Share

Chapter 2.c: It's not kidnapping, it's surprise...

Rasa percaya dirinya tidak bertahan lama. Memang musuh sudah berkurang satu, akan tetapi dia tersisa sendirian, karena temannya juga sudah mati setelah berusaha menjatuhkan yang kedua.

Sementara itu, Dama terbangunkan karena kebisingan dari pertarungan. Saat dia keluar tenda, dia mendapati Stila yang berdiri di depan seseorang yang tergeletak di tanah. Matanya yang mengantuk langsung segar bugar. "Apa yang terjadi?"

"Sepertinya ada masalah yang besar," ujar Stila.

"Aku mengenali orang yang itu," kata Dama, menunjuk orang yang telungkup. "Siapa yang menyerang dia?"

"Itu ulahku."

"Oh," Dama tercengang. "Kenapa?"

"Dia duluan yang berniat ingin melukai kita."

"Jadi dia itu pengkhianat?"

"Sepertinya begitu. Sebaiknya kita mencari Rawa. Dia mungkin tahu lebih banyak tentang ini."

"Bagaimana kalau dia yang ada dibalik semua ini?"

"Kalau begitu akan kita kalahkan dia."

Mereka bergegas menghampiri dan menemukan keadaan yang seperti berikut: Rawa berdiri sendirian, dibelakangnya bersembunyi Rija yang terlihat ketakutan dan disekeliling mereka berjatuhan mayat. Rawa dan Kanse sedang sama-sama berdiri tegak kaku.

"Kalian berdua," kata Rawa. "Tolong aku."

"Jangan dengarkan dia," kata Kanse. "Dia adalah seorang pembohong."

"Itu tidak benar. Kanse adalah pengkhianatnya. Dia ingin menyandera Rija untuk tujuan tertentu."

"Memangnya kalian percaya dengan omongannya? Sifatnya saja sombong."

"Apa tidak sebaiknya kita mengirim seseorang untuk meminta bantuan kepada klan saja?" ucap Dama menawarkan dirinya sendiri. "Aku bersedia melakukannya."

"Jangan," bantah Kanse. "Tidak perlu."

"Tidak," Rawa menolak dengan tegas. "Aku harus membereskan ini dengan tanganku sendiri."

"Persetan dengan semua ini," sumpah Stila. "Hey, Rija, siapa disini yang bersalah?"

Anak laki-laki itu menunjuk pelakunya.

"Ah, aku ketahuan," kata Kanse sambil tersenyum. "Tadi itu adalah ide yang bagus," katanya kepada Dama. "Tapi aku tidak akan membiarkan kalian kabur."

"Hati-hati," kata Rawa memberi peringatan. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Karena Dama yang berada di depan, dia lah yang lebih dulu diserang oleh sesuatu yang tidak terlihat. Ketika itu mengenai Dama, dia terhempas seperti daun gugur terkena tiupan angin. Dia bergerak kemana-kemana tanpa arah, namun saat dia menyentuh tanah tubuhnya tidak berbekas sama sekali. Kekuatannya otomatis aktif saat dia berada dalam bahaya.

Stila bergerak ke samping, mencoba mendekati Rawa dan Rija melalui rute berputar menghindari Kanse. "Apa-apaan itu barusan?"

"Aku sudah coba beritahu," kata Rawa. "Itu adalah kekuatan milik Kanse. Jika itu mengenaimu, kamu akan dipaksa bergerak berlawan dari yang dia lakukan."

"Seperti yang terjadi padamu? Dan tidak, kamu tadi tidak bilang apapun tentang itu."

"Iya," katanya sewot. Sedangkan keadaannya sekarang, karena Kanse sedang tidak bergerak, dia juga tidak perlu. Sihirnya hanya bekerja untuk membuat gerakan yang berlawanan dari pemiliknya.

Kanse sebenarnya adalah seorang yang sudah ada di Langkah Master. Dia membawa kekuatannya sendiri yang terpisah dari medan sihir ini. Dia mempunyai sihir dengan tema papan jungkat-jungkit. Sama seperti permainan itu yang mengangkat satu ke atas saat yang lain dibawah, dia membuat musuhnya melakukan hal yang berlawanan dari dirinya. Sedangkan sihir yang tersedia disini sepertinya tidak dia pakai karena mengganggu miliknya.

"Berikan mereka pelajaran," kata Kanse kepada temannya.

Laki-laki yang disuruh kemudian mengeluarkan laser berwarna hijau kecoklatan dari tangannya. Saat itu mengenai Dama, kekuatan Dama membuatnya tidak berefek.

Stila memutuskan terjun langsung ke tengah-tengah pertempuran dan menyerang yang memiliki laser. Perempuan itu menyerapnya saat terkena serangan. Seperti daun menyerap cahaya, dia menyerap kekuatan musuh. Selain itu, efek sampingnya juga membuat dia menjadi lebih kuat. Dia tertawa, "Aku suka ini."

"Jangan naik langkah ya!" seru Rawa.

"Aku tahu, aku tahu. Konsentrasi saja pada pertarunganmu sendiri, dan bebaskan dirimu. Aku sedang menolongmu, tahu tidak?"

Rawa tidak bisa bergerak jauh-jauh, karena memang tidak bisa. Saat Kanse maju, dia mundur. Rija mengejarnya supaya tetap berada di belakang penjaganya.

Dama pun berniat mengambil alih perhatian Kanse. Namun setiap kali dia mendekat, dia dibuat terbang. Itu membuat kedua belah pihak menjadi frustrasi. Terlebih-lebih lagi Kanse.

Stila selesai menghabisi lawannya. Dia kemudian bergabung dengan Dama.

"Biar aku yang di depan," kata Dama.

Itu diperuntukkan supaya mereka tahu dimana serangannya muncul dan dimana yang harus dihindari.

