LOGIN"Lo udah sadar?"
Suara bass itu terdengar terlalu dekat dan mengganggu di telinga Cinta. Ia mengernyitkan dahi, kepalanya terasa berat seolah baru saja dijadikan bola gundu oleh raksasa di film superhero. Ada rasa dingin yang aneh di pelipisnya, disusul aroma minyak kayu putih yang menyengat sampai ke ubun-ubun. "Siaaaal… gue memang fans Lee Min Ho, tapi bukan fans garis keras," gumam Cinta dengan mata masih setengah terpejam melihat samar pria itu. Rasa pusing membuatnya enggan melihat dunia. "Apa sih dia lagi... dia lagi... apa gue pingsan lagi aja ya?" bisiknya dalam hati, mencoba mencari skenario kabur paling aman. "Jangan pura-pura lo," suara itu terdengar lagi, datar tapi seolah sedang menahan tawa. "Bangun... wooiii.." Mata Cinta terbuka perlahan. Plafon putih kusam menyambut pandangannya yang masih buram. Lampu neon yang berdengung dan kipas angin tua yang berdecit malas meyakinkan Cinta kalau dia sedang berada di tempat peristirahatan favorit anak kampus yang ogah kuliah. UKS. "Anjir... hancur deh nilai gue sama Pak Bambang," desis Cinta saat ingatannya kembali ke ruang seminar. Rasa malu menyerang lebih hebat daripada rasa pusingnya. Ia mencoba duduk, tapi kepalanya langsung berdenyut seperti dihantam palu nya pak Thor superhero dari film Marvel itu. "Pelan-pelan aja. Lo tadi jatuhnya lumayan niat, loh..." ujar pria itu lagi. Cinta menoleh ke samping dan seketika membeku. Pria yang tadi ia kira halusinasi kini duduk santai di kursi plastik samping ranjangnya. Tangannya sedang memutar-mutarkan sebuah pulpen biru, pulpe. Cinta yang tintanya sudah alakadarnya. "Jangan dimainin pulpen gue... kalau sampai rusak gue kutuk lo jadi ikan!" pekik Cinta refleks, jiwanya yang bar-bar mulai kembali. Pria itu melirik pulpen itu sekilas, lalu menatap Cinta datar. "Kok gue jadi tersinggung ya?" gumamnya pelan. "Oh, jadi ini punya lo? Pantes aja.." "Pantes apaan?" dengus Cinta. "Pakai dikasih nama segala... pelit amat," jawabnya ringan tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Suka-suka gue lah! Harta benda gue! Terus ngapain lo di sini?" Cinta menatap pria itu lama. Rambut hitamnya masih sedikit lembap, dan auranya... sungguh, Cinta sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Dia seperti membawa atmosfer laut ke dalam ruangan sempit ini, menenangkan tapi tiba tiba membuat pusing. "Siapa sih lo?" tanya Cinta lagi, suaranya sedikit mengecil karena terintimidasi ketampanan pria di depannya. "aahhh... pertanyaan standar cewek yang mau kenalan sama cowok ganteng. Udah bisa sih.." sahutnya sombong. "Diiihh!! Jawaban lo juga nggak standar!" Pria itu condong sedikit ke arah wajah Cinta, menatapnya sangat intens sampai Cinta bisa melihat pantulan dirinya di mata biru pria itu. "Kepala lo masih muter? Mual? Atau ada penglihatan aneh?" Cinta terdiam sepersekian detik. Jantungnya berulah. "Sotoy!! Ini cuma efek kecapekan." "Kecapekan nggak bikin lo lihat lantai basah di ruangan kering, Cinta..." Deg. Jantung Cinta seolah berhenti berdetak sesaat. "Gue nggak lihat apa-apa. Eeehh... lo kok tahu nama gue?" "Dasar si cacing yang banyak tanya." jawab pria itu santai, yang malah membuat Cinta makin gemas karena penasaran. "Lo dokter?" desak Cinta lagi. "Bukan." "Relawan? Security nyasar?" Pria itu hampir tersenyum. Nyaris. "Gue sengaja nunggu lo sadar penuh." "Lo tahu nggak, kalimat itu creepy banget?" "Tergantung siapa yang ngucapin. Kalau yang ngomong ganteng kayak gue, namanya bukan creepy, tapi bikin salting." Cinta menarik napas