Share

Bab 3

Author: Reykan Uwais
last update publish date: 2023-06-02 17:17:31

"Hm," Alif mendengkus kesal, ia mencebikkan bibirnya.

Rasanya ingin sekali agar ia cepat-cepat pergi dari rumah si Ibu. Tapi si Ibu yang cuma beli satu kilo salak itu, ia belum selesai memilih buah salak sedari tadi.

"Cih, si Ibu ini sudah nawarnya mepet, banyak omong, milihnya lama banget lagi!" Alif merasa kesal di dalam hatinya.

"Astaghfirullah, Alif lupa kalau Alif lagi saum, maafin Alif Ya Allah ..." Alif mengusap dadanya pelan.

"Yang ini ... banyak sih. Tapi, buah salaknya kecil-kecil. Yang ini buah salaknya besar-besar. Tapi, salaknya sedikit! Aduh jadi bingung, yang mana ini ya?" Si Ibu membandingkan bungkusan salak yang satu dengan bungkusan salak yang lainnya.

"Pegalnya, duduk dulu ah ... dari pada lama dan bete nungguin si Ibu." Alif menjatuhkan bobot tubuhnya di atas keramik teras si Ibu.

"E_eh ... mau ngapain kamu?" tanya si Ibu mengagetkan Alif.

"Mau ikut duduk disini Bu, saya pegel berdiri terus dari tadi!" jawab Alif denga santai.

"Heh, ini tuh keramik mahal ya, udah saya sapu dan pel bersih! Kamu nggak boleh sembarangan duduk disini!" Ibu itu berteriak dengan sangat lantang.

"Iya Bu, maaf." Alif pun bangkit seraya mecebikkan bibirnya.

"Nih, saya udah dapet salaknya, dua bungkus sekilo kan ya? Awas, kalau timbangannya kurang!" Ibu itu kenyerahkan 2 lembar 2 ribuan serta uang logam 500 2 biji kepada Alif.

"Makasih, Bu." Alif pun menerimanya dengan tatapan nanar. Ia lantas memasukkan uangnya ke dalam saku celananya.

Si Ibu langsung mesuk ke dalam rumahnya.

Bruk!

Ia menutup pintu rumahnya dengan sangat keras. Lebih tepatnya dibanting.

"Ya Allah, mimpi apa Alif bisa ketemu sama Ibu-ibu yang seperti itu, astaghfirullah." Alif menggelengkan kepalanya.

Tak lama kemudian, Alif pun segera mengangkat kembali dua keranjang buah salaknya.

"Alhamdulillah," gumamnya.

Ia kembali berjalan sambil terus menawarkan buah salak kepada siapa pun yang ada di jalanan kampung tempat tinggal Alif.

"Salak ... salak ... salak ..." teriak Alif menawarkan jualannya.

Setelah berjalan agak jauh dari kampung tempatnya tinggal, tak terasa pagi sudah berlalu dan segera menuju siang.

"Istirahat dulu ah, Ya Allah udah puter-puter dari tadi cuma baru laku sekilo! Mudah-mudahan hari ini jualan salak Alif laku semua Ya Allah, aamiin." Alif duduk di samping trotoar tepat di depan sebuah minimarket.

Jarum jam menunjukkan pukul setengah 11 siang. Alif menyusut peluh yang sudah membanjiri keningnya.

"Ya Allah mudah-mudahan disini banyak yang beli salak Alif." Alif celingak-celinguk melihat ke sekeliling jalan siapa tahu, ada orang yang sedang berjalan di trotoar ini lalu tertarik untuk membeli salak jualannya.

"Dek, berapa buah salaknya?" Tanya seorang Ibu muda yang memakai hijab.

"Hm, ini 10 ribu sekilo, Bu," jawab Alif penuh antusias.

"Salak apa ini?" tanyanya.

"Salak pondoh, Bu! In syaa Allah rasanya manis dan legit!" jawabnya dengan rasa sumringah.

"Saya beli 2 kilo, Dek!" Ibu muda itu menyerahkan 2 lebar uang 10 ribuan.

"Baik, Bu." Dengan semangat 45 Alif pun segera memasukkan 4 bungkus salak itu ke dalam kantong keresek hitam yang besar.

"Makasih ya, Dek." Ibu muda itu menerima keresek berisi bungkusan salak dari Alif.

"Sama-sama, Bu." Senyum Alif pun terbit dari bibir mungilnya.

