Share

Bab 6 Mbah Tejo

Penulis: Aira Jiva
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-21 16:15:39

Matahari pagi bersinar terik, membakar aspal gang kosan hingga hawa panasnya memantul ke dinding-dinding sempit. Namun bagi Cinta, dunia terasa salah musim.

Air hujan masih jatuh tepat di atas kepalanya… dingin, konsisten, dan tidak masuk akal… seolah awan kecil itu menolak pergi ke mana pun ia melangkah.

Setelah sore penuh kegilaan, ketika kerang mutiara di mejanya bergetar dan mengeluarkan suara deburan ombak halus, Cinta tahu satu hal.. ia tak bisa terus berpura-pura ini hanya stres biasa.

Ia berdiri di depan gudang tua di samping gang kosannya dengan kondisi mengenaskan. Rambut lepek, baju lembap, dan napasnya berat.

Satu-satunya alasan ia datang ke sini adalah kotak biru itu. Ada denyut aneh di dadanya… selaras dengan detak jantungnya… seolah sesuatu di dalam gudang sedang memanggil namanya.

“Duuhh.. Gusti… piye iki? Masa gue harus bawa awan mendung ini sampai wisuda?” gerutunya. “Bisa-bisa gue dikenal sebagai mahasiswi musim hujan.”

Ia mengacak rambutnya frustrasi, memercikkan air ke mana-mana.

“Cinta, ngapain kamu ke gudang tua ini?”

Suara berat dan serak itu membuat Cinta terlonjak.

Mbah Tejo sudah berdiri di depan pintu kayu gudang yang lapuk, memegang sapu lidi. Tatapannya tajam menelusuri Cinta yang basah kuyup di tengah terik matahari, seolah melihat sesuatu yang tak kasatmata menempel di punggung gadis itu.

“Mbah… setelah kejadian kejadian aneh ini, saya rasa ada hubungannya sama kotak biru yang pernah saya lihat di sini.” kata Cinta cepat, suaranya parau. “Kejadiannya beruntun sejak saya ke gudang ini.”

Mbah Tejo mengerutkan dahi, menempelkan tangan ke telinganya.

“Hahh? Jajan? Pagi-pagi cari jajan? Kantin belum buka, nduk...”

Cinta memejamkan mata, mengepalkan tangan. Sabar… Cinta. Jangan sampai mukul orang tua.

“KOTAK, MBAH. BUKAN JAJAN. SAYA MAU LIHAT KOTAK BIRU!!” katanya keras, nyaris putus asa.

“Oh… kotak.”

Ekspresi Mbah Tejo berubah. Keriput di wajahnya tampak lebih dalam, dan tubuhnya menegang.

“Jangan main-main di sini, nduk. Itu bukan barang buat dipermainkan. Salah-salah, penyesalannya bisa Panjang loh.”

Ia mengeluarkan kunci tua berkarat dari saku celana komprangnya. Bibirnya mulai komat-kamit lirih.

“Hong wilaheng sekareng bawono langgeng, adohno saking sambikolo…”

Saat pintu kayu terbuka dengan derit panjang, hawa panas matahari seolah terhalau. Gudang itu menyambut Cinta dengan udara pengap, aroma kayu lembap, debu, dan bau asin samar…mengingatkannya pada Samudra.

Begitu kakinya menginjak lantai kayu, dingin menjalar di tengkuknya. Bukan dingin dari bajunya, tapi sensasi aneh… seperti ada napas yang terlalu dekat.

“Mbah… saya cuma mau lihat. Saya nggak akan nyentuh, suweer!!” ucap Cinta, melangkah pelan ke rak tinggi di sudut tergelap.

“Hahh? Panci? Panci Mbah cuma satu buat masak mie.” sahut Mbah Tejo, tapi sorot matanya tetap waspada.

“DUHH, MBAH. SAYA JANJI NGGAK SENTUH APA APA,” Cinta nyaris menangis.

Mbah Tejo kembali merapal doa, kali ini lebih cepat.

“Niat ingsun nolak balak, sing miring dadi jejeg…”

Udara di dalam gudang terasa semakin berat. Debu-debu di lantai seperti menjauh, menciptakan ruang kosong di sekitar Cinta.. seolah ada sesuatu yang berdiri terlalu dekat, meski tak terlihat.

