Share

Bab 2

Author: Wei Yun
last update Last Updated: 2025-08-22 11:30:43

Mata Bai Xiang menyipit tajam. Sebuah kereta kuda kayu yang tampak kokoh kini terhenti paksa, dikelilingi oleh tiga gerobak besar yang sarat dengan karung-karung goni. Di sekelilingnya, lebih dari dua puluh orang bandit gunung dengan wajah-wajah kasar dan penuh seringai mengepung tanpa celah.

​Empat orang pengawal berseragam lusuh sudah menyerah berlutut di atas tanah. Fokus Bai Xiang tertuju pada dua sosok di dekat pintu kereta. Mereka mengenakan pakaian lelaki yang kasar dan kotor, namun mata Bai Xiang tidak bisa ditipu. Gestur tubuh mereka yang ringkih dan garis rahang yang lembut menunjukkan bahwa mereka adalah perempuan yang sedang melakukan penyamaran.

​Sebilah golok menempel erat di leher masing-masing perempuan itu. Salah satu dari mereka, yang memiliki sepasang mata bulat penuh keberanian meski tubuhnya gemetar, berteriak dengan suara melengking.

​"Jangan berani kalian menyentuh barang-barang ini! Semua ini adalah bahan pangan untuk penduduk Desa Nanjue yang sedang sekarat! Jika kalian tetap nekat, Pasukan Istana tidak akan tinggal diam dan akan menghabisi kalian hingga ke akar-akarnya!"

​Tawa menggelegar memecah keheningan hutan. Seorang bandit bertubuh raksasa maju selangkah sambil meludah.

​"Pasukan Istana? Hahaha! Dengar itu, kawan-kawan! Perempuan tolol ini mengancam kita dengan nama Kaisar!" serunya, disambut gelak tawa gerombolannya. "Desa Nanjue itu jauh di pelosok. Siapa yang peduli? Di sini, kamilah rajanya. Kami tidak takut pada siapa pun, apalagi pada gertakan seorang gadis kecil sepertimu!"

​Bai Xiang merasakan darahnya berdesir hebat. Amarahnya memuncak saat melihat karung-karung bantuan untuk rakyat yang menderita itu hendak dijarah.

​"Sampah tetaplah sampah," desis Bai Xiang.

​Ia menyentakkan tali kekang Hei Yun. Kuda hitam itu meringkik nyaring, seolah memahami kemarahan tuannya. Tanpa peringatan, Bai Xiang memacu Hei Yun menembus semak-semak, meluncur seperti anak panah hitam yang dilepaskan dari busurnya.

​"Berhenti, kalian sampah kotor!" teriak Bai Xiang menggelegar.

​Para bandit tersentak. Sebelum mereka sempat menyadari apa yang terjadi, Bai Xiang sudah melompat dari punggung kuda yang sedang berlari. Pedangnya ditarik dari sarung dengan suara denting logam yang jernih, memantulkan cahaya matahari yang menerobos celah daun.

​"Siapa kau?! Cari mati?!" bentak sang kepala bandit sembari mengayunkan gada besinya.

​Bai Xiang tidak membuang napas untuk menjawab. Ia merendahkan tubuhnya, menghindari ayunan gada yang membelah angin tepat di atas kepalanya. Dengan satu putaran tumit, ia menyabetkan pedangnya secara horizontal. Srat! Dua bandit yang berada paling dekat roboh dengan urat nadi di kaki mereka terputus.

​"Kepung dia! Dia hanya seorang diri!" perintah si kepala bandit geram.

​Dua belas orang bandit serentak merangsek maju. Tombak dan golok datang dari berbagai arah. Bai Xiang berputar bak gasing, pedangnya menciptakan perisai baja yang membelah setiap senjata yang mendekat. Ia melompat, menginjak bahu salah satu bandit sebagai tumpuan, lalu melakukan salto di udara. Saat berada di titik tertinggi, ia mengibaskan tangan kirinya, melepaskan tiga jarum perak beracun, jurus yang diajarkan Liu Wei, yang langsung bersarang di leher musuhnya.

​"Argh! Mataku! Aku tidak bisa melihat!" teriak salah satu bandit saat cairan hitam mulai menjalar di pembuluh darah wajahnya.

​Bai Xiang mendarat dengan anggun, langsung menusukkan pedangnya ke dada bandit yang hendak menebasnya dari belakang. Darah hangat memercik, namun ia bahkan tidak berkedip. Gerakannya efisien, dingin, dan mematikan.

