LOGIN“Lo nyium bau amis nggak, sih?”
Cinta berhenti menulis. Pulpen yang sejak tadi ia tekan ke kertas refleks terangkat, menggantung di udara beberapa detik sebelum akhirnya ia menoleh pelan ke arah Rara. Sahabatnya itu sudah memasang wajah super aneh. “Apaan, sih Ra?” gumam Cinta. “Jangan mulai aneh-aneh deh... gue lagi nggak mood nih.” Rara tidak langsung menjawab. Dia malah mengendus-ngendus udara kelas dengan ekspresi serius, seperti detektif amatir yang sedang mencari sumber kebocoran gas. “Ini bukan aneh sihh..” kata Rara akhirnya. “Ini bau amis tapi kayak yang dekat banget gitu loh Cin.” Cinta mendengus kecil, meski jantungnya mulai berpacu tidak beraturan. “Jangan kebanyakan nonton drama.. jadi overthinking kan lo..” Cinta menyesal begitu kalimat itu lepas. Padahal, Ia sendiri merasakan ada sesuatu di udara. Bukan aroma busuk, melainkan aroma laut yang seharusnya tidak mungkin ada di ruangan ber AC yang tertutup rapat. Tiba-tiba… gesekan kursi dari barisan depan memecah fokusnya. Bunyi decitnya terdengar sengaja dibuat nyaring. “Duuhh, bau apa sih ini? Amis banget! Sumpah, bikin mual!” suara cewek terdengar nyaring dan manja, sengaja dikeraskan agar seisi kelas menoleh. Cinta menutup mata sesaat, Vanessa. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berbicara. Dan seperti paket lengkap, di belakang Vanessa pasti ada The Snakes geng. Kumpulan perempuan dengan kuku panjang warna nude mahal dan tatapan yang selalu mengadili orang lain berdasarkan merk tas. Vanessa mengipas-ngipas hidungnya dengan buku catatan mahal. “Ini ruang kelas atau pelabuhan ikan? Bau banget iih!! Tolong dong.. yang nggak mandi seminggu mending keluar!” “Bener iiih.. kayak bau ikan mentah di pasar.” sahut Dinda, salah satu Snake, sambil mencibir ke arah barisan Cinta. Cinta akhirnya menoleh, tatapan Vanessa langsung mengunci matanya, memberikan senyum tipis yang terlalu terkontrol. “Ehh Cinta.. habis narik jaring di Ancol atau baru balik jadi putri duyung? Bau banget tau..” Beberapa pasang mata mahasiswa lain langsung melirik ke arah Cinta dengan tatapan menyelidik. Suasana kelas yang tadinya tenang berubah menjadi penuh bisik-bisik yang menyudutkan. “Aroma parfum murah kali, Ness..” jawab Cinta santai sambil mengangkat bahu dan mencoba terlihat tidak peduli walau tangannya sedikit gemetar. Rara hampir tersedak mendengar jawaban bar-bar sahabatnya. Ia tahu kalau Cinta sudah mulai mengeluarkan taringnya, berarti suasananya sudah gawat. “Kalau parfum murah terus kecampur AC, emang suka jadi aneh aromanya Ness..” lanjut Cinta telak, suaranya naik satu oktav. “Kayaknya…Kayaknya ni yah.. lo harus coba ganti merek yang lebih mahal biar hidung lo nggak cium bau-bauan rakyat jelata.” Dinda langsung pasang muka tersinggung. “Maksud lo apa? Lo ngatain kita?” “Maksud gue…” Cinta menatapnya lurus, tanpa kedip. “Kadang bau aneh itu cuma masalah selera parfum aja yang kurang oke atau mungkin hidung lo perlu diservis ke THT.” Vanessa tertawa kecil, pelan dan palsu. “Santai aja kali.. Gue tadi kan cuma nanya. Nggak usah nge gas.” Dosen mulai bicara, memaksa suasana kembali formal. Tapi aroma itu tidak