ログイン“Siapa kamu?” tanya Leo kesal.“Vito.”“Saya tidak perlu nama! Untuk apa kamu kemari?”Vito duduk di hadapan Leo dengan santai. “Hanya ingin memberitahu kalau kamu tidak bisa lari kemana-mana.”“Apa maksudnya?”“Kamu salah pilih lawan, sebenarnya Indra dan Salsa ingin menghabisi kamu dengan tangannya sendiri. Tapi, jangan sampai mereka mengotori tangannya, biar aku saja,” jawab Vito.Bught!Dengan satu kali tendangan, Leo tersungkur di lantai.“Kau tahu siapa yang kau usik? Kau salah pilih lawan!”“Kau suruhan Indra?”“Itu tidak penting, sekarang nikmati saja.”Kembali lagi Vito menghajar Leo. Darah segar mengalir di sudut bibir Leo, anak buahnya ternyata tidak mampu menghadapi Vito. Hanya Vito seorang diri, mereka sudah babak belur.“Masuk!” teriak Vito setelah dia puas menghajar Leo dan memotretnya lalu dikirimkan kepada Aliman.Dua orang polisi masuk dan langsung meringkus Leo dan kedua anak buahnya. Tanpa adanya perlawan, