Share

Bab 26

Penulis: Wei Yun
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-22 09:59:59

Cahaya pagi menyusup melalui jendela Paviliun Utama, menimpa meja makan berukir naga emas. Aroma bubur hangat dan teh memenuhi udara. Di seberang meja, Nyonya Besar Han menatap putranya dengan senyum samar.

Han Feng tampak tenang seperti biasanya, namun ada sesuatu yang berbeda pagi itu. Ia makan perlahan, tanpa selera, dan sesekali melirik kursi di sampingnya, kursi yang memang sejak dulu selalu kosong. Entah mengapa, kali ini ada perasaan aneh di dadanya. Kursi itu seolah menunggu seseorang.

Saat berjalan menuju paviliun utama tadi pagi, ia sempat mencuri pandang ke arah sayap timur, tempat Bai Xiang tinggal. Pintu dan jendelanya masih tertutup rapat. Masih tidurkah gadis itu? pikirnya tanpa sadar. Tapi kemudian ia segera menepis pikiran itu.

Nyonya Han menyendok sup dengan tenang, seakan tahu apa yang berkecamuk di kepala anaknya. “Bai Xiang sudah berangkat sejak pagi,” katanya tiba-tiba. “Sepupumu Mei Mei memintanya menemani pergi ke suatu tempat.”

Han Feng berhenti mengunyah, la
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 142

    Lembah kabut yang menyelimuti Paviliun Teratai Hitam seolah menjadi tirai alami yang sengaja diciptakan oleh semesta untuk menyembunyikan noda paling kelam di jantung Kekaisaran. Di dalam bangunan yang tersembunyi jauh dari pengawasan istana maupun telinga-telinga prajurit patroli itu, udara terasa begitu kental. Wangi dupa gaharu yang memabukkan memenuhi setiap sudut ruangan, bercampur dengan aroma gairah yang panas, keringat yang menyengat, dan hawa ambisi yang membakar.​Di balik tirai sutra merah darah yang menjuntai rendah dari langit-langit, suara derit ranjang kayu cendana bersahutan dengan napas yang memburu secara tidak beraturan. Selir Agung Wu Fei Xia, tengah berada dalam puncak pergulatan asmara yang liar dan penuh dosa. Menteri Militer Cao Bing, dengan tubuh kekar yang dipenuhi bekas luka parut akibat puluhan peperangan, menghujamkan gairahnya tanpa ampun, seolah-olah sedang menaklukkan wilayah musuh.​"Nghhh ... Cao Bing ... ahh! Lebih keras ... kumohon," Fei Xia menge

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 141

    Sinar matahari pagi yang pucat menembus jendela kecil berjeruji kayu di Biara Jingxin. Wen Mei mengerang, kelopak matanya terasa berat saat ia mencoba membukanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit yang menusuk di tengkuknya, sisa dari pukulan keras pengawal ibunya. ​Ia meraba permukaan tempat tidur yang kasar. Ini bukan ranjang sutranya di Paviliun Giok. Ia segera terduduk, menatap sekeliling ruangan yang hanya berisi sebuah meja kayu kecil, satu lampion minyak, dan dinding batu yang dingin. ​"Di mana aku?" bisiknya dengan suara serak. ​Ingatan itu menghantamnya seperti ombak yang dahsyat. Bayangan Yu Liang yang berdarah, wajah angkuh ibunya, dan jeritannya yang terputus. "Yu Liang ...," rintihnya. Air mata mulai mengalir deras, "Yu Liang, maafkan aku ... Yu Liang!" ​Pintu kayu berderit terbuka. Seorang wanita paruh baya berpakaian biksuni abu-abu masuk membawa nampan berisi bubur encer dan teh pahit. Ia menatap Wen Mei dengan tatapan iba namun tegas. ​"Amitabha ... K

