LOGINKhaelia berjalan melintasi lobi dari pintu samping dengan sedikit kikuk. Takut kalau akan terpergok orang lain. Bagaimana tidak, Carter memintanya datang ke kantor malam ini tanpa menggunakan bra dan celana dalam. Bagian atas kemeja putih dengan rok selutut. Terpaksa Khaelia menutupi tubuhnya dengan jaket abu-abu, agar putingnya yang menegang tidak terlihat. Untungnya Carter mengirim uang untuk ongkos taxi, kalau tidak pasti dirinya bangkrut karena tidak bisa lagi berhemat dengan berangkat ke
Saat ini pandangan seluruh keluarga Solitare tertuju padanya.“Kenapa diam, Khaelia. Apakah yang aku katakan benar adanya? Bicara saja yang jujur sebelum masalah terlanjur melebar. Benar kamu bekerja sama dengan Corrado untuk mencurangi Carter, bukan?” desak Karenia dengan senyum penuh ejekan. “Ayo, jujur saja!”Khaelia menggeleng, ingin membantah keras tapi bibirnya seakan terkunci. Foto-foto itu juga menunjukkan dirinya berpelukan dengan Corrado. Sekilas terlihat seperti sepasang kekasih bermesraan, padahal aslinya tidak begitu. Namun, siapa yang akan percaya dengan penyangkalannya? Foto menunjukkan bukti yang sebaliknya. Ia dan Corrado bertemu, berpelukan, dan berada di ruang VIP hanya berdua. Tidak heran kalau semua orang berpikiran buruk padanya. Carter yang biasanya selalu membela, kali ini diam seribu bahasa seolah menunggu penjelasannya. Khaelia mencengkeram jari, sakit hati bukan karena foto-foto ini tapi karena wajah kaku Carter.
Jawaban itu tidak memuaskan bagi Corrado. Menginginkan sesuatu yang pasti, Corrado terus mendesak dan membuat Khaelia kesulitan. Tanpa sadar, ia menyesap anggur di tangan. Ia tidak mengerti apa yang diinginkan laki-laki ini dengan terus bertanya soal Carter. Apakah benar hanya penasaran atau ada niat lain? Khaelia sibuk bertanya-tanya, dan Corrado seolah tidak peduli dengan kegelisahannya.“Aku senang tentu saja kalau kamu dan Carter tidak menjalin hubungan. Untuk kamu tahu, kami berdua adalah teman sekaligus sahabat. Aku menghargainya, Khaelia. Melihat bagaimana Carter memperlakukanmu dengan baik membuatku bertanya-tanya ada apa dengan kalian. Aku pernah bertanya pada Carter tentang hubungan kalian dan dia menjawab kalau hubungan sebatas pekerjaan. Ternyata dia tidak berbohong, kamu pun mengatakan hal yang sama. Sungguh aku beruntung.”Khaelia tidak tahu apa maksudnya beruntung. Tentang hubungannya dengan Carter memang tidak ada apa-apa. Mereka bersentuhan
Khaelia melirik sepupunya dan tanpa banyak berpikir menyetujui ajakan Corrado. “Baiklah, tolong berikan alamatnya. Saya ke sana sekarang.”“Tidak usah. Kamu share lock saja. Biar sopirku yang menjemput.”“Percayalah, sopirku ada di mana-mana. Aku yakin yang paling dekat denganmu pun ada. Ayo, aku tunggu lokasimu.”Mau tidak mau Khaelia memberikan lokasinya pada Corrado. Ia bersiap menunggu jemputan paling tidak satu jam, dan selama itu pula ia harus meladeni obrolan Mila yang tidak berguna. Ternyata dugaannya salah. Corrado membalas pesannya dan mengatakan sopir akan tiba dalam lima belas menit. Ia tidak percaya membacanya.“Memangnya sopirnya ada di mana? Jangan-jangan memesan taksi untukku,” gumam Khaelia sedikit bingung.“Heh, mau ke mana kamu?” hardik Mila.Khaelia mengangkat bahu. “Kerja.”“Kamu pikir aku bodoh? Ini hari libur!”&l
