Share

BAB 26

Author: LucioLucas
last update publish date: 2026-04-30 19:31:57

Carlo dan Sofia baru saja menginjakkan kaki di lantai teras saat kendaraan Carter melesat meninggalkan halaman. Berdecak keras sambil menggeleng, Carlo mendesah kesal. Ia sengaja datang lebih cepat untuk bicara dengan adiknya dan ternyata tidak ada kesempatan untuk itu. Carlo menahan geram karena Carter seolah tidak menghargai kedatangannya. Harusnya menunda sedikit lebih lama sebelum pergi.

“Sepertinya Carter sama seseorang,” ucap Sofia mengiringi langkah suaminya.

“Kata mama itu adalah sekr
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 112

    Kali ini Sofia menatap Khaelia lekat-lekat. “Kalau begitu aku harus bagaimana? Menurutmu, jalan terbaik apa?”Khaelia terbelalak, menunjuk dadanya sendiri. “Menurut saya?”“Iya, aku minta pendapatmu.”“Tapi—”“Sebagai sahabat, teman, atau apa pun itu, tolong beri aku pencerahan sebagai orang ketiga.”Khaelia mendesah dalam hati, menatap makanan yang tersaji di meja. Menyadari betapa mahal harga makanan ini karena dibayar dengan pendapat dan bukan uang. Khaelia menyimpan kekhawatiran kalau pendapatnya akan salah dipahami dan membuat masalah menjadi makin lebar. Ia berpikir keras bagaimana cara menjawab yang tepat, agar tidak melukai Sofia serta Carlo.“Waah, apa ini? Kalian sedang bersantai dan tidak mengajakku?”Karenia muncul bersama beberapa temannya. Khaelia yang tidak menduga kalau perempuan itu akan ada di tempat ini, menatap cemas pada Sofia yang buku

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 111

    Khaelia menatap cake cantik dengan minuman dingin di depannya. Ada sepiring apple pie, manisan, serta beragam camilan lain. Dua orang datang untuk mengobrol, tapi makanan yang dipesan bisa untuk sepuluh orang. Ia menghela napas bingung. Terdampar di kafe fancy yang mahal dengan beragam cake, kue, serta camilan harga selangit. Pengunjung kafe ini rata-rata penduduk Soul Hills, tidak heran kalau harga yang diterapkan sedikit di luar nalar. Khaelia berharap harga yang dikeluarkan setara dengan rasa makanan.Kafe terdiri atas dua lantai dengan bangunan menyerupai kubah kaca. Dari sofa tempat mereka duduk, bisa terlihat pemandangan jalanan yang cukup ramai. Meski senja baru turun, tapi orang-orang seakan baru memulai hari mereka.“Nyonya, ini terlalu banyak,” Khaelia berujar cemas.Sofia tersenyum mengusap tepi cangkir tehnya. “Ini nggak seberapa. Aku bisa pesan lebih banyak yang kamu mau.”“Ngg

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 110

    Beberapa hari berlalu setelah pertemuan dan Khaelia masih belum membalas pesan dari Yardan. Kesibukannya yang menumpuk membuatnya nyaris tidak punya waktu untuk memegang ponsel. Terlebih sekarang Carter memajukan jam kerja menjadi pukul dua sore. Secara otomatis kesibukannya bertambah karena sekarang para pimpinan dan manajer bertemu langsung dengan Carter, tanpa melewati Bosman lebih dulu.Entah dari mana Mila tahu tentang pekerjaan Khaelia. Bisa jadi pernah bertukar nomor dengan Yardan. Sepupunya menggunakan nomor lain dan menerornya, mengancam akan datang ke Capital Group kalau Khaelia tidak segera menemuinya.“Nggak masalah kalau nggak mau datang, tapi minimal beri aku kerjaan. Masa sekretaris nggak ada link untuk bantu sepupu? Sekretaris macam apa kamu?”Khaelia tanpa kata memblokir nomor Mila yang baru. Keesokan harinya pesan dari sang paman muncul di ponsel, memohon kebaikan hatinya untuk mencari pekerjaan bagi Mila.“Maaf, Paman.

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 109

    Khaelia mendesah, mengerti kalau Carter sedang cemburu tapi juga ingin membantunya balas dendam. Tapi bertanya padanya soal kelayakan sebuah perusahaan bukanlah hal yang mudah. Bagaimana kalau ia salah menjawab hanya demi balas dendamnya belaka? Bagaimana kalau jawabannya tidak lagi rasional? Apakah Carter sudah mempertimbangkan itu? Pandangannya bertemu dengan Lasmi. Perempuan itu bermulut tajam dan suka sekali memaki kalau sedang marah. Saat ini tatapan mata memohon dilayangkan untuknya. Di samping Lasmi ada Rini yang arogan lalu Yardan. Ia menghindari bertukar pandang dengan mereka.“Khaelia, kenapa diam? Aku tanya padamu,” Carter bertanya sekali lagi.Meneguk ludah, Khaelia berkata dengan pelan. “Tuan, saya tidak punya pendapat soal ini.”“Kenapa?”“Yang menilai kelayakan perusahaan adalah tim yang terkait, bukan sekretaris seperti saya.”“Ah, benar juga. Aku hanya ingin tahu pendapatmu. Bai

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 108

    Bosman sudah menunggu di depan lift bersama beberapa staf. Mereka bersama-sama menuju ruangan rapat dengan Khaelia memegang laptop serta dokumen di tangan. Percakapan lirih terjadi antara Bosman dan Carter, Khaelia yang sibuk menerka-nerka apa yang terjadi di pertemuan nanti tidak memperhatikan keduanya. Pikirannya dipenuhi Yardan, Rini, dan juga bos lamanya. Membayangkan keterkejutan mereka saat melihatnya pasti sangat menarik.Pertemuan diadakan di gedung Capital Group lantai enam. Para peserta rapat diatur langsung oleh tim umum. Masing-masing perusahaan mengirimkan lima orang, tidak peduli apakah pemilik atau pegawai. Total ada enam puluh orang yang datang dan memenuhi ruang rapat. Yardan duduk satu meja dengan perusahaan lain, berada tepat di samping Rini dan pimpinan yang bernama Lasmi—perempuan berumur 45 tahun dengan rambut pendek dan kacamata. Sedangkan Rini adalah perempuan mendekati usia 30 tahun dengan riasan tebal. Saat orang-orang dari Capital Group memasu

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 107

    Khaelia yang menunggu datangnya ledakan kemarahan dari orang tua Carter, tidak menerimanya bahkan setelah waktu berlalu. Rupanya Carlo tidak mengadukan apa yang dilihatnya pada Kaspia dan Eiwa. Apa yang menahannya? Mungkinkah masalah dengan Sofia memburuk dan membutuhkan penanganan serta perhatian lebih? Khaelia penasaran dengan pikiran Sofia, apa yang membuatnya berbuat nekat dan apa yang dikatakannya pada Carlo sampai mengamuk begitu. Namun, masalah mereka bisa menunggu karena ada yang lebih penting, yaitu rapat hari ini.“Kenapa tegang gitu?” tegur Carter saat mereka menyiapkan berkas untuk rapat.Khaelia menunjuk salah satu daftar perusahaan. “Ini adalah perusahaan lama saya, Tuan.”“Oh, benarkah? Kamu enggak apa-apa ketemu mereka?”Khaelia tersenyum. “Justru saya menunggu kesempatan bertemu mereka.”“Kenapa? Ada dendam dulunya?” tanya Carter penuh selidik.“Bukan masalah

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 8

    Khelia sedang melintasi lobi yang hari ini cukup ramai saat ponselnya bergetar. Ada notifikasi yang tidak dikenalnya dan ternyata pemberitahuan uang masuk. Ia terbelalak karena tidak menyangka gajinya akan sebesar ini. Hampir lima kali lipat dari gaji di perusahaan terdahulu. Ia sudah tahu gajinya

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 7

    Carter mendesah, merasakan hasrat menyerbunya hanya karena teringat Khaelia. Ia harus menyingkirkan semua pikiran buruk kalau ingin Khaelia betah di tempatnya bekerja. Ia kehilangan sekretaris lamanya karena laki-laki muda itu tidak kuat bergadang terus menerus, berganti lagi dengan perempuan dan h

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 6

    Dalam benak Khaelia sedang sibuk memikirkan pekerjaan di kantor dan tidak peduli dengan perkataan sepupunya. Sudah biasa Mila selalu menentang pendapatnya, seakan menjadi sepupu paling peduli padahal tidak peduli.“Temen-temenku yang sarjana semua kerja di kantor besar. Saat weekend pada ngumpul di

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 5

    Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah satu bulan Khaelia bekerja dengan Carter. Setiap hari melalui rutinitas yang sama. Membuat kopi, menyusun berkas, melakukan penjadwalan, dan setiap pukul 12 malam keduanya beristirahat 30 menit. Sesekali Carter memanggil pelayan untuk membawa cemila

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status