MasukMata Bai Xiang menyipit tajam. Sebuah kereta kuda kayu yang tampak kokoh kini terhenti paksa, dikelilingi oleh tiga gerobak besar yang sarat dengan karung-karung goni. Di sekelilingnya, lebih dari dua puluh orang bandit gunung dengan wajah-wajah kasar dan penuh seringai mengepung tanpa celah.
Empat orang pengawal berseragam lusuh sudah menyerah berlutut di atas tanah. Fokus Bai Xiang tertuju pada dua sosok di dekat pintu kereta. Mereka mengenakan pakaian lelaki yang kasar dan kotor, namun mata Bai Xiang tidak bisa ditipu. Gestur tubuh mereka yang ringkih dan garis rahang yang lembut menunjukkan bahwa mereka adalah perempuan yang sedang melakukan penyamaran. Sebilah golok menempel erat di leher masing-masing perempuan itu. Salah satu dari mereka, yang memiliki sepasang mata bulat penuh keberanian meski tubuhnya gemetar, berteriak dengan suara melengking. "Jangan berani kalian menyentuh barang-barang ini! Semua ini adalah bahan pangan untuk penduduk Desa Nanjue yang sedang sekarat! Jika kalian tetap nekat, Pasukan Istana tidak akan tinggal diam dan akan menghabisi kalian hingga ke akar-akarnya!" Tawa menggelegar memecah keheningan hutan. Seorang bandit bertubuh raksasa maju selangkah sambil meludah. "Pasukan Istana? Hahaha! Dengar itu, kawan-kawan! Perempuan tolol ini mengancam kita dengan nama Kaisar!" serunya, disambut gelak tawa gerombolannya. "Desa Nanjue itu jauh di pelosok. Siapa yang peduli? Di sini, kamilah rajanya. Kami tidak takut pada siapa pun, apalagi pada gertakan seorang gadis kecil sepertimu!" Bai Xiang merasakan darahnya berdesir hebat. Amarahnya memuncak saat melihat karung-karung bantuan untuk rakyat yang menderita itu hendak dijarah. "Sampah tetaplah sampah," desis Bai Xiang. Ia menyentakkan tali kekang Hei Yun. Kuda hitam itu meringkik nyaring, seolah memahami kemarahan tuannya. Tanpa peringatan, Bai Xiang memacu Hei Yun menembus semak-semak, meluncur seperti anak panah hitam yang dilepaskan dari busurnya. "Berhenti, kalian sampah kotor!" teriak Bai Xiang menggelegar. Para bandit tersentak. Sebelum mereka sempat menyadari apa yang terjadi, Bai Xiang sudah melompat dari punggung kuda yang sedang berlari. Pedangnya ditarik dari sarung dengan suara denting logam yang jernih, memantulkan cahaya matahari yang menerobos celah daun. "Siapa kau?! Cari mati?!" bentak sang kepala bandit sembari mengayunkan gada besinya. Bai Xiang tidak membuang napas untuk menjawab. Ia merendahkan tubuhnya, menghindari ayunan gada yang membelah angin tepat di atas kepalanya. Dengan satu putaran tumit, ia menyabetkan pedangnya secara horizontal. Srat! Dua bandit yang berada paling dekat roboh dengan urat nadi di kaki mereka terputus. "Kepung dia! Dia hanya seorang diri!" perintah si kepala bandit geram. Dua belas orang bandit serentak merangsek maju. Tombak dan golok datang dari berbagai arah. Bai Xiang berputar bak gasing, pedangnya menciptakan perisai baja yang membelah setiap senjata yang mendekat. Ia melompat, menginjak bahu salah satu bandit sebagai tumpuan, lalu melakukan salto di udara. Saat berada di titik tertinggi, ia mengibaskan tangan kirinya, melepaskan tiga jarum perak beracun, jurus yang diajarkan Liu Wei, yang langsung bersarang di leher musuhnya. "Argh! Mataku! Aku tidak bisa melihat!" teriak salah satu bandit saat cairan hitam mulai menjalar di pembuluh darah wajahnya. Bai Xiang mendarat dengan anggun, langsung menusukkan pedangnya ke dada bandit yang hendak menebasnya dari belakang. Darah hangat memercik, namun ia bahkan tidak berkedip. Gerakannya efisien, dingin, dan mematikan. Melihat kawan-kawannya tumbang seperti gandum yang