Share

Bab 3 Aroma Laut

Penulis: Aira Jiva
last update Tanggal publikasi: 2026-01-21 12:49:02

“Lo nyium bau amis nggak, sih?”

Cinta berhenti menulis. Pulpen yang sejak tadi ia tekan ke kertas refleks terangkat, menggantung di udara beberapa detik sebelum akhirnya ia menoleh pelan ke arah Rara. Sahabatnya itu sudah memasang wajah super aneh.

“Apaan, sih Ra?” gumam Cinta. “Jangan mulai aneh-aneh deh... gue lagi nggak mood nih.”

Rara tidak langsung menjawab. Dia malah mengendus-ngendus udara kelas dengan ekspresi serius, seperti detektif amatir yang sedang mencari sumber kebocoran gas.

“Ini bukan aneh sihh..” kata Rara akhirnya. “Ini bau amis tapi kayak yang dekat banget gitu loh Cin.”

Cinta mendengus kecil, meski jantungnya mulai berpacu tidak beraturan. “Jangan kebanyakan nonton drama.. jadi overthinking kan lo..”

Cinta menyesal begitu kalimat itu lepas. Padahal, Ia sendiri merasakan ada sesuatu di udara. Bukan aroma busuk, melainkan aroma laut yang seharusnya tidak mungkin ada di ruangan ber AC yang tertutup rapat.

Tiba-tiba… gesekan kursi dari barisan depan memecah fokusnya. Bunyi decitnya terdengar sengaja dibuat nyaring.

“Duuhh, bau apa sih ini? Amis banget! Sumpah, bikin mual!” suara cewek terdengar nyaring dan manja, sengaja dikeraskan agar seisi kelas menoleh.

Cinta menutup mata sesaat, Vanessa. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berbicara. Dan seperti paket lengkap, di belakang Vanessa pasti ada The Snakes geng. Kumpulan perempuan dengan kuku panjang warna nude mahal dan tatapan yang selalu mengadili orang lain berdasarkan merk tas.

Vanessa mengipas-ngipas hidungnya dengan buku catatan mahal. “Ini ruang kelas atau pelabuhan ikan? Bau banget iih!! Tolong dong.. yang nggak mandi seminggu mending keluar!”

“Bener iiih.. kayak bau ikan mentah di pasar.” sahut Dinda, salah satu Snake, sambil mencibir ke arah barisan Cinta.

Cinta akhirnya menoleh, tatapan Vanessa langsung mengunci matanya, memberikan senyum tipis yang terlalu terkontrol. “Ehh Cinta.. habis narik jaring di Ancol atau baru balik jadi putri duyung? Bau banget tau..”

Beberapa pasang mata mahasiswa lain langsung melirik ke arah Cinta dengan tatapan menyelidik. Suasana kelas yang tadinya tenang berubah menjadi penuh bisik-bisik yang menyudutkan.

“Aroma parfum murah kali, Ness..” jawab Cinta santai sambil mengangkat bahu dan mencoba terlihat tidak peduli walau tangannya sedikit gemetar.

Rara hampir tersedak mendengar jawaban bar-bar sahabatnya. Ia tahu kalau Cinta sudah mulai mengeluarkan taringnya, berarti suasananya sudah gawat.

“Kalau parfum murah terus kecampur AC, emang suka jadi aneh aromanya Ness..” lanjut Cinta telak, suaranya naik satu oktav. “Kayaknya…Kayaknya ni yah.. lo harus coba ganti merek yang lebih mahal biar hidung lo nggak cium bau-bauan rakyat jelata.”

Dinda langsung pasang muka tersinggung. “Maksud lo apa? Lo ngatain kita?”

“Maksud gue…” Cinta menatapnya lurus, tanpa kedip. “Kadang bau aneh itu cuma masalah selera parfum aja yang kurang oke atau mungkin hidung lo perlu diservis ke THT.”

Vanessa tertawa kecil, pelan dan palsu. “Santai aja kali.. Gue tadi kan cuma nanya. Nggak usah nge gas.”

Dosen mulai bicara, memaksa suasana kembali formal. Tapi aroma itu tidak pergi, justru semakin jelas merayap naik dari bawah meja. Cinta menunduk sedikit, mengendus pelan ke arah tasnya. Matanya membelalak, aroma asin itu benar-benar menguar dari sana, begitu nyata sampai lidahnya seolah bisa mengecap rasa garam.

