang menampilkan alamat hub kurir dari Devan. "Mas Devan juga bilang returan itu kayak sengaja dibikin buat menjatuhkan rating. Tapi kalau bukan pesaing... apa aku ada salah sama orang, ya?""Halah, Non. Non itu orangnya halus, ndak pernah aneh-aneh," sahut Mbok Minah. "Pasti ada orang dengki. Zaman sekarang orang iri ndak butuh alasan logis, Non."A
Devan seketika tertegun. Tak ada keraguan, tak ada nada keberatan, apalagi amarah. Zahwa benar-benar siap mengorbankan impiannya saat itu juga demi menjaga perasaan Devan. Rasa bersalah justru mendadak merayapi dadanya. Ia menghela napas panjang, terkekeh pelan sembari mengacak puncak kepala Zahwa dengan gemas."Aku cuma bercanda, Sayang. Aku enggak serius," bisiknya lembut, merengkuh tangan Zahwa dan mengecup punggung tangannya lama.Zahwa memiringkan kepalanya, sedikit bingung."Aku enggak mungkin tega menyuruh kamu berhenti melakukan hal yang kamu sukai," lanjut Devan. "Aku tahu betapa senangnya kamu waktu bisnis ini mulai berkembang. Aku juga sadar, selama ini kamu sering kali merasa kesepian di rumah waktu aku sibuk kerja. Bisnis ini yang bikin kamu punya kegiatan dan makin berdaya."Devan tersenyum lebar. "Asal kamu tetap tahu batasannya dan selalu terbuka sama aku kayak tadi, aku bakal mendukung apapun yang kamu sukai, Sayang."Mendengar itu, Zahwa mema
"Cukup, Mas Devan, Ares! Berhenti," tegur Zahwa yang membuat Devan dan Ares seketika terdiam dan memalingkan pandangan padanya.Zahwa menarik napas panjang, menatap suaminya dan Ares secara bergantian. "Kalian berdua itu sama-sama berniat baik buat bantu aku dan nyelamatkan toko ini. Jadi tolong, jangan malah bertengkar di saat situasi lagi seperti ini."Zahwa menoleh ke arah Devan terlebih dahulu. "Mas Devan benar. Kita harus tahu siapa pelaku di balik semua ini supaya masalahnya tuntas dan nggak terulang lagi nantinya. Jadi, aku setuju sama rencana Mas Devan buat minta tolong temannya melacak pola si pelaku."Mendengar hal itu, Devan mengangguk setuju dengan rasa puas. Namun, Zahwa segera memutar tubuhnya menghadap Ares. "Tapi, apa yang dibilang Ares juga ada benarnya," lanjutnya. "Ide dari Mas Devan itu pasti butuh waktu, sementara kita harus menyelamatkan operasional toko hari ini juga supaya enggak makin rugi. Jadi, untuk sementara waktu, kita matikan dulu
"Ini kamu ada di rumah, kan, Res? Kalau iya, aku sama Mas Devan ke sana langsung buat mengecek," tanya Zahwa cepat, mengenyahkan rasa gelisahnya."Iya, Mbak. Ini aku baru sampai rumah setelah di-WA sama karyawan toko," balas Ares dari seberang telepon."Baiklah, aku ke sana sekarang, ya.""Iya, Mbak. Hati-hati di jalan."Zahwa pun memutuskan sambungan, lalu menarik napas panjang untuk menetralkan gemuruh di dadanya. Devan yang memperhatikan sejak tadi tak sanggup lagi menahan rasa penasarannya. "Ada apa, Sayang?"Zahwa memutar tubuhnya menghadap Devan. "Ares bilang ada returan paket lagi dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari beberapa akun berbeda. Alasannya sama kayak kemarin. Ares curiga ini bukan sekadar komplain biasa, tapi ada yang sengaja mau jatuhin toko kita."Mendengar hal itu, raut wajah Devan seketika mengeras. Tatapan matanya menajam. "Itu pasti ulah pesaing yang enggak mau tokomu naik," tegasnya. Ia meraih jari Zahwa dan menggenggamnya. "Biar aku bantu hubungi
Sesuai dengan arahan dokter, Devan dan Zahwa langsung mendatangi dua laboratorium dan spesialis rujukan yang ada di satu rumah sakit yang sama. Setelah Devan menyelesaikan prosedur analisis sperma dengan dokter andrologi, mereka melangkah menuju ke ruang praktik Dokter Spesialis Penyakit Dalam untuk mengevaluasi riwayat hipertensi yang diderita devan.Pemeriksaan berlangsung cukup lama. Dokter memeriksa tekanan darah Devan yang rupanya masih bertengger di angka cukup tinggi, lalu memeriksa daftar obat darah tinggi yang rutin dikonsumsi Devan selama ini."Pak Devan, selama ini, apa ada yang sering Bapak rasakan selain sakit kepala? Seperti mual atau batuk-batuk kering?" tanya dokter sembari membetulkan letak kacamatanya.Devan pun teringat dengan tangannya yang tiba-tiba kram dan terkadang mati rasa."Kalau mual kadang-kadang, Dok. Tapi selain itu, saya juga kadang merasakan tangan saya kram secara tiba-tiba bahkan mati rasa selama beberapa saat," keluh Devan yang m
Zahwa merasakan dadanya sesak. Ia meremas flashdisk di tangannya hingga pinggirannya yang tajam melukai telapak tangannya.Valerie yang sejak tadi diam, menyesap minumannya lalu menyandarkan kepala di sandaran sofa dengan anggun. "Sudahlah, jangan bahas itu. Aku nggak keberatan, kok. Bagiku, berad
Zahwa tersentak. Ia segera menyembunyikan ponselnya di balik punggung. "E... Enggak kok, enggak ada apa-apa."Devan melangkahkan kakinya mendekati Zahwa. Ia menarik paksa tangan Zahwa, merebut ponsel dari genggamannya sebelum Zahwa sempat mengunci layar.Mata kehitaman Devan menyapu layar ponsel Z
[Aku minta maaf kalau harus kirim ini, tapi foto ini mulai ramai di media sosial. Bukannya ini suamimu, si Devan?]Zahwa menatap nanar isi pesan yang dikirim oleh sahabatnya, Kinara. Ia menggeser layar ke bawah dan membaca judul dari tautan berita yang terlampir: "Arsitek Muda, Devan Buana Sakti,
"Apa? Devan memintamu mencarikan kado untuk Valerie? Apa dia masih waras?" Zahwa sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar lengkingan suara Kinara."Dan kamu menerima permintaan itu begitu saja?" Suara Kinara terdengar tak terima."Mau bagaimana lagi?" Zahwa menghela napasnya







