Masuk"Cukup, Ryan. Kenapa kamu nggak bisa berhenti bersikap kasar? Apa kamu nggak lihat betapa terlukanya putramu?" teriak Mama dengan marah.Aku kembali tersenyum getir sambil mengusap darah dari hidungku. Aku berdiri dan kembali berbicara."Baiklah, Pa. Aku ini putramu, 'kan? Jadi lakukan apa pun yang kamu mau. Bunuh aku sekarang. Aku sudah lelah menjalani hidup seperti ini," kataku dengan suara yang dipenuhi amarah.Tatapan Papa semakin tajam. Mama menahannya dengan sekuat tenaga ketika dia kembali menerjang ke arahku."Orson, kumohon. Cukup. Kembalilah ke kamarmu. Kita akan bicara lagi setelah kamu sadar," teriak Mama dengan panik."Jangan khawatir, Ma. Aku akan melakukan apa pun yang bisa membuat Papa bahagia. Biarkan dia melakukan apa pun yang dia mau kepadaku. Aku putranya. Dia bisa membunuhku sekarang kalau itu yang dia inginkan," jawabku.Amarah Papa semakin memuncak. Aku berjalan ke arahnya tepat ketika dia berhasil melepaskan diri dari pegangan Mama. Aku merasakan tinjunya mengha
Sudut Pandang Orson:Aku tahu aku sedang mabuk, tetapi aku masih bisa mengendalikan diri. Toleransiku terhadap alkohol cukup tinggi. Aku tidak akan membiarkan diriku dengan mudah dikalahkan olehnya.Karena aku tidak membawa mobil sendiri, aku membiarkan Bradley mengantarku pulang. Mungkin itu memang keputusan terbaik. Kalau tidak, aku mungkin akan melakukan sesuatu yang bodoh. Seperti dikuasai dorongan gelap dan membiarkan diriku tertabrak mobil-mobil yang melaju kencang di jalan.Setelah Bradley menurunkanku, dia segera berpamitan. Mungkin dia menyadari bahwa orang tuaku sedang tidak ingin menerima tamu.Bukan berarti aku menyalahkan mereka. Aku tahu mereka marah besar karena aku tidak kembali menemui Marceline dan menghadiri resepsi.Namun, aku tidak peduli. Mereka memang hanya menginginkan pernikahan itu dariku. Aku tidak mungkin berpura-pura tersenyum dan bersosialisasi dengan sekelompok orang asing ketika rasanya duniaku sedang runtuh.Sakit sekali memikirkan betapa tidak berdayan
Aku mulai merasa kedinginan, jadi aku segera menyelesaikan mandiku. Aku lega karena ternyata sudah tersedia jubah mandi untukku di kamar mandi, jadi aku langsung mengenakannya. Ada juga pengering rambut, jadi aku tidak kesulitan mengeringkan rambut.Aku memutuskan untuk mencuci pakaian yang baru saja kulepas. Aku bahkan lupa membawa pakaian ganti. Bagaimanapun, kepergianku terlalu dramatis sebelumnya. Aku langsung meninggalkan tempat itu setelah pernikahan Orson dan Marceline.Setelah menyelesaikan rutinitas malamku, aku keluar dari kamar mandi dan langsung menuju tempat tidur. Aku menarik selimut tebal hingga menutupi seluruh tubuhku dan membungkus diriku rapat-rapat.Aku tidak membawa pakaian tidur, jadi untuk sementara aku hanya bisa mengenakan jubah mandi ini. Tidak butuh waktu lama sampai rasa kantuk menyeretku ke alam mimpi.....Di vila Keluarga Baskoro.Malam sudah larut. Ryan dan Abigail masih terjaga dan gelisah. Mereka sedang menunggu dua anggota keluarga yang belum juga pul
Sudut Pandang Felicia:Ke mana pun kami pergi, tempat itu benar-benar memancarkan kemewahan. Jelas sekali Dante bukan orang yang bisa diremehkan.Aku berhenti berjalan sejenak ketika kami sampai di depan dua lukisan besar yang dipajang di tengah ruang tamu. Aku langsung menghampirinya untuk melihat lebih dekat."Nona, yang itu adalah Bos Gerard dan yang satunya lagi adalah Nyonya Flora. Beliau adalah ibu Bos Gerard. Kalau nggak salah, beliau meninggal setelah melahirkan Bos Gerard, karena mengalami komplikasi. Lukisan serupa juga dipajang di semua rumah Keluarga Sargio," jelas Lorey sambil menatapku.Aku melihat kekaguman di wajahnya ketika pandangannya bergantian melihatku dan lukisan itu. Aku tidak sanggup menjawab.Mataku terpaku pada wanita di dalam lukisan itu. Aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari wajahnya. Rasanya seperti sedang menatap diriku sendiri di cermin.Kenapa aku sangat mirip dengannya? Apa hubungan kami? Aku merinding.Sepertinya Nyonya Flora masih seusiaku ketika
Tempat itu benar-benar menakjubkan, seperti sesuatu yang hanya ada di dalam mimpi. Seumur hidupku, aku tidak pernah membayangkan ada tempat yang lebih mewah daripada vila Keluarga Baskoro tempat aku dibesarkan.Bahkan dari luar saja, tempat itu sudah begitu megah. Lahannya sangat luas. Meskipun hari sudah malam, seluruh area itu diterangi lampu sehingga menjadi sangat terang.Aku punya firasat bahwa pemilik rumah ini sama sekali tidak mengenal arti kata "hemat". Aku bahkan tidak bisa membayangkan berapa tagihan listrik mereka setiap bulannya."Ini istana? Memangnya ada tempat seperti ini di Philvania?" tanyaku kepada Dante setelah akhirnya tersadar dari kekagumanku.Kebingunganku justru semakin bertambah ketika beberapa pelayan muncul satu per satu. Begitu sampai di hadapan kami, mereka membungkuk dan menyapa kami secara serempak."Selamat datang kembali, Tuan," ucap mereka bersamaan.Aku menatap wajah Dante yang serius. Di sini mereka memanggilnya "Tuan"? Bukan "Pak" atau "Bos"? Seper
Sudut Pandang Felicia:Aku memperhatikan pria yang baru saja masuk. Jelas dia juga seorang dokter. Dia tersenyum saat menghampiri Dante lalu menjabat tangannya."Lama nggak ketemu, Sobat. Akhirnya kamu muncul juga," katanya begitu saja.Dante membalas dengan senyum tipis sebelum melirik ke arahku."Dokter Devon Sargio. Ini Felicia. Aku memercayakan pengambilan sampel DNA-nya kepadamu," katanya kepada pria itu.Aku menatap Dokter Devon, lalu membalasnya dengan senyum tipis."Wah, akhirnya kamu menemukannya. Selamat," jawabnya.Aku benar-benar kebingungan, bergantian menatap mereka berdua.Memangnya apa istimewanya aku? Mereka menemukanku? Untuk apa?Ini benar-benar membuat frustrasi. Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua misteri ini."Aku butuh hasilnya secepat mungkin. Aku harus segera kembali ke Nestergrand. Masih ada urusan penting yang menungguku di sana sebelum aku kembali lagi ke Philvania. Setelah itu semuanya akan kembali seperti semula," kata Dante."Tenang saja. Aku yang aka







