Share

Bab 28

Author: Wei Yun
last update Last Updated: 2025-10-23 09:55:30

Semua kepala serempak menoleh ke arah pintu besar aula istana ketika suara lantang itu terdengar. Dari ambang pintu, dua sosok perempuan berjalan masuk dengan langkah anggun namun penuh wibawa.

Selir Agung Wu Fei Xia, wanita paling berpengaruh di istana, berdiri di depan dengan wajah sedingin batu giok. Di belakangnya, keponakannya, Putri Rou Nan berjalan anggun dengan tatapan tajam yang tak kalah menusuk.

Keduanya memberi hormat kepada Kaisar, lalu Selir Wu berbicara dengan suara tenang namun penuh tekanan.

“Yang Mulia,” ujarnya datar, “bukankah engkau telah menjanjikan pernikahan Rou Nan dengan Jenderal Han Feng kepada keluarga kami? Apakah kini janji itu dilupakan begitu saja? Atau perlu aku mengingatkannya kembali di depan seluruh istana?”

Kaisar menatapnya lama. Keheningan membungkus aula. Semua tahu, Keluarga Wu saat ini adalah keluarga bangsawan paling berpengaruh di seluruh Negeri Xia. Dulu, ketika Kaisar menjadikan Wu Fei Xia sebagai selir, keluarga itu hanyalah sekutu politi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 144

    Pintu besar Aula Sidang Militer terbuka dengan dentuman berat. Di bawah pengawalan ketat dua faksi pasukan —Longyan dan Mingyue—seorang pria paruh baya melangkah masuk. Ia mengenakan apron kulit tebal yang kusam namun bersih dari noda baru. Namanya adalah Liu Ban, seorang jagal senior dari pasar pusat. ​Berbeda dengan rakyat jelata pada umumnya yang akan gemetar ketakutan menginjakkan kaki di lantai marmer istana, Liu Ban berjalan dengan punggung tegak. Langkahnya mantap, mencerminkan bertahun-tahun pengalaman menghadapi maut di tempat pemotongan. Sesampainya di hadapan takhta, ia berlutut dengan khidmat dan memberikan hormat yang sempurna kepada Kaisar. ​"Rakyat jelata Liu Ban hormat di hadapan Baginda Kaisar yang mulia," ucapnya dengan suara berat dan tenang. ​Kaisar mengangguk kecil, terkesan dengan ketenangan pria itu. Hakim Agung kemudian maju satu langkah, menatap Liu Ban dengan tajam. ​"Liu Ban, sebelum pengadilan ini meminta keahlianmu, aku harus bertanya," ujar Hakim Agun

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 143

    Aula Sidang Militer pagi itu diselimuti oleh kabut ketegangan yang begitu pekat, seolah udara pun enggan mengalir. Di tengah ruangan yang luas dan megah, Jenderal Han Feng bersimpuh dengan posisi yang sangat tegak di atas lututnya. Meski tubuhnya dibebani rantai besi yang berat—yang bergemerincing tajam setiap kali ia menarik napas—dan punggungnya masih terasa panas akibat luka cambuk yang belum kering, sorot matanya tetap tajam, tidak menunjukkan tanda-tanda pria yang sudah menyerah. ​Kaisar duduk di takhta emas dengan ekspresi yang sulit dibaca, sementara Permaisuri Yuan Hua di sampingnya sesekali mengipas wajahnya, menyembunyikan senyum sinis. Di barisan menteri, Cao Bing tampak gelisah, sesekali memperbaiki posisi duduknya sambil melirik ke arah tirai tempat Selir Agung Wu bersembunyi. ​"Jenderal Han Feng," suara Hakim Agung bergetar, berusaha menguasai otoritas di tengah aura sang Panglima yang menekan. "Garis besar dakwaan sudah dibacakan. Sekarang, jelaskan versi Anda menge

