Masuk“Lo simpan di mana kerangnya?”
Langkah Cinta terhenti tepat di depan pintu kantin yang bising. Ia menoleh pelan ke arah Rara, matanya menyipit dengan ekspresi yang sedikit bingung.
“Gue titip di pos satpam.” Jawab Cinta santai. “Sekarang gue Cuma mikir, lebih enak saos padang atau mentega.”
“Mending saos padang sih… eh, ini apaan? Kerang tadi lo mau eksekusi? Kalau kerang jadi jadian gimana?” sahut Rara panik.
“… ya jadi tai gue.. hahah… kapan lagi coba dapat kerang gratis, hidup anak kos itu berat Ra.”
Rara malah nyengir sambil geleng geleng kepala, melihat keabsurdan temannya itu.
“Yaa udah.. next gue doain bakalan ada kepiting atau ubur-ubur nyangkut di resleting lo..”
“Aamiin!” balas Cinta tenang.
Mereka akhirnya masuk ke area kantin. Suasana ramai, panas, dan berisik langsung menyergap indra mereka. Aroma gorengan yang baru diangkat, sambal pedas, kopi sachet, dan uap mie ayam bercampur menjadi satu.
Normal. Kantin yang panas, berisik, dan penuh bau minyak, cukup membuat Cinta yakin ini dunia nyata, bukan laut dan bukan halusinasi.
Bang Jago, penjual mie ayam legendaris kampus dengan lengan segede paha Cinta, sibuk mengaduk mie sambil teriak teriak ke pelanggan.
“Mie ayam satu! Pakai bakso urat!” teriak Bang Jago.
“Dua, Bang!” Rara ikut menimpali sambil mengacungkan dua jari. “Yang satu pedas mampus, cabainya jangan pelit pelit ya!”
Cinta menyandarkan punggungnya ke sandaran kayu yang keras, mencoba rileks. Namun, nama Samudra tiba tiba lewat di kepalanya, bikin perutnya menjadi tidak tenang.
Stop, Cinta. Fokus, perut lo lebih butuh perhatian sekarang daripada cowok aneh itu. Batinnya mengingatkan.
“Eh.” Satu kata datar tiba-tiba memecah fokusnya.
Vanessa berdiri di depan meja mereka. Senyum setengahnya selalu berhasil membuat cinta mual. Ia menurunkan kacamata hitamnya ke ujung hidung, lalu sedikit membungkuk.
“uhuuuk uhuuuk…” batuknya sambil mengendus udara dengan gaya berlebihan seolah ia sedang berada di tengah tumpukan sampah.
“helooow.. kok masih ada bau bau gimana gitu ya…?”
Cinta menghela napas panjang, menatap Vanessa datar. “Vanessa, kita di kantin ya.. Banyak bumbu dapur, ikan asin, dan asap, bau kayak gitu bisa disini. Lo salah tempat kalau nyari bau parfum Chanel di sini.”
“ehhh.. ada yang tersinggung girls.” sahut Vanessa sambil mengangkat segelas jus jeruk dingin di tangannya. Butiran air dari gelas itu menetes, terlihat berkilau di bawah lampu kantin. “Minum dulu aja Cin biar seger. Muka lo pucet banget, kayak mayat hanyut.”
Cinta merasakan firasat tidak enak. Bulu kuduknya tiba-tiba meremang. “Gue nggak haus, minum aja buat lo sendiri.”
“Yakin? Atau lo takut ini gue kasih racun?” Vanessa melangkah lebih dekat, membuat jarak di antara mereka sangat tipis. Gelasnya mulai miring dengan sengaja, seolah tangannya… terpeleset.
Cinta berdiri mendadak, membuat bunyi decit bangku yang sangat nyaring hingga meja di sekitar mereka menoleh. “Gini aja deh… kalau mau cari gara-gara, langsung aja. Jangan pakai drama muter-muter kayak gasing!”
Vanessa memiringkan kepala, senyumnya makin licin dan licik. “huufftt… gue kan cuma mau kasih lo sedikit... kesegaran.”