"Alhamdulillah Ya Allah," gumam Alif tak henti mengucap syukur. Ia kembali duduk di atas trotoar.

Tak beberapa lama kemudian, banyak sekali orang yang kebetulan sedang lewat di trotoar melihat dagangan buah salak Alif, mereka pun berbondong-bondong membeli dagangan buah salak Alif.

"Dek, berapa harganya sekilo?" Tanya seorang Ibu paruh baya yang memakai hijab.

"10 ribu sekilo, Bu," jawab Alif.

"Ya mau ya sekilo." Kali ini pembeli tanpa tawar menawar lagi, Alif hanya tinggal bungkus membungkus saja.

"Dek, salak apa ini?" tanya seorang perempuan.

"Salak pondoh, Mbak," jawab Alif.

"Berapa sekilo?" tanyanya lagi.

"10 ribu sekilo, Mbak," jawab Alif dengan penuh semangat.

"Saya mau 2 kilo ya ..." sahutnya.

"Siap ..." Alif tinggal memasukkan 4 bungkusan salak ke dalam satu kantong keresek besar.

Akhirnya, dagangan buah salak Alif pun telah terjual cukup banyak. Ia terduduk kembali di trotoar, untuk sekedar beristirahat sembari kembali menunggu pembeli selanjutnya.

"Manis nggak nih, Dek?" tanya seorang Ibu yang sudah cukup berumur.

Alif pun kembali bangkit dari duduknya, ia kembali melayani pembeli.

"In syaa Allah manis, Bu. Ini asli salak pondoh, rasanya dijamin manis dan legit ..." sahut Alif sambil menyunggingkan senyum di bibirnya.

"Ya udah kalau gitu saya mau 2 kilo ya, Dek," imbuhnya.

"Baik, Bu," jawab Alif.

Alif pun memasukkan salak ke dalam kantong keresek besar.

"Ini uangnya, Dek." Ibu itu menyerahkan selembar uang 50 ribuan pada Alif.

"Ini kembaliannya, Bu." Alif hendak memberikan 3 lembar uang 10 ribuan.

"Udah buat kamu aja kembaliannya, Dek," jawab si Ibu cepat.

"Alhamdulillah ..." gumam Alif seraya mengucap syukur tiada henti.

"Terima kasih banyak, Bu," lanjutnya lagi.

"Sama-sama, Dek. Semoga laris manis jualannya ya, Dek," timpalnya.

Ibu itu akhirnya pergi meninggalkan Alif dengan belanjaan salak di tangan kirinya.

Alif kembali terduduk di trotoar, ia tak henti mengucap syukur dan menghela nafasnya.

Kini, dagangannya tinggal tersisa beberapa kilo lagi saja.

"Alhamdulillah, sebagian besarnya udah habis terjual Ya Allah, semoga hari ini laku semuanya biar bisa beliin ketupat opor sama gamis lebaran buat Emak, aamiin." Alif mengusapkan kedua tangannya pada wajahnya yang masih imut khas remaja.

Alif kembali diam terpaku di atas trotoar, dan suasana sangat hening karena tidak ada satu pun manusia untuk mengobrol teman mengobrol. Semua orang sibuk dengan aktifitas masing-masing, tentu saja keadaan ini sudah terbiasa bagi Alif.

"Dek, saya mau beli salaknya ya ..." seorang laki-laki dewasa tiba-tiba memecah keheningan.

"Hm, iya Pak. Mau berapa kilo, Pak?" Alif bangkit dan berdiri dengan tegak.

Kebiasaan Alif itu kalau ada pembeli pasti dia bangkit dari duduknya, untuk menghargai pembeli katanya.

"Berapa sekilonya, Dek?" tanya pria asing tersebut.

"10 ribu sekilo," sahut Alif cepat.

"Kalau gitu saya mau 5 kilo ya, Dek!" Serunya seraya menyerahkan selembar uang berwarna merah.

"Siap, Pak." Alif pun bergegas untuk memasukkan 10 bungkusan buah salak ke dalam 2 kantong keresek yang besar-besar.

"Ini Pak, salaknya." Alif menyerahkan 2 bungkusan salak yang besar-besar kepadanya.

"Iya," imbuhnya.

Pria itu mengambil 2 kantong keresek salak yang besar-besar dari tangan Alif. Ia lalu menyerahkan selembar uang 100 ribuan pada Alif.

Alif merogoh tas selempang kecilnya, guna mencari uang 50 ribu sebagai kembaliannya.

"Ini Pak, kembaliannya." Alif menyerahkan uang itu.

"Makasih, ya," sahutnya. Dengan sangat tergesa-gesa pria itu pergi begitu saja meninggalkan Alif.

Alif pun kembali terduduk di atas trotoar.

"Alhamdulillah udah laku 11 kilo, sisa tinggal 9 kilo lagi. lebih baik aku segera menukarkan uang ini untuk kembalin."

Alif memasuki sebuah minimarket ia berusaha untuk menukarkan uanh pada kasir.

"Maaf, Mbak. Saya mau nukerin uang, bisa?" tanya Alif hati-hati.

"Sebenarnya nggak bisa sih, tapi ya udahlah sini! Mana duitnya!" jawabnya ketus.

Alif menyerahkan uang 100 ribu itu padanya, setelah diperiksa oleh kasir di bawah sinar uv, kasir itu mendelik pada Alif.

"Apa ini?" kasir itu menempelkan uang di atas meja kasir dengan kasar.

"Hm, kenapa Mbak?" tanya Alif heran.

"Ini uangnya juga palsu!" jawabnya sangat ketus.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketupat Untuk Emak   11

    Aku Bukan Daffa, Aku Cuma AlifHujan deras mengguyur sekujur tubuh mungil Alif yang terduduk lemas di pinggir trotoar kota. Air hujan bercampur dengan air mata yang tak henti mengalir dari kedua mata sendunya. Kalimat Pak Qosim tadi masih berputar terus di kepalanya, seperti pisau yang berputar di dalam dada."Emakmu tidak meninggal sakit biasa... Bapakmu juga bukan kecelakaan..."Siapa? Siapa yang sejahat itu? Kenapa? Pertanyaan itu terus menghantui benak Alif. Di saat ia sedang bingung, takut, dan hancur lebur, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depannya. Pintu terbuka, keluar sosok wanita yang sangat ia kenal, berlari menerobos hujan tanpa memakai payung sama sekali.Itu Nayla."DAFFA! ANAK KU SAYANG! KAMU KEMANA AJA SAYANG? MAMAH CARin DARI TADI!" seru Nayla histeris. Ia langsung memeluk tubuh Alif dengan sangat erat, seolah takut anak itu akan hilang lagi dari pelukannya. Nayla menangis tersedu-sedu, menciumi seluruh wajah Alif yang basah kuyup."Mah... Alif di sini Mah..

  • Ketupat Untuk Emak   10

    Pengorbanan yang Dibalas FitnahMalam semakin larut, jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih seperempat. Namun, di dapur belakang rumah mewah itu, masih terlihat sosok kecil yang bergerak lincah di antara tumpukan piring kotor dan wajan bekas masakan tadi siang. Itu adalah Alif.Sejak tiga hari yang lalu, Alif sengaja bangun lebih malam. Ia melihat Bi Inah dan pembantu lain tampak kelelahan karena harus mengerjakan semuanya sendirian. Di dalam hati kecilnya, Alif merasa sangat tidak enak hati. Ia makan enak, tidur empuk, bersekolah bagus, sementara orang-orang di sini bekerja keras melayani semua orang. Pesan Emak terus terngiang di telinganya: "Alif, kalau kamu ditolong orang, kamu harus balas lebih banyak kebaikannya. Jangan jadi beban, jadilah penolong."Dengan pakaian tidur sederhana dan lengan baju yang sudah digulung ke atas, Alif menggosok setiap piring dengan telaten dan hati-hati. Ia tidak ingin ada satu pun pecah atau kotor. Tangannya yang mun

  • Ketupat Untuk Emak   9

    Pintu kamar tertutup sudah di belakang tubuh mungil Alif. Ia berdiri terpaku di ambang pintu, matanya mengedar tak percaya menelusuri setiap sudut ruangan yang kini menjadi tempat istirahatnya. Kamar ini sangat luas, jauh lebih besar dibandingkan satu rumah tempat ia dan Emak tinggal bertahun-tahun lamanya. "Ya Allah ... bagus sekali!" gumam Alif.Di sana terlihat kasur berukuran besar yang terlihat sangat empuk dan lembut, ditutupi sprei berwarna biru muda dengan motif halus yang terlihat mahal. Lemari pakaian besar dari kayu jati yang berkilau, meja belajar yang tertata rapi lengkap dengan lampu hias, hingga karpet tebal yang menutupi seluruh lantai membuat suasana terasa begitu hangat dan mewah. Semua benda di sini tampak baru, bersih, dan berharga tinggi. Hal-hal yang selama ini hanya bisa Alif lihat di layar televisi tetangga, kini ada di depan matanya, bahkan menjadi miliknya. Namun, bukannya merasa melompat kegirangan seperti anak-anak seusianya jika diberi hadiah besar, dada