disabit, nyali para bandit itu ciut. Kepala bandit yang tadi tertawa kini gemetar hebat. "Lari! Dia bukan manusia! Dia iblis dari Gunung Yang!" teriaknya sembari membuang gadanya dan lari terbirit-birit ke dalam hutan, diikuti oleh beberapa anak buahnya yang masih tersisa. Suasana hutan kembali sunyi, hanya menyisakan deru napas Bai Xiang yang teratur dan rintihan pelan para bandit yang sekarat. Beberapa laki-laki anggota rombongan yang tadinya bersembunyi di bawah gerobak merayap keluar dengan wajah pucat. Mereka segera berlutut dan memberi hormat dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Pendekar! Terima kasih telah menyelamatkan nyawa kami dan bantuan untuk rakyat ini!" ujar salah satu lelaki. Bai Xiang tidak menyahut. Ia menyarungkan pedangnya dan melangkah menghampiri dua wanita yang masih gemetar di dekat kereta. Salah satu dari mereka, gadis bermata bulat tadi, tiba-tiba berlari dan langsung menghambur ke pelukan Bai Xiang. Ia menangis tersedu-sedu, menyembunyikan wajahnya di dada Bai Xiang. "Terima kasih ... Nona Pendekar, aku takut sekali. Aku benar-benar takut," isaknya pilu. "Apakah mereka akan kembali lagi? Apakah mereka akan membunuh kami?" Bai Xiang terpaku. Seumur hidupnya di Perguruan Gunung Yang, ia selalu dikelilingi oleh laki-laki kasar yang bertarung dengan peluh dan luka. Ia tidak pernah menghadapi kelembutan seperti ini. Pelukan itu terasa asing, hangat, dan sangat emosional. Ia merasa canggung, tangannya menggantung di udara sesaat sebelum akhirnya memberanikan diri menepuk punggung gadis itu dengan kaku. "Tenanglah, Nona. Tarik napasmu," ujar Bai Xiang dengan suara yang diusahakan selembut mungkin. "Mereka tidak akan berani kembali. Aku sudah memberi mereka pelajaran yang tidak akan mereka lupakan seumur hidup." Saat itulah, indra penciuman Bai Xiang menangkap sesuatu. Wangi bunga gading yang sangat halus menguar dari tubuh gadis dalam pelukannya—aroma yang tak mungkin dimiliki oleh rakyat jelata, apalagi di tengah perjalanan berdebu. Bai Xiang sedikit merenggangkan pelukan untuk menatap wajah gadis itu. Meski pakaiannya lusuh dan wajahnya dicorengi debu jalanan, kulit gadis itu yang halus putih bagai porselen mahal tidak bisa disembunyikan. Matanya jernih dengan bulu mata lentik yang masih basah oleh air mata. Gadis ini sepertinya seorang putri bangsawan, atau mungkin lebih dari itu, batin Bai Xiang penuh selidik. "Maaf jika kelancanganku bertanya, Nona," ujar Bai Xiang sembari melepaskan diri sepenuhnya. "Tujuan Nona sebenarnya ingin ke mana dengan membawa beban sebanyak ini di wilayah berbahaya?" Gadis itu menyeka air matanya, mencoba mengembalikan martabatnya. "Kami ingin mengirimkan bantuan pangan dan obat-obatan untuk korban kekeringan di Desa Nanjue. Kami sudah melakukan perjalanan selama setengah hari dari ibu kota, menghindari jalan utama agar tidak menarik perhatian ... tapi ternyata bandit gunung tetap mencium keberadaan kami." "Desa Nanjue berada di bawah yurisdiksi yang sulit," gumam Bai Xiang. "Lalu, dari mana asalmu sebenarnya, Nona? Mengapa bangsawan sepertimu turun langsung ke medan berbahaya seperti ini?" Gadis itu ragu sejenak. Ia sedikit kaget Bai Xiang bisa menebak kalau ia seorang bangsawan. Ia melirik pelayan setianya yang juga sedang menyamar. "Aku ... Aku sebenarnya adalah—" Kalimatnya terputus secara mendadak. Dari kejauhan, suara gemuruh kaki kuda yang menghantam tanah terdengar mendekat. Getarannya terasa hingga ke telapak kaki Bai Xiang. Debu membubung tinggi dari arah jalan setapak di ufuk timur. Bai Xiang langsung memasang kuda-kuda siaga. Tangannya kembali mencengkeram gagang pedang. "Ada pasukan besar yang datang. Jumlah mereka setidaknya lima puluh orang." "Apakah itu bandit lagi?" tanya si pelayan dengan wajah ketakutan. "Kalian berdua, cepat masuk ke dalam kereta! Jangan keluar sampai aku memerintahkannya. Biar aku yang menghadapi siapa pun mereka!" perintah Bai Xiang tegas. Namun, gadis cantik itu tidak bergerak. Ia justru menatap ke arah debu yang membubung dengan binar harapan sekaligus kecemasan. "Tunggu! Lihat panji-panji itu!" seru sang gadis, menunjuk ke arah barisan berkuda yang kini mulai terlihat jelas. Panji berwarna hitam dengan sulaman naga melingkar berkibar gagah. "Itu bukan bandit. Itu sepertinya ... Pasukan Istana." "Pasukan Istana?" Jantung Bai Xiang mencelos. Ia memicingkan mata. Di barisan paling depan, seorang pria menunggangi kuda hitam yang perkasa. Jubah hitamnya berkibar ditiup angin, dan di dadanya terukir lambang yang sangat dikenal Bai Xiang dari plakat giok yang selalu ia bawa. Naga Melingkar. Pasukan Longyan. Bai Xiang menoleh cepat ke arah perempuan yang tadi ditolongnya. Otaknya berputar cepat. Siapa sebenarnya perempuan ini hingga Pasukan Longyan—pasukan elite pribadi kaisar—dikirim untuk mencarinya? "Kau ... siapa sebenarnya?" bisik Bai Xiang, suaranya tercekat di tenggorokan.Pesta pernikahan Zhu Yu Liang dan Wen Mei berlangsung semarak di aula utama Istana Mingyue. Gelak tawa para pejabat dan denting cawan perunggu yang beradu menciptakan simfoni kemenangan yang membahana. Han Feng, yang tengah mendampingi Kaisar, tampak sibuk meladeni ucapan selamat, namun matanya tak pernah lepas dari sosok Bai Xiang di barisan meja terhormat. Sejak upacara bermula, Han Feng menyadari ada yang berbeda dari istrinya. Wajah Bai Xiang yang biasanya segar kini pucat, dan ia berulang kali memijat pelipisnya. Han Feng mengira itu hanyalah kelelahan pasca-tempur melawan pemberontak dan pasukan Kasgan. Saat Han Feng hendak menghampiri istrinya, tiba-tiba tubuh Bai Xiang limbung. Cawan di tangannya jatuh berdenting, dan sebelum tubuhnya menyentuh lantai, Han Feng melesat, menangkap istrinya dalam dekapan yang sigap. "Xiang! Xiang!" seru Han Feng, suaranya yang menggelegar seketika menghentikan keriuhan di aula. Pesta yang tadinya penuh tawa berubah menjadi kepanikan keci
Debu peperangan yang menyelimuti perbatasan perlahan luruh, digantikan oleh panji-panji Naga Perak yang berkibar gagah di bawah langit biru menuju Ibukota Mingyue. Barisan pasukan Longyan berbaris panjang, langkah kaki mereka yang serempak menciptakan irama kemenangan yang menggetarkan jalanan utama kota. Rakyat berdiri di sisi jalan, bersorak-sorai melepaskan bunga-bunga sebagai tanda syukur atas perdamaian yang berhasil direbut kembali dari ambisi Kasgan dan para pemberontak. Di barisan depan, Han Feng dan Bai Xiang berkuda berdampingan, diikuti oleh Zhu Yu Liang yang terus berada di sisi kereta kuda Wen Mei. Sesampainya di depan gerbang istana yang megah, Kaisar sudah menunggu di atas podium tinggi, didampingi oleh para pejabat istana yang kini telah bersih dari pengaruh Cao Bing. "Hamba, Han Feng, Panglima Tertinggi Pasukan Longyan, melaporkan bahwa ancaman dari barat telah dipadamkan, dan para pengkhianat telah menerima pengadilannya!" Han Feng turun dari kuda dan berlutut
