로그인Khaelia berjalan melintasi lobi dari pintu samping dengan sedikit kikuk. Takut kalau akan terpergok orang lain. Bagaimana tidak, Carter memintanya datang ke kantor malam ini tanpa menggunakan bra dan celana dalam. Bagian atas kemeja putih dengan rok selutut. Terpaksa Khaelia menutupi tubuhnya dengan jaket abu-abu, agar putingnya yang menegang tidak terlihat. Untungnya Carter mengirim uang untuk ongkos taxi, kalau tidak pasti dirinya bangkrut karena tidak bisa lagi berhemat dengan berangkat ke
Sebagian hatinya menyuruhnya bangkit dari kursi, menyodorkan ponsel di mana Carter dan Khaelia berpelukan serta berciuman. Pastinya akan sangat memuaskan melihat Karenia cemburu dan kalah. Sebagian lagi ingin menghampiri mereka, mengamuk, memaki, dan melampiaskan semua kegeraman. Bisa ditebak hasil akhirnya untuk sikap kedua, Karenia merasa menang dan makin sombong karena sudah mengalahkannya. Sofia menghela napas panjang terus-menerus untuk menjaga agar tubuhnya tidak gemetar.“Nyonya, kenapa diam?”Pesan terbaru masuk dari Adito. Bertukar pesan dengan pemuda itu membuat Sofia kuat menghadapi serangan Karenia dan sikap acuh tak acuh suaminya. Sekarang mungkin waktu yang tepat untuk pergi dari sini.“Adito, mau nonton?”“Sekarang?”“Iya, bioskop 24 jam.”“Tentu, kita ketemu di mana?”“Di sana saja. Tiga puluh menit dari sekarang.”“Siap, menunggumu Ny
Carlo mengamati istrinya yang minum anggur sambil bermain ponsel. Merasa kalau ada yang berubah dengan Sofia, tapi tidak tahu apa tepatnya yang berbeda. Biasanya sang istri akan sangat marah, agresif, dan suka menyindir kalau ada Karenia. Namun malam ini semua sikap itu tidak ada lagi. Sofia sibuk dengan ponselnya, tidak peduli kalau ada Karenia yang mondar-mandir di depannya. Apakah terjadi sesuatu dengan istrinya? Pertanyaan Carlo belum terjawab sepenuhnya saat Karenia mendadak duduk di sampingnya.“Apa kamu sepakat denganku?”Carlo menoleh pada perempuan yang disukainya. “Soal apa?”“Sekretaris miskin itu. Bukankah dia tidak tahu malu? Aku yakin dia yang merayu Corrado karena tidak mungkin laki-laki kaya raya itu mendekatinya lebih dulu.”“Aku pun berpikir begitu, tapi jangan lupa dengan reputasi Corrado terhadap perempuan. Dia tidak segan bermain dengan siapa pun yang diinginkannya.”“Memang
Saat ini pandangan seluruh keluarga Solitare tertuju padanya.“Kenapa diam, Khaelia. Apakah yang aku katakan benar adanya? Bicara saja yang jujur sebelum masalah terlanjur melebar. Benar kamu bekerja sama dengan Corrado untuk mencurangi Carter, bukan?” desak Karenia dengan senyum penuh ejekan. “Ayo, jujur saja!”Khaelia menggeleng, ingin membantah keras tapi bibirnya seakan terkunci. Foto-foto itu juga menunjukkan dirinya berpelukan dengan Corrado. Sekilas terlihat seperti sepasang kekasih bermesraan, padahal aslinya tidak begitu. Namun, siapa yang akan percaya dengan penyangkalannya? Foto menunjukkan bukti yang sebaliknya. Ia dan Corrado bertemu, berpelukan, dan berada di ruang VIP hanya berdua. Tidak heran kalau semua orang berpikiran buruk padanya. Carter yang biasanya selalu membela, kali ini diam seribu bahasa seolah menunggu penjelasannya. Khaelia mencengkeram jari, sakit hati bukan karena foto-foto ini tapi karena wajah kaku Carter.
Jawaban itu tidak memuaskan bagi Corrado. Menginginkan sesuatu yang pasti, Corrado terus mendesak dan membuat Khaelia kesulitan. Tanpa sadar, ia menyesap anggur di tangan. Ia tidak mengerti apa yang diinginkan laki-laki ini dengan terus bertanya soal Carter. Apakah benar hanya penasaran atau ada niat lain? Khaelia sibuk bertanya-tanya, dan Corrado seolah tidak peduli dengan kegelisahannya.“Aku senang tentu saja kalau kamu dan Carter tidak menjalin hubungan. Untuk kamu tahu, kami berdua adalah teman sekaligus sahabat. Aku menghargainya, Khaelia. Melihat bagaimana Carter memperlakukanmu dengan baik membuatku bertanya-tanya ada apa dengan kalian. Aku pernah bertanya pada Carter tentang hubungan kalian dan dia menjawab kalau hubungan sebatas pekerjaan. Ternyata dia tidak berbohong, kamu pun mengatakan hal yang sama. Sungguh aku beruntung.”Khaelia tidak tahu apa maksudnya beruntung. Tentang hubungannya dengan Carter memang tidak ada apa-apa. Mereka bersentuhan
Khaelia melirik sepupunya dan tanpa banyak berpikir menyetujui ajakan Corrado. “Baiklah, tolong berikan alamatnya. Saya ke sana sekarang.”“Tidak usah. Kamu share lock saja. Biar sopirku yang menjemput.”“Percayalah, sopirku ada di mana-mana. Aku yakin yang paling dekat denganmu pun ada. Ayo, aku tunggu lokasimu.”Mau tidak mau Khaelia memberikan lokasinya pada Corrado. Ia bersiap menunggu jemputan paling tidak satu jam, dan selama itu pula ia harus meladeni obrolan Mila yang tidak berguna. Ternyata dugaannya salah. Corrado membalas pesannya dan mengatakan sopir akan tiba dalam lima belas menit. Ia tidak percaya membacanya.“Memangnya sopirnya ada di mana? Jangan-jangan memesan taksi untukku,” gumam Khaelia sedikit bingung.“Heh, mau ke mana kamu?” hardik Mila.Khaelia mengangkat bahu. “Kerja.”“Kamu pikir aku bodoh? Ini hari libur!”&l
Khaelia kabur dari kontrakan gara-gara Mila yang datang mendadak. Sepupunya itu menggedor pintu hingga nyaris membuat pemilik kontrakan marah. Ia bergegas keluar untuk menemui sepupunya.“Keluar juga kau! Sok penting sampai diajak ngomong aja susah!” bentak Mila.Memunggungi Mila, Khaelia mengunci pintu dengan dua gembok untuk jaga-jaga kalau ada yang mendobrak. Niatnya untuk beristirahat setelah beberapa hari kerja tanpa henti pun musnah. Ia berpikir untuk menginap di hotel terdekat agar bisa tidur dengan nyaman. Hal itu akan terjadi jika ia bisa mengusir Mila. Sepupunya ini memang kurang ajar sekali. Setelah tahu dirinya punya penghasilan bagus dengan limit kartu kredit yang cukup tinggi, Mila menjadi semakin berani untuk meminta.“Hei, jangan pura-pura budek!”Khaelia memutuskan untuk keluar dari gang, padahal tidak ada tujuan ke mana pun. Sekarang yang ada di pikirannya hanyalah lolos dari sepupunya yang mengesalkan ini. Dulu M
Carter mendesah, merasakan hasrat menyerbunya hanya karena teringat Khaelia. Ia harus menyingkirkan semua pikiran buruk kalau ingin Khaelia betah di tempatnya bekerja. Ia kehilangan sekretaris lamanya karena laki-laki muda itu tidak kuat bergadang terus menerus, berganti lagi dengan perempuan dan h
Dalam benak Khaelia sedang sibuk memikirkan pekerjaan di kantor dan tidak peduli dengan perkataan sepupunya. Sudah biasa Mila selalu menentang pendapatnya, seakan menjadi sepupu paling peduli padahal tidak peduli.“Temen-temenku yang sarjana semua kerja di kantor besar. Saat weekend pada ngumpul di
Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah satu bulan Khaelia bekerja dengan Carter. Setiap hari melalui rutinitas yang sama. Membuat kopi, menyusun berkas, melakukan penjadwalan, dan setiap pukul 12 malam keduanya beristirahat 30 menit. Sesekali Carter memanggil pelayan untuk membawa cemila
Setelah puas melihat-lihat, ia memutuskan untuk minum teh. Dengan malu-malu duduk di sofa sementara Carter merokok di sudut dekat gazebo. Menyesap tehnya, Khaelia diam-diam menatap profil atasannya. Carter yang ketampanannya tidak seperti manusia pada normal ternyata mempunyai sikap yang ramah. Tid







