LOGINPintu besar Aula Sidang Militer terbuka dengan dentuman berat. Di bawah pengawalan ketat dua faksi pasukan —Longyan dan Mingyue—seorang pria paruh baya melangkah masuk. Ia mengenakan apron kulit tebal yang kusam namun bersih dari noda baru. Namanya adalah Liu Ban, seorang jagal senior dari pasar pusat. Berbeda dengan rakyat jelata pada umumnya yang akan gemetar ketakutan menginjakkan kaki di lantai marmer istana, Liu Ban berjalan dengan punggung tegak. Langkahnya mantap, mencerminkan bertahun-tahun pengalaman menghadapi maut di tempat pemotongan. Sesampainya di hadapan takhta, ia berlutut dengan khidmat dan memberikan hormat yang sempurna kepada Kaisar. "Rakyat jelata Liu Ban hormat di hadapan Baginda Kaisar yang mulia," ucapnya dengan suara berat dan tenang. Kaisar mengangguk kecil, terkesan dengan ketenangan pria itu. Hakim Agung kemudian maju satu langkah, menatap Liu Ban dengan tajam. "Liu Ban, sebelum pengadilan ini meminta keahlianmu, aku harus bertanya," ujar Hakim Agun
Aula Sidang Militer pagi itu diselimuti oleh kabut ketegangan yang begitu pekat, seolah udara pun enggan mengalir. Di tengah ruangan yang luas dan megah, Jenderal Han Feng bersimpuh dengan posisi yang sangat tegak di atas lututnya. Meski tubuhnya dibebani rantai besi yang berat—yang bergemerincing tajam setiap kali ia menarik napas—dan punggungnya masih terasa panas akibat luka cambuk yang belum kering, sorot matanya tetap tajam, tidak menunjukkan tanda-tanda pria yang sudah menyerah. Kaisar duduk di takhta emas dengan ekspresi yang sulit dibaca, sementara Permaisuri Yuan Hua di sampingnya sesekali mengipas wajahnya, menyembunyikan senyum sinis. Di barisan menteri, Cao Bing tampak gelisah, sesekali memperbaiki posisi duduknya sambil melirik ke arah tirai tempat Selir Agung Wu bersembunyi. "Jenderal Han Feng," suara Hakim Agung bergetar, berusaha menguasai otoritas di tengah aura sang Panglima yang menekan. "Garis besar dakwaan sudah dibacakan. Sekarang, jelaskan versi Anda menge
Lembah kabut yang menyelimuti Paviliun Teratai Hitam seolah menjadi tirai alami yang sengaja diciptakan oleh semesta untuk menyembunyikan noda paling kelam di jantung Kekaisaran. Di dalam bangunan yang tersembunyi jauh dari pengawasan istana maupun telinga-telinga prajurit patroli itu, udara terasa begitu kental. Wangi dupa gaharu yang memabukkan memenuhi setiap sudut ruangan, bercampur dengan aroma gairah yang panas, keringat yang menyengat, dan hawa ambisi yang membakar.Di balik tirai sutra merah darah yang menjuntai rendah dari langit-langit, suara derit ranjang kayu cendana bersahutan dengan napas yang memburu secara tidak beraturan. Selir Agung Wu Fei Xia, tengah berada dalam puncak pergulatan asmara yang liar dan penuh dosa. Menteri Militer Cao Bing, dengan tubuh kekar yang dipenuhi bekas luka parut akibat puluhan peperangan, menghujamkan gairahnya tanpa ampun, seolah-olah sedang menaklukkan wilayah musuh."Nghhh ... Cao Bing ... ahh! Lebih keras ... kumohon," Fei Xia menge
Sinar matahari pagi yang pucat menembus jendela kecil berjeruji kayu di Biara Jingxin. Wen Mei mengerang, kelopak matanya terasa berat saat ia mencoba membukanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit yang menusuk di tengkuknya, sisa dari pukulan keras pengawal ibunya. Ia meraba permukaan tempat tidur yang kasar. Ini bukan ranjang sutranya di Paviliun Giok. Ia segera terduduk, menatap sekeliling ruangan yang hanya berisi sebuah meja kayu kecil, satu lampion minyak, dan dinding batu yang dingin. "Di mana aku?" bisiknya dengan suara serak. Ingatan itu menghantamnya seperti ombak yang dahsyat. Bayangan Yu Liang yang berdarah, wajah angkuh ibunya, dan jeritannya yang terputus. "Yu Liang ...," rintihnya. Air mata mulai mengalir deras, "Yu Liang, maafkan aku ... Yu Liang!" Pintu kayu berderit terbuka. Seorang wanita paruh baya berpakaian biksuni abu-abu masuk membawa nampan berisi bubur encer dan teh pahit. Ia menatap Wen Mei dengan tatapan iba namun tegas. "Amitabha ... K
Gema langkah kaki Bai Xiang di lorong penjara militer yang dingin. Suara itu memantul di dinding-dinding batu yang lembap.Begitu sampai di depan sel yang lembap dan berbau anyir darah, mata Bai Xiang membelalak lebar.Pemandangan di hadapannya seolah menghentikan aliran darah di tubuhnya. Tali-tali tambang yang kasar, yang selama berjam-jam telah mengikat pergelangan tangan Han Feng pada balok kayu, baru saja dilepaskan oleh para algojo. Tindakan itu dilakukan segera setelah dekret lisan dari Kaisar sampai ke telinga kepala penjara. Tubuh Han Feng yang dulu bagaikan karang yang tak tergoyahkan, kini jatuh terkulai ke lantai batu yang dingin.Bruk!!Suara benturan tubuh itu menghantam ulu hati Bai Xiang dengan telak. Seketika, dinding ingatannya yang selama ini tertutup kabur seolah runtuh total. Bayangan masa lalu membanjiri benaknya secara bertubi-tubi tanpa bisa dicegah. Ia teringat sebuah sore yang indah di kediaman mereka yang dulu, jauh sebelum badai fitnah ini meluluhlantakk
Langkah kaki Permaisuri Yuan Hua yang dibalut sepatu sutra berhias emas berdentam keras di atas lantai kayu, terdengar seperti lonceng kematian yang menggema ke seluruh koridor menuju paviliun Giok. Di dalam kamar utama, Zhu Yu Liang terbaring tak berdaya di atas ranjang Wen Mei. Kesadarannya timbul tenggelam akibat luka-luka parah yang dideritanya. Namun, rasa sakit yang menusuk-nusuk di sekujur tubuhnya memaksa matanya terbuka sedikit, tepat saat daun pintu kamar didobrak paksa hingga menghantam dinding."Seret tikus kotor ini keluar dari sini sekarang juga!" perintah Permaisuri dengan suara melengking. Tatapannya tertuju pada sosok Yu Liang dengan kejijikan yang tak ditutup-tutupi.Dua pengawal bertubuh besar dan tegap maju tanpa keraguan sedikit pun. Tanpa belas kasihan, mereka menarik kerah baju Yu Liang yang dipenuhi oleh darah kering dan segar, lalu menyeretnya turun secara kasar dari ranjang sutra milik Wen Mei. Yu Liang mengerang kesakitan yang luar biasa; tubuhnya yang d







