공유

bab 7

작가: Reykan Uwais
last update 게시일: 2023-07-14 07:57:50

Dua hari kemudian ….

Setelah selesai mengurus beberapa dokumen penting agar Alif menjadi anak angkat Rendi dan juga Nayla, akhirnya, kini Alif sudah sah menjadi anak angkat Rendi dan juga Nayla, Akhirnya Alif pun meninggalkan rumah reyot peninggalan kedua almarhum orang tuanya. Alif diboyong oleh Rendi dan Nayla di kediamannya yang berada di kota sebelah.

Rumah Rendi sangat besar dan juga megah, rumah Rendi dan Nayla memiliki dua lantai rumahnya terletak di perumahan elite di kotanya. Alif terbelalak saat melihat kediaman Rendi yang sangat besar itu, baru pertama kali ia menginjakkan kakinya di rumah sebesar itu.

“Mari Lif, kita masuk ya. Mulai sekarang, kamu tinggal di sini!” Rendi berucap ramah pada Alif sementara Nayla tidak pernah mau melepas genggamannya dari Alif.

Alif hanya menggangguk pelan pada Rendi.

Sesampainya di ambang pintu kedua mata Alif kembali tercengang, ia sangat mengagumi interior rumah Rendi serta Nayla, orang tua angkat Alif.

“Mulai sekarang, ini rumah kamu juga, Lif.”

“Alif Sayang, Mamah buatin susu coklat hangat kesukaan kamu ya ….”

Nayla berlalu ke belakang bagian rumahnya, ia tampak sumringah dan semangat hidupnya kembali lagi semenjak kepergian Daffa, anak kandungnya untuk selama-lamanya.

Rendi dan Alif duduk di atas kursi sofa yang ada di rung depan Rumah.

“Bi Inah ambilin tolong ke sini sebentar! Sekalian ambilin minuman dingin buat saya!” teriak Rendi dengan lantang memanggil asisten rumah tangganya.

Seorang wanita paruh baya tampak datang dengan tergopoh-gopoh dari arah dapur.

“Ya Tuan,” sahutnya sopan.

Prang!

Karena terkejut melihat Alif yang seolah sedang melihat Daffa seperti bangkit dari kubur, tanpa sengaja Bi Inah telah menjatuhkan gelas air berisi minuman dingin untuk tuannya itu.

“Astaghfirullah!” pekik Bi Inah seraya memegangi mulutnya yang menganga.

“Aduh Bi Inah, cepet beresin itu gelas yang pecahnya! Takutnya tak sengaja terinjak kena kaki, lho!” Rendi tampak menggelengkan kepalanya.

“Kenapa, Pah?” tanya Nayla dengan membawakan segelas susu coklat hangat untuk Alif.

“Itu, Bi Inah sudah menjatuhkan gelas berisi minuman, Mah.”

“Oh, kirain ada apaan, Pah! Ya udah Bi, tolong cepat bersihin pecahan gelasnya ntar keinjek sama Daffa lagi. Kalau sampai Daffa kenapa-kenapa. Saya nggak segan-segan untuk memecat Bibi!” sentak Nayla.

“I-iya Nya, maaf saya bersihkan pecahan gelasnya! Tolong jangan pecat saya, Nya!” melas Bi Inah ketakutan.

“Ya udah cepetan bersihin!”

Nayla tampak kesal kepada pembantunya itu.

Bi Inah pun dengan tergesa-gesa membersihkan pecahan gelas yang tak sengaja telah ia pecahkan, Setelah itu ia pun segera berlalu ke dapur dengan beribu pertanyaan yang muncul di kepalanya.

“Sayang, ini diminum dulu ya susunya mumpung masih hangat ….”

Nayla segera memberikan segelas susu coklat special buatannya kepada Alif, Alif menerimanya dengan pasrah. Ia menatap sekilas pada Rendi, lalu Rendi pun menganggukkan kepalanya tanda agar Alif segera meminum susu buatan Nayla yang khusus dibuatkan untuknya itu.

“Minumlah,” titah Rendi seraya terssneyum tipis padanya.

Alif pun segera meminum susu coklat hangat buatan Nayla itu hingga tandas tak bersisa, sudah lama sekali ia tak meminum susu. Ia lupa lagi kapan meminum susu untuk terakhir kalinya, rasanya itu sudah sangat lama sekali. Susu buatan Nayla memang benar-benar lezat. Seketika itu juga Alif seperti mendapatkan kebahagiaan dan kehidupan baru karena telah memiliki kedua orang tua yang lengkap yang bisa memberikan penghidupan yang layak serta perhatian yang baik bagi dirinya.

“Alif, mulai sekarang panggil dengan sebutan Papah, dan panggil Tante Nayla dengan sebutan Mamah,” titah Rendi.

“I-iya, Pah … Mah ….” Jawab Alif masih canggung.

Drrt.

Drrt.

Drrt.

Ada pesan masuk ke dalam ponsel Rendi, Rendi pun segera melihat isi pesan itu di dalam gawainya. Kedua matanya tampak sedang focus melihat isi pesan itu, sepertinya itu adalah pesan yang sangat penting yang berkaitan dengan urusan bisnisnya.

“Kami pergi dulu karena ada sedikit urusan, nanti Bi Inah akan mengantarkanmu ke kamarmu,” ucap Rendi.

Alif masih canggung akan semua keadaan ini, dari Rumah reyot Emak, lalu beberapa saat berpindah ke Rumah mewah seperti ini, Setelah itu menjadi anak angkat dari Rendi dan juga Nayla tidak pernah terpikirkan dalam imajinasi Alif sama sekali.

“Alif … Alif …” Rendi memanggil nama Alif dengan sangat halus.

“Hm, iya Om,” Alif gelagapan.

“Tuhkan Om lagi, panggil saya Papah ….” Tutur Rendi berharap banyak pada Alif.

“I-iya, Pah.”

Sebelum pergi Alif mencium punggung tangan Rendi dan juga Nayla dengan penuh rasa takzim.

“Jangan pergi lagi ya, Sayang. Mamah sama Papah cuma pergi sebentar aja, kok,” imbuh Nayla dengan memegangi lengan kanan Alif seolah tidak ingin berlama-lama jauh dari Alif saja.

Kali ini Nayla sudah bisa melepaskan Alif, berbeda dengan sebelumnya Nayla yang tidak pernah mau jauh dari Alif. Mungkin karena ia kini sudah merasa tenang karena Alif yaitu kembaran Daffa almarhum anaknya sudah sudah masuk lagi ke dalam kediaman mereka.

Alif hanya mengangguk pelan saja.

Rendi dan Nayla pun meninggalkan Alif di rumah. Alif menyenderkan bahunya di senderan sofa. Alif sedang menatap ke sekeliling rumah Rendi yang sangat indah itu, ia sangat mengagumi design interior rumah Rendi. Selama ini, Alif selalu melihat rumah seperti ini hanya di televisi saja, tak pernah terbayang dalam hidupnya bila ia akan tinggal di dalam rumah sebagus ini.

“Oh, jadi kamu yang bernama Alif, jangan harap kamu saya anggap sebagai bagian dari keluarga ini!” suara seorang wanita paruh baya tiba-tiba saja memecah kesunyian di rumah Rendi.

Ia berjalan angkuh dengan menuruni setiap anak tangga, ia meniti setiap anak tangga selangkah demi selangkah.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Ketupat Untuk Emak   11

    Aku Bukan Daffa, Aku Cuma AlifHujan deras mengguyur sekujur tubuh mungil Alif yang terduduk lemas di pinggir trotoar kota. Air hujan bercampur dengan air mata yang tak henti mengalir dari kedua mata sendunya. Kalimat Pak Qosim tadi masih berputar terus di kepalanya, seperti pisau yang berputar di dalam dada."Emakmu tidak meninggal sakit biasa... Bapakmu juga bukan kecelakaan..."Siapa? Siapa yang sejahat itu? Kenapa? Pertanyaan itu terus menghantui benak Alif. Di saat ia sedang bingung, takut, dan hancur lebur, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depannya. Pintu terbuka, keluar sosok wanita yang sangat ia kenal, berlari menerobos hujan tanpa memakai payung sama sekali.Itu Nayla."DAFFA! ANAK KU SAYANG! KAMU KEMANA AJA SAYANG? MAMAH CARin DARI TADI!" seru Nayla histeris. Ia langsung memeluk tubuh Alif dengan sangat erat, seolah takut anak itu akan hilang lagi dari pelukannya. Nayla menangis tersedu-sedu, menciumi seluruh wajah Alif yang basah kuyup."Mah... Alif di sini Mah..

  • Ketupat Untuk Emak   10

    Pengorbanan yang Dibalas FitnahMalam semakin larut, jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih seperempat. Namun, di dapur belakang rumah mewah itu, masih terlihat sosok kecil yang bergerak lincah di antara tumpukan piring kotor dan wajan bekas masakan tadi siang. Itu adalah Alif.Sejak tiga hari yang lalu, Alif sengaja bangun lebih malam. Ia melihat Bi Inah dan pembantu lain tampak kelelahan karena harus mengerjakan semuanya sendirian. Di dalam hati kecilnya, Alif merasa sangat tidak enak hati. Ia makan enak, tidur empuk, bersekolah bagus, sementara orang-orang di sini bekerja keras melayani semua orang. Pesan Emak terus terngiang di telinganya: "Alif, kalau kamu ditolong orang, kamu harus balas lebih banyak kebaikannya. Jangan jadi beban, jadilah penolong."Dengan pakaian tidur sederhana dan lengan baju yang sudah digulung ke atas, Alif menggosok setiap piring dengan telaten dan hati-hati. Ia tidak ingin ada satu pun pecah atau kotor. Tangannya yang mun

