MasukMatahari mulai tenggelam saat Carter terbangun dari tidur pulasnya. Ia menggeliat, melangkah perlahan ke kamar mandi dan menyalakan air hangat. Mengguyur tubuh dan rambutnya, ia melihat jejak percintaan dengan
Khaelia di tubuhnya. Tersenyum kecil mengingat betapa garangnya perempuan muda itu saat mencapai puncak. Tanpa segan akan menggigit bahu, lengan, atau lekukan lehernya.
Khaelia yang baru pertama kali bercinta, melakukan semua yang diperintahnya tanpa bantahan. Memberikan k
“Dokter mengatakan kalau kamu cocok menjadi donor Celila dan anaknya, aku harap kamu mau membantu mereka.” Eiwa membuka serbet dan meletakkannya di atas pangkuan, begitu pula yang lainnya.Khaelia mengikuti mereka, membuka serbet dan tersenyum pada Eiwa. “Nyonya, saya siap dan dengan senang hati membantu.”“Kalau anak dan cucuku selamat dengan darahmu, keluarga Solitare akan memberikan semua yang kamu inginkan!” Kaspia berucap dengan suara tegas. “Kami bukan orang yang tidak tahu terima kasih. Jangan salah, aku masih merasa kalau latar belakangmu tidak cocok menjadi sekretaris Carter, tapi untuk kesembuhan Celila, aku bisa terima apa pun itu.”Beberapa pelayan datang menghidangkan sup untuk makanan pembuka. Seketika aroma wangi dari kaldu bercampur krim semerbak di udara, semua orang mengambil sendok dan mulai mencicipi. Khaelia menyendok perlahan dan menikmati rasa lezat di lidahnya. Meski begitu tetap saja tidak
Seorang pemuda yang terlihat lugu, penyendiri, dan selalu giat belajar, siapa sangka punya kehidupan yang berbeda saat ada di luar rumah. Khaelia tidak peduli apa pun yang dilakukan Clovis di luar sana karena memang bukan urusannya. Menghargai rahasia pemuda itu, dan tanpa diminta pun akan menyimpannya. Bagaimanapun Clovis pernah membantunya, dan dirinya yang mengerti balas budi harus membalas kebaikan itu.Pandangannya bertemu dengan Clovis. Permohonan yang diucapkan dalam diam membuatnya mengerti.“Halo, Clovis,” sapa Khaelia ramah.Clovis mengangguk, merapikan letak kacamatanya. “Hai, kamu sekretaris yang punya golongan darah sama dengan Kak Celila?”“Iya, benar. Hari ini aku datang karena itu.”Kali ini Clovis menatap Carter dengan pandangan bertanya-tanya. Ada kekhawatiran di suaranya yang bergetar. “Ada apa lagi? Bukannya dokter bilang keadaannya sudah stabil? Tadi pagi aku tengok baik-baik saja.”Carter memasukkan tangan ke dalam saku
Suatu malam, Khaelia yang tidak ingin bertemu dengan pegawai yang merupakan asisten para manajer, berencana masuk ke lobi dengan sembunyi-sembunyi. Ia meminta tolong pada penjaga pintu untuk menyelundupkannya dari pintu samping. Sialnya malah bertemu dengan tiga perempuan dari bagian pemasaran. Khaelia mengerang dalam hati, mengibaratkan diri keluar dari kandang singa, masuk ke kandang buaya. Ia sedang tidak ingin menerima masalah dan entah kenapa selalu ada hal yang salah setiap kali bertemu dengan tiga perempuan ini.“Eh, kamuuu. Kita ketemu lagi. Masih ingat kami?”Tentu saja Khaelia mengingat mereka, Wika, Riana, dan Lita. Kali ini ia hanya tersenyum kecil.“Kamu mau ke atas, kan?” tanya Wika.“Iya, jam kerja udah dimulai,” jawab Khaelia.“Kamu bantu kami nggak?” Kali ini Riana yang bertanya. “Waktu itu aku pernah minta tolong sama kamu untuk mempromosikan kami pada Pak Bosman. Bagaimana? Ka
Tiba di ruangan, Khaelia menghela napas lega. Membuka komputer, menyalakan mesin espresso, dan mulai membalas email. Ia tersenyum membaca pesan dari Emima yang lucu. Menyenangkan punya seseorang untuk diajak bicara.“Khaelia, breaking news. Buruan buka laman gosip!” Ernest muncul di sela percakapannya dengan Emima. “Jangan sampai kena serangan jantung!”Khaelia yang penasaran membuka laman berita yang dimaksudkan Ernest dan terbelalak. Ada banyak sekali foto-fotonya bersama Carter di sana. Sebagian besar foto itu menampilkan saat dirinya sedang bersama Carter di pantai. Semakin banyak yang dilihatnya, semakin gemetar tubuh Khaelia.“Bagaimana ini? Tuan Carter pasti marah kalau lihat,” Khaelia membalas perkataan Ernest.“Nggak usah takut, sebentar lagi foto-foto itu akan hilang. Aku jamin itu. Paling bertahan sepuluh menit saja. Pihak pengacara sekarang pasti sedang bernegosiasi. Ngomong-
Khaelia tidak mau diajak sarapan karena pakaiannya basah. Carter memberi ide untuk membeli makanan lewat drive thru tetap ditolak. Dengan alasan lelah dan tidak nyaman, Khaelia ingin buru-buru pulang. Mau tidak mau Carter mengantarnya. Setelah itu ia buru-buru kembali ke rumah, tepat saat orang tuanya sedang sarapan. Semua yang ada di rumah terbelalak saat melihatnya datang dengan wajah cerah.“Carter, tumben sekali kamu muncul di saat begini?”Teguran sang mama membuat Carter tersenyum. “Maa, aku ingin sarapan. Tolong minta pelayan buat sarapan yang enak. Nanti aku turun setelah ganti pakaian.”Eiwa terbelalak sesaat lalu mengangguk dengan gembira, lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan bagi Carter. Kaspia bahkan tidak sempat bereaksi, hanya menatap punggung anaknya yang menghilang.“Dia bilang ingin sarapan dengan kita?” tanya Kaspia pada istrinya.“Iya, bukankah itu hal yang hebat. Rasanya
“Celila, kamu harus bangun segera dan berkenalan dengan Khaelia. Aku yakin kamu akan menyukainya.”Setelah itu ia memutuskan untuk menggendong anak yang mulai merangkak di samping ranjang Celila. Sayangnya bayi mungil itu belum bisa banyak bergerak karena selang medis di sekujur tubuhnya. Carter berharap dan berdoa agar saudara dan keponakannya tercinta bisa selamat melewati semuanya.Khaelia merasakan perubahan yang drastis dan aneh setelah kemunculannya di rapat bersama Carter. Para pegawai tinggi yang biasanya tidak pernah melihatnya setiap kali berpapasan di lobi, kali ini menyapa dengan ramah. Mereka selalu berpakaian rapi, wangi, dan dikelilingi oleh beberapa asisten. Selalu berjalan dengan angkuh, anggun, dan cepat kala melintasi lobi. Tidak pernah menyapa orang lebih dulu, dan setiap kali para karyawan yang kedudukannya lebih rendah melewati mereka, akan menyapa dengan kepala menunduk hormat. Mereka adalah para manajer, direktur cabang, serta kepala
Khelia sedang melintasi lobi yang hari ini cukup ramai saat ponselnya bergetar. Ada notifikasi yang tidak dikenalnya dan ternyata pemberitahuan uang masuk. Ia terbelalak karena tidak menyangka gajinya akan sebesar ini. Hampir lima kali lipat dari gaji di perusahaan terdahulu. Ia sudah tahu gajinya
Carter mendesah, merasakan hasrat menyerbunya hanya karena teringat Khaelia. Ia harus menyingkirkan semua pikiran buruk kalau ingin Khaelia betah di tempatnya bekerja. Ia kehilangan sekretaris lamanya karena laki-laki muda itu tidak kuat bergadang terus menerus, berganti lagi dengan perempuan dan h
Dalam benak Khaelia sedang sibuk memikirkan pekerjaan di kantor dan tidak peduli dengan perkataan sepupunya. Sudah biasa Mila selalu menentang pendapatnya, seakan menjadi sepupu paling peduli padahal tidak peduli.“Temen-temenku yang sarjana semua kerja di kantor besar. Saat weekend pada ngumpul di
Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah satu bulan Khaelia bekerja dengan Carter. Setiap hari melalui rutinitas yang sama. Membuat kopi, menyusun berkas, melakukan penjadwalan, dan setiap pukul 12 malam keduanya beristirahat 30 menit. Sesekali Carter memanggil pelayan untuk membawa cemila







