로그인Terus-menerus minum sampanye membuat Khaelia mabuk. Dengan lembut Carter memapahnya keluar dari tempat pesta, terpaksa pulang lebih awal karena Khaelia sudah setengah tidak sadarkan diri. Gadis itu bahkan menari erotis di depan penyanyi yang sedang mengumandangkan lagu-lagu ceria. Kalau Carter tidak segera membawanya pergi, bisa-bisa Khaelia menelanjangi diri.“Kenapa pulang buru-buru, Bro. Pesta belum berakhir. Biarkan Khaelia beraksi, aku suka melihatnya!”Kata-kata Corrado makin membuat Carter ingin segera pulang. Tidak akan membiarkan Khaelia kehilangan kontrol karena mabuk dan berbuat hal yang aneh.“Tuan, ki-ta mau ke mana?” Khaelia merengek.“Pulang tentu saja.”Khaelia menggesekkan tubuhnya pada Carter saat keduanya menunggu kendaraan yang sedang diambil. “Kenapa pulang, Tuan. Kita belum berciuman. Di sana tadi semua orang berciuman.”Carter mengusap wajah Khaelia dengan lembut. “
Bisikannya membuat Khaelia menggeliat, membalikkan tubuh dan kini menghadap Carter lalu mencium bibirnya. Mereka saling melumat di dalam tenda kecil yang setiap saat bisa terbang karena angin. Tidak ada yang peduli saat Carter mengangkat gaun Khaelia hingga ke pinggang dan melepaskan celana dalamnya.Khaelia merintih dan mendamba, membiarkan Carter mengusap vagina dan menggerakkan jarinya di sana dengan cepat. Inilah yang diinginkannya sekarang, menyentuh dan disentuh. Mencium dan dicium tanpa malu, bercumbu hingga nafsu membutakan hati.“Tuan….”“Iya, Khaelia.”“Sekarang.”Permohonan Khaelia dituruti oleh Carter. Ia membuka jas dan melemparkannya ke samping, lalu celana hingga ke lutut. Setelah itu, ia memosisikan diri di tengah Khaelia dan mulai melakukan penetrasi.Khaelia melenguh dan mendesah, Carter bergerak cepat dan keras. Mereka melumat bibir, membelai tubuh, dan bersetubuh dengan keras pen
Percakapan di ruang makan keluarga Solitare menjadi sedikit kaku setelah kedatangan Karenia. Selama ini Sofia tidak pernah mempermasalahkan kehadiran perempuan itu di rumah ini karena memang bagian dari keluarga. Bahkan setelah tahu suaminya menyimpan cinta pada Karenia, ia tetap menerima dengan tangan terbuka. Meski begitu, Sofia menyadari kalau dirinya bukan malaikat. Rasa cemburu dan marah sudah pasti ada. Hatinya tidak bisa tidak merasa senang kalau bisa membuat Karenia sedih. Satu hal yang pasti adalah kenyataan kalau cinta perempuan itu hanya tertuju pada Carter. Puas bisa membuat saingannya bersedih membuat hati Sofia berdetak bahagia.Eiwa dan Kaspia yang duduk berdampingan seolah tidak memahami situasi yang terjadi. Bagi mereka, sikap posesif Karenia pada Carter adalah normal untuk sesama sepupu. Tidak pernah terpikir kalau Karenia punya perasaan lebih untuk anak mereka.“Kenapa Clovis? Anak itu tidak pernah ada di rumah,” gerutu Kaspia. Menatap tangga dan ber
Setelah percakapan singkat dengan Corrado, kini dilanjutkan dengan bermain poker bersama. Nilai taruhan sungguh fantastis, membuat Khaelia geleng kepala. Satu kali taruhan adalah biaya hidupnya selama dua tahun penuh dan orang-orang ini menghamburkannya dengan bebas.Carter memutuskan untuk ikut bermain. Khaelia yang tidak mengerti poker memilih untuk duduk di sofa dan mendengarkan musik dari penyanyi sambil menyesap sampanye. Merasa bosan, ia memutuskan untuk berkeliling ruangan dan melihat-lihat. Ada banyak karya seni yang terpajang di sini, mulai dari guci, lukisan, hingga patung. Sayangnya, semua yang ada di sana menggambarkan seksualitas secara gamblang.Di guci ada ukiran posisi seks seorang perempuan yang sedang masturbasi di atas kursi beludru. Tubuh perempuan digambarkan sedikit berisi dengan rambut keriting. Patung di samping guci adalah sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang berciuman dalam keadaan telanjang. Lukisannya pun menggambarkan percintaan beb