Angin di dataran gersang perbatasan berdesing kencang, membawa aroma belerang dan debu sisa ledakan dari medan pertempuran yang masih membara di kejauhan. Di atas sebuah tebing batu yang menjorok tinggi, menghadap langsung ke arah perkemahan Kasgan yang kini porak-poranda, dua sosok berdiri berhadapan. Jin Peng, sang iblis yang telah kehilangan kejayaannya, tampak goyah. Jubah abu-abunya compang-camping, tercemar darah dari luka perutnya yang terus merembes. Di hadapannya, Bai Xiang berdiri tegak dengan rambut putih yang berkibar liar. Ia menggenggam pedang, yang berkilau dingin tertimpa cahaya matahari senja. "Masih saja mengejarku hingga ke ujung bumi ini, Xiang?" Jin Peng terbatuk, tawanya terdengar seperti gesekan batu nisan di tengah padang sunyi. "Kau benar-benar murid yang patuh. Bahkan setelah aku menghancurkan keluargamu, kau masih ingin memberikan penghormatan terakhir dengan membunuhku di tanah terkutuk ini?" Bai Xiang tidak langsung menjawab. Ia mengangkat pedangnya,
Debu peperangan masih membubung tinggi di sisi barat medan tempur. Cao Bing, pria yang dulu berjalan di aula istana dengan dagu terangkat, kini merangkak di atas tanah yang becek oleh darah. Ia mencoba melarikan diri ke arah kuda-kuda Kasgan yang tertambat di balik gundukan pasir, wajahnya yang angkuh kini kusam oleh debu dan ketakutan yang murni.Namun, langkah pengecut itu terhenti secara paksa. Sebuah tombak panjang dengan mata perak yang berkilat tajam menghujam bumi tepat satu inci di depan kakinya. Getarannya begitu hebat hingga membelah tanah."Mau lari ke mana, Pengkhianat?"Suara itu berat dan sarat akan kebencian. Zhu Yu Liang melangkah keluar dari kabut debu yang pekat. Zirah beratnya telah kehilangan kilau emasnya, tertutup oleh lumuran darah musuh yang mulai mengering. Namun, di balik kotornya medan perang, tatapannya tetap setajam elang, dingin dan menusuk. Ia mencabut tombaknya dari tanah dengan satu sentakan kuat, memutar senjata itu dengan kemahiran yang menakutka
Lembah perbatasan yang dulunya merupakan hamparan hijau kini telah berubah menjadi pemakaman terbuka yang menyesakkan. Di tengah hiruk-pikuk teriakan maut dan ringkikan kuda yang meregang nyawa, sebuah ruang kosong tercipta secara alami di pusat palagan. Di sana, dua kutub kekuasaan akhirnya berhadapan: Han Feng dan Azhren, berdiri di atas tumpukan zirah dan patahan tombak yang berserakan.Han Feng mengencangkan genggaman pada hulu pedang pusakanya. Napasnya teratur, namun matanya mengunci setiap gerak-gerik lawan. Di sekeliling mereka, kavaleri Kasgan dan Pasukan Longyan masih bertumbukan layaknya ombak raksasa yang menghantam karang, namun bagi sang Jenderal, dunia seolah menyempit hanya pada mata elang Azhren yang berkilat haus darah."Kau datang juga, Jenderal tua!" Azhren berteriak, suaranya membelah kebisingan logam yang beradu. Ia memacu kudanya dalam jarak pendek, pedang lengkung khas barat miliknya terangkat tinggi."Aku datang untuk menepati janjiku, Azhren!" balas Han F
Lembah perbatasan yang biasanya sunyi senyap, kini bergetar hebat di bawah derap ribuan kuku kuda yang menghantam bumi. Kabar mengenai invasi "Serigala-Serigala Utara", sebutan bagi pasukan Kasgan yang haus darah, telah menyebar secepat api yang melahap rumput kering. Namun, Mingyue tidak lagi terpecah. Raja-raja wilayah yang selama ini saling berselisih, kini bangkit bersatu di bawah satu panji kehormatan, membentuk aliansi perkasa: Pasukan Longyan.Han Feng berdiri tegak di atas bukit kecil, sebuah titik strategis yang memungkinkannya memantau bentangan cakrawala. Di seberang sungai yang menjadi garis batas terakhir, hamparan tenda kulit bangsa Kasgan tampak memenuhi lembah seperti barisan sisik naga purba. Di belakang Han Feng, barisan infanteri dan kavaleri gabungan Mingyue membentang luas, nyaris tanpa ujung. Hutan tombak berkilauan tertimpa sinar matahari yang pucat, menciptakan pemandangan yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pun yang memandangnya.Namun, di balik sepasang ma







