Share

Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!
Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!
Author: De Sore

Bab 01

Author: De Sore
last update publish date: 2026-08-21 17:06:24

“Apa arti pernikahan kita ini buat kamu, Jo?” tanya Kiara pelan. Hatinya terasa diremas perih, tetapi ia sengaja memberanikan diri melemparkan pertanyaan itu.

Joshua menyendok sarapannya tenang, lalu mendongak singkat. “Kenapa bertanya seperti itu? Kita sedang sarapan. Jangan memancing topik yang bisa memicu pertengkaran.”

Kiara menyunggingkan senyum getir. Sikap Joshua selalu sama—tenang, rasional, dan nyaris tak tersentuh.

“Kemarin aku dengar butik langgananmu mengeluarkan koleksi busana terbaru. Mau aku antar kesana nanti sore?” tawar Joshua, mencoba mengalihkan pembicaraan.

Kiara menggeleng pelan.

“Kenapa terlihat sedih begitu? Tak seperti biasanya. Apa aku berbuat salah?” tanya Joshua lagi. Kali ini dahinya bertaut halus.

Lagi-lagi Kiara hanya menggeleng. Joshua memang pria yang dingin dan tak banyak bicara. Namun, dia tidak pernah pelit. Selama dua tahun ini, Joshua selalu royal memenuhi kebutuhan finansialnya. Perlakuannya manis, tetapi jarak tak kasat mata di antara mereka tetap terasa begitu lebar.

Air mata Kiara sudah mendesak di sudut mata. Senyum perhatian Joshua justru makin menyiksanya. Pria itu tidak tahu—bahwa masa kontrak pernikahan mereka akan berakhir tiga bulan lagi.

Lebih tepatnya, kemarin sore Mama mertuanya sudah mengirim pesan padanya. Isinya singkat namun mampu meremukkan dada Kiara: Laura sudah kembali dari luar negeri. Laura adalah pemilik sejati posisi ini. Perempuan yang seharusnya bersanding di pelaminan bersama Joshua.

Dua tahun lalu, saat perusahaan ayah Kiara terancam bangkrut, keluarga Joshua datang memberikan suntikan dana besar tanpa syarat. Imbalannya hanya satu: Kiara harus mau menikah dengan Joshua dan merawatnya, menggantikan Laura yang tiba-tiba pergi.

Saat itu kondisi Joshua sangat memprihatinkan akibat kecelakaan hebat. Selama dua tahun penuh, Kiara telaten mengurus segala kebutuhan Joshua—memastikan jadwal obat, mendampingi terapi fisik hingga pria itu benar-benar pulih dan bisa berjalan tegak seperti sekarang.

Kebersamaan saban hari perlahan menumbuhkan benih cinta yang tulus di hati Kiara. Namun, kehadiran Laura menjadi sinyal tegas baginya untuk sadar diri. Sebelum perasaan ini tumbuh kian liar dan makin menghancurkannya, Kiara harus mengambil langkah mundur.

“Jo... karena kesehatan kamu sudah jauh lebih baik, ayo kita bercerai,” ucap Kiara tiba-tiba, memutus keheningan meja makan.

Alis Joshua bertaut rapat. Tatapannya tajam, menatap wanita di hadapannya dengan raut bingung. “Kamu kenapa? Aku ada salah?”

“Nggak, nggak ada apa-apa. Hanya saja... aku merasa sudah tidak dibutuhkan lagi di sini,” ujar Kiara, menahan sesak yang mengimpit dadanya. Dia tak berani menatap Joshua sama sekali. Dia takut keberaniannya terkikis saat melihat Joshua.

“Atas dasar apa kamu bicara seperti itu, Kia?” Suara berat Joshua mulai terdengar tidak sabar.

Kiara menelan ludahnya, tenggorokannya terasa kering sebelum akhirnya dia menjawab “Atas dasar pesan dari Mama kamu, Jo.”

“Mama?” Joshua menaruh sendoknya agak keras ke atas piring. “Pesan apa? Beliau mengancammu? Kia…tolong ya, ini pernikahan kita! Jangan biarkan orang tua ikut campur!”

“Tidak. Tidak begitu. Beliau gak ikut campur kok.” suara itu terasa berhenti di tenggorokan Kiara “Mama cuma bilang kalau Laura sudah kembali,” jawab Kiara jujur.

Joshua menghembuskan napas kasar. “Laura? Kenapa tiba-tiba kamu membawa-bawa nama dia?”

“Karena sejak awal pernikahan ini memang untuk dia, Jo. Aku dan Mama kamu punya kesepakatan... pernikahan kita hanya sampai Laura kembali ke Indonesia. Aku hanya pengganti.”

Ruang makan itu mendadak hening. Udara di sekitar mereka terasa membeku. Dari tempat duduknya, Kiara bisa merasakan bagaimana mata elang Joshua menatapnya saat ini.

“Kalian... membuat kontrak di belakangku?” tanya Joshua rendah, menatap Kiara seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dari nada suaranya, Kiara tahu Joshua tidak senang.

Kiara menunduk dalam-dalam. Matanya terasa memanas dan perih, tetapi ia buru-buru menyedot napas dalam untuk menguasai emosinya. Ia tidak boleh terlihat lemah dihadapan Joshua.

Ia mendongak kembali, menatap lurus manik hitam suaminya.

“Benar. Kami punya kesepakatan itu,” jawab Kiara tegas, meski suaranya bergetar tipis.

“Kiara...”

“Karena kamu sudah tahu... jadi ayo kita bercerai!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 08

    “Demi Papa, jangan tanda tangani, Kiara!”Suara Arman terdengar tegas dan keras menembus hening ruang tamu. Kiara yang baru saja hendak membungkuk mengambil salinan kertas berserakan di lantai membeku seketika.“Oooh… ternyata serakah juga ya kamu? Bapak dan anak sama-sama serakah dan tidak tahu malunya!” sindir Anggun tajam, melipat tangan di dada.Pria paruh baya yang biasanya selalu bersikap tenang dan mengalah itu melangkah tegas ke depan. Dengan sisa tenaga di tubuhnya yang makin ringkih, Arman memasang badan, berdiri tepat di hadapan Anggun dan Laura—memblokir akses kedua wanita itu ke arah Kiara.“Saya tidak begitu, Bu Anggun. Kalau memang mereka mau bercerai, biarkan mereka bercerai. Tapi tidak bisakah semua dilakukan dengan kepala dingin? Kenapa harus membuat masalah sebesar ini?”“Itu karena putrimu yang melanggar kontrak!” gertak Anggun, matanya menyalang penuh kemarahan. “Surat pengakuan itu satu-satunya cara agar kamu dan anakmu tidak membusuk di penjara!”“Saya yang puny

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 07

    “Apa pun yang terjadi dengan pernikahanmu, ini tetap rumahmu. Maafkan kami, Nak... yang dulu sudah sangat egois memanfaatkanmu.”Suara Arman—Papa Kiara bergetar saat kalimat itu terucap. Pria paruh baya yang kini tampak makin ringkih itu memeluk Kiara erat, disusul elusan lembut Ibu di punggungnya. Suasana ruang tamu rumah sederhana mereka mendadak diliputi haru yang menyayat dada.Pagi tadi di apartemen, dekapan hangat Joshua di depan Anggun dan Laura sempat menghentikan detak jantung Kiara. Namun, ia tak ingin membiarkan keributan tak berujung itu berlarut-larut. Dengan suara lirih namun mantap, Kiara meminta izin pada Joshua untuk pulang sementara waktu ke rumah orang tuanya demi menenangkan diri.Joshua—meski berat hati dan sempat menahan lengannya—akhirnya luluh dan membiarkan Kiara pergi, memberi ruang yang wanita itu butuhkan.Keputusannya melangkah sejenak dari lingkaran kehidupan Joshua membawa Kiara kembali ke satu-satunya tempat ia bisa bernafas lega.Kiara menyandarkan kep

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 06

    “Ternyata apartemenmu tidak banyak berubah ya, Jo, masih sama seperti selera minimalismu yang dulu.”Suara renyah nan elegan itu bergetar halus di udara, memecah ketenangan ruang tengah. Kiara yang baru saja selesai menyusun cangkir teh di atas nampan membeku.Pagi baru saja merambat naik, namun pintu apartemen sudah diketuk keras. Anggun datang tanpa pemberitahuan, dan kali ini ia tidak sendirian. Ia membawa Laura—sosok anggun dan cerdas dari berita bisnis kemarin malam.Laura berdiri anggun membelakangi jendela kaca. Gaun pastel berpotongan haute couture membalut tubuh semampainya dengan sempurna, berpadu erat dengan riasan wajah halus yang memancarkan aura kelas atas.Perhiasan berlian berukuran kecil berkedip lembut di leher dan pergelangan tangannya. Dibandingkan dengan Kiara yang hanya mengenakan kemeja katun kelabu dan celana kain sederhana, jurang perbedaan di antara mereka terlihat sangat nyata.“Laura, kamu duduk dulu. Biar Kiara membuatkan minum untukmu,” cetus Anggun santa