pergi, justru semakin jelas merayap naik dari bawah meja. Cinta menunduk sedikit, mengendus pelan ke arah tasnya. Matanya membelalak, aroma asin itu benar-benar menguar dari sana, begitu nyata sampai lidahnya seolah bisa mengecap rasa garam. “Ra…” bisik Cinta pelan, wajahnya memucat. “Kayaknya baunya emang dari tas gue deh.” Rara melirik cepat dengan mata membulat. “Haah? Lu bawa apaan?” “Alaah… Baunya makin kuat lagi!! Sialan, apa sih di dalam tas gue?” “Tenang dulu Cin...” bisik Rara cepat sambil memegang tangan Cinta yang mulai dingin. “Tunggu istirahat dulu… Lo nggak mau kan jadi tontonan satu kampus kalau bongkar tas sekarang? Vanessa bakal makin punya bahan buat nge bully lo.” Cinta mengangguk kecil, tapi pikirannya sudah melayang jauh. Kalau kalau hal terburuk yang terjadi. Empat puluh menit berikutnya terasa seperti hukuman mati menyelinap di antara tatapan tajam The Snakers. Begitu bel berbunyi, Rara langsung menarik Cinta ke sudut koridor yang paling sepi dekat gudang lama yang jarang dilewati orang. “Oke..” kata Rara sambil jongkok dan membuka resleting tas Cinta dengan waspada, seolah tas itu berisi bom waktu. “Kalau lo bawa yang aneh aneh gue pensiun dini jadi sahabat lo...” “Jangan bercanda, Ra!! Gue beneran takut nih!” desis Cinta panik. Rara membuka tasnya lebar, kemudian terdiam mematung. Tangannya yang masuk ke dalam tas mendadak kaku. Lalu ia mengumpat pelan. “Cin... demi apa pun, ini nggak lucu.” “Apaan? Ada mayat ikan?” Rara mengeluarkan sesuatu dari dasar tas. Sebuah kerang laut berukuran telapak tangan. Cangkangnya pucat keabu-abuan, masih lembap dengan tetesan air, dan aroma garam langsung menyergap indra penciuman mereka. Kerang itu terlihat sangat segar, seolah baru saja dipungut dari pesisir pantai detik itu juga. Cinta menatap benda itu tanpa berkedip. Tubuhnya gemetar. “...Itu apa? Kok bisa ada di situ? Siapa yang masukin?” Rara mengangkat alis, wajahnya menunjukkan kengerian yang nyata. “Pertanyaan bodoh. Ini tas lo koplak… Malah nanya ke gue? Mana gue tau… Jini oh Jini kali yang masukin. Masih basah loh, Cin!” “Gue nggak pernah masukin benda begituan ke tas gue!! Lo tahu sendiri isi tas gue cuma buku sama alat tulis!” “Gue juga kagak yakin.” kata Rara pelan, suaranya bergetar. “Lo bukan tipe yang diam-diam jualan hiasan akuarium di kampus. Tapi ini... gimana caranya masuk ke tas yang lo tutup rapat dari tadi?” Cinta menelan ludah, bayangan Samudra yang memutar-mutarkan pulpennya kemarin kembali muncul di pelupuk matanya. Kartu hitam dingin, jejak kaki basah, dan sekarang... kerang ini. Semuanya menunjuk pada satu nama yang sama. “Ra, lo kenapa liatin gue kayak gitu?” tanya Cinta saat melihat ekspresi Rara berubah menjadi sangat prihatin, seolah-olah Cinta baru saja didiagnosa penyakit aneh. Rara menatap kerang itu, lalu kembali menatap Cinta dengan tatapan serius. “Gue nggak tahu apa yang terjadi sama lo, Cin... tapi satu hal yang pasti... ni kerang bawa aja ke kosan lo, bersihin kasih wewangian, lumayan cantik kok buat pajangan.” Rara berhenti sebentar, menelan ludah dengan susah payah. “...anggap ini jimat keberuntungan buat mahasiswa tingkat