Satu pukulan dari Stila dan semuanya tiba-tiba menjadi terlalu banyak untuk diperhatikan buat Kanse. Rawa berhasil membebaskan dirinya. Pertarungannya tidak berselang lama setelah itu.

Mereka mengikat lawan yang telah kalah dan sedang tidak sadarkan diri itu untuk mengamankannya. "Aku akan mengawasinya," tawar Dama.

Stila mencoba menenangkan Rija yang sedang gemetaran dan Rawa sendiri pergi untuk mengumpulkan yang lain. Dia membangunkan yang masih hidup dan menyuruh satu untuk menyampaikan pesan kepada klan. Kemudian yang tersisa menggiring anak-anak untuk berada di satu tempat.

Saat bantuan tiba, mereka yang mengurus para mayat dan tahanan, beserta jika ada yang ingin ikut pulang. Ada yang bertinggal diri juga untuk mengisi kekosongan yang disebabkan penjaga yang sudah tidak ada.

"Sekarang apa?" tanya Dama.

"Rija tidak bisa pergi, karena dia belum selesai. Dan itu artinya aku juga tidak bisa. Kalian sebaiknya juga tetap disini. Nanti setelah kita pulang, urusan melaporkan kejadian sepenuhnya biar aku yang menangani."

Meski Rawa tegang menantikan serangan lain, tidak ada yang terjadi sampai Rija selesai menjadi Petualang. Namun acaranya masih belum bisa dibilang beres, masih ada anak yang belum. Mereka masih menunggu yang terlambat itu. Di hari ke sepuluh medan sihir itu sirna. Dan saatnya mereka semua kembali.

Ketika mereka sampai di kediaman klan, Dama kira dia akan bisa beristirahat. Perkiraannya itu salah. Baru tiba dia sudah diasingkan dan disuruh menghadap kepada Tatari Lamin. Dia tidak protes karena memang itu yang dia juga inginkan.

Dia diarahkan ke tempat tinggal sang ketua klan, yang bangunannya berbentuk panjang, dan lantainya terangkat tinggi dari tanah. Cukup untuknya berdiri di bawahnya tanpa ubun-ubunnya menyentuh papan.

Dia masuk lewat depan dengan menaiki tangga. Ruangan yang ditemukanya adalah merupakan ruangan yang dipenuhi oleh pernak-pernik dan segala macam seni. Patung, kain batik, ukiran, tikar, dan bahkan terutama lukisan.

Lukisan orang-orang yang terkena musibah banjir dari air berwarna darah mencuri pandangannya untuk sesaat.

"Silahkan duduk," kata Lamin.

Ketua klan itu sedang melukis sesuatu dan membelakangi Dama. Dia kelihatan sangat fokus sekali, namun ternyata masih mampu menyisakan sedikit perhatian untuk Dama. Gambar yang dilukisnya adalah tentang sebuah bencana alam, lebih tepatnya adalah angin topan. Dari sudut pandang Dama yang adalah orang awam, itu terlihat sangat detail sekali. Seperti kejadian asli saja.

Dama menurut dan duduk bersila di lantai. "Aku kesini karena ingin mencari Arof Madilum."

"Begitu ya? Aku dengar kamu mengaku sebagai cucunya."

"Itu benar. Walau bukan termasuk di dalam silsilah keturunan langsung, dia adalah keluarga dan aku seharusnya  memanggilnya kakek."

"Itu berarti nama lengkapmu merupakan Dama Madilum."

Tidak heran pria berjanggut itu tahu namanya, pasti sudah ada yang menyampaikanya kepada dia. Dama merasa kecurigaan kuat kalau orang itu adalah Rawa.

"Iya."

"Klan yang seharusnya sudah binasa sampai ke akar-akarnya."

"Iya, klan yang itu. Memangnya kenapa?"

"Nak, aku sudah lama kenal dan kenal dengan baik dengan Arof. Jadi aku tahu persis bagaimana dia sifatnya. Dia tidak akan meninggalkan pekerjaan setengah selesai."

Dia membahas tentang pembantaian klan Madilum, pikir Dama.

"Lalu apa hubungannya denganku?"

Tatati memutar badan dan menatap mata Dama dalam-dalam, wajahnya yang keriput terlihat tegas. "Jadi aku tidak percaya dengan ceritamu. Dan bahkan jika kamu berkata yang sejujurnya, aku masih tidak ingin menjumpaimu. Karena aku yakin kalau dia punya alasan untuk melakukannya."

"Kalau begitu, kenapa merubah pikiranmu sekarang?"

Dia tidak menjawab untuk sesaat. Lalu kemudian, "Karena cucuku. Terimakasih karena telah menyelamatkannya, dan jangan khawatir kalau-kalau para pengkhianat itu ingin membalas dendam kepada kalian. Aku akan memberikan yang masih hidup hukuman yang pantas."

"Itu sebenarnya lebih karena berkat Stila dan Rawa."

"Meskipun demikian, kita sedang membicarakan tentang kamu. Sebagai balas budi, aku akan memberikan tempat terakhir Arof berada yang aku tahu, tapi itu saja, mengerti?"

Dama mengangguk sambil mendengarkan Tatari mengatakan apa yang ingin dia sampaikan.

"Satu hal lagi, sebagai bukti kalau aku sudah memenuhi perkataanku kepada kamu, tinggal sampai eksekusi berakhir."

"Baik. Aku akan melakukannya."

Dama beranjak untuk pergi. Saat dia sudah mencapai lubang pintu, Tatari menyela lagi. "Oh, tolong suruh temanmu itu untuk menemui aku juga. Sekarang."

___

Info tambahan:

*Aku membayangkan rumah Tatari Lamin mirip seperti rumah tradisional.

___

To be continued...

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status