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 05

    “Jo, jika pertanyaan itu aku balik ke kamu... apa kamu bisa menjawabnya?” Mendengar Kiara membalikkan pertanyaan itu, Joshua terkekeh pelan. Sebuah senyum tipis terbit di bibirnya, meski sorot matanya sarat akan kerapuhan yang amat dalam. “Saat kamu datang ke dalam kehidupanku, aku sedang dalam keadaan sangat buruk,” ucap Joshua, suaranya mengalun lembut memecah hening malam. “Tidak banyak perempuan yang mau bertahan bersamaku. Apalagi saat itu rumor di luar sana menyebutkan kalau aku punya kekasih lain... dan kemungkinan besar lumpuh permanen.” Joshua menjeda kalimatnya. Ia menatap lurus ke dalam netra cokelat Kiara yang kini berkaca-kaca, memantulkan bayangan lampu gantung meja makan. “Tapi kamu bersedia di sini, Kia...” “Itu karena...” Kiara berusaha memotong, namun lidahnya terasa kufur. “Aku tahu, karena investasi Papaku di perusahaan Papa kamu, kan?” sahut Joshua menyambung cepat. Pria itu menggeleng pelan. “Tapi kalau kamu memang tidak punya ketulusan itu dari awal, kam

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 04

    “Siapa yang mengizinkan Mama mengatur hidup, pernikahan dan perceraianku?” Suara berat, dingin, dan sarat akan intimidasi memotong kalimat Anggun dari arah pintu masuk. Kiara dan Anggun membeku secara bersamaan. Di sana, Joshua berdiri tegap dengan setelan jas kerjanya, menatap sang mama dan Kiara dengan sorot mata yang begitu pekat dan berbahaya. Menit berikutnya Anggun menetralkan raut wajahnya. Melangkah tenang dengan senyuman manis menghampiri putra kesayangannya. “Joshua, Laura sudah kembali. Kamu bisa melanjutkan hidup bersamanya. Hubungan mu dengan Kiara sudah selesai,” ucap Anggun penuh percaya diri. Joshua melirik Kiara yang masih membeku di sofa. Ia dapat merasakan desir aliran darahnya saat melihat rona merah di pipi Kiara akibat perbuatan ibunya. “Aku sendiri yang akan memutuskannya Ma. Tidak ada yang bisa mengatur pilihan ku.” Joshua menatap dingin Anggun. “Tapi perjanjiannya tidak seperti itu Josh—” “Mama dan Kia yang membuat perjanjian! Bukan aku,” potong Jos

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Bab 03

    Sehari setelah pembicaraan menyakitkan di meja makan itu, Joshua berubah menjadi sosok yang makin banyak diam. Pria itu menenggelamkan diri sepenuhnya dalam tumpukan pekerjaan kantor. Kiara yang biasanya terbiasa dengan keheningan Joshua, kali ini merasa sesak luar biasa.Joshua memang bukan tipe pria yang obral kata-kata, tetapi perhatian kecilnya—seperti memindahkan cangkir teh hangat ke dekat tangan Kiara atau memastikan AC ruangan tidak terlalu dingin—selalu mampu mengalirkan kehangatan. Kini, kehangatan itu menguap tanpa sisa, digantikan oleh dinding es yang dipasang Joshua rapat-rapat.Suasana hening di apartemen mendadak terusik ketika bel pintu berbunyi siang itu. Kiara terpaku saat mendapati Anggun, ibu mertuanya, berdiri di ambang pintu sembari membawa sekeranjang anggur hijau.“Kamu sudah membicarakannya pada Joshua?” tanya Anggun tanpa basa-basi, begitu mereka duduk di ruang tengah. Anggun meletakkan keranjang buah itu di atas meja—buah kesukaan Kiara yang rasanya absurd d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status