LOGINSudut Pandang Abigail:"Dasar binatang!" Aku tidak bisa menahan diri untuk berteriak.Aku mendorong pintu hingga terbuka lebih lebar dan menerobos masuk. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu kecil, tetapi kegelapan tidak bisa menyembunyikan dua orang yang mati-matian mencoba menutupi tubuh telanjang mereka."Sudah berapa lama? Sudah berapa lama kalian mempermainkanku?" tanyaku dengan lemah sambil terisak.Aku kesulitan bernapas. Dadaku terasa seperti runtuh. Seluruh duniaku hancur dalam sekejap. Hatiku tidak sanggup menerima apa yang baru saja kulihat."Abigail ... tolong ... biarkan aku jelaskan .... Aku ...." Ryan mulai berbicara, tetapi aku menyelanya dengan teriakan keras. Aku perlu meluapkan semua rasa sakit yang menumpuk di dalam diriku."Ahhhh! Kalian binatang! Kalian berdua nggak tahu malu!" teriakku sambil menerjang ke arah ranjang tempat Nelly duduk.Aku menarik rambut adikku yang terkejut. Dia masih memegang selimut untuk menutupi tubuhnya. Dia menjerit kesakitan dan berus
"Nggak, Bu .... Kamu hanya sakit, tapi kecantikanmu nggak memudar. Ya, kamu menjadi lebih kurus, lebih pucat ... tapi kamu masih Bu Baskoro yang punya hati tulus, yang selalu diperhatikan oleh Dokter Liam," jawab Rosa.Aku langsung menitikkan air mata. Aku seharusnya tidak pernah percaya pada Ryan lagi. Aku seharusnya tidak pernah memercayai janji-janji dia. Aku seharusnya tidak membiarkan diriku terluka seperti ini.Mungkin sulit untuk mati saat masih diliputi kesedihan. Aku bahkan mungkin tidak bisa masuk surga dengan semua urusan yang belum selesai ini. Apa penyakit ini semacam berkah yang aneh, yang menunjukkan padaku betapa dangkalnya cinta suamiku sebenarnya?Dia bahkan tidak bisa merawatku saat aku sakit. Dia mengabaikanku dan pergi bersenang-senang dengan adikku."Apa Liam bilang dia akan datang lagi? Aku sudah beberapa hari ini nggak melihatnya," kataku."Dia sering menjengukmu, Bu. Tapi kamu selalu tertidur dan dia nggak ingin mengganggumu," jawabnya.Aku tersenyum pahit."Be
"Tadi kamu kasih aku obat apa? Kenapa aku langsung merasa ngantuk setiap kali Nelly yang kasih aku obat?" tanyaku.Rosa terlihat terkejut sebelum menjawab, "Itu obat yang diresepkan Dokter Liam. Apa ada obat lain yang dia kasih? Kamu ingat?"Aku menggeleng. "Aku nggak terlalu memperhatikan. Karena aku percaya padanya, aku minum apa pun yang dia berikan. Katakan padaku ... apa aku sedang dibunuh perlahan oleh adikku sendiri?" tanyaku.Rosa terdiam sejenak, berpikir dengan serius. "Kamu seharusnya nggak merasa ngantuk karena obat yang dokter kasih. Obat itu seharusnya membuatmu lebih kuat. Apa kamu jadi semakin lemah karena minum obat yang bukan diresepkan oleh dokter?" tanyanya.Aku tidak bisa menjawab. Air mataku terus mengalir."Kamu harus kembali ke kamarmu dan istirahat. Berhenti nangis dulu, Bu. Jangan khawatir .... Aku akan sampaikan ini ke Dokter Liam. Dia satu-satunya yang mungkin bisa membantumu dengan kondisimu," katanya sambil mendorong kursi roda kembali ke dalam.Kami langs
Sudut Pandang Abigail:"Sejak kapan? Sejak kapan mereka bisa sebahagia itu, sementara aku berjuang untuk hidupku dengan menderita?" bisikku. Rosa mengusap punggungku, mencoba menenangkanku.Untung saja kami berada di bagian taman yang tersembunyi ini, di mana tidak ada yang bisa melihat kami. Aku bisa meluapkan semua perasaanku dengan bebas.Aku menutup mata, tetapi aku tidak bisa menghapus suara tawa bahagia orang-orang yang kucintai dari arah kolam. Aku merasa tanggung jawab yang seharusnya kupegang perlahan-lahan berpindah ke tangan Nelly. Aku tidak tahu kenapa, tetapi melihat kedekatannya dengan suami dan anakku membuat hatiku sangat sakit."Maaf, Bu. Aku tahu cepat atau lambat kamu akan mengetahuinya," kata Rosa pelan.Aku menatapnya. "Sudah berapa lama? Kamu sudah tahu ini sejak lama?" tanyaku.Dia mengangguk dengan sedih. "Ya ... aku sudah beberapa kali melihat betapa dekatnya Pak Ryan dengan adikmu. Awalnya aku pikir itu wajar antara keluarga, bahwa mereka hanya bersikap baik s
"Abigail, gimana kondisimu? Syukurlah kamu sudah bangun," kata Ryan begitu mendekatiku. Dia menatap wajahku dan tersenyum."Apa yang terjadi? Aku ingat tadi aku tertidur, tapi aku bangun dengan masker oksigen dan infus lagi," jawabku dengan lemah.Dia terdiam sejenak sebelum berbicara, "Kamu sudah tertidur hampir dua hari. Kamu mengigau karena demam yang sangat tinggi. Untung Liam datang dan menyadari kondisimu, jadi kamu langsung mendapatkan perawatan.""Apa yang terjadi? Bukannya aku sudah bilang tekan tombol di samping tempat tidurmu kalau kamu merasa nggak enak badan?" katanya panjang lebar.Aku menunduk. "Maaf. Aku baik-baik saja sebelum tertidur. Aku nggak sadar kalau aku demam saat aku tidur."Dia menghela napas berat dan berjalan ke arah tempat tidurnya. "Kamu perlu ke kamar mandi? Lapar nggak?" tanyanya.Aku merasa malu saat melirik jam. Sudah hampir tengah malam, tetapi Ryan masih terjaga untuk merawatku."Aku nggak apa-apa, Ryan. Aku pakai popok. Aku juga nggak lapar. Sudah
Sudut Pandang Abigail:Hari-hari berlalu dengan cepat. Pemantauan dokter terhadap penyakitku terus berjalan. Tubuhku perlahan semakin melemah. Namun, karena perhatian dan kepedulian orang-orang di sekitarku, aku terus berjuang dan berusaha tetap kuat."Kak, apa yang kamu rasakan sekarang? Di luar mulai panas. Kamu mau masuk dan istirahat?" tanya Nelly. Dia sempat meninggalkanku di luar untuk berjemur, sementara dia mengurus Orson.Aku menatap wajah cantiknya sebelum membalas, "Gimana dengan Orson? Dia sudah makan?"Nelly mengangguk sambil tersenyum. "Sudah, kami makan bareng tadi. Nenek Amara masih belum keluar dari kamarnya. Katanya lututnya sakit, jadi Lola yang antar makanannya ke atas."Dia menyebut salah satu asisten rumah tangga. Aku mengangguk dan menatap ke kejauhan."Aku bahkan nggak sadar Ryan pergi tadi. Aku tidur terlalu nyenyak. Nelly, menurutmu aku nggak adil padanya nggak? Maksudku, aku sudah nggak bisa merawatnya lagi. Kami hampir nggak pernah ngobrol karena setiap kali
Kami hampir punya segalanya ... punya anak bersama dan menjadi keluarga sungguhan. Lalu dalam satu momen yang menyakitkan, semua itu hancur begitu saja.Aku tidak pernah membayangkan rasa sakit seperti ini. Ada kekosongan yang menganga, membuat segalanya terasa tidak berarti. Hilangnya Abigail menan
Tujuh tahun kemudian.Sudut Pandang Ryan:Tujuh tahun berlalu begitu saja, tetapi kekosongan di dadaku tetap terasa dan tidak pernah benar-benar hilang. Aku tidak pernah membayangkan bisa menjalani hidup tanpa Abigail di dalamnya.Sudah sejak lama aku menerima kenyataan pahit itu. Aku terlambat meny
Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, tetapi tiba-tiba rasa panas yang meluap memenuhi tubuhku. Padahal AC menyala dingin, aku justru seperti terbakar.Ciuman itu seperti candu, dan aku mendapati diriku mengikuti ritme bibirnya, tenggelam dalam sensasinya. Waktu seakan-akan tidak berarti. Aku b
"Astaga! Leah, kamu ngapain? Lepasin dia sekarang juga!"Suara Arthur yang menggelegar memotong kekacauan itu. Leah yang berada di atas tubuhku mendadak ditarik menjauh. Aku langsung bangkit duduk, terengah-engah, dan melihat Arthur berdiri menatap kami, wajahnya penuh amarah."Apa yang terjadi? Ken