panjang, mencoba tetap logis, sampai tiba-tiba tirai UKS tersibak kasar. Srraaatt!! "ANDA SIAPA?" Suster Siti berdiri di sana dengan wajah siaga maksimal, tangannya sudah memegang botol alkohol seolah itu senjata. Cinta langsung menunjuk pria itu dengan penuh dendam. "Sus, nih anak ganggu banget! Usir aja, Sus!" Suster Siti melipat tangan di dada. "Anda siapa? Saya tidak pernah melihat wajah anda di sini..." Pria itu tampak berpikir sejenak. "Susah jelasinnya.." "MAKSUDNYA?" seru Suster Siti dan Cinta kompak. "Kalian nggak usah tau.. ntar pingsan lagi." jawab pria itu tenang tanpa beban. Ia berdiri, dan tingginya langsung membuat ruangan UKS yang kecil itu terasa makin sempit dan menyesakkan. Tatapannya kembali ke Cinta, kali ini lebih tajam dan serius. "Gue cuma mau jagain Cinta biar dia nggak tumbang lagi." "Ngaco! Kenal aja kagak!" protes Cinta sambil menarik selimutnya, agak salting dibuatnya. "Gue disini karena apa yang lo lihat dan lo rasa itu nggak normal..." lanjut pria itu tanpa ekspresi, mengabaikan protes Cinta. Cinta menelan ludah. Mulai lagi dia kayak paranormal.. batin Cinta ketakutan. Suster Siti semakin tegang, merasa suasana berubah dingin. "Dia ngomong apa sih?" Pria itu menatap Suster Siti. Tatapan yang begitu dingin hingga sang suster refleks mundur selangkah, seolah ada tekanan kasat mata yang mendorongnya. "Dia nggak sakit. Dia... sudah kebuka." "KEBUKA APA?!" teriak mereka berdua lagi, makin bingung. Pria itu mengacuhkan pertanyaan mereka dan melanjutkan ucapannya dengan nada final. "Dan itu menjadi masalah besar sekarang." Ia merogoh saku jaket hitamnya, mengeluarkan sebuah kartu hitam polos yang tebal. Tidak ada tulisan apapun.. benar benar kosong. "Pegang ini." Cinta ragu sebenarnya tapi rasa penasarannya menang mengalahkan rasa takutnya. Begitu jarinya menyentuh kartu itu... dingin. Dingin yang tidak masuk akal, menusuk sampai ke tulang hingga Cinta menggigil. "ANJIR! Es batu.." Cinta hampir melepaskannya karena kaget. Suster Siti yang penasaran ikut menyentuh ujung kartu itu, tapi sedetik kemudian langsung menjatuhkannya ke lantai. "ASTAGA! DINGIN BANGET! Ini kartu apa?!" Anehnya, saat kartu itu tergeletak di ubin, suhunya mendadak kembali normal, tidak terlihat sisa embun kemudian muncul nama 'SAMUDRA'. Pria itu santai sambil berjalan menuju pintu seolah tidak terjadi apa-apa. "Lo mau ke mana? Lo belum jawab apa-apa, woooiii!" teriak Cinta frustrasi. Samudra menoleh sedikit dan tersenyum tipis… tipe senyum yang bikin kesal sekaligus terpesona. "Belum waktunya, nanti pelan-pelan lo bakalan tahu." CKREK. Pintu tertutup pelan, sosoknya menghilang seolah hanya asap yang tertiup angin. Sunyi kembali merayap, menyisakan bau minyak kayu putih dan tanda tanya besar dipikiran Cinta dan menular ke Suster Siti. Suster Siti menoleh ke arah Cinta dengan wajah pucat. "Mahasiswi... Anda kenal pria tadi? Dia... aneh sekali." Cinta menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu, lalu menggeleng pelan dengan tatapan kosong. "Nggak, Sus..." Cinta menunduk, menatap telapak tangannya yang masih terasa beku. "Tapi kayaknya dia sudah kenal saya lebih dulu..." Dan di tengah keheningan itu, rasa dingin dari kartu tadi seolah masih tertinggal di nadinya, merambat pelan menuju hatinya yang mulai gelisah dengan pertanyaan yang masih sama."Langkah satu centi lagi, dan lo bakal nyesel seumur hidup, Cinta."Suara bariton Samudra membelah keheningan gerbang belakang kampus seperti silet yang mengiris udara.Cinta tersentak, kakinya yang nyaris