“Ra…” bisik Cinta pelan, wajahnya memucat. “Kayaknya baunya emang dari tas gue deh.”

Rara melirik cepat dengan mata membulat. “Haah? Lu bawa apaan?”

“Alaah… Baunya makin kuat lagi!! Sialan, apa sih di dalam tas gue?”

“Tenang dulu Cin...” bisik Rara cepat sambil memegang tangan Cinta yang mulai dingin.

“Tunggu istirahat dulu… Lo nggak mau kan jadi tontonan satu kampus kalau bongkar tas sekarang? Vanessa bakal makin punya bahan buat nge bully lo.”

Cinta mengangguk kecil, tapi pikirannya sudah melayang jauh. Kalau kalau hal terburuk yang terjadi.

Empat puluh menit berikutnya terasa seperti hukuman mati menyelinap di antara tatapan tajam The Snakers. Begitu bel berbunyi, Rara langsung menarik Cinta ke sudut koridor yang paling sepi dekat gudang lama yang jarang dilewati orang.

“Oke..” kata Rara sambil jongkok dan membuka resleting tas Cinta dengan waspada, seolah tas itu berisi bom waktu.

“Kalau lo bawa yang aneh aneh gue pensiun dini jadi sahabat lo...”

“Jangan bercanda, Ra!! Gue beneran takut nih!” desis Cinta panik.

Rara membuka tasnya lebar, kemudian terdiam mematung. Tangannya yang masuk ke dalam tas mendadak kaku. Lalu ia mengumpat pelan. “Cin... demi apa pun, ini nggak lucu.”

“Apaan? Ada mayat ikan?”

Rara mengeluarkan sesuatu dari dasar tas. Sebuah kerang laut berukuran telapak tangan. Cangkangnya pucat keabu-abuan, masih lembap dengan tetesan air, dan aroma garam langsung menyergap indra penciuman mereka. Kerang itu terlihat sangat segar, seolah baru saja dipungut dari pesisir pantai detik itu juga.

Cinta menatap benda itu tanpa berkedip. Tubuhnya gemetar. “...Itu apa? Kok bisa ada di situ? Siapa yang masukin?”

Rara mengangkat alis, wajahnya menunjukkan kengerian yang nyata. “Pertanyaan bodoh. Ini tas lo koplak… Malah nanya ke gue? Mana gue tau… Jini oh Jini kali yang masukin. Masih basah loh, Cin!”

“Gue nggak pernah masukin benda begituan ke tas gue!! Lo tahu sendiri isi tas gue cuma buku sama alat tulis!”

“Gue juga kagak yakin.” kata Rara pelan, suaranya bergetar. “Lo bukan tipe yang diam-diam jualan hiasan akuarium di kampus. Tapi ini... gimana caranya masuk ke tas yang lo tutup rapat dari tadi?”

Cinta menelan ludah, bayangan Samudra yang memutar-mutarkan pulpennya kemarin kembali muncul di pelupuk matanya. Kartu hitam dingin, jejak kaki basah, dan sekarang... kerang ini. Semuanya menunjuk pada satu nama yang sama.

“Ra, lo kenapa liatin gue kayak gitu?” tanya Cinta saat melihat ekspresi Rara berubah menjadi sangat prihatin, seolah-olah Cinta baru saja didiagnosa penyakit aneh.

Rara menatap kerang itu, lalu kembali menatap Cinta dengan tatapan serius. “Gue nggak tahu apa yang terjadi sama lo, Cin... tapi satu hal yang pasti... ni kerang bawa aja ke kosan lo, bersihin kasih wewangian, lumayan cantik kok buat pajangan.”

Rara berhenti sebentar, menelan ludah dengan susah payah. “...anggap ini jimat keberuntungan buat mahasiswa tingkat akhir kayak kita.”

Cinta hanya terdiam mengiyakan, aroma garam makin menguat, seolah Samudra sedang berdiri tepat di belakang mereka, mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Cinta terdiam, meremas tali tasnya kuat-kuat sampai kukunya memutih. Apa ada hubungannya sama Samudra ya? Batin Cinta.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 75 Sisi Gelap Sang Pelindung

    "Langkah satu centi lagi, dan lo bakal nyesel seumur hidup, Cinta."Suara bariton Samudra membelah keheningan gerbang belakang kampus seperti silet yang mengiris udara.Cinta tersentak, kakinya yang nyaris menyentuh pusaran kabut hitam itu mendadak kaku. Ia menoleh perlahan dan mendapati Samudra berdiri di sana, namun kali ini wajahnya bukan wajah pelindung yang biasanya hangat. Matanya kelam, sedalam palung laut yang menyimpan rahasia paling gelap.Di sampingnya, Langit berdiri dengan posisi siaga, melipat tangan di dada dengan wajah yang sama dinginnya. Mereka berdua berdiri seperti algojo yang siap mengeksekusi mangsa."Lo berdua... mau apa?!" desis Cinta, suaranya bergetar antara marah dan rasa malu karena aksinya menyelinap dari kosan ternyata gagal total."Gue nggak punya pilihan, Cin," sahut Langit datar. Suaranya tidak menunjukkan emosi sedikit pun, seolah-olah Cinta hanyalah objek tugas yang harus diselesaikan."Lo terlalu nekat. Lo pikir nemuin gerbang ini sendirian malam-

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 74 Kamuflase

    "Gue nggak butuh dikasihani ya, apalagi dijagain sama pembohong kayak lo."Kalimat itu keluar dari mulut Cinta bahkan sebelum Samudra sempat membuka suara di depan pintu kosannya yang tertahan. Cinta mundur selangkah, menatap Samudra dengan pandangan yang lebih dingin dari angin malam. Tidak ada isak tangis yang mendayu, hanya ada gurat kelelahan dan rasa muak yang sangat nyata."Cinta, dengerin gue dulu..""Dengerin apa lagi, Sam?" potong Cinta cepat. "Dengerin skenario baru yang lo buat biar gue kelihatan bego lagi? Jangan pura-pura peduli deh, geli gue liatnya. Selama ini gue hidup dalam rasa bersalah karena ngira Bokap ninggalin gue, dan ternyata lo tahu segalanya tapi milih buat tutup mulut rapat-rapat!"Samudra mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras hingga garis ototnya terlihat jelas di bawah lampu koridor yang temaram. Di dalam hatinya, Samudra berteriak bahwa ia hanya ingin melindungi kewarasan Cinta. Ia takut jika Cinta tahu betapa mengerikannya kondisi ayahnya di bawa

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 73 Bisikan Palsu

    "Gue tahu di mana bokap lo sekarang, Cinta."Langkah kaki Cinta mendadak terpaku di atas lantai marmer koridor rektorat yang dingin. Suara itu tidak mengelegar, hanya halus dan tenang, namun memiliki frekuensi yang sanggup menghentikan aliran darah di pembuluh nadi Cinta seketika. Cinta perlahan menoleh, lehernya terasa kaku. Di sana, bersandar pada pilar beton besar dengan gaya yang terlalu sempurna untuk seorang manusia, berdiri Arden.Cinta mendengus sinis, meski jantungnya berpacu gila-gilaan. Ia mencoba memasang wajah sedingin mungkin, sebuah topeng pertahanan yang biasa ia pelajari di kelas psikologi. "Oh, lo masih sehat ya sekarang? Gue pikir habis kejadian kemarin lo bakal absen lama buat pemulihan diri."Arden tidak terganggu dengan sarkasme itu. Ia malah tersenyum tipis... jenis senyum yang tidak sampai ke mata. "Gue selalu punya cara buat pulih lebih cepat, Cinta. Apalagi kalau motivasinya adalah lo. Dan ada yang sangat menarik sekarang. Lo pikir gue bakal lewatin gitu a

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 72 Mekanisme Represi

    "Cin.., lo mau masuk kelas atau mau jadi patung selamat datang di situ?"Suara melengking Rara membuyarkan lamunan Cinta yang sedari tadi terpaku menatap punggung Samudra yang menjauh di bawah pohon mahoni. Cinta tersentak, mengerjapkan matanya yang terasa perih karena kurang tidur. Ia segera menyesuaikan tali tasnya dan bergegas menyusul Rara masuk ke ruang kuliah 302 yang sudah mulai penuh."Sorry, Ra. Agak blank dikit gue," gumam Cinta sambil mencari tempat duduk di barisan tengah, posisi paling aman untuk mahasiswa yang sedang tidak ingin jadi pusat perhatian dosen.Di depan kelas, Pak Bambang, dosen senior yang terkenal dengan kacamata tebal dan cara bicaranya yang lambat namun menghujam, sudah berdiri di balik podium kayu. Ia sedang menyiapkan materi slide presentasi bertajuk "Mekanisme Pertahanan Ego, Represi dan Amnesia Disosiatif".Cinta menelan ludah. Topik hari ini rasanya seperti sebuah sindiran halus dari semesta."Selamat pagi semuanya," suara Pak Bambang menggema, ber

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 71 Memori yang Terkunci

    "Ehh... Zombiii.." Samudra berteriak memanggil Cinta dari kejauhan."Apaan sih.." sahut Cinta dengan muka masam sambil memalingkan wajah."Dehh.. sombong amat. Muka lo pagi ini lebih mirip zombi daripada mahasiswi Psikologi teladan yang siap dengerin curhat pasien."Suara bariton yang berat dan sangat familiar itu menghentikan langkah Cinta tepat di depan gerbang gedung Fakultas Psikologi. Cinta yang sedang berjalan gontai dengan mata panda yang menghitam dan botol air mineral di tangan, nyaris saja menjatuhkan tas punggungnya. Ia menoleh perlahan, lehernya terasa kaku seperti engsel pintu yang karatan.Di sana, bersandar di pilar beton dengan gaya yang terlalu keren untuk ukuran manusia normal, berdiri Samudra. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Pangeran laut itu tidak tampak segar dan sedingin biasanya. Ada gurat kelelahan yang nyata di wajah pucatnya, dan matanya yang biru jernih tampak sedikit meredup, dikelilingi bayangan gelap yang tipis."Lo ngapain di sini, Sam? Bikin suasana m

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 70 Modus Lama

    "Gue khianatin Paman Baruna karena gue suka sama lo, Cinta. Sesederhana itu."Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Samudra, memecah kesunyian di antara deretan rak buku tua perpustakaan Mbah Tejo. Suaranya bariton, tenang, namun mampu membuat bulu kuduk Cinta meremang. Mata biru jernih itu menatap dalam ke netra Cinta, seolah-olah ia sedang menyatakan sebuah kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.Cinta tertegun sejenak. Jantungnya sempat melonjak gila-gailaan, namun sedetik kemudian, akal sehatnya menendang perasaan itu jauh-jauh.Ia tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh dengan rasa tidak percaya yang amat sangat."Hahaaa""Halah! Masih mau pake kartu itu lagi, Sam? Lo pikir gue amnesia?!" Cinta melipat tangan di dada, matanya menyipit sinis, menatap pangeran laut di depannya dengan pandangan menghina. "Dulu lo juga bilang gitu cuma buat pengalihan isu biar gue ngejauh dari Arden pas dia lagi nempel banget sama gue kayak perangko! Lo cuma takut Arden dapet kekuata

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 6 Mbah Tejo

    Matahari pagi bersinar terik, membakar aspal gang kosan hingga hawa panasnya memantul ke dinding-dinding sempit. Namun bagi Cinta, dunia terasa salah musim.Air hujan masih jatuh tepat di atas kepalanya… dingin, konsisten, dan tidak masuk akal… seolah awan kecil itu menolak pergi ke mana pun ia mel

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 5 Teror Hujan

    “Cin.”“Kenapa, Ra? Mau ikut makan kerrang saos padang?” Cinta berhenti mendadak. Dingin tiba -tiba menjalar dilengannya, terlalu tajam untuk ukuran sore yang terik.Rara mendekat dengan alis berkerut dalam. Ia tidak tertawa. “Nggak deh buat lo aja... Tapi, lo dingin banget. Kayak es batu padahal l

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 4 Mie Ayam Bang Jago

    “Lo simpan di mana kerangnya?”Langkah Cinta terhenti tepat di depan pintu kantin yang bising. Ia menoleh pelan ke arah Rara, matanya menyipit dengan ekspresi yang sedikit bingung.“Gue titip di pos satpam.” Jawab Cinta santai. “Sekarang gue Cuma mikir, lebih enak saos padang atau mentega.”“Mendin

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 1 Pria Tampan Misterius

    “Siapa dia?” gumam Cinta dalam hati.Ia yakin seratus persen dirinya masih sadar. Karena setahunya, kalau orang pingsan itu dunianya langsung gelap, atau minimal ada suara berdenging seperti TV rusak, mirip adegan di sinetron jam tujuh malam. Tapi ini tidak… Otaknya masih on, jantungnya berdegup n

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status