  • Ketupat Untuk Emak   9

    Pintu kamar tertutup sudah di belakang tubuh mungil Alif. Ia berdiri terpaku di ambang pintu, matanya mengedar tak percaya menelusuri setiap sudut ruangan yang kini menjadi tempat istirahatnya. Kamar ini sangat luas, jauh lebih besar dibandingkan satu rumah tempat ia dan Emak tinggal bertahun-tahun lamanya. "Ya Allah ... bagus sekali!" gumam Alif.Di sana terlihat kasur berukuran besar yang terlihat sangat empuk dan lembut, ditutupi sprei berwarna biru muda dengan motif halus yang terlihat mahal. Lemari pakaian besar dari kayu jati yang berkilau, meja belajar yang tertata rapi lengkap dengan lampu hias, hingga karpet tebal yang menutupi seluruh lantai membuat suasana terasa begitu hangat dan mewah. Semua benda di sini tampak baru, bersih, dan berharga tinggi. Hal-hal yang selama ini hanya bisa Alif lihat di layar televisi tetangga, kini ada di depan matanya, bahkan menjadi miliknya. Namun, bukannya merasa melompat kegirangan seperti anak-anak seusianya jika diberi hadiah besar, dada

  • Ketupat Untuk Emak   bab 8

    “Jangan mentang-mentang anak saya itu mengangkat kamu sebagai anak angkatnya terus kamu bisa seenaknya tinggal di sini, ya!” perempuan itu melotot tajam pada Alif, ia tak henti-hentinya memperhatikan Alif dari ujung kaki hingga ujung kepala.Glek!Alif menelan salivanya dengan susah payah, Alif hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berani menatap ke arah perempuan paruh baya itu.“Jangan mentang-mentang kamu memiliki wajah yang sangat mirip dengan almarhum cucu saya, lantas saya bakal tiba-tiba menyayangi kamu gitu, lalu saya tiba-tiba menerima kamu sebagai cucu saya gitu? Begitu maksud kamu, hah?” perempuan itu berbicara dengan nada yang sedikit ditinggikan.Alif hanya diam tak bergeming seraya menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan.Kini, Alif serta perempuan paruh baya itu saling duduk berhadap-hadapan di atas kursi sofa yang ada di ruang depan kediaman Rendi.“Hm, tapi lumayan juga kamu tinggal di sini, saya bisa memanfaatkan situasi ini dengan menggunakan tenaga kamu yang m

  • Ketupat Untuk Emak   bab 7

    Dua hari kemudian ….Setelah selesai mengurus beberapa dokumen penting agar Alif menjadi anak angkat Rendi dan juga Nayla, akhirnya, kini Alif sudah sah menjadi anak angkat Rendi dan juga Nayla, Akhirnya Alif pun meninggalkan rumah reyot peninggalan kedua almarhum orang tuanya. Alif diboyong oleh Rendi dan Nayla di kediamannya yang berada di kota sebelah.Rumah Rendi sangat besar dan juga megah, rumah Rendi dan Nayla memiliki dua lantai rumahnya terletak di perumahan elite di kotanya. Alif terbelalak saat melihat kediaman Rendi yang sangat besar itu, baru pertama kali ia menginjakkan kakinya di rumah sebesar itu.“Mari Lif, kita masuk ya. Mulai sekarang, kamu tinggal di sini!” Rendi berucap ramah pada Alif sementara Nayla tidak pernah mau melepas genggamannya dari Alif.Alif hanya menggangguk pelan pada Rendi.Sesampainya di ambang pintu kedua mata Alif kembali tercengang, ia sangat mengagumi interior rumah Rendi serta Nayla, orang tua angkat Alif.“Mulai sekarang, ini rumah kamu jug

  • Ketupat Untuk Emak   bab 6

    “Alif yang sabar ya, ikhlaskan semuanya ….”Seorang pria paruh baya menghampiri Alif dan memegangi bahu Alif dengan begitu erat. Alif masih bingung dan tidak begitu mengerti dengan apa yang telah terjadi. Ia melihat tampak tubuh yang sedang terbujur kaku yang sedang ditutupi oleh kain jarik berbaring di ruang depan rumahnya.Alif masih berpikiran positif, ia sangat berharap kalau yang sedang berbaring itu adalah orang lain, bukan siapa-siapa.“Lif, ikhlasin emakmu ya Lif. Untuk sementara, Bapak akan temani kamu di rumah ini, karena Bapak tahu betul kalau kamu itu sebatang kara ….”Pak Qosim yang dikenal dengan Pak RT di kampung Alif sangat baik dan dan sangat perhatian kepada warganya itu, ia memberikan perhatian lebih kepada Alif yang notabenenya Alif adalah seorang yatim piatu yang tidak memiliki sanak saudara atau tidak memiliki siapa-siapa lagi.“Ma-maksud Pak RT, apa?” tanya Alif dengan bibirnya yang bergetar.“emakmu, Lif. Emakmu sudah meninggal Lif,” jawab Pak RT dengan wajah s

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status