Cinta berhenti.

Kotak biru itu ada di sana.

Kayunya terasa dingin hanya dengan dipandang. Saat Cinta berada dalam jarak satu jengkal, tetesan hujan di atas kepalanya berhenti begitu saja. Sunyi mendadak menyelimuti gudang. Bahkan detak jam di pergelangan tangannya terdengar terlalu keras.

“Mbah… kenapa kotak ini rasanya kayak manggil saya?” bisik Cinta. “Kenapa tiap lihat ini, dada saya sakit?”

“Hah? Nikah?” Mbah Tejo bergumam, tapi wajahnya serius.

“Kotak itu… punya jalannya sendiri, nduk. Dan apa pun yang ngikut kamu ke sini… itu sudah lama menunggu.”

Cinta membeku.

Bulu kuduknya berdiri. Tanpa melihat ke belakang, ia tahu Mbah Tejo tidak sedang bercanda.

Saat tangannya nyaris menyentuh ukiran di permukaan kotak, Mbah Tejo menghentakkannya dengan doa keras. Gudang bergetar halus. Dingin menusuk hingga uap keluar dari mulut Cinta.

“Mbah…” suara Cinta gemetar. “Kotak ini…”

Mbah Tejo menatapnya lama.

“Kotak ini ternyata milikmu.. bawalah.” katanya pelan. “Dari dulu… yang seperti ini selalu kembali ke pemiliknya.”

“Pemiliknya… saya?”

Mbah Tejo tidak menjawab. Ia hanya membuka kain lusuh pembungkus kotak itu dan mendorongnya perlahan ke arah Cinta.

“Bawa pulang. Tapi ingat… setelah melangkah keluar dari gudang ini, tidak ada jalan kembali.”

Saat Cinta mengangkat kotak itu, benda tersebut terasa lebih ringan dari seharusnya. Kepalanya berdenyut sesaat, dan dunia berputar singkat.

Hujan tak kembali turun.

Di sudut gudang, tekanan di udara menghilang… seakan sesuatu telah mendapatkan apa yang diinginkannya. Cinta memeluk kotak biru itu erat, dadanya sesak oleh pertanyaan yang tak berani ia ucapkan. Ia tidak tahu apa yang baru saja ia bawa pulang.

Pintu gudang menutup perlahan setelah langkah kaki Cinta menghilang di ujung gang. Mbah Tejo tidak langsung bergerak. Ia berdiri kaku di depan pintu kayu tua itu, sapu lidi masih tergenggam erat, telapak tangannya basah oleh keringat dingin.

Gudang itu kembali sunyi.

Baru setelah beberapa detik, napas Mbah Tejo terdengar berat. Ia mengusap dadanya pelan, seperti orang yang baru saja menahan sesuatu agar tidak lepas.

“Wis teko maneh…” gumamnya lirih.

Ia menoleh ke sudut gudang yang kini kosong. Debu-debu kembali jatuh normal, tak lagi membentuk lingkaran aneh. Tekanan di udara telah lenyap… namun bekasnya masih terasa, seperti bau hujan yang tertinggal setelah badai.

Kotak biru itu… sudah pergi.

Mbah Tejo duduk perlahan di bangku kayu reyot, lututnya gemetar. Ingatannya melayang jauh, ke puluhan tahun lalu, saat gudang ini pertama kali dikunci dengan doa-doa yang tak pernah dicatat di mana pun.

Dulu, ada seorang anak. Matanya sama. Tatapan yang sama bingung, keras kepala, dan terlalu berani untuk seseorang yang belum tahu apa yang diwarisinya.

“Tak kira garisnya wis putus,” bisiknya. “Ternyata ora.”

Ia menghela napas panjang, lalu menengadah.

“Kalau ini kehendakmu, Gusti… mugi-mugi bocah iku cukup kuat.”

Mbah Tejo berdiri, mengunci kembali gudang, kali ini tanpa mantra. Tidak lagi diperlukan. Yang harus ditahan sudah pergi mengikuti pemiliknya. Namun sebelum melangkah pergi, ia berhenti sejenak.