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 142

    Lembah kabut yang menyelimuti Paviliun Teratai Hitam seolah menjadi tirai alami yang sengaja diciptakan oleh semesta untuk menyembunyikan noda paling kelam di jantung Kekaisaran. Di dalam bangunan yang tersembunyi jauh dari pengawasan istana maupun telinga-telinga prajurit patroli itu, udara terasa begitu kental. Wangi dupa gaharu yang memabukkan memenuhi setiap sudut ruangan, bercampur dengan aroma gairah yang panas, keringat yang menyengat, dan hawa ambisi yang membakar.​Di balik tirai sutra merah darah yang menjuntai rendah dari langit-langit, suara derit ranjang kayu cendana bersahutan dengan napas yang memburu secara tidak beraturan. Selir Agung Wu Fei Xia, tengah berada dalam puncak pergulatan asmara yang liar dan penuh dosa. Menteri Militer Cao Bing, dengan tubuh kekar yang dipenuhi bekas luka parut akibat puluhan peperangan, menghujamkan gairahnya tanpa ampun, seolah-olah sedang menaklukkan wilayah musuh.​"Nghhh ... Cao Bing ... ahh! Lebih keras ... kumohon," Fei Xia menge

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 141

    Sinar matahari pagi yang pucat menembus jendela kecil berjeruji kayu di Biara Jingxin. Wen Mei mengerang, kelopak matanya terasa berat saat ia mencoba membukanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit yang menusuk di tengkuknya, sisa dari pukulan keras pengawal ibunya. ​Ia meraba permukaan tempat tidur yang kasar. Ini bukan ranjang sutranya di Paviliun Giok. Ia segera terduduk, menatap sekeliling ruangan yang hanya berisi sebuah meja kayu kecil, satu lampion minyak, dan dinding batu yang dingin. ​"Di mana aku?" bisiknya dengan suara serak. ​Ingatan itu menghantamnya seperti ombak yang dahsyat. Bayangan Yu Liang yang berdarah, wajah angkuh ibunya, dan jeritannya yang terputus. "Yu Liang ...," rintihnya. Air mata mulai mengalir deras, "Yu Liang, maafkan aku ... Yu Liang!" ​Pintu kayu berderit terbuka. Seorang wanita paruh baya berpakaian biksuni abu-abu masuk membawa nampan berisi bubur encer dan teh pahit. Ia menatap Wen Mei dengan tatapan iba namun tegas. ​"Amitabha ... K

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 140

    Gema langkah kaki Bai Xiang di lorong penjara militer yang dingin. Suara itu memantul di dinding-dinding batu yang lembap.​Begitu sampai di depan sel yang lembap dan berbau anyir darah, mata Bai Xiang membelalak lebar.Pemandangan di hadapannya seolah menghentikan aliran darah di tubuhnya. Tali-tali tambang yang kasar, yang selama berjam-jam telah mengikat pergelangan tangan Han Feng pada balok kayu, baru saja dilepaskan oleh para algojo. Tindakan itu dilakukan segera setelah dekret lisan dari Kaisar sampai ke telinga kepala penjara. Tubuh Han Feng yang dulu bagaikan karang yang tak tergoyahkan, kini jatuh terkulai ke lantai batu yang dingin.​Bruk!!​Suara benturan tubuh itu menghantam ulu hati Bai Xiang dengan telak. Seketika, dinding ingatannya yang selama ini tertutup kabur seolah runtuh total. Bayangan masa lalu membanjiri benaknya secara bertubi-tubi tanpa bisa dicegah. Ia teringat sebuah sore yang indah di kediaman mereka yang dulu, jauh sebelum badai fitnah ini meluluhlantakk

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 139

    Langkah kaki Permaisuri Yuan Hua yang dibalut sepatu sutra berhias emas berdentam keras di atas lantai kayu, terdengar seperti lonceng kematian yang menggema ke seluruh koridor menuju paviliun Giok. Di dalam kamar utama, Zhu Yu Liang terbaring tak berdaya di atas ranjang Wen Mei. Kesadarannya timbul tenggelam akibat luka-luka parah yang dideritanya. Namun, rasa sakit yang menusuk-nusuk di sekujur tubuhnya memaksa matanya terbuka sedikit, tepat saat daun pintu kamar didobrak paksa hingga menghantam dinding.​"Seret tikus kotor ini keluar dari sini sekarang juga!" perintah Permaisuri dengan suara melengking. Tatapannya tertuju pada sosok Yu Liang dengan kejijikan yang tak ditutup-tutupi.​Dua pengawal bertubuh besar dan tegap maju tanpa keraguan sedikit pun. Tanpa belas kasihan, mereka menarik kerah baju Yu Liang yang dipenuhi oleh darah kering dan segar, lalu menyeretnya turun secara kasar dari ranjang sutra milik Wen Mei. Yu Liang mengerang kesakitan yang luar biasa; tubuhnya yang d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status