Share

BAB 4

Author: LucioLucas
last update publish date: 2025-09-20 00:53:24

Setelah puas melihat-lihat, ia memutuskan untuk minum teh. Dengan malu-malu duduk di sofa sementara Carter merokok di sudut dekat gazebo. Menyesap tehnya, Khaelia diam-diam menatap profil atasannya. Carter yang ketampanannya tidak seperti manusia pada normal ternyata mempunyai sikap yang ramah. Tidak seperti boss-boss besar pada umumnya yang cenderung menjaga jarak dan bersikap sangat dingin, laki-laki itu justru terlihat santai.

Apakah Khaelia berhalusinasi saat melihat Carter begitu berbeda dalam siraman cahaya bulan? Jangan-jangan memang matanya saja yang salah. Lagi pula ini pertama kalinya mereka berjumpa, apa yang berbeda pun tidak ada yang tahu.

“Enak tehnya?”

Carter yang baru selesai merokok, duduk di samping Khaelia, membuatnya tanpa sadar sedikit bergeser ke samping.

“Enak sekali, Tuan.”

“Kamu nggak ngopi? Biasanya kerja malam takut mengantuk.”

“Tidak, Tuan. Mungkin karena terbiasa malam tidak tidur.”

“Berarti ini bukan pertama kalinya kamu kerja malam?”

Khaelia mengangguk. “Pernah kerja di minimarket yang bukan 24 jam sebelumnya.”

“Kenapa berhenti?”

“Kena rampok dan akhirnya tutup.”

“Wow, apakah saat itu terjadi kamu sedang jaga?”

Sekali lagi Khaelia mengangguk, menahan napas saat teringat peristiwa yang mencekam itu. Ia sedang berjaga minimarket di sebuah jalanan yang cukup ramai tapi tidak menjamin keselamatan. Dua orang masuk dengan niat merampok. Setelah peristiwa itu, minimarket ditutup dan Khaelia kehilangan pekerjaannya. Padahal saat itu bisa dikatakan gajinya cukup bagus.

“Banyak juga pengalamanmu, Khaelia. Jadi sekretaris dan juga kasir minimarket. Tapi, aku yakinkan padamu kalau bekerja denganku tidak akan membahayakan keselamatamu meskipun kita bekerja saat malam.”

“Iya, Tuan.”

Carter menguap dan menutup mulutnya dengan tangan. Berikutnya ia mengernyit heran. “Tumben sekali aku menguap dan merasa sedikit mengantuk. Biasanya aku tidak pernah merasa mengantuk sama sekali, aneh.”

“Mungkin lelah, Tuan.”

“Mungkin. Bisa tolong buatkan aku kopi?”

“Baik, Tuan.”

Khaelia merasa heran karena baru kali ini ada orang bingung karena mengantuk. Bukankah menguap saat malam itu sebuah hal yang wajar? Kenapa Carter justru terlihat gundah? Khaelia tidak membantah, melakukan semua yang diminta bossnya. Sejauh ini tidak ada tanda-tanda kalau darahnya akan dihisap, meskipun kalau Carter melakukannya sepertinya Khaelia tidak akan menolak.

Bagaimana bisa ia menolak saat melihat wajah tampan itu tersenyum padanya. Sesekali menggodanya dengan mengusap rambut, bahu, atau pun tangannya. Khaelia yang pengalamannya bersama laki-laki hanya sebatas kecupan serta berpegangan tangan, tidak bisa menahan perasaan aneh yang mengusik setiap kali Carter menyentuhnya. Beragam pikiran bermain di benaknya, tentang bagaimana kalau laki-laki itu akan sungguh-sungguh menciumnya? Bayangan tentang bibir mereka yang bertaut membuat dada Khaelia berdebar.

Saat bekerja Carter akan memperlakukannya selayaknya pekerja tapi kala bersantai, mereka akan mengobrol akrab tentang apa pun itu. Menginjak tiga Minggu bekerja Khaelia yang mulai terbiasa dengan ritme kerja Carter, menikmati waktu bergadang untuk menghasilkan uang.

“Khaelia, apa kamu pernah punya pacar?”

Pertanyaan tiba-tiba dari Carter membuat Khealia tersipu-sipu.

“Pernah, Tuan.”

“Oh, ya. Siapa laki-laki itu? Sekarang masih pacaran?”

Khaelia menggeleng. “Tidak lagi, Tuan. Hubungan kami hanya bertahan beberapa bulan saja. Dulu kami adalah teman sekantor.”

Carter duduk di tepi meja Khaelia dan mengernyit. “Kenapa putus?”

Khelia menggigit bibir, kebingungan apakah harus mengungkapkan alasan yang sebenarnya atau tidak. Akhirnya memilih untuk bicara jujur meskipun malu. “Katanya saya ter—lalu lugu. Karena me—nolak saat diajak, itu ...”

Suara Khaelia tenggelam oleh rasa malu. Carter berdecak, meraih dagu Khelia dan mengangkat wajah si sekretaris.

“Aku tahu kenapa kamu menolaknya, karena hatimu tidak sreg untuk melakukan hubungan sex dengannya bukan?”

Khaelia meneguk ludah dan mengangguk. Tatapan mata Carter menghipnotisnya. Jemari laki-laki itu mengusap bibirnya dengan lembut.

“Merasa tidak yakin kalau dia mencintaimu atau tidak? Apa yang dilakukannya sampai membuatmu ragu-ragu?”

“Ehm, dia bersikap baik dan mesra ke semua perempuan.”

“Bajingan miskin kurang ajar! Pantas saja kamu menolaknya. Apakah kalian pernah berciuman?”

“Tiga kali.”

“Dia pandai melakukannya?”

“Eh, entahlah?”

Makin dekat bibir Carter ke bibirnya, makin gugup Khaelia dibuatnya. Entah apa yang diharapakannya tapi sepertinya ia terpikat. Pikiran konyol terlintas dalam benak Khaelia, tidak akan keberatan kalau semisalnya Carter menciumnya.

“Bibirmu ranum, merah, dan basah. Tidak heran kalau laki-laki itu suka menciummu. Apakah kamu tertarik denganku? Bagaimana kalau aku menciummu?”

Khaelia terbelalak, pesona Carter meluluh lantakkan pertahanannya dan tanpa sadar mengangguk. Ia bahkan belum sempat bernapas saat bibirnya dikulum lembut, jemari Carter mengusap dagu dan membuat Khaelia membukan mulut lebih lebar. Ia pernah berciuman sebelumnya tapi tidak seperti ini, panas, menuntut, dan membutakan mata hati.

Khaelia tenggelam dalam kursinya saat Carter menekan makin kuat. Bibir melumat, memagut, dengan lidah mengusap langit-langit mulut. Bibir yang dicium tapi jiwa yang terenggut musnah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 116

    Seorang laki-laki berkacamata datang, memperkenalkan diri sebagai tunangan Karenia. Tanpa pikir panjang Karenia melemparkan diri dalam pelukan tunangannya.“Sayang, kita selesaikan ini segera. Aku pusing, ingin pulang sekarang.”“Iya, Sayang. Kamu tunggu sebentar. Kita akan selesaikan segera.”Khaelia yang penasaran melirik ke arah Carlo. Ia ingin tahu bagaimana reaksi laki-laki itu saat perempuan yang dicintainya justru melemparkan diri pada laki-laki lain selain dirinya. Khaelia yakin kalau ini bukan hanya soal Carlo sudah menikah, tapi lebih dari ini. Dari awal memang Carlo tidak pernah dicintai, terlalu buta dalam mencinta hingga tutup mata dengan kenyataan.Setelah berunding hampir satu jam, akhirnya tercapai kesepakatan damai. Para pengacara menghadapi beberapa wartawan yang sudah menunggu di luar. Karenia pulang bersama tunangannya, begitu pula Sofia dan Carlo. Khaelia masuk ke dalam mobil Carter, menuju rumah laki-laki itu.

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 115

    Kantor polisi berada di sebuah gedung berlantai tiga yang tidak terlalu besar. Saat ini ada beberapa wartawan yang sudah menunggu di luar. Beberapa pengacara bernegosiasi dengan polisi agar masalah ini tidak membesar. Masalahnya adalah kesepakatan perdamaian tidak tercapai antara Sofia dan Karenia. Sedangkan Khaelia hanya diam, berharap semuanya cepat selesai. Malu saat melihat Carter datang. Tidak menyangka akan terlibat sesuatu yang memalukan seperti ini.Selama menunggu masalah diproses, Sofia tidak hentinya mengoceh. Membuat telinga Khaelia berdenging mendengarnya. Sofia yang duduk berdampingan dengan Khaelia, menatap Karenia yang terpisah dengan mereka.“Sundal itu merasa sudah menang. Lihat saja, ini tidak akan berakhir dengan mudah. Dia menamparku lebih dulu. Akan ada balasan yang jauh lebih kuat nanti!”“Nyonya, bagaimana kalau nanti ada masalah dengan keluarga Solitaire?” tanya Khaelia gugup.Sofia menepuk-nepuk punggung t

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 114

    Carter menatap Corrado penuh tanya. “Apa maksudmu?”“Seorang Carter tidak pernah peduli apa pun, menganggap yang terpenting adalah harta. Ini pertama kalinya aku melihatmu sangat peduli dengan perempuan. Rupanya kamu benar-benar cinta pada Khaelia. Apa kamu enggak takut kebebasanmu akan hilang karena punya pasangan? Pastinya tidak bebas lagi dalam melakukan sesuatu karena terbelenggu norma, bukan? Kalau kamu punya pasangan, pastinya harus setia?”Carter mendengkus keras. “Entah kenapa mendengar kata setia darimu membuatku aneh.”“Memang, karena aku bukan orang setia, makanya memilih tidak berkomitmen. Tadinya aku mengira kamu pun sama, ternyata sungguh di luar dugaan.”“Orang berubah.”“Tapi tidak sedrastis ini. Kamu benar-benar mencintainya, bukan?”Carter mengangguk tanpa ragu. “Memang.”Corrado mengangkat kedua tangan ke udara. “Kalau begitu a

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 113

    Di club, suasana berubah menjadi gelap karena senja baru saja meninggalkan alam dan berganti malam. Tidak ada yang berubah dengan aktivitasnya, bisa dikatakan semakin ramai. Di club, orang-orang berdansa dan mendengarkan musik. Ruang olahraga dipenuhi oleh beragam pengunjung, begitu pula di lounge. Orang-orang kaya yang menghabiskan waktu luang mereka untuk mencari hiburan. Bukan rahasia lagi kalau lantai dua adalah tempat laki-laki yang mencari petualangan seks, termasuk memenuhi fantasi mereka.Seorang laki-laki tua berambut putih dengan tubuh kurus melewati sofa mereka. Carter mengangguk, begitu pula Corrado. Laki-laki itu pun berlalu diikuti oleh beberapa asisten.“Wakil Wali Kota yang patuh dan rajin bekerja. Kamu tahu ke mana tujuannya, Carter?” Corrado memanggil pelayan dan meminta brandy. “Ke lantai dua, bersenang-senang dengan satu perempuan dan satu laki-laki. Dia sudah punya anak cucu, tapi fantasinya ada

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 112

    Kali ini Sofia menatap Khaelia lekat-lekat. “Kalau begitu aku harus bagaimana? Menurutmu, jalan terbaik apa?”Khaelia terbelalak, menunjuk dadanya sendiri. “Menurut saya?”“Iya, aku minta pendapatmu.”“Tapi—”“Sebagai sahabat, teman, atau apa pun itu, tolong beri aku pencerahan sebagai orang ketiga.”Khaelia mendesah dalam hati, menatap makanan yang tersaji di meja. Menyadari betapa mahal harga makanan ini karena dibayar dengan pendapat dan bukan uang. Khaelia menyimpan kekhawatiran kalau pendapatnya akan salah dipahami dan membuat masalah menjadi makin lebar. Ia berpikir keras bagaimana cara menjawab yang tepat, agar tidak melukai Sofia serta Carlo.“Waah, apa ini? Kalian sedang bersantai dan tidak mengajakku?”Karenia muncul bersama beberapa temannya. Khaelia yang tidak menduga kalau perempuan itu akan ada di tempat ini, menatap cemas pada Sofia yang buku

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 111

    Khaelia menatap cake cantik dengan minuman dingin di depannya. Ada sepiring apple pie, manisan, serta beragam camilan lain. Dua orang datang untuk mengobrol, tapi makanan yang dipesan bisa untuk sepuluh orang. Ia menghela napas bingung. Terdampar di kafe fancy yang mahal dengan beragam cake, kue, serta camilan harga selangit. Pengunjung kafe ini rata-rata penduduk Soul Hills, tidak heran kalau harga yang diterapkan sedikit di luar nalar. Khaelia berharap harga yang dikeluarkan setara dengan rasa makanan.Kafe terdiri atas dua lantai dengan bangunan menyerupai kubah kaca. Dari sofa tempat mereka duduk, bisa terlihat pemandangan jalanan yang cukup ramai. Meski senja baru turun, tapi orang-orang seakan baru memulai hari mereka.“Nyonya, ini terlalu banyak,” Khaelia berujar cemas.Sofia tersenyum mengusap tepi cangkir tehnya. “Ini nggak seberapa. Aku bisa pesan lebih banyak yang kamu mau.”“Ngg

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 2

    Khaelia bergegas mengikuti Bosman menuju lift. Sedikit lega karena bossnya ternyata tidak setua bayangannya. Lobi dalam keadaan masih cukup ramai, ia menduga mereka adalah para pekerja yang sedang lembur. Tanpa sadar Khaelia mengamati Bosman diam-diam dan menyadari kalau kulit laki-laki itu cenderu

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 8

    Khelia sedang melintasi lobi yang hari ini cukup ramai saat ponselnya bergetar. Ada notifikasi yang tidak dikenalnya dan ternyata pemberitahuan uang masuk. Ia terbelalak karena tidak menyangka gajinya akan sebesar ini. Hampir lima kali lipat dari gaji di perusahaan terdahulu. Ia sudah tahu gajinya

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 7

    Carter mendesah, merasakan hasrat menyerbunya hanya karena teringat Khaelia. Ia harus menyingkirkan semua pikiran buruk kalau ingin Khaelia betah di tempatnya bekerja. Ia kehilangan sekretaris lamanya karena laki-laki muda itu tidak kuat bergadang terus menerus, berganti lagi dengan perempuan dan h

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 1

    Warning : Adult roman story 21+Nama kota itu adalah Devil Town, tidak ada yang tahu bagaimana asal muasal nama itu diberikan. Kota iblis yang bagi banyak penduduknya memang perpaduan surga bagi orang kaya dan neraka bagi mereka yang tiak punya apa-apa.Devil Town merupakan kota besar dengan gedung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status