Share

Bab 5 Teror Hujan

Penulis: Aira Jiva
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-21 13:41:08

“Cin.”

“Kenapa, Ra? Mau ikut makan kerrang saos padang?” Cinta berhenti mendadak. Dingin tiba -tiba menjalar dilengannya, terlalu tajam untuk ukuran sore yang terik.

Rara mendekat dengan alis berkerut dalam. Ia tidak tertawa. “Nggak deh buat lo aja... Tapi, lo dingin banget. Kayak es batu padahal lagi terik gini.”

“AC Ra.. Biasalah, kampus kita kan kalau nyalain AC suka nggak kira-kira.” jawab Cinta cepat, sebuah pembelaan diri yang terasa makin lemah.

“Cin, kita udah di luar. Matahari nya nyolot banget tuh.” balas Rara sambil menunjuk langit.

Matahari masih menyengat, membakar aspal kampus tanpa ampun. Tidak ada tanda hujan, tidak ada awan gelap diatas mereka. Semua orang berjalan santai, kering, normal… kecuali Cinta.

Baru saja Cinta mau membalas omongan Rara dengan kalimat sarkas, tiba-tiba...

Plok…

Satu tetes air jatuh tepat di ujung hidungnya, Cinta berkedip bingung.

Plok… Plok…

Dua tetes berikutnya mendarat di kening dan pipinya. Rara refleks menengadah ke langit. “Hujan? Terik kayak ngini?”

Cinta ikut mendongak. Langit bersih. Awan mendung memang ada, tapi jauh sekali di ujung cakrawala, menggantung malas di atas gunung. Rara menatapnya dari ujung rambut sampai Sepatu. Wajahnya perlahan memucat.

“Cin..” suaranya menurun. “Lo sadar nggak Cuma lo yang basah?”

Detak jantung Cinta melonjak. Ia merasa terpojok oleh sesuatu yang tak kasat mata. “Ah, pasti ini pohon! Atau pipa AC gedung tua yang bocor. Kampus kita kan emang doyan drama, iya nggak sih?”

Cinta melangkah menjauh, mencoba lari dari pancuran air itu. Tapi air itu ikut bergerak. Makin deras. Bukan lagi tetesan, tapi sudah seperti shower kamar mandi yang bocor tepat di atas kepalanya. Suara jatuhnya air ke lantai terdengar nyaring di tengah kesunyian yang mendadak mencekam.

“Ra, sumpah demi apapun, ini nggak lucu!” seru Cinta panik.

“Tenang, Cin! Mungkin ini... prank! Tarrraaa…” balas Rara tersenyum canggung yang sebenarnya ikut panik, ia tidak berani mendekat karena takut ikut basah.

Beberapa mahasiswa mulai berhenti dan menonton. “Eh, itu hujan kok bisa milih orang?” “Efek film apa tuh?” “Wah, kena guna-guna kali!”

“Oiii, Dek! Ini kerangnya tadi..” Suara bariton Pak Satpam Kumis menggelegar dari posnya. Ia berjalan mendekat dengan wajah bingung maksimal. “Itu kenapa basah sendirian? Habis nyebur kolam?” sambil menyerahkan kerrang yang Cinta titipkan tadi.

“Bocor, Pak. kadang langit juga bisa sebercanda ini.” jawab Cinta sambil nyengir kaku, air mulai masuk ke mulutnya.

Pak Satpam mendongak lama ke langit yang terik. “Langitnya kering kerontang, Dek. Nih..pakai payung Bapak dulu, kasihan amat, ntar sakit loh.”

Payung hitam besar itu diposisikan tepat di atas kepala Cinta. Air sempat berhenti sedetik. Cinta mengembuskan napas lega. “Nah, gitu dong..”

Satu detik. Dua detik.

CRAKK!

Belum sempat Pak Satpam bereaksi, sebuah kilatan cahaya biru kecil seperti percikan listrik muncul di ujung payung.

PLLETAR!

Payung itu patah seketika. Kainnya sobek seperti dicakar binatang buas, dan aroma gosong tipis tercium di udara.

Hening. Pak Satpam mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. Hujan kembali turun mengguyur Cinta. Kali ini jauh lebih deras, seolah langit sedang marah.

“Pak…” suara Cinta bergetar, “tadi itu... korsleting listrik, kan? Ada kabel yang nyangkut di payung kah?”

Pak Satpam menatap gagang payungnya yang bengkok, lalu menatap Cinta dengan ngeri.

“Dek... Bapak nggak mau nakut-nakutin, tapi dulu pernah ada kejadian mahasiswa kehujanan sendiri begini. Katanya... kena guna-guna. Dia nggak pernah balik kuliah lagi sejak hari itu, kamu hati hati ya.”

Jantung Cinta serasa jatuh ke perut. “Bapak jangan mulai deh! Itu mitos!”

“Cin, mending lo pulang sekarang! Laariii!” teriak Rara.

Tanpa pikir panjang, Cinta berbalik dan lari sekuat tenaga. Hujan itu setia mengikuti, membentuk tirai air yang mengisolasi Cinta dari dunia luar. Dalam larinya yang memburu, Cinta teringat sesuatu. Ia merogoh tasnya yang lembap dan mengeluarkan kerang yang ia temukan tadi.

Kerang itu... ukurannya lebih besar sekarang, dengan permukaan halus mengkilap seperti mutiara. Di bawah guyuran hujan aneh ini, kerang itu seolah berpendar redup, mengeluarkan cahaya biru yang dingin. Cinta menggenggamnya erat, merasakan getaran halus dari dalam cangkangnya, seolah benda itu sedang bernapas.

Ia terus berlari menuju kosan, melewati gerbang dengan tatapan aneh dari orang-orang. Begitu pintu kosan tertutup, hujan itu berhenti seketika, berganti sunyi. Terlalu sunyi..

Cinta terduduk dilantai, napasnya tersengal. Rambut dan bajunya basah kuyup, sementara lantai kamarnya mulai digenangi air dingin yang perlahan merayap kea rah kakinya.

Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan kerrang dari dalam tas.

Kerrang itu tampak berbeda, lebih besar dan halus. Permukaannya berkilau pucat dibawah lampu kamar, seolah menyimpan Cahaya sendiri. Saat Cinta menyentuhnya, dingin yang sama Kembali menjalar ke kulitnya.

“ini cuma benda.. bukan hal aneh..” gumamnya pelan, lebih seperti usaha menenangkan diri.

Tapi kerang itu bergetar halus di telapak tangannya.

Di luar, jauh dari jangkauan pandang Cinta seseorang berdiri di bawah bayangan Gedung lama. Tatapannya tertuju kea rah kosan itu.

Samudra menarik napas pelan.

“Terlalu cepat..”

Angin membawa bau tanah basah yang menusuk, seolah hujan tadi meninggalkan jejak yang tak terlihat. Samudra menark napas Panjang, dadanya terasa berat oleh firasat yang tak bisa ia jelaskan. Malam ini akan berlalu, tapi sesuatu telah terbangun dan ia tahu, hujan berikutnya tak akan datang tanpa tujuan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 7 Dan Kemudian

    Hujan itu berhenti.Bukan mereda pelan seperti hujan normal, tapi putus seketika, seperti sakelar lampu yang dimatikan tanpa aba-aba. Begitu Cinta melangkah menjauh dari gudang tua dengan kotak biru di pelukannya, langit di atas kepalanya mendadak bersih. Terik. Sama teriknya dengan gang kosan yang lain.Cinta berhenti tepat di depan gerbang kosannya.Refleks, kepalanya mendongak. Mencari awan kelabu yang biasanya setia menggantung di atas kepalanya. Tapi langit itu kosong… biru dan normal. Sangat normal.“Serius?” gumamnya lirih. “Setelah semua kekacauan itu… sekarang malah berhenti?”Aspal yang tadi basah mulai menguap, mengirimkan aroma panas dan debu. Orang-orang lalu lalang tanpa peduli. Tidak ada yang menatap aneh. Tidak ada bisik-bisik. Tidak ada keajaiban.Dan justru itu yang bikin dada Cinta terasa makin sesak.“Harusnya lo masih ada...” katanya pelan ke langit. “Minimal ngasih tanda kek. Ini apa? Prank? Lo kira gue punya waktu buat ini?”Ia menggeleng sendiri, tertawa pendek

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 6 Mbah Tejo

    Matahari pagi bersinar terik, membakar aspal gang kosan hingga hawa panasnya memantul ke dinding-dinding sempit. Namun bagi Cinta, dunia terasa salah musim.Air hujan masih jatuh tepat di atas kepalanya… dingin, konsisten, dan tidak masuk akal… seolah awan kecil itu menolak pergi ke mana pun ia melangkah.Setelah sore penuh kegilaan, ketika kerang mutiara di mejanya bergetar dan mengeluarkan suara deburan ombak halus, Cinta tahu satu hal.. ia tak bisa terus berpura-pura ini hanya stres biasa.Ia berdiri di depan gudang tua di samping gang kosannya dengan kondisi mengenaskan. Rambut lepek, baju lembap, dan napasnya berat.Satu-satunya alasan ia datang ke sini adalah kotak biru itu. Ada denyut aneh di dadanya… selaras dengan detak jantungnya… seolah sesuatu di dalam gudang sedang memanggil namanya.“Duuhh.. Gusti… piye iki? Masa gue harus bawa awan mendung ini sampai wisuda?” gerutunya. “Bisa-bisa gue dikenal sebagai mahasiswi musim hujan.”Ia mengacak rambutnya frustrasi, memercikkan a

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 5 Teror Hujan

    “Cin.”“Kenapa, Ra? Mau ikut makan kerrang saos padang?” Cinta berhenti mendadak. Dingin tiba -tiba menjalar dilengannya, terlalu tajam untuk ukuran sore yang terik.Rara mendekat dengan alis berkerut dalam. Ia tidak tertawa. “Nggak deh buat lo aja... Tapi, lo dingin banget. Kayak es batu padahal lagi terik gini.”“AC Ra.. Biasalah, kampus kita kan kalau nyalain AC suka nggak kira-kira.” jawab Cinta cepat, sebuah pembelaan diri yang terasa makin lemah.“Cin, kita udah di luar. Matahari nya nyolot banget tuh.” balas Rara sambil menunjuk langit.Matahari masih menyengat, membakar aspal kampus tanpa ampun. Tidak ada tanda hujan, tidak ada awan gelap diatas mereka. Semua orang berjalan santai, kering, normal… kecuali Cinta.Baru saja Cinta mau membalas omongan Rara dengan kalimat sarkas, tiba-tiba...Plok…Satu tetes air jatuh tepat di ujung hidungnya, Cinta berkedip bingung.Plok… Plok…Dua tetes berikutnya mendarat di kening dan pipinya. Rara refleks menengadah ke langit. “Hujan? Terik

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 4 Mie Ayam Bang Jago

    “Lo simpan di mana kerangnya?”Langkah Cinta terhenti tepat di depan pintu kantin yang bising. Ia menoleh pelan ke arah Rara, matanya menyipit dengan ekspresi yang sedikit bingung.“Gue titip di pos satpam.” Jawab Cinta santai. “Sekarang gue Cuma mikir, lebih enak saos padang atau mentega.”“Mending saos padang sih… eh, ini apaan? Kerang tadi lo mau eksekusi? Kalau kerang jadi jadian gimana?” sahut Rara panik.“… ya jadi tai gue.. hahah… kapan lagi coba dapat kerang gratis, hidup anak kos itu berat Ra.”Rara malah nyengir sambil geleng geleng kepala, melihat keabsurdan temannya itu.“Yaa udah.. next gue doain bakalan ada kepiting atau ubur-ubur nyangkut di resleting lo..”“Aamiin!” balas Cinta tenang.Mereka akhirnya masuk ke area kantin. Suasana ramai, panas, dan berisik langsung menyergap indra mereka. Aroma gorengan yang baru diangkat, sambal pedas, kopi sachet, dan uap mie ayam bercampur menjadi satu.Normal. Kantin yang panas, berisik, dan penuh bau minyak, cukup membuat Cinta ya

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 3 Aroma Laut

    “Lo nyium bau amis nggak, sih?”Cinta berhenti menulis. Pulpen yang sejak tadi ia tekan ke kertas refleks terangkat, menggantung di udara beberapa detik sebelum akhirnya ia menoleh pelan ke arah Rara. Sahabatnya itu sudah memasang wajah super aneh.“Apaan, sih Ra?” gumam Cinta. “Jangan mulai aneh-aneh deh... gue lagi nggak mood nih.”Rara tidak langsung menjawab. Dia malah mengendus-ngendus udara kelas dengan ekspresi serius, seperti detektif amatir yang sedang mencari sumber kebocoran gas.“Ini bukan aneh sihh..” kata Rara akhirnya. “Ini bau amis tapi kayak yang dekat banget gitu loh Cin.”Cinta mendengus kecil, meski jantungnya mulai berpacu tidak beraturan. “Jangan kebanyakan nonton drama.. jadi overthinking kan lo..”Cinta menyesal begitu kalimat itu lepas. Padahal, Ia sendiri merasakan ada sesuatu di udara. Bukan aroma busuk, melainkan aroma laut yang seharusnya tidak mungkin ada di ruangan ber AC yang tertutup rapat.Tiba-tiba… gesekan kursi dari barisan depan memecah fokusnya.

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 2 Namanya ...

    "Lo udah sadar?"Suara bass itu terdengar terlalu dekat dan mengganggu di telinga Cinta. Ia mengernyitkan dahi, kepalanya terasa berat seolah baru saja dijadikan bola gundu oleh raksasa di film superhero. Ada rasa dingin yang aneh di pelipisnya, disusul aroma minyak kayu putih yang menyengat sampai ke ubun-ubun."Siaaaal… gue memang fans Lee Min Ho, tapi bukan fans garis keras," gumam Cinta dengan mata masih setengah terpejam melihat samar pria itu. Rasa pusing membuatnya enggan melihat dunia."Apa sih dia lagi... dia lagi... apa gue pingsan lagi aja ya?" bisiknya dalam hati, mencoba mencari skenario kabur paling aman."Jangan pura-pura lo," suara itu terdengar lagi, datar tapi seolah sedang menahan tawa. "Bangun... wooiii.."Mata Cinta terbuka perlahan. Plafon putih kusam menyambut pandangannya yang masih buram. Lampu neon yang berdengung dan kipas angin tua yang berdecit malas meyakinkan Cinta kalau dia sedang berada di tempat peristirahatan favorit anak kampus yang ogah kuliah.UKS

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status