로그인Khaelia berjalan melintasi lobi dari pintu samping dengan sedikit kikuk. Takut kalau akan terpergok orang lain. Bagaimana tidak, Carter memintanya datang ke kantor malam ini tanpa menggunakan bra dan celana dalam. Bagian atas kemeja putih dengan rok selutut. Terpaksa Khaelia menutupi tubuhnya dengan jaket abu-abu, agar putingnya yang menegang tidak terlihat. Untungnya Carter mengirim uang untuk ongkos taxi, kalau tidak pasti dirinya bangkrut karena tidak bisa lagi berhemat dengan berangkat ke
Carter membuang muka, tidak ingin memandang perempuan yang setengah telanjang di depannya. Rasa kecewa menyelimutinya karena sikap Karenia yang terhitung sangat murahan. Apa yang terjadi dengan perempuan ini sampai berani berbuat nekat? Apakah Karenia tidak lagi menggunakan otaknya untuk berpikir secara jernih? Membalikkan tubuh untuk memunggungi Karenia, Carter mendesah lalu berujar dengan dingin.“Pakai jasmu dan pergi dari sini!”Karenia menggeleng, mengulurkan tangan ingin menyentuh bahu Carter yang kokoh. Jauh-jauh ia datang, melemparkan semua harga diri ke dasar bumi hanya untuk bersama Carter. Ia tidak akan membuang kesempatan ini.“Tidak! Aku nggak akan ke mana-mana,” jawabnya dengan suara bergetar.“Karenia, apa kamu masih waras?” bentak Carter dengan tatapan tertuju pada dinding.“Aku memang gila, Carter. Sangat gila dengan kamu sampai-sampai dadaku meledak dalam rasa cemburu karena kamu memilih p
Celila menghela napas panjang, mendengar pembicaraan Sofia dengan staf di luar negeri. Bagaimana Sofia bisa tahu nomor ponsel staf itu, ia menduga Carlo yang memberikannya. Apakah mereka memata-matai Carter?“Khaelia, jangan kuatir. Kita akan membereskan Karenia.”Khaelia menoleh. “Saya nggak kuatir, Nyonya. Saya percaya dengan Tuan Carter.”“Sudah seharusnya begitu. Adikku itu laki-laki yang baik dan setia kalau sedang menjalin hubungan dengan perempuan. Kehidupan sehari-harinya memang terlihat glamor dan bagi orang yang tidak tahu, beranggapan Carter itu playboy. Sebenarnya tidak begitu.”“Saya paham soal itu.”“Percayalah, aku senang adikku bersamamu daripada Karenia.”Khaelia belum sempat bertanya alasan Celila lebih menyukainya daripada Karenia karena Sofia mendatangi mereka. Duduk di depan Celila, istri Carlo itu menggeleng dengan raut wajah memerah.“Kalian pasti
Khaelia tercengang, begitu juga orang lain yang ada di meja. Tidak biasanya Clovis yang pendiam jadi banyak bicara seperti sekarang, terutama demi membela Khaelia. Seluruh pandangan kini tertuju pada Clovis, bahkan Khaelia pun tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. Ia berterima kasih karena dibela, tapi ini mengejutkan semua orang.“Clovis, Sayang. Mama senang dengar kamu bela Khaelia. Rupanya kamu sudah bisa menilai orang lain, Sayang.” Eiwa tersenyum pada anak bungsunya.Clovis memutar bola mata. “Aku merasa kalian yang berlebihan. Kalau Kak Carter suka, Khaelia juga ingin bersamanya, kenapa kalian larang? Biarkan saja. Kalau bosan juga putus.”“Cerdas!” sela Carlo. “Aku sepakat. Nggak usah dilarang, biarkan saja dan kalau nggak serius pasti juga putus.”“Lagi pula, Papa kurang adil kalau cuma memperingatkan Khaelia. Ingat, Pa. Anak Papa itu laki-laki, harusnya Carter yang diberi peringatan untuk ti
Khaelia menerima panggilan dari keluarga Solitaire. Undangan untuk datang ke rumah yang besar dan megah itu. Di saat Carter tidak ada di kota ini, mereka memintanya bertemu. Sudah bisa dipastikan untuk membahas hubungannya dengan Carter. Padahal, hubungannya bukan sesuatu yang tabu. Ia dan Carter sama-sama masih sendiri, tapi perbedaan status membuat semuanya menjadi terlarang.Khaelia memutuskan untuk pergi menghadapi apa pun yang terjadi, diantar oleh sopir kekasihnya.“Nona, silakan ke ruang makan.”Seorang pelayan berseragam menuntunnya masuk. Khaelia mengangguk, mengikuti pelayan perempuan itu menuju ruang makan yang bisa jadi adalah tempat pembantaian untuknya. Semua orang berkumpul, mulai dari Eiwa, Kaspia, Carlo, Sofia, dan Clovis. Semuanya mengenakan pakaian terbaik mereka untuk makan malam. Yang mengejutkan adalah kehadiran Celila di tengah-tengah mereka. Duduk diapit oleh Carlo dan Clovis, tersenyum menyambut Khaelia.“Aku sen
Hari-hari berlalu dengan cepat. Tanpa terasa dua minggu berlalu. Carlo dan Sofia kembali dari bulan madu mereka, membawa setumpuk oleh-oleh untuk Khaelia. Dengan wajah berseri-seri Sofia mengatakan ingin hamil dan punya anak.“Ternyata dicintai sangat menyenangkan, Khaelia. Aku tidak percaya kalau kini Carlo benar-benar mencintaiku.”Khaelia merasa sangat bahagia untuk pasangan itu dan mendoakan yang terbaik untuk mereka. Sofia sudah menderita sejauh ini dan pantas bahagia. Perempuan itu terlihat lebih cantik, lebih bahagia, dan lebih sehat dari terakhir kali mereka bertemu.“Aku mendengar dari Papa dan Mama kalau mereka sudah tahu hubunganmu dengan Carter?”“Iya, Nyonya.”“Karenia yang membocorkan?”Khaelia mengangguk dengan wajah muram.“Perempuan sialan! Aku tahu dia melakukan itu karena iri dan cemburu dengan hubunganmu dan Carter. Apa kamu tahu satu rahasia? Aku baru dengar ju
Khaelia menunduk, tidak berani menatap Carter. Kekasihnya saat ini sedang bertanya tentang apa yang terjadi. Ia tidak ingin berbohong, tapi sudah berjanji pada Clovis akan menyimpan rahasianya.“Kenapa diam, Khaelia? Apa yang terjadi?”“Nggak ada apa-apa, tadi nggak sengaja ketemu Clovis dan dia mengantarku kemari.”Carter menyipit, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ada yang janggal sedang terjadi dan Khaelia sedang menutupinya.“Kenapa kamu nggak terus terang? Takut apa kamu?”Khaelia menggeleng. “Tuan, saya nggak takut apa pun. Memang nggak ada hal istimewa yang terjadi.”“Begitu ternyata. Baiklah, kalau kamu nggak mau cerita aku akan menelepon Clovis.”“Tidaak!” Khaelia mendekati Carter, memeluk dan mengecup kedua pipi serta bibirnya berulang kali sambil memohon. Bagaimana bisa ia mengatakan kebenarannya, bukankah sama saja membuat Clovis tidak memperc
Carter mendesah, merasakan hasrat menyerbunya hanya karena teringat Khaelia. Ia harus menyingkirkan semua pikiran buruk kalau ingin Khaelia betah di tempatnya bekerja. Ia kehilangan sekretaris lamanya karena laki-laki muda itu tidak kuat bergadang terus menerus, berganti lagi dengan perempuan dan h
Dalam benak Khaelia sedang sibuk memikirkan pekerjaan di kantor dan tidak peduli dengan perkataan sepupunya. Sudah biasa Mila selalu menentang pendapatnya, seakan menjadi sepupu paling peduli padahal tidak peduli.“Temen-temenku yang sarjana semua kerja di kantor besar. Saat weekend pada ngumpul di
Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah satu bulan Khaelia bekerja dengan Carter. Setiap hari melalui rutinitas yang sama. Membuat kopi, menyusun berkas, melakukan penjadwalan, dan setiap pukul 12 malam keduanya beristirahat 30 menit. Sesekali Carter memanggil pelayan untuk membawa cemila
Setelah puas melihat-lihat, ia memutuskan untuk minum teh. Dengan malu-malu duduk di sofa sementara Carter merokok di sudut dekat gazebo. Menyesap tehnya, Khaelia diam-diam menatap profil atasannya. Carter yang ketampanannya tidak seperti manusia pada normal ternyata mempunyai sikap yang ramah. Tid







