Share

Bab 8

Penulis: Wei Yun
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-12 10:58:43
Pesta di Kediaman Keluarga Jiang yang berakhir lebih awal bagi Wen Mei. Ketegangan mereda setelah Keluarga Jiang diberitahu bahwa Wen Mei hanya mengalami reaksi alergi terhadap kacang. Sebuah pil herbal buatan Bai Xiang telah meredakan gejala alerginya. Sebuah kesepakatan tanpa kata terjalin antara Bai Xiang, Han Feng, dan Wen Mei untuk tidak mengungkap insiden racun teh di hadapan Sang Tuan Rumah.

Kereta kuda istana berguncang perlahan meninggalkan kediaman Keluarga Jiang. Di dalamnya, Wen Mei bersandar pada bantal sutra, wajahnya masih pucat meski ruam merah telah menghilang. Bai Xiang duduk di hadapannya.

"Tuan Putri," kata Bai Xiang lembut di tengah gemeretak kereta. "Dengan izinmu, aku ingin memeriksa lengan bajumu."

Wen Mei mengangguk lemas, mengulurkan lengannya yang terbungkus sutra halus. Bai Xiang dengan hati-hati mengambil lengan hanfu Wen Mei yang masih sedikit basah oleh tumpahan teh.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Wen Mei penasaran.

"Aku sedang mencari tahu racu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 146

    Lembah di pinggiran ibu kota itu dilingkupi kabut yang sangat tebal, menyembunyikan sebuah paviliun kayu tua yang tampak terbengkalai. Namun, di dalamnya, suasana justru mendidih oleh ketegangan dan amarah. Suara napas yang memburu dan aroma kecemasan memenuhi ruangan utama yang remang-remang.​PLAK!​Suara tamparan keras memecah kesunyian malam. Selir Agung Wu berdiri dengan napas tersengal, telapak tangannya masih terasa panas setelah menghantam pipi Menteri Militer Cao Bing. Matanya yang biasanya penuh tipu daya, kini berkilat oleh kemurkaan yang murni.​"Kau gila, Cao Bing! Apa yang kau lakukan tadi di ruang sidang?!" teriak Selir Agung Wu dengan suara melengking. "Rencana kita adalah menghancurkan Han Feng secara perlahan lewat hukum! Tapi kau justru mengirim pasukan penyusup dan menyerang pengadilan secara terbuka!Kau membuat kita menjadi buronan dalam semalam!"​Cao Bing terdiam sejenak, kepalanya sedikit tertoleh ke samping akibat tamparan itu. Perlahan, ia memutar lehernya,

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 145

    Gema teriakan "Penyusup! Lindungi Kaisar!" memecah keheningan Aula Sidang Militer seperti petir yang menyambar di siang bolong. Suara desingan anak panah segera disusul oleh dentuman keras pintu-pintu samping yang jebol secara paksa. Dari langit-langit aula yang tinggi, puluhan pria merosot turun menggunakan tali sutra hitam. Mereka mengenakan pakaian ketat berwarna legam dengan penutup wajah kain gelap yang hanya menyisakan celah sempit untuk mata mereka yang berkilat tajam. ​Gerakan mereka tidak seperti perampok biasa; mereka bergerak dengan presisi militer yang mematikan. Asap tebal mulai memenuhi ruangan saat beberapa bom asap dilemparkan ke tengah aula, menciptakan kekacauan instan di antara para jenderal dan menteri yang panik menyelamatkan diri. ​"Pasukan Longyan! Bentuk formasi lingkaran! Jaga Kaisar!" teriak Li Rui, menghunus pedangnya dan segera menarik Liu Ban, si tukang jagal, ke balik perlindungan pilar marmer yang besar. ​Di tengah kepulan asap dan denting senjata,