menyentuh pusaran kabut hitam itu mendadak kaku. Ia menoleh perlahan dan mendapati Samudra berdiri di sana, namun kali ini wajahnya bukan wajah pelindung yang biasanya hangat. Matanya kelam, sedalam palung laut yang menyimpan rahasia paling gelap.Di sampingnya, Langit berdiri dengan posisi siaga, melipat tangan di dada dengan wajah yang sama dinginnya. Mereka berdua berdiri seperti algojo yang siap mengeksekusi mangsa."Lo berdua... mau apa?!" desis Cinta, suaranya bergetar antara marah dan rasa malu karena aksinya menyelinap dari kosan ternyata gagal total."Gue nggak punya pilihan, Cin," sahut Langit datar. Suaranya tidak menunjukkan emosi sedikit pun, seolah-olah Cinta hanyalah objek tugas yang harus diselesaikan."Lo terlalu nekat. Lo pikir nemuin gerbang ini sendirian malam-
"Gue nggak butuh dikasihani ya, apalagi dijagain sama pembohong kayak lo."Kalimat itu keluar dari mulut Cinta bahkan sebelum Samudra sempat membuka suara di depan pintu kosannya yang tertahan. Cinta mundur selangkah, menatap Samudra dengan pandangan yang lebih dingin dari angin malam. Tidak ada isak tangis yang mendayu, hanya ada gurat kelelahan dan rasa muak yang sangat nyata."Cinta, dengerin gue dulu..""Dengerin apa lagi, Sam?" potong Cinta cepat. "Dengerin skenario baru yang lo buat biar gue kelihatan bego lagi? Jangan pura-pura peduli deh, geli gue liatnya. Selama ini gue hidup dalam rasa bersalah karena ngira Bokap ninggalin gue, dan ternyata lo tahu segalanya tapi milih buat tutup mulut rapat-rapat!"Samudra mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras hingga garis ototnya terlihat jelas di bawah lampu koridor yang temaram. Di dalam hatinya, Samudra berteriak bahwa ia hanya ingin melindungi kewarasan Cinta. Ia takut jika Cinta tahu betapa mengerikannya kondisi ayahnya di bawa
"Gue tahu di mana bokap lo sekarang, Cinta."Langkah kaki Cinta mendadak terpaku di atas lantai marmer koridor rektorat yang dingin. Suara itu tidak mengelegar, hanya halus dan tenang, namun memiliki frekuensi yang sanggup menghentikan aliran darah di pembuluh nadi Cinta seketika. Cinta perlahan menoleh, lehernya terasa kaku. Di sana, bersandar pada pilar beton besar dengan gaya yang terlalu sempurna untuk seorang manusia, berdiri Arden.Cinta mendengus sinis, meski jantungnya berpacu gila-gilaan. Ia mencoba memasang wajah sedingin mungkin, sebuah topeng pertahanan yang biasa ia pelajari di kelas psikologi. "Oh, lo masih sehat ya sekarang? Gue pikir habis kejadian kemarin lo bakal absen lama buat pemulihan diri."Arden tidak terganggu dengan sarkasme itu. Ia malah tersenyum tipis... jenis senyum yang tidak sampai ke mata. "Gue selalu punya cara buat pulih lebih cepat, Cinta. Apalagi kalau motivasinya adalah lo. Dan ada yang sangat menarik sekarang. Lo pikir gue bakal lewatin gitu a
"Cin.., lo mau masuk kelas atau mau jadi patung selamat datang di situ?"Suara melengking Rara membuyarkan lamunan Cinta yang sedari tadi terpaku menatap punggung Samudra yang menjauh di bawah pohon mahoni. Cinta tersentak, mengerjapkan matanya yang terasa perih karena kurang tidur. Ia segera menyesuaikan tali tasnya dan bergegas menyusul Rara masuk ke ruang kuliah 302 yang sudah mulai penuh."Sorry, Ra. Agak blank dikit gue," gumam Cinta sambil mencari tempat duduk di barisan tengah, posisi paling aman untuk mahasiswa yang sedang tidak ingin jadi pusat perhatian dosen.Di depan kelas, Pak Bambang, dosen senior yang terkenal dengan kacamata tebal dan cara bicaranya yang lambat namun menghujam, sudah berdiri di balik podium kayu. Ia sedang menyiapkan materi slide presentasi bertajuk "Mekanisme Pertahanan Ego, Represi dan Amnesia Disosiatif".Cinta menelan ludah. Topik hari ini rasanya seperti sebuah sindiran halus dari semesta."Selamat pagi semuanya," suara Pak Bambang menggema, ber
