Share

BAB 2

Author: LucioLucas
last update publish date: 2025-09-20 00:45:51

Khaelia bergegas mengikuti Bosman menuju lift. Sedikit lega karena bossnya ternyata tidak setua bayangannya. Lobi dalam keadaan masih cukup ramai, ia menduga mereka adalah para pekerja yang sedang lembur. Tanpa sadar Khaelia mengamati Bosman diam-diam dan menyadari kalau kulit laki-laki itu cenderung sehat dan bukan pucat seperti halnya vampire. Satu persatu ketakutannya terpatahkan.

“Nona Khaelia, pekerjaanmu dimulai dari pukul sembilan belas tiga puluh, dan berakhir pada pukul tiga tiga puluh dini hari. Akan dihitung lembur kalau jam kerja melebihi waktu. Selama bekerja di sini, kamu tidak boleh sembarangan bicara atau bergaul dengan sesama pekerja, dan harus menyimpan rahasia tentang pekerjaanmu rapat-rapat. Jangan sampai ada yang tahu kalau kamu seorang sekretaris.”

Pernyataan panjang dari Bosman diberi anggukan oleh Khaelia. “Baik, Pak. Saya mengerti.”

“Kamu pernah bekerja sebagai sekretaris sebelumnya, jadi seharusnya tidak ada masalah tentang pekerjaan karena pada dasarnya sama saja. Ingat, jaga rahasia tentang apa pun yang kamu lihat dan kamu lakukan, bahkan keluargamu pun tidak boleh tahu. Akan ada perjanjian untuk itu dan aku ingin kamu memahaminya dari sekarang!”

“Saya bersedia, Pak!”

Khaelia mengusap lengan setelannya, dan merinding mendengar pernyataan Bosman. Seolah yang akan dikerjakannya adalah hal rahasia menyangkut negara. Mereka keluar dari lift di lantai sepuluh, menuju ke ruangan di ujung lorong berkarpet. Bosman mengetuk pintu kayu tinggi dan berat, membukanya perlahan.

“Tuan, kami datang.”

“Masuklah!”

Suara seorang laki-laki terdengar dari dalam. Bosman memberi tanda pada Khaelia untuk masuk dan menutup pintu begitu dia keluar. Ternyata Bosman bukan pimpinan, ada orang lain yang lebih tinggi kedudukannya.

Khaelia berdiri gamang di dekat pintu menatap ruangan kosong. Kursi hitam di belakang meja besar berputar, sesosok laki-laki duduk di sana.

Laki-laki itu bangkit dari kursi dan berdiri di dekat meja. Khaelia tidak dapat menahan kekagumannya melihat betapa tampannya laki-Iaki itu. Berumur sekitar pertengahan tiga puluhan dengan rambut hitam dan alis tebal yang nyaris menyatu di dahi.

Laki-laki itu memiliki rahang kokoh dengan hidung mancung dan bibir yang proposional dengan wajahnya. Tampan tapi dilihat dari dekat terlalu pucat untuk kulit manusia pada umumnya. Jantung Khaelia berdetak lebih kencang.

“Siapa namamu?” Suara laki-laki itu terdengar keras dan berat di udara.

“Khaelia, Tu—an,”jawab Khaelia gugup.

“Apa golongan darahmu?”

Pertanyaan selanjutnya membuat Khaelia tanpa sadar mengusap lehernya yang bergidik. “Golongan O—, Tuan.”

“Bagus, itu yang aku cari.”

Khaelia tercengang tanpa sadar berujar keras.

“Tuan, apakah darah saya diperlukan dalam bekerja?”

Laki-laki itu mengangguk tegas. “Tentu saja.”

Keduanya saling pandang dan Khaelia menahan diri untuk tidak membalikkan tubuh serta melarikan diri. Dengan perlahan laki-laki mendekatinya. Pandangan tajam menyelidik, wajah tanpa senyum serta keangkuhan yang terlihat jelas di sikapnya yang kaku. Laki-Iaki itu memberikan tatapan menilai pada Khaelia.

Jari laki-Iaki itu terulur ke arah leher Khaelia. Tatapannya yang mengintimidasi membuat membuat Khaelia tidak mampu bergerak. Lembut, perlahan, serta berhati-hati, ujung jarinya mengusap sisi leher Khaelia. Udara seakan tersedot ke dalam pusaran magnet yang tidak dimengerti. Tatapan laki-laki itu membuat Khaelia seakan kehilangan tenaga untuk bergerak. Hanya berdiri, dengan napas sedikit tersengal.

“Bagus, aku suka dengan kulitmu yang lembut. Berapa umurmu?”

Khaelia meneguk ludah. “Dua puluh lima, Tuan.”

“Belum menikah bukan?”

“Be—lum.”

“Kenapa gugup? Aku bertanya baik-baik padamu.”

Bagaimana tidak gugup kalau selama tanya jawab jemari laki-laki di depannya tidak pernah lepas dari leher Khaelia. Terus mengusap dan memberikan sensasi aneh yang menakutkan. Berpangkal di paha dan menyebar hingga ke dada. Mata laki-laki di depannya campuran antara hitam sedikit kecokelatan dan menghipnotis siapa pun yang melihat.

“Tuan, si—silakan kalau mau mengisap darah saya. Ta—tapi tolong lakukan perlahan dan jangan sampai saya lemas karena kekurangan darah.”

Mendengkus keras, Carter menggeleng ke arah Khaelia. “Bukan bagian atas kancing blazermu. Ini perintah sekaligus bagian dari pekerjaan!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 124

    “Karenia, semua orang juga tahu kalau Carlo sudah sadar dan sekarang memilih untuk bersama Sofia. Kabar mereka berbulan madu bukan bualan belaka. Semestinya kamu dan Carter tidak takut lagi, bukan?”Karenia mendesah, menyugar rambut dan mengamati pantai yang terbentang di hadapannya. Ia pun berharap sama dengan perkataan Joice, begitu Carlo dan istrinya mesra maka Carter akan mendekatinya, tapi kenyataan ternyata tidak sesuai keinginannya.“Carter sudah terlanjur jatuh cinta dengan sekretaris bodoh itu.”Joice terdiam sesaat, mencerna informasi dari Karenia. “Maksudmu Carter menjalin hubungan dengan Khaelia?”“Iya, aku juga baru tahu dari Sofia. Foto-foto Carter dan si sekretaris sedang berciuman pun sudah aku dapatkan. Entah apa yang dilihat Carter dari si miskin itu. Memang tubuhnya seksi, wajahnya pun cantik, tapi banyak perempuan di Soul Hills punya kriteria yang sama. Banyak juga yang tidak kalah cantik dari

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 123

    Alunan musik jazz yang syahdu dari seorang penyanyi perempuan terdengar di klub jazz pinggir pantai. Denting peralatan makan beradu, dengung obrolan bercampur dengan debur ombak. Semua yang ada di sana memakai gaun indah untuk para perempuan dan jas untuk para laki-laki. Menyediakan koktail dan makanan ala Prancis dengan pelayanan terbaik untuk para pelanggan. Hanya orang tertentu yang bisa datang ke restoran, dan biasanya sudah terdaftar sebagai anggota.Dua perempuan cantik duduk berhadapan di ruang dalam. Keduanya memesan koktail dan camilan, tidak ingin makan berat karena datang memang untuk bicara. Perempuan yang memakai gaun hitam pendek mengusap anting-anting panjang di telinganya. Kalung berlian menghiasi lehernya yang indah. Ia menatap Joice yang sore ini tidak kalah cantik dengan gaun koktail putih. Tidak peduli dengan sekeliling, keduanya saling pandang dalam diam.“Jangan bilang kamu mengajakku bertemu hanya untuk makan camilan?” Joice membuka p

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 122

    “Tidak!” jawab Carter tegas. “Khaelia tidak akan ke mana-mana. Akan tetap di sampingku apa pun yang terjadi.”“Carter! Kau berani membangkang? Kami sudah memilih Joice untukmu dan kenapa kamu malah memilih dia? Kenapa?”Eiwa bertepuk tangan di udara, memberi perintah pada suami, anaknya, dan juga Khaelia. “Kita duduk dan bicara seperti orang beradab. Ayo, jangan membantah!”Kaspia mendengkus, tapi menuruti saran sang istri dengan duduk di sofa. Carter dan Khaelia pun menyusul, duduk di seberang Kaspia. Khaelia merasa kalau dirinya sedang diadili. Segala dosanya dikuliti termasuk harga diri yang tersisa tidak seberapa. Mudah saja bagi Kaspia untuk menyingkirkannya kalau mau, yang menahan laki-laki itu selain Carter adalah Eiwa. Khaelia yakin selama Eiwa tidak menyanggah apa pun, hidupnya masih aman-aman saja.“Kita duduk seperti orang beradab, membicarakan hubungan Carter dengan dia. Sayang, kenapa harus begini? Ini hal mudah. Suruh saja sekretaris itu per

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 121

    Selama ini Khaelia memang takut kala bertemu Kaspia dan Eiwa. Sesama manusia, sama-sama membutuhkan udara untuk bernapas, berpijak di bumi yang sama, dan juga berdarah merah. Perbedaan besar justru pada status sosial. Sebagai yatim piatu, tidak punya banyak harta dan mengandalkan gaji untuk hidup, Khaelia merasa dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka.Kaspia yang selalu bertutur kata tanpa sopan santun, blak-blakan, dan cenderung menghina, tidak pernah membuatnya nyaman apalagi untuk berdekatan. Sedangkan Eiwa memang lebih ramah, baik, dan lembut padanya. Tetap saja ada tembok tinggi di antara mereka yang tidak berani didaki apalagi diterobos. Khaelia cukup tahu diri dengan statusnya untuk tidak membuat masalah bagi keduanya. Sayangnya, saat ini masalah besar sedang dibuatnya dan membuat sepasang suami istri itu meradang di depannya.Carter menolak untuk melepaskan cengkeraman di pinggang Khaelia. Ia tetap tenang dengan pandangan tertuju pada orang tuanya, se

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 120

    Saat hendak ke ruangan sang manajer, langkah Khaelia dihadang oleh Wika dan Riana. Satu perempuan lagi, entah di mana. Khaelia menatap dua perempuan di depannya dengan heran. Mereka tersenyum cerah seakan melihat sesuatu yang luar biasa. Khaelia merasa bulu kuduknya meremang. Pandangan mereka seolah ingin menelannya.“Hai, Khaelia. Senang sekali ketemu kamu di sini.” Riana membuka lengan seolah hendak memeluk, Khaelia berdiri kaku dengan tangan terkepal di sisi tubuh.“Ehm, urusan pekerjaan.”Wika mengangguk cepat hingga terlihat seperti boneka yang pirnya lepas. “Wah, luar biasa. Kamu datang bersama Tuan Carter!”“Apanya yang luar biasa? Dia adalah bosku,” jawab Khaelia.“Aduh, Khaelia. Kamu bisa dikatakan belum lama. Kami sudah bekerja lebih dari tiga tahun di sini. Selama ini Tuan Carter tidak pernah menampakkan diri. Mendadak datang dan inspeksi, rasanya sungguh luar biasa membahagiakan!&rdq

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 119

    Kepergian Carlo dan Sofia untuk berbulan madu disambut baik semua orang. Carter yang akan menghandle pekerjaan Carlo selama kakaknya pergi. Rencana bulan madu sekitar dua minggu lamanya.“Setelah badai akan ada pelangi, ternyata pepatah ini ada benarnya juga,” Khaelia berkata dengan bahagia selesai menerima telepon dari Sofia yang akan bertolak bulan madu.Setelah peristiwa perkelahian di kafe, hubungan keduanya menjadi baik. Sofia tidak tanggung-tanggung memberikan banyak hadiah pada Khaelia, dari berupa gaun, perhiasan, dan banyak lagi. Hadiah yang tidak bisa ditolak.“Saya senang Nyonya Sofia sekarang bahagia.”“Untunglah, kakakku sadar lebih cepat. Kalau tidak, hancur sudah rumah tangga dan masa depannya.”“Tuan, saya dengar dari Emima katanya pertunangan Karenia putus? Benarkah? Bukan ingin menggosip, hanya ingin tahu saja.”“Benar, tunangannya ternyata terlibat penggelapan pajak dan

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 4

    Setelah puas melihat-lihat, ia memutuskan untuk minum teh. Dengan malu-malu duduk di sofa sementara Carter merokok di sudut dekat gazebo. Menyesap tehnya, Khaelia diam-diam menatap profil atasannya. Carter yang ketampanannya tidak seperti manusia pada normal ternyata mempunyai sikap yang ramah. Tid

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 3

    Laki-laki muda dan tampan itu bernama Carter June Solitaire. Tidak banyak yang tahu kalau ia adalah anak kedua dari keluarga Solitaire yang merupakan pemilik saham terbanyak sekaligus pimpinan di Capital Group. Carter yang berambut sehitam arang dan bermata tajam, saat ini sedang memandang seorang

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 1

    Warning : Adult roman story 21+Nama kota itu adalah Devil Town, tidak ada yang tahu bagaimana asal muasal nama itu diberikan. Kota iblis yang bagi banyak penduduknya memang perpaduan surga bagi orang kaya dan neraka bagi mereka yang tiak punya apa-apa.Devil Town merupakan kota besar dengan gedung

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 8

    Khelia sedang melintasi lobi yang hari ini cukup ramai saat ponselnya bergetar. Ada notifikasi yang tidak dikenalnya dan ternyata pemberitahuan uang masuk. Ia terbelalak karena tidak menyangka gajinya akan sebesar ini. Hampir lima kali lipat dari gaji di perusahaan terdahulu. Ia sudah tahu gajinya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status