​Melihat kawan-kawannya tumbang seperti gandum yang disabit, nyali para bandit itu ciut. Kepala bandit yang tadi tertawa kini gemetar hebat.

​"Lari! Dia bukan manusia! Dia iblis dari Gunung Yang!" teriaknya sembari membuang gadanya dan lari terbirit-birit ke dalam hutan, diikuti oleh beberapa anak buahnya yang masih tersisa.

​Suasana hutan kembali sunyi, hanya menyisakan deru napas Bai Xiang yang teratur dan rintihan pelan para bandit yang sekarat. Beberapa laki-laki anggota rombongan yang tadinya bersembunyi di bawah gerobak merayap keluar dengan wajah pucat. Mereka segera berlutut dan memberi hormat dengan tangan gemetar.

​"Terima kasih, Pendekar! Terima kasih telah menyelamatkan nyawa kami dan bantuan untuk rakyat ini!" ujar salah satu lelaki.

​Bai Xiang tidak menyahut. Ia menyarungkan pedangnya dan melangkah menghampiri dua wanita yang masih gemetar di dekat kereta. Salah satu dari mereka, gadis bermata bulat tadi, tiba-tiba berlari dan langsung menghambur ke pelukan Bai Xiang. Ia menangis tersedu-sedu, menyembunyikan wajahnya di dada Bai Xiang.

​"Terima kasih ... Nona Pendekar, aku takut sekali. Aku benar-benar takut," isaknya pilu. "Apakah mereka akan kembali lagi? Apakah mereka akan membunuh kami?"

​Bai Xiang terpaku. Seumur hidupnya di Perguruan Gunung Yang, ia selalu dikelilingi oleh laki-laki kasar yang bertarung dengan peluh dan luka. Ia tidak pernah menghadapi kelembutan seperti ini. Pelukan itu terasa asing, hangat, dan sangat emosional. Ia merasa canggung, tangannya menggantung di udara sesaat sebelum akhirnya memberanikan diri menepuk punggung gadis itu dengan kaku.

​"Tenanglah, Nona. Tarik napasmu," ujar Bai Xiang dengan suara yang diusahakan selembut mungkin. "Mereka tidak akan berani kembali. Aku sudah memberi mereka pelajaran yang tidak akan mereka lupakan seumur hidup."

​Saat itulah, indra penciuman Bai Xiang menangkap sesuatu. Wangi bunga gading yang sangat halus menguar dari tubuh gadis dalam pelukannya—aroma yang tak mungkin dimiliki oleh rakyat jelata, apalagi di tengah perjalanan berdebu. Bai Xiang sedikit merenggangkan pelukan untuk menatap wajah gadis itu.

​Meski pakaiannya lusuh dan wajahnya dicorengi debu jalanan, kulit gadis itu yang halus putih bagai porselen mahal tidak bisa disembunyikan. Matanya jernih dengan bulu mata lentik yang masih basah oleh air mata. Gadis ini sepertinya seorang putri bangsawan, atau mungkin lebih dari itu, batin Bai Xiang penuh selidik.

​"Maaf jika kelancanganku bertanya, Nona," ujar Bai Xiang sembari melepaskan diri sepenuhnya. "Tujuan Nona sebenarnya ingin ke mana dengan membawa beban sebanyak ini di wilayah berbahaya?"

​Gadis itu menyeka air matanya, mencoba mengembalikan martabatnya. "Kami ingin mengirimkan bantuan pangan dan obat-obatan untuk korban kekeringan di Desa Nanjue. Kami sudah melakukan perjalanan selama setengah hari dari ibu kota, menghindari jalan utama agar tidak menarik perhatian ... tapi ternyata bandit gunung tetap mencium keberadaan kami."

​"Desa Nanjue berada di bawah yurisdiksi yang sulit," gumam Bai Xiang. "Lalu, dari mana asalmu sebenarnya, Nona? Mengapa bangsawan sepertimu turun langsung ke medan berbahaya seperti ini?"

​Gadis itu ragu sejenak. Ia sedikit kaget Bai Xiang bisa menebak kalau ia seorang bangsawan. Ia melirik pelayan setianya yang juga sedang menyamar. "Aku ... Aku sebenarnya adalah—"

​Kalimatnya terputus secara mendadak. Dari kejauhan, suara gemuruh  kaki kuda yang menghantam tanah terdengar mendekat. Getarannya terasa hingga ke telapak kaki Bai Xiang. Debu membubung tinggi dari arah jalan setapak di ufuk timur.

​Bai Xiang langsung memasang kuda-kuda siaga. Tangannya kembali mencengkeram gagang pedang. "Ada pasukan besar yang datang. Jumlah mereka setidaknya lima puluh orang."

​"Apakah itu bandit lagi?" tanya si pelayan dengan wajah ketakutan.

​"Kalian berdua, cepat masuk ke dalam kereta! Jangan keluar sampai aku memerintahkannya. Biar aku yang menghadapi siapa pun mereka!" perintah Bai Xiang tegas.

​Namun, gadis cantik itu tidak bergerak. Ia justru menatap ke arah debu yang membubung dengan binar harapan sekaligus kecemasan.

​"Tunggu! Lihat panji-panji itu!" seru sang gadis, menunjuk ke arah barisan berkuda yang kini mulai terlihat jelas. Panji berwarna hitam dengan sulaman naga melingkar berkibar gagah. "Itu bukan bandit. Itu sepertinya ... Pasukan Istana."

​"Pasukan Istana?" Jantung Bai Xiang mencelos.

​Ia memicingkan mata. Di barisan paling depan, seorang pria menunggangi kuda hitam yang perkasa. Jubah hitamnya berkibar ditiup angin, dan di dadanya terukir lambang yang sangat dikenal Bai Xiang dari plakat giok yang selalu ia bawa.

​Naga Melingkar. Pasukan Longyan.

​Bai Xiang menoleh cepat ke arah perempuan yang tadi ditolongnya. Otaknya berputar cepat. Siapa sebenarnya perempuan ini hingga Pasukan Longyan—pasukan elite pribadi kaisar—dikirim untuk mencarinya?

​"Kau ... siapa sebenarnya?" bisik Bai Xiang, suaranya tercekat di tenggorokan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 148

    Angin malam menderu kencang, menusuk hingga ke tulang saat Zhu Yu Liang memacu kudanya mendaki lereng terjal menuju puncak bukit Da Shan. Medan yang berbatu dan curam membuat pasukan Mingyue yang ia pimpin harus berjuang ekstra keras. Beberapa kali kaki kuda mereka tergelincir, memaksa mereka melambat di jalur yang hanya cukup dilewati satu kuda. ​"Panglima, medan ini terlalu berbahaya untuk dipacu lebih cepat!" teriak salah satu letnannya di tengah deru angin. ​"Kita tidak punya waktu!" balas Yu Liang tanpa menoleh. "Setiap detik yang kita buang adalah langkah Cao Bing mendekati Putri. Terus maju!" ​Begitu mereka mencapai gerbang luar Biara Da Shan, bau anyir darah segera menyergap indra penciuman mereka. Yu Liang menarik kekang kudanya hingga hewan itu meringkik nyaring. Di depan mata mereka, kedamaian biara telah berubah menjadi ladang pembantaian. Obor-obor yang terjatuh membakar sebagian pintu kayu, menyinari sosok-sosok berpakaian hitam yang sedang membantai para biksuni dan

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 147

    Lentera di ruang kerja Markas Longyan menari-nari ditiup angin malam yang menyusup dari celah jendela, membiaskan bayangan tiga orang yang tengah berkumpul dengan raut wajah tegang. Aroma tajam dari obat-obatan herbal meruap di udara.​Bai Xiang bergerak dengan jemari terampil dan penuh kelembutan. Ia mengoleskan ramuan obat racikannya pada luka di punggung dan bahu Han Feng. Sesekali Han Feng meringis kecil saat ramuan itu menyentuh luka yang sempat terbuka kembali akibat pertempuran di aula sidang tadi.Namun, perhatian sang Jenderal tidak teralih dari potongan kain gelap milik penyusup yang tergeletak di atas meja kerja.​"Aku tidak mengenali wajah mereka di balik penutup kain itu, tapi gerakannya ... aku mengenali pola serangan tersebut," ujar Bai Xiang pelan, matanya menyipit mengingat detail pertempuran yang kacau. "Langkah kaki mereka terlalu ringan untuk prajurit biasa. Serangan mereka sangat spesifik, selalu mengincar titik-titik saraf vital. Besar kemungkinan mereka berasal