"Ehh... Zombiii.." Samudra berteriak memanggil Cinta dari kejauhan."Apaan sih.." sahut Cinta dengan muka masam sambil memalingkan wajah."Dehh.. sombong amat. Muka lo pagi ini lebih mirip zombi daripada mahasiswi Psikologi teladan yang siap dengerin curhat pasien."Suara bariton yang berat dan sangat familiar itu menghentikan langkah Cinta tepat di depan gerbang gedung Fakultas Psikologi. Cinta yang sedang berjalan gontai dengan mata panda yang menghitam dan botol air mineral di tangan, nyaris saja menjatuhkan tas punggungnya. Ia menoleh perlahan, lehernya terasa kaku seperti engsel pintu yang karatan.Di sana, bersandar di pilar beton dengan gaya yang terlalu keren untuk ukuran manusia normal, berdiri Samudra. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Pangeran laut itu tidak tampak segar dan sedingin biasanya. Ada gurat kelelahan yang nyata di wajah pucatnya, dan matanya yang biru jernih tampak sedikit meredup, dikelilingi bayangan gelap yang tipis."Lo ngapain di sini, Sam? Bikin suasana m
"Gue khianatin Paman Baruna karena gue suka sama lo, Cinta. Sesederhana itu."Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Samudra, memecah kesunyian di antara deretan rak buku tua perpustakaan Mbah Tejo. Suaranya bariton, tenang, namun mampu membuat bulu kuduk Cinta meremang. Mata biru jernih itu menatap dalam ke netra Cinta, seolah-olah ia sedang menyatakan sebuah kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.Cinta tertegun sejenak. Jantungnya sempat melonjak gila-gailaan, namun sedetik kemudian, akal sehatnya menendang perasaan itu jauh-jauh.Ia tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh dengan rasa tidak percaya yang amat sangat."Hahaaa""Halah! Masih mau pake kartu itu lagi, Sam? Lo pikir gue amnesia?!" Cinta melipat tangan di dada, matanya menyipit sinis, menatap pangeran laut di depannya dengan pandangan menghina. "Dulu lo juga bilang gitu cuma buat pengalihan isu biar gue ngejauh dari Arden pas dia lagi nempel banget sama gue kayak perangko! Lo cuma takut Arden dapet kekuata
Matahari pagi bersinar terik, membakar aspal gang kosan hingga hawa panasnya memantul ke dinding-dinding sempit. Namun bagi Cinta, dunia terasa salah musim.Air hujan masih jatuh tepat di atas kepalanya… dingin, konsisten, dan tidak masuk akal… seolah awan kecil itu menolak pergi ke mana pun ia mel
“Cin.”“Kenapa, Ra? Mau ikut makan kerrang saos padang?” Cinta berhenti mendadak. Dingin tiba -tiba menjalar dilengannya, terlalu tajam untuk ukuran sore yang terik.Rara mendekat dengan alis berkerut dalam. Ia tidak tertawa. “Nggak deh buat lo aja... Tapi, lo dingin banget. Kayak es batu padahal l
“Lo simpan di mana kerangnya?”Langkah Cinta terhenti tepat di depan pintu kantin yang bising. Ia menoleh pelan ke arah Rara, matanya menyipit dengan ekspresi yang sedikit bingung.“Gue titip di pos satpam.” Jawab Cinta santai. “Sekarang gue Cuma mikir, lebih enak saos padang atau mentega.”“Mendin
“Lo nyium bau amis nggak, sih?”Cinta berhenti menulis. Pulpen yang sejak tadi ia tekan ke kertas refleks terangkat, menggantung di udara beberapa detik sebelum akhirnya ia menoleh pelan ke arah Rara. Sahabatnya itu sudah memasang wajah super aneh.“Apaan, sih Ra?” gumam Cinta. “Jangan mulai aneh-a