Khaelia kabur dari kontrakan gara-gara Mila yang datang mendadak. Sepupunya itu menggedor pintu hingga nyaris membuat pemilik kontrakan marah. Ia bergegas keluar untuk menemui sepupunya.“Keluar juga kau! Sok penting sampai diajak ngomong aja susah!” bentak Mila.Memunggungi Mila, Khaelia mengunci pintu dengan dua gembok untuk jaga-jaga kalau ada yang mendobrak. Niatnya untuk beristirahat setelah beberapa hari kerja tanpa henti pun musnah. Ia berpikir untuk menginap di hotel terdekat agar bisa tidur dengan nyaman. Hal itu akan terjadi jika ia bisa mengusir Mila. Sepupunya ini memang kurang ajar sekali. Setelah tahu dirinya punya penghasilan bagus dengan limit kartu kredit yang cukup tinggi, Mila menjadi semakin berani untuk meminta.“Hei, jangan pura-pura budek!”Khaelia memutuskan untuk keluar dari gang, padahal tidak ada tujuan ke mana pun. Sekarang yang ada di pikirannya hanyalah lolos dari sepupunya yang mengesalkan ini. Dulu M
Keluarga Solitare berkumpul untuk menyambut kepulangan Celila dari luar negeri. Khaelia ada di antara mereka, bersama Karenia serta seluruh keluarga Emima. Saat Celila muncul dengan senyum terkembang di bibirnya yang pucat, semua orang menangis bahagia. Akhirnya, Celila sadar juga. Yang paling emosional adalah Eiwa dan Kaspia. Sebagai orang tua, keduanya sangat bahagia dan lega karena anak perempuan satu-satunya sudah pulih kembali.Celila berbaring di ranjang roda, didorong oleh dua perawat dan dijaga oleh dokter. Bayinya juga cukup sehat untuk digendong. Karena perjalanan jauh, orang-orang hanya diperbolehkan menggendong sang bayi tidak lebih dari dua menit. Si bayi kemudian dibawa pengasuhnya ke kamar atas.“Mama senang melihatmu, Sayang.” Eiwa mengecup pipi anaknya yang pucat, tetapi binar mata penuh kehidupan itu telah kembali. “Mama tidak menyangka hari ini akan tiba.”“Iya, Mama. Aku senang bisa sehat kembali,” Celila m
Pertunjukan orchestra yang diadakan di sebuah balai berjalan dengan meriah. Malam ini Sofia benar-benar gembira. Sudah lama ia tidak menonton musik yang membuat semangat dan gairahnya meningkat.Kehidupan sehari-harinya cukup membosankan dengan bekerja di kantor, mengurus rumah, dan berusaha mendapatkan cinta serta perhatian dari suaminya yang selalu bersikap dingin. Berbeda dengan Carlo, Adito memperlakukannya dengan baik dan penuh perhatian. Selesai menonton, keduanya memutuskan untuk makan. Kali ini Sofia mengikuti saran Adito untuk makan di sebuah kafe kecil yang menyediakan piza serta pasta.“Maaf, cuma bisa traktir makanan murah,” ucap Adito merasa tidak enak hati.Pemilik restoran menyuguhkan secara langsung pesanan mereka berupa salad, piza loyang sedang, dan spageti.“Waah, ini enak sekali.” Sofia mengambil satu potong piza dan mencicipinya. “Benar-benar piza rumahan yang lezat. Aku menyukainya, Adito.&rdquo
Khelia sedang melintasi lobi yang hari ini cukup ramai saat ponselnya bergetar. Ada notifikasi yang tidak dikenalnya dan ternyata pemberitahuan uang masuk. Ia terbelalak karena tidak menyangka gajinya akan sebesar ini. Hampir lima kali lipat dari gaji di perusahaan terdahulu. Ia sudah tahu gajinya
Carter mendesah, merasakan hasrat menyerbunya hanya karena teringat Khaelia. Ia harus menyingkirkan semua pikiran buruk kalau ingin Khaelia betah di tempatnya bekerja. Ia kehilangan sekretaris lamanya karena laki-laki muda itu tidak kuat bergadang terus menerus, berganti lagi dengan perempuan dan h
Dalam benak Khaelia sedang sibuk memikirkan pekerjaan di kantor dan tidak peduli dengan perkataan sepupunya. Sudah biasa Mila selalu menentang pendapatnya, seakan menjadi sepupu paling peduli padahal tidak peduli.“Temen-temenku yang sarjana semua kerja di kantor besar. Saat weekend pada ngumpul di
Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah satu bulan Khaelia bekerja dengan Carter. Setiap hari melalui rutinitas yang sama. Membuat kopi, menyusun berkas, melakukan penjadwalan, dan setiap pukul 12 malam keduanya beristirahat 30 menit. Sesekali Carter memanggil pelayan untuk membawa cemila