  • Ketupat Untuk Emak   bab 8

    “Jangan mentang-mentang anak saya itu mengangkat kamu sebagai anak angkatnya terus kamu bisa seenaknya tinggal di sini, ya!” perempuan itu melotot tajam pada Alif, ia tak henti-hentinya memperhatikan Alif dari ujung kaki hingga ujung kepala.Glek!Alif menelan salivanya dengan susah payah, Alif hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berani menatap ke arah perempuan paruh baya itu.“Jangan mentang-mentang kamu memiliki wajah yang sangat mirip dengan almarhum cucu saya, lantas saya bakal tiba-tiba menyayangi kamu gitu, lalu saya tiba-tiba menerima kamu sebagai cucu saya gitu? Begitu maksud kamu, hah?” perempuan itu berbicara dengan nada yang sedikit ditinggikan.Alif hanya diam tak bergeming seraya menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan.Kini, Alif serta perempuan paruh baya itu saling duduk berhadap-hadapan di atas kursi sofa yang ada di ruang depan kediaman Rendi.“Hm, tapi lumayan juga kamu tinggal di sini, saya bisa memanfaatkan situasi ini dengan menggunakan tenaga kamu yang m

  • Ketupat Untuk Emak   bab 7

    Dua hari kemudian ….Setelah selesai mengurus beberapa dokumen penting agar Alif menjadi anak angkat Rendi dan juga Nayla, akhirnya, kini Alif sudah sah menjadi anak angkat Rendi dan juga Nayla, Akhirnya Alif pun meninggalkan rumah reyot peninggalan kedua almarhum orang tuanya. Alif diboyong oleh Rendi dan Nayla di kediamannya yang berada di kota sebelah.Rumah Rendi sangat besar dan juga megah, rumah Rendi dan Nayla memiliki dua lantai rumahnya terletak di perumahan elite di kotanya. Alif terbelalak saat melihat kediaman Rendi yang sangat besar itu, baru pertama kali ia menginjakkan kakinya di rumah sebesar itu.“Mari Lif, kita masuk ya. Mulai sekarang, kamu tinggal di sini!” Rendi berucap ramah pada Alif sementara Nayla tidak pernah mau melepas genggamannya dari Alif.Alif hanya menggangguk pelan pada Rendi.Sesampainya di ambang pintu kedua mata Alif kembali tercengang, ia sangat mengagumi interior rumah Rendi serta Nayla, orang tua angkat Alif.“Mulai sekarang, ini rumah kamu jug

  • Ketupat Untuk Emak   bab 6

    “Alif yang sabar ya, ikhlaskan semuanya ….”Seorang pria paruh baya menghampiri Alif dan memegangi bahu Alif dengan begitu erat. Alif masih bingung dan tidak begitu mengerti dengan apa yang telah terjadi. Ia melihat tampak tubuh yang sedang terbujur kaku yang sedang ditutupi oleh kain jarik berbaring di ruang depan rumahnya.Alif masih berpikiran positif, ia sangat berharap kalau yang sedang berbaring itu adalah orang lain, bukan siapa-siapa.“Lif, ikhlasin emakmu ya Lif. Untuk sementara, Bapak akan temani kamu di rumah ini, karena Bapak tahu betul kalau kamu itu sebatang kara ….”Pak Qosim yang dikenal dengan Pak RT di kampung Alif sangat baik dan dan sangat perhatian kepada warganya itu, ia memberikan perhatian lebih kepada Alif yang notabenenya Alif adalah seorang yatim piatu yang tidak memiliki sanak saudara atau tidak memiliki siapa-siapa lagi.“Ma-maksud Pak RT, apa?” tanya Alif dengan bibirnya yang bergetar.“emakmu, Lif. Emakmu sudah meninggal Lif,” jawab Pak RT dengan wajah s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status