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 146

    Lembah di pinggiran ibu kota itu dilingkupi kabut yang sangat tebal, menyembunyikan sebuah paviliun kayu tua yang tampak terbengkalai. Namun, di dalamnya, suasana justru mendidih oleh ketegangan dan amarah. Suara napas yang memburu dan aroma kecemasan memenuhi ruangan utama yang remang-remang.​PLAK!​Suara tamparan keras memecah kesunyian malam. Selir Agung Wu berdiri dengan napas tersengal, telapak tangannya masih terasa panas setelah menghantam pipi Menteri Militer Cao Bing. Matanya yang biasanya penuh tipu daya, kini berkilat oleh kemurkaan yang murni.​"Kau gila, Cao Bing! Apa yang kau lakukan tadi di ruang sidang?!" teriak Selir Agung Wu dengan suara melengking. "Rencana kita adalah menghancurkan Han Feng secara perlahan lewat hukum! Tapi kau justru mengirim pasukan penyusup dan menyerang pengadilan secara terbuka!Kau membuat kita menjadi buronan dalam semalam!"​Cao Bing terdiam sejenak, kepalanya sedikit tertoleh ke samping akibat tamparan itu. Perlahan, ia memutar lehernya,

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 145

    Gema teriakan "Penyusup! Lindungi Kaisar!" memecah keheningan Aula Sidang Militer seperti petir yang menyambar di siang bolong. Suara desingan anak panah segera disusul oleh dentuman keras pintu-pintu samping yang jebol secara paksa. Dari langit-langit aula yang tinggi, puluhan pria merosot turun menggunakan tali sutra hitam. Mereka mengenakan pakaian ketat berwarna legam dengan penutup wajah kain gelap yang hanya menyisakan celah sempit untuk mata mereka yang berkilat tajam. ​Gerakan mereka tidak seperti perampok biasa; mereka bergerak dengan presisi militer yang mematikan. Asap tebal mulai memenuhi ruangan saat beberapa bom asap dilemparkan ke tengah aula, menciptakan kekacauan instan di antara para jenderal dan menteri yang panik menyelamatkan diri. ​"Pasukan Longyan! Bentuk formasi lingkaran! Jaga Kaisar!" teriak Li Rui, menghunus pedangnya dan segera menarik Liu Ban, si tukang jagal, ke balik perlindungan pilar marmer yang besar. ​Di tengah kepulan asap dan denting senjata,

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 144

    Pintu besar Aula Sidang Militer terbuka dengan dentuman berat. Di bawah pengawalan ketat dua faksi pasukan —Longyan dan Mingyue—seorang pria paruh baya melangkah masuk. Ia mengenakan apron kulit tebal yang kusam namun bersih dari noda baru. Namanya adalah Liu Ban, seorang jagal senior dari pasar pusat. ​Berbeda dengan rakyat jelata pada umumnya yang akan gemetar ketakutan menginjakkan kaki di lantai marmer istana, Liu Ban berjalan dengan punggung tegak. Langkahnya mantap, mencerminkan bertahun-tahun pengalaman menghadapi maut di tempat pemotongan. Sesampainya di hadapan takhta, ia berlutut dengan khidmat dan memberikan hormat yang sempurna kepada Kaisar. ​"Rakyat jelata Liu Ban hormat di hadapan Baginda Kaisar yang mulia," ucapnya dengan suara berat dan tenang. ​Kaisar mengangguk kecil, terkesan dengan ketenangan pria itu. Hakim Agung kemudian maju satu langkah, menatap Liu Ban dengan tajam. ​"Liu Ban, sebelum pengadilan ini meminta keahlianmu, aku harus bertanya," ujar Hakim Agun

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 143

    Aula Sidang Militer pagi itu diselimuti oleh kabut ketegangan yang begitu pekat, seolah udara pun enggan mengalir. Di tengah ruangan yang luas dan megah, Jenderal Han Feng bersimpuh dengan posisi yang sangat tegak di atas lututnya. Meski tubuhnya dibebani rantai besi yang berat—yang bergemerincing tajam setiap kali ia menarik napas—dan punggungnya masih terasa panas akibat luka cambuk yang belum kering, sorot matanya tetap tajam, tidak menunjukkan tanda-tanda pria yang sudah menyerah. ​Kaisar duduk di takhta emas dengan ekspresi yang sulit dibaca, sementara Permaisuri Yuan Hua di sampingnya sesekali mengipas wajahnya, menyembunyikan senyum sinis. Di barisan menteri, Cao Bing tampak gelisah, sesekali memperbaiki posisi duduknya sambil melirik ke arah tirai tempat Selir Agung Wu bersembunyi. ​"Jenderal Han Feng," suara Hakim Agung bergetar, berusaha menguasai otoritas di tengah aura sang Panglima yang menekan. "Garis besar dakwaan sudah dibacakan. Sekarang, jelaskan versi Anda menge

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status