akhir kayak kita.” Cinta hanya terdiam mengiyakan, aroma garam makin menguat, seolah Samudra sedang berdiri tepat di belakang mereka, mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Cinta terdiam, meremas tali tasnya kuat-kuat sampai kukunya memutih. Apa ada hubungannya sama Samudra ya? Batin Cinta.Hujan itu berhenti.Bukan mereda pelan seperti hujan normal, tapi putus seketika, seperti sakelar lampu yang dimatikan tanpa aba-aba. Begitu Cinta melangkah menjauh dari gudang tua dengan kotak biru di pelukannya, langit di atas kepalanya mendadak bersih. Terik. Sama teriknya dengan gang kosan yang lain.Cinta berhenti tepat di depan gerbang kosannya.Refleks, kepalanya mendongak. Mencari awan kelabu yang biasanya setia menggantung di atas kepalanya. Tapi langit itu kosong… biru dan normal. Sangat normal.“Serius?” gumamnya lirih. “Setelah semua kekacauan itu… sekarang malah berhenti?”Aspal yang tadi basah mulai menguap, mengirimkan aroma panas dan debu. Orang-orang lalu lalang tanpa peduli. Tidak ada yang menatap aneh. Tidak ada bisik-bisik. Tidak ada keajaiban.Dan justru itu yang bikin dada Cinta terasa makin sesak.“Harusnya lo masih ada...” katanya pelan ke langit. “Minimal ngasih tanda kek. Ini apa? Prank? Lo kira gue punya waktu buat ini?”Ia menggeleng sendiri, tertawa pendek
Matahari pagi bersinar terik, membakar aspal gang kosan hingga hawa panasnya memantul ke dinding-dinding sempit. Namun bagi Cinta, dunia terasa salah musim.Air hujan masih jatuh tepat di atas kepalanya… dingin, konsisten, dan tidak masuk akal… seolah awan kecil itu menolak pergi ke mana pun ia melangkah.Setelah sore penuh kegilaan, ketika kerang mutiara di mejanya bergetar dan mengeluarkan suara deburan ombak halus, Cinta tahu satu hal.. ia tak bisa terus berpura-pura ini hanya stres biasa.Ia berdiri di depan gudang tua di samping gang kosannya dengan kondisi mengenaskan. Rambut lepek, baju lembap, dan napasnya berat.Satu-satunya alasan ia datang ke sini adalah kotak biru itu. Ada denyut aneh di dadanya… selaras dengan detak jantungnya… seolah sesuatu di dalam gudang sedang memanggil namanya.“Duuhh.. Gusti… piye iki? Masa gue harus bawa awan mendung ini sampai wisuda?” gerutunya. “Bisa-bisa gue dikenal sebagai mahasiswi musim hujan.”Ia mengacak rambutnya frustrasi, memercikkan a
“Cin.”“Kenapa, Ra? Mau ikut makan kerrang saos padang?” Cinta berhenti mendadak. Dingin tiba -tiba menjalar dilengannya, terlalu tajam untuk ukuran sore yang terik.Rara mendekat dengan alis berkerut dalam. Ia tidak tertawa. “Nggak deh buat lo aja... Tapi, lo dingin banget. Kayak es batu padahal lagi terik gini.”“AC Ra.. Biasalah, kampus kita kan kalau nyalain AC suka nggak kira-kira.” jawab Cinta cepat, sebuah pembelaan diri yang terasa makin lemah.“Cin, kita udah di luar. Matahari nya nyolot banget tuh.” balas Rara sambil menunjuk langit.Matahari masih menyengat, membakar aspal kampus tanpa ampun. Tidak ada tanda hujan, tidak ada awan gelap diatas mereka. Semua orang berjalan santai, kering, normal… kecuali Cinta.Baru saja Cinta mau membalas omongan Rara dengan kalimat sarkas, tiba-tiba...Plok…Satu tetes air jatuh tepat di ujung hidungnya, Cinta berkedip bingung.Plok… Plok…Dua tetes berikutnya mendarat di kening dan pipinya. Rara refleks menengadah ke langit. “Hujan? Terik
“Lo simpan di mana kerangnya?”Langkah Cinta terhenti tepat di depan pintu kantin yang bising. Ia menoleh pelan ke arah Rara, matanya menyipit dengan ekspresi yang sedikit bingung.“Gue titip di pos satpam.” Jawab Cinta santai. “Sekarang gue Cuma mikir, lebih enak saos padang atau mentega.”“Mending saos padang sih… eh, ini apaan? Kerang tadi lo mau eksekusi? Kalau kerang jadi jadian gimana?” sahut Rara panik.“… ya jadi tai gue.. hahah… kapan lagi coba dapat kerang gratis, hidup anak kos itu berat Ra.”Rara malah nyengir sambil geleng geleng kepala, melihat keabsurdan temannya itu.“Yaa udah.. next gue doain bakalan ada kepiting atau ubur-ubur nyangkut di resleting lo..”“Aamiin!” balas Cinta tenang.Mereka akhirnya masuk ke area kantin. Suasana ramai, panas, dan berisik langsung menyergap indra mereka. Aroma gorengan yang baru diangkat, sambal pedas, kopi sachet, dan uap mie ayam bercampur menjadi satu.Normal. Kantin yang panas, berisik, dan penuh bau minyak, cukup membuat Cinta ya
“Lo nyium bau amis nggak, sih?”Cinta berhenti menulis. Pulpen yang sejak tadi ia tekan ke kertas refleks terangkat, menggantung di udara beberapa detik sebelum akhirnya ia menoleh pelan ke arah Rara. Sahabatnya itu sudah memasang wajah super aneh.“Apaan, sih Ra?” gumam Cinta. “Jangan mulai aneh-aneh deh... gue lagi nggak mood nih.”Rara tidak langsung menjawab. Dia malah mengendus-ngendus udara kelas dengan ekspresi serius, seperti detektif amatir yang sedang mencari sumber kebocoran gas.“Ini bukan aneh sihh..” kata Rara akhirnya. “Ini bau amis tapi kayak yang dekat banget gitu loh Cin.”Cinta mendengus kecil, meski jantungnya mulai berpacu tidak beraturan. “Jangan kebanyakan nonton drama.. jadi overthinking kan lo..”Cinta menyesal begitu kalimat itu lepas. Padahal, Ia sendiri merasakan ada sesuatu di udara. Bukan aroma busuk, melainkan aroma laut yang seharusnya tidak mungkin ada di ruangan ber AC yang tertutup rapat.Tiba-tiba… gesekan kursi dari barisan depan memecah fokusnya.
"Lo udah sadar?"Suara bass itu terdengar terlalu dekat dan mengganggu di telinga Cinta. Ia mengernyitkan dahi, kepalanya terasa berat seolah baru saja dijadikan bola gundu oleh raksasa di film superhero. Ada rasa dingin yang aneh di pelipisnya, disusul aroma minyak kayu putih yang menyengat sampai ke ubun-ubun."Siaaaal… gue memang fans Lee Min Ho, tapi bukan fans garis keras," gumam Cinta dengan mata masih setengah terpejam melihat samar pria itu. Rasa pusing membuatnya enggan melihat dunia."Apa sih dia lagi... dia lagi... apa gue pingsan lagi aja ya?" bisiknya dalam hati, mencoba mencari skenario kabur paling aman."Jangan pura-pura lo," suara itu terdengar lagi, datar tapi seolah sedang menahan tawa. "Bangun... wooiii.."Mata Cinta terbuka perlahan. Plafon putih kusam menyambut pandangannya yang masih buram. Lampu neon yang berdengung dan kipas angin tua yang berdecit malas meyakinkan Cinta kalau dia sedang berada di tempat peristirahatan favorit anak kampus yang ogah kuliah.UKS