“Le… ojo serakah.” katanya pada ruang kosong. “Sing kau tagih wis bali. Jangan kau ganggu anak itu terlalu cepat.”

Tidak ada jawaban. Hanya angin pelan yang berdesir, membawa bau laut yang samar… lalu menghilang.

Mbah Tejo melangkah pulang dengan punggung sedikit lebih bongkok dari biasanya. Di langit, awan kecil yang tadi menggantung di atas kepala Cinta perlahan bergerak… mengikuti arah kos gadis itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 7 Dan Kemudian

    Hujan itu berhenti.Bukan mereda pelan seperti hujan normal, tapi putus seketika, seperti sakelar lampu yang dimatikan tanpa aba-aba. Begitu Cinta melangkah menjauh dari gudang tua dengan kotak biru di pelukannya, langit di atas kepalanya mendadak bersih. Terik. Sama teriknya dengan gang kosan yang lain.Cinta berhenti tepat di depan gerbang kosannya.Refleks, kepalanya mendongak. Mencari awan kelabu yang biasanya setia menggantung di atas kepalanya. Tapi langit itu kosong… biru dan normal. Sangat normal.“Serius?” gumamnya lirih. “Setelah semua kekacauan itu… sekarang malah berhenti?”Aspal yang tadi basah mulai menguap, mengirimkan aroma panas dan debu. Orang-orang lalu lalang tanpa peduli. Tidak ada yang menatap aneh. Tidak ada bisik-bisik. Tidak ada keajaiban.Dan justru itu yang bikin dada Cinta terasa makin sesak.“Harusnya lo masih ada...” katanya pelan ke langit. “Minimal ngasih tanda kek. Ini apa? Prank? Lo kira gue punya waktu buat ini?”Ia menggeleng sendiri, tertawa pendek

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 6 Mbah Tejo

    Matahari pagi bersinar terik, membakar aspal gang kosan hingga hawa panasnya memantul ke dinding-dinding sempit. Namun bagi Cinta, dunia terasa salah musim.Air hujan masih jatuh tepat di atas kepalanya… dingin, konsisten, dan tidak masuk akal… seolah awan kecil itu menolak pergi ke mana pun ia melangkah.Setelah sore penuh kegilaan, ketika kerang mutiara di mejanya bergetar dan mengeluarkan suara deburan ombak halus, Cinta tahu satu hal.. ia tak bisa terus berpura-pura ini hanya stres biasa.Ia berdiri di depan gudang tua di samping gang kosannya dengan kondisi mengenaskan. Rambut lepek, baju lembap, dan napasnya berat.Satu-satunya alasan ia datang ke sini adalah kotak biru itu. Ada denyut aneh di dadanya… selaras dengan detak jantungnya… seolah sesuatu di dalam gudang sedang memanggil namanya.“Duuhh.. Gusti… piye iki? Masa gue harus bawa awan mendung ini sampai wisuda?” gerutunya. “Bisa-bisa gue dikenal sebagai mahasiswi musim hujan.”Ia mengacak rambutnya frustrasi, memercikkan a

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 5 Teror Hujan

    “Cin.”“Kenapa, Ra? Mau ikut makan kerrang saos padang?” Cinta berhenti mendadak. Dingin tiba -tiba menjalar dilengannya, terlalu tajam untuk ukuran sore yang terik.Rara mendekat dengan alis berkerut dalam. Ia tidak tertawa. “Nggak deh buat lo aja... Tapi, lo dingin banget. Kayak es batu padahal lagi terik gini.”“AC Ra.. Biasalah, kampus kita kan kalau nyalain AC suka nggak kira-kira.” jawab Cinta cepat, sebuah pembelaan diri yang terasa makin lemah.“Cin, kita udah di luar. Matahari nya nyolot banget tuh.” balas Rara sambil menunjuk langit.Matahari masih menyengat, membakar aspal kampus tanpa ampun. Tidak ada tanda hujan, tidak ada awan gelap diatas mereka. Semua orang berjalan santai, kering, normal… kecuali Cinta.Baru saja Cinta mau membalas omongan Rara dengan kalimat sarkas, tiba-tiba...Plok…Satu tetes air jatuh tepat di ujung hidungnya, Cinta berkedip bingung.Plok… Plok…Dua tetes berikutnya mendarat di kening dan pipinya. Rara refleks menengadah ke langit. “Hujan? Terik

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 4 Mie Ayam Bang Jago

    “Lo simpan di mana kerangnya?”Langkah Cinta terhenti tepat di depan pintu kantin yang bising. Ia menoleh pelan ke arah Rara, matanya menyipit dengan ekspresi yang sedikit bingung.“Gue titip di pos satpam.” Jawab Cinta santai. “Sekarang gue Cuma mikir, lebih enak saos padang atau mentega.”“Mending saos padang sih… eh, ini apaan? Kerang tadi lo mau eksekusi? Kalau kerang jadi jadian gimana?” sahut Rara panik.“… ya jadi tai gue.. hahah… kapan lagi coba dapat kerang gratis, hidup anak kos itu berat Ra.”Rara malah nyengir sambil geleng geleng kepala, melihat keabsurdan temannya itu.“Yaa udah.. next gue doain bakalan ada kepiting atau ubur-ubur nyangkut di resleting lo..”“Aamiin!” balas Cinta tenang.Mereka akhirnya masuk ke area kantin. Suasana ramai, panas, dan berisik langsung menyergap indra mereka. Aroma gorengan yang baru diangkat, sambal pedas, kopi sachet, dan uap mie ayam bercampur menjadi satu.Normal. Kantin yang panas, berisik, dan penuh bau minyak, cukup membuat Cinta ya

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 3 Aroma Laut

    “Lo nyium bau amis nggak, sih?”Cinta berhenti menulis. Pulpen yang sejak tadi ia tekan ke kertas refleks terangkat, menggantung di udara beberapa detik sebelum akhirnya ia menoleh pelan ke arah Rara. Sahabatnya itu sudah memasang wajah super aneh.“Apaan, sih Ra?” gumam Cinta. “Jangan mulai aneh-aneh deh... gue lagi nggak mood nih.”Rara tidak langsung menjawab. Dia malah mengendus-ngendus udara kelas dengan ekspresi serius, seperti detektif amatir yang sedang mencari sumber kebocoran gas.“Ini bukan aneh sihh..” kata Rara akhirnya. “Ini bau amis tapi kayak yang dekat banget gitu loh Cin.”Cinta mendengus kecil, meski jantungnya mulai berpacu tidak beraturan. “Jangan kebanyakan nonton drama.. jadi overthinking kan lo..”Cinta menyesal begitu kalimat itu lepas. Padahal, Ia sendiri merasakan ada sesuatu di udara. Bukan aroma busuk, melainkan aroma laut yang seharusnya tidak mungkin ada di ruangan ber AC yang tertutup rapat.Tiba-tiba… gesekan kursi dari barisan depan memecah fokusnya.

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 2 Namanya ...

    "Lo udah sadar?"Suara bass itu terdengar terlalu dekat dan mengganggu di telinga Cinta. Ia mengernyitkan dahi, kepalanya terasa berat seolah baru saja dijadikan bola gundu oleh raksasa di film superhero. Ada rasa dingin yang aneh di pelipisnya, disusul aroma minyak kayu putih yang menyengat sampai ke ubun-ubun."Siaaaal… gue memang fans Lee Min Ho, tapi bukan fans garis keras," gumam Cinta dengan mata masih setengah terpejam melihat samar pria itu. Rasa pusing membuatnya enggan melihat dunia."Apa sih dia lagi... dia lagi... apa gue pingsan lagi aja ya?" bisiknya dalam hati, mencoba mencari skenario kabur paling aman."Jangan pura-pura lo," suara itu terdengar lagi, datar tapi seolah sedang menahan tawa. "Bangun... wooiii.."Mata Cinta terbuka perlahan. Plafon putih kusam menyambut pandangannya yang masih buram. Lampu neon yang berdengung dan kipas angin tua yang berdecit malas meyakinkan Cinta kalau dia sedang berada di tempat peristirahatan favorit anak kampus yang ogah kuliah.UKS

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status