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 144

    Pintu besar Aula Sidang Militer terbuka dengan dentuman berat. Di bawah pengawalan ketat dua faksi pasukan —Longyan dan Mingyue—seorang pria paruh baya melangkah masuk. Ia mengenakan apron kulit tebal yang kusam namun bersih dari noda baru. Namanya adalah Liu Ban, seorang jagal senior dari pasar pusat. ​Berbeda dengan rakyat jelata pada umumnya yang akan gemetar ketakutan menginjakkan kaki di lantai marmer istana, Liu Ban berjalan dengan punggung tegak. Langkahnya mantap, mencerminkan bertahun-tahun pengalaman menghadapi maut di tempat pemotongan. Sesampainya di hadapan takhta, ia berlutut dengan khidmat dan memberikan hormat yang sempurna kepada Kaisar. ​"Rakyat jelata Liu Ban hormat di hadapan Baginda Kaisar yang mulia," ucapnya dengan suara berat dan tenang. ​Kaisar mengangguk kecil, terkesan dengan ketenangan pria itu. Hakim Agung kemudian maju satu langkah, menatap Liu Ban dengan tajam. ​"Liu Ban, sebelum pengadilan ini meminta keahlianmu, aku harus bertanya," ujar Hakim Agun

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 143

    Aula Sidang Militer pagi itu diselimuti oleh kabut ketegangan yang begitu pekat, seolah udara pun enggan mengalir. Di tengah ruangan yang luas dan megah, Jenderal Han Feng bersimpuh dengan posisi yang sangat tegak di atas lututnya. Meski tubuhnya dibebani rantai besi yang berat—yang bergemerincing tajam setiap kali ia menarik napas—dan punggungnya masih terasa panas akibat luka cambuk yang belum kering, sorot matanya tetap tajam, tidak menunjukkan tanda-tanda pria yang sudah menyerah. ​Kaisar duduk di takhta emas dengan ekspresi yang sulit dibaca, sementara Permaisuri Yuan Hua di sampingnya sesekali mengipas wajahnya, menyembunyikan senyum sinis. Di barisan menteri, Cao Bing tampak gelisah, sesekali memperbaiki posisi duduknya sambil melirik ke arah tirai tempat Selir Agung Wu bersembunyi. ​"Jenderal Han Feng," suara Hakim Agung bergetar, berusaha menguasai otoritas di tengah aura sang Panglima yang menekan. "Garis besar dakwaan sudah dibacakan. Sekarang, jelaskan versi Anda menge

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 142

    Lembah kabut yang menyelimuti Paviliun Teratai Hitam seolah menjadi tirai alami yang sengaja diciptakan oleh semesta untuk menyembunyikan noda paling kelam di jantung Kekaisaran. Di dalam bangunan yang tersembunyi jauh dari pengawasan istana maupun telinga-telinga prajurit patroli itu, udara terasa begitu kental. Wangi dupa gaharu yang memabukkan memenuhi setiap sudut ruangan, bercampur dengan aroma gairah yang panas, keringat yang menyengat, dan hawa ambisi yang membakar.​Di balik tirai sutra merah darah yang menjuntai rendah dari langit-langit, suara derit ranjang kayu cendana bersahutan dengan napas yang memburu secara tidak beraturan. Selir Agung Wu Fei Xia, tengah berada dalam puncak pergulatan asmara yang liar dan penuh dosa. Menteri Militer Cao Bing, dengan tubuh kekar yang dipenuhi bekas luka parut akibat puluhan peperangan, menghujamkan gairahnya tanpa ampun, seolah-olah sedang menaklukkan wilayah musuh.​"Nghhh ... Cao Bing ... ahh! Lebih keras ... kumohon," Fei Xia menge

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 141

    Sinar matahari pagi yang pucat menembus jendela kecil berjeruji kayu di Biara Jingxin. Wen Mei mengerang, kelopak matanya terasa berat saat ia mencoba membukanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit yang menusuk di tengkuknya, sisa dari pukulan keras pengawal ibunya. ​Ia meraba permukaan tempat tidur yang kasar. Ini bukan ranjang sutranya di Paviliun Giok. Ia segera terduduk, menatap sekeliling ruangan yang hanya berisi sebuah meja kayu kecil, satu lampion minyak, dan dinding batu yang dingin. ​"Di mana aku?" bisiknya dengan suara serak. ​Ingatan itu menghantamnya seperti ombak yang dahsyat. Bayangan Yu Liang yang berdarah, wajah angkuh ibunya, dan jeritannya yang terputus. "Yu Liang ...," rintihnya. Air mata mulai mengalir deras, "Yu Liang, maafkan aku ... Yu Liang!" ​Pintu kayu berderit terbuka. Seorang wanita paruh baya berpakaian biksuni abu-abu masuk membawa nampan berisi bubur encer dan teh pahit. Ia menatap Wen Mei dengan tatapan iba namun tegas. ​"Amitabha ... K

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status