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 140

    Gema langkah kaki Bai Xiang di lorong penjara militer yang dingin. Suara itu memantul di dinding-dinding batu yang lembap.​Begitu sampai di depan sel yang lembap dan berbau anyir darah, mata Bai Xiang membelalak lebar.Pemandangan di hadapannya seolah menghentikan aliran darah di tubuhnya. Tali-tali tambang yang kasar, yang selama berjam-jam telah mengikat pergelangan tangan Han Feng pada balok kayu, baru saja dilepaskan oleh para algojo. Tindakan itu dilakukan segera setelah dekret lisan dari Kaisar sampai ke telinga kepala penjara. Tubuh Han Feng yang dulu bagaikan karang yang tak tergoyahkan, kini jatuh terkulai ke lantai batu yang dingin.​Bruk!!​Suara benturan tubuh itu menghantam ulu hati Bai Xiang dengan telak. Seketika, dinding ingatannya yang selama ini tertutup kabur seolah runtuh total. Bayangan masa lalu membanjiri benaknya secara bertubi-tubi tanpa bisa dicegah. Ia teringat sebuah sore yang indah di kediaman mereka yang dulu, jauh sebelum badai fitnah ini meluluhlantakk

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 139

    Langkah kaki Permaisuri Yuan Hua yang dibalut sepatu sutra berhias emas berdentam keras di atas lantai kayu, terdengar seperti lonceng kematian yang menggema ke seluruh koridor menuju paviliun Giok. Di dalam kamar utama, Zhu Yu Liang terbaring tak berdaya di atas ranjang Wen Mei. Kesadarannya timbul tenggelam akibat luka-luka parah yang dideritanya. Namun, rasa sakit yang menusuk-nusuk di sekujur tubuhnya memaksa matanya terbuka sedikit, tepat saat daun pintu kamar didobrak paksa hingga menghantam dinding.​"Seret tikus kotor ini keluar dari sini sekarang juga!" perintah Permaisuri dengan suara melengking. Tatapannya tertuju pada sosok Yu Liang dengan kejijikan yang tak ditutup-tutupi.​Dua pengawal bertubuh besar dan tegap maju tanpa keraguan sedikit pun. Tanpa belas kasihan, mereka menarik kerah baju Yu Liang yang dipenuhi oleh darah kering dan segar, lalu menyeretnya turun secara kasar dari ranjang sutra milik Wen Mei. Yu Liang mengerang kesakitan yang luar biasa; tubuhnya yang d

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 138

    Langkah kaki Wen Mei terasa berat, napasnya tersengal seiring dengan beban tubuh Zhu Yu Liang yang bertumpu pada bahunya. Darah yang terus merembes dari luka-luka di tubuh sang Panglima kini telah mewarnai jubah sutra birunya menjadi kemerahan yang pekat. Di sisi lain, Bai Xiang menyangga tubuh Yu Liang dengan kekuatan yang luar biasa tenang, seolah berat laki-laki itu tidak berarti baginya. ​Setibanya di gerbang Paviliun Giok, para dayang yang sudah menunggu gempar. Mereka menjerit kecil melihat kondisi Panglima Mingyue yang mengenaskan. ​"Tuan Putri! Apa yang terjadi?" seru seorang dayang senior, hendak mendekat dengan panik. ​"Berhenti di sana!" perintah Wen Mei dengan suara yang gemetar namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan. "Jangan ada satu pun dari kalian yang berani masuk ke dalam paviliun tanpa izinku. Cukup siapkan air hangat dalam baskom besar dan kain bersih. Letakkan di depan pintu dan segera pergi!" ​"Tapi, Tuan Putri, luka itu—" ​"Lakukan saja!" bentak Wen

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 137

    Lantai kereta yang bersimbah darah itu menjadi saksi bisu transformasi yang mengerikan sekaligus menakjubkan. Sosok yang semula adalah Li Hua, kini perlahan bangkit. Rambutnya yang seputih salju jatuh menjuntai, menutupi wajahnya yang pucat pasi. Matanya yang kini berwarna perak jernih menatap sekeliling dengan dingin, namun ada kecerdasan tajam yang berkilat di sana.​Ia menemukan secarik kertas yang digenggamnya erat. Dengan jemari yang gemetar namun pasti, ia membacanya dalam diam.​Jika kau membaca ini, berarti aku, Li Hua, telah pergi dan kau telah kembali. Aku adalah masa lalumu dan kau adalah aku yang sesungguhnya, Bai Xiang. Suamimu, Han Feng, sedang sekarat di penjara militer atas fitnah keji. Kita harus sampai ke ibukota. Selamatkan dia, selamatkan harga diri kita.​Bai Xiang meremas kertas itu hingga hancur. Ingatan masa lalu menghujam kepalanya seperti ribuan jarum, namun ia tidak punya waktu untuk mengaduh. Di luar, suara denting logam dan rintihan kesakitan memanggil ins

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status