Tangan Vanessa bergerak cepat, gelas itu miring sepenuhnya. Di saat yang sama, Bang Jago muncul dari samping membawa dua mangkuk mie ayam penuh kuah yang masih mengepul panas. Langkah Bang Jago yang terburu-buru dan gerakan tiba-tiba Vanessa seharusnya menciptakan kecelakaan besar yang membuat Cinta basah kuyup tersiram air jeruk dan kuah panas.
Namun, sesuatu yang gila terjadi. Udara di sekitar Cinta mendadak terasa berat, seperti ada tangan dingin yang menekan dadanya dari dalam.
Kuah mie ayam yang baru saja akan tumpah itu mendadak membelok. Bukan muncrat berantakan seperti hukum gravitasi biasa, melainkan melengkung halus di udara seperti pita cair yang ditarik tangan tak terlihat. Kuah itu berputar satu lingkaran kecil, membiaskan cahaya lampu kantin, lalu...
PLUK!
Semua cairan itu jatuh tepat di lantai, persis di tengah-tengah Cinta dan Vanessa, membentuk lingkaran sempurna. Tidak ada satu tetes pun yang mengenai baju Cinta atau Vanessa.
Hening... Satu detik…dua detik… Bahkan bunyi kipas angin di langit-langit terdengar seolah berhenti berputar.
Bang Jago mematung, mangkuknya kosong tapi tangannya masih gemetar. “Eh? Kok bisa?”
Vanessa menatap lantai yang basah dengan wajah pucat pasi. Ia melihat ke arah gelasnya yang kosong, lalu ke lantai, lalu ke Cinta. Cinta sendiri terpaku, menatap gumpalan mie yang mendarat di lantai dengan artistik.
“Hoohooo... itu barusan keren banget, Bang.” gumam Cinta, mencoba memecah kecanggungan yang mencekam.
Rara bengong dengan mulut terbuka lebar. “Bang... barusan itu... bijimane caranye?”
“AKROBAT KUAH!” potong Cinta cepat sambil tepuk tangan. “Bang Jago emang beneran jago! Nggak salah emang dipanggil Bang Jago dengan refleks tingkat dewa, Bang! Latihan sirkus di mana lo, Bang?”
Bang Jago berkedip bingung, menggarap kepalanya yang tidak gatal sambil menelan ludah. “Saya... saya nggak ngerasa gerakin tangan, tapi tadi rasanya ada yang narik mangkuk saya deh.”
“Licin Bang... Kantin banyak minyak, bahaya buat atraksi begitu. Jangan sering sering ya..” sahut Cinta santai sambil menatap Vanessa yang masih syok mematung. “Lumayan kan pertunjukannya, Van? Lo harus bayar tiket kalau mau nonton lagi.”
Vanessa menggertakkan gigi, wajahnya merah padam antara malu dan bingung. Tanpa kata, The Snakes langsung menariknya pergi sebelum suasana makin tidak terkendali.
Begitu mereka menjauh, lutut Cinta mendadak lemas. Ia duduk kembali dengan napas berat yang baru saja ia tahan. “Cin... itu tadi mustahil banget. Airnya belok kayak di film Avatar.” bisik Rara dengan wajah serius.
“Bang Bang Jago sudah naik level Ra..” sahut Cinta, meski tangannya di bawah meja gemetar hebat. Ia tahu itu bukan Bang Jago.
Bang Jago menghampiri meja mereka sambil merapatkan jaket tipisnya, wajahnya yang besar kini terlihat sedikit pucat. “Kok dingin banget ya?”
“Menggigil, Bang?” tanya Rara heran sambil menyentuh meja yang juga terasa es.
Bang Jago mengangguk. “Kayak habis kena angin malam yang menusuk sampai ke tulang.”
Jantung Cinta berdegup kencang. Ia ingat rasa dingin itu. Ia ingat aroma itu. Ia menggeleng keras, mencoba menghalau pikiran buruk. “Abang meriang tuh.. merindukan kasih sayang.”
Di ujung kantin yang gelap, di balik pilar besar, seorang pria berdiri diam. Samudra. Ia memperhatikan semuanya dengan tatapan sedalam palung laut. Tangannya masih sedikit terangkat, lalu ia masukkan kembali ke saku celananya.
Cinta tidak melihatnya, tapi Samudra terus menatapnya. Ada sesuatu yang akhirnya terhubung. Samudra tahu, dan itu bukan pertanda baik.
Hujan itu berhenti.Bukan mereda pelan seperti hujan normal, tapi putus seketika, seperti sakelar lampu yang dimatikan tanpa aba-aba. Begitu Cinta melangkah menjauh dari gudang tua dengan kotak biru di pelukannya, langit di atas kepalanya mendadak bersih. Terik. Sama teriknya dengan gang kosan yang lain.Cinta berhenti tepat di depan gerbang kosannya.Refleks, kepalanya mendongak. Mencari awan kelabu yang biasanya setia menggantung di atas kepalanya. Tapi langit itu kosong… biru dan normal. Sangat normal.“Serius?” gumamnya lirih. “Setelah semua kekacauan itu… sekarang malah berhenti?”Aspal yang tadi basah mulai menguap, mengirimkan aroma panas dan debu. Orang-orang lalu lalang tanpa peduli. Tidak ada yang menatap aneh. Tidak ada bisik-bisik. Tidak ada keajaiban.Dan justru itu yang bikin dada Cinta terasa makin sesak.“Harusnya lo masih ada...” katanya pelan ke langit. “Minimal ngasih tanda kek. Ini apa? Prank? Lo kira gue punya waktu buat ini?”Ia menggeleng sendiri, tertawa pendek
Matahari pagi bersinar terik, membakar aspal gang kosan hingga hawa panasnya memantul ke dinding-dinding sempit. Namun bagi Cinta, dunia terasa salah musim.Air hujan masih jatuh tepat di atas kepalanya… dingin, konsisten, dan tidak masuk akal… seolah awan kecil itu menolak pergi ke mana pun ia melangkah.Setelah sore penuh kegilaan, ketika kerang mutiara di mejanya bergetar dan mengeluarkan suara deburan ombak halus, Cinta tahu satu hal.. ia tak bisa terus berpura-pura ini hanya stres biasa.Ia berdiri di depan gudang tua di samping gang kosannya dengan kondisi mengenaskan. Rambut lepek, baju lembap, dan napasnya berat.Satu-satunya alasan ia datang ke sini adalah kotak biru itu. Ada denyut aneh di dadanya… selaras dengan detak jantungnya… seolah sesuatu di dalam gudang sedang memanggil namanya.“Duuhh.. Gusti… piye iki? Masa gue harus bawa awan mendung ini sampai wisuda?” gerutunya. “Bisa-bisa gue dikenal sebagai mahasiswi musim hujan.”Ia mengacak rambutnya frustrasi, memercikkan a
“Cin.”“Kenapa, Ra? Mau ikut makan kerrang saos padang?” Cinta berhenti mendadak. Dingin tiba -tiba menjalar dilengannya, terlalu tajam untuk ukuran sore yang terik.Rara mendekat dengan alis berkerut dalam. Ia tidak tertawa. “Nggak deh buat lo aja... Tapi, lo dingin banget. Kayak es batu padahal lagi terik gini.”“AC Ra.. Biasalah, kampus kita kan kalau nyalain AC suka nggak kira-kira.” jawab Cinta cepat, sebuah pembelaan diri yang terasa makin lemah.“Cin, kita udah di luar. Matahari nya nyolot banget tuh.” balas Rara sambil menunjuk langit.Matahari masih menyengat, membakar aspal kampus tanpa ampun. Tidak ada tanda hujan, tidak ada awan gelap diatas mereka. Semua orang berjalan santai, kering, normal… kecuali Cinta.Baru saja Cinta mau membalas omongan Rara dengan kalimat sarkas, tiba-tiba...Plok…Satu tetes air jatuh tepat di ujung hidungnya, Cinta berkedip bingung.Plok… Plok…Dua tetes berikutnya mendarat di kening dan pipinya. Rara refleks menengadah ke langit. “Hujan? Terik
“Lo simpan di mana kerangnya?”Langkah Cinta terhenti tepat di depan pintu kantin yang bising. Ia menoleh pelan ke arah Rara, matanya menyipit dengan ekspresi yang sedikit bingung.“Gue titip di pos satpam.” Jawab Cinta santai. “Sekarang gue Cuma mikir, lebih enak saos padang atau mentega.”“Mending saos padang sih… eh, ini apaan? Kerang tadi lo mau eksekusi? Kalau kerang jadi jadian gimana?” sahut Rara panik.“… ya jadi tai gue.. hahah… kapan lagi coba dapat kerang gratis, hidup anak kos itu berat Ra.”Rara malah nyengir sambil geleng geleng kepala, melihat keabsurdan temannya itu.“Yaa udah.. next gue doain bakalan ada kepiting atau ubur-ubur nyangkut di resleting lo..”“Aamiin!” balas Cinta tenang.Mereka akhirnya masuk ke area kantin. Suasana ramai, panas, dan berisik langsung menyergap indra mereka. Aroma gorengan yang baru diangkat, sambal pedas, kopi sachet, dan uap mie ayam bercampur menjadi satu.Normal. Kantin yang panas, berisik, dan penuh bau minyak, cukup membuat Cinta ya
“Lo nyium bau amis nggak, sih?”Cinta berhenti menulis. Pulpen yang sejak tadi ia tekan ke kertas refleks terangkat, menggantung di udara beberapa detik sebelum akhirnya ia menoleh pelan ke arah Rara. Sahabatnya itu sudah memasang wajah super aneh.“Apaan, sih Ra?” gumam Cinta. “Jangan mulai aneh-aneh deh... gue lagi nggak mood nih.”Rara tidak langsung menjawab. Dia malah mengendus-ngendus udara kelas dengan ekspresi serius, seperti detektif amatir yang sedang mencari sumber kebocoran gas.“Ini bukan aneh sihh..” kata Rara akhirnya. “Ini bau amis tapi kayak yang dekat banget gitu loh Cin.”Cinta mendengus kecil, meski jantungnya mulai berpacu tidak beraturan. “Jangan kebanyakan nonton drama.. jadi overthinking kan lo..”Cinta menyesal begitu kalimat itu lepas. Padahal, Ia sendiri merasakan ada sesuatu di udara. Bukan aroma busuk, melainkan aroma laut yang seharusnya tidak mungkin ada di ruangan ber AC yang tertutup rapat.Tiba-tiba… gesekan kursi dari barisan depan memecah fokusnya.
"Lo udah sadar?"Suara bass itu terdengar terlalu dekat dan mengganggu di telinga Cinta. Ia mengernyitkan dahi, kepalanya terasa berat seolah baru saja dijadikan bola gundu oleh raksasa di film superhero. Ada rasa dingin yang aneh di pelipisnya, disusul aroma minyak kayu putih yang menyengat sampai ke ubun-ubun."Siaaaal… gue memang fans Lee Min Ho, tapi bukan fans garis keras," gumam Cinta dengan mata masih setengah terpejam melihat samar pria itu. Rasa pusing membuatnya enggan melihat dunia."Apa sih dia lagi... dia lagi... apa gue pingsan lagi aja ya?" bisiknya dalam hati, mencoba mencari skenario kabur paling aman."Jangan pura-pura lo," suara itu terdengar lagi, datar tapi seolah sedang menahan tawa. "Bangun... wooiii.."Mata Cinta terbuka perlahan. Plafon putih kusam menyambut pandangannya yang masih buram. Lampu neon yang berdengung dan kipas angin tua yang berdecit malas meyakinkan Cinta kalau dia sedang berada di tempat peristirahatan favorit anak kampus yang ogah kuliah.UKS