Eiwa mengobrol tentang makan malam, Sofia menyesap minuman, sedangkan Carlo menahan amarah. Entah untuk siapa—Karenia yang bodoh akan cintanya pada Carter, atau pada Sofia yang sudah memprovokasi. Sebenarnya ia lebih marah pada diri sendiri karena merasa kasihan pada Karenia yang terlihat kecewa. Dirinya memang pecundang yang tidak punya harga diri.Orang-orang yang ada di ruangan itu tidak bisa mendengar percakapan antara Corrado, Carter, dan Khaelia. Mereka hanya mengira itu obrolan biasa karena Carter dan Corrado memang berteman. Bisa jadi hanya berbincang tentang hobi, saham, atau hiburan malam ini. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing dan kini merencanakan bermain poker dengan taruhan yang jumlahnya diberi ketentuan khusus.Khaelia menduga usia Corrado seumur dengan Carlo, atau bisa jadi lebih tua beberapa tahun dari Carter, ia tidak bisa mengira-ngira. Tingginya sebatas dagu Carter, meski begitu tubuhnya terlihat kokoh, sepertinya terbentuk melalui ol
Carlo menatap serius pada orang tua dan istrinya yang sedang mengobrol. Mereka membicarakan kondisi sang adik, Celila, yang mulai membaik dan berencana membawanya berobat ke luar negeri. Sang mama setuju, istrinya juga mendukung, tapi mereka masih takut akan penolakan Carter. Selama ini memang Carter sangat posesif terhadap Celila. Bisa dibilang keduanya tumbuh berdampingan dan bergaul akrab sejak kecil. Berbeda dengannya yang lebih menjaga jarak dengan semua saudaranya, Carter dan Celila justru saling mendukung dan merangkul. Saling membela kalau salah satu terkena masalah.Ia tidak ingat kapan terakhir kali mengobrol dengan Celila. Sepertinya jauh sebelum kecelakaan terjadi. Saat Celila menikah, ia tidak punya perasaan senang atau bahagia layaknya seorang saudara. Menganggap pernikahan itu memang layak terjadi bukan hanya demi keluarga, tetapi juga bisnis. Untuk orang-orang seperti mereka, bisnis dan uang adalah nomor satu, sedangkan perasaan nomor sekian. Itu adalah teori
Setelah puas melihat-lihat, ia memutuskan untuk minum teh. Dengan malu-malu duduk di sofa sementara Carter merokok di sudut dekat gazebo. Menyesap tehnya, Khaelia diam-diam menatap profil atasannya. Carter yang ketampanannya tidak seperti manusia pada normal ternyata mempunyai sikap yang ramah. Tid
Laki-laki muda dan tampan itu bernama Carter June Solitaire. Tidak banyak yang tahu kalau ia adalah anak kedua dari keluarga Solitaire yang merupakan pemilik saham terbanyak sekaligus pimpinan di Capital Group. Carter yang berambut sehitam arang dan bermata tajam, saat ini sedang memandang seorang
Khaelia bergegas mengikuti Bosman menuju lift. Sedikit lega karena bossnya ternyata tidak setua bayangannya. Lobi dalam keadaan masih cukup ramai, ia menduga mereka adalah para pekerja yang sedang lembur. Tanpa sadar Khaelia mengamati Bosman diam-diam dan menyadari kalau kulit laki-laki itu cenderu
Warning : Adult roman story 21+Nama kota itu adalah Devil Town, tidak ada yang tahu bagaimana asal muasal nama itu diberikan. Kota iblis yang bagi banyak penduduknya memang perpaduan surga bagi orang kaya dan neraka bagi mereka yang tiak punya apa-apa.Devil Town merupakan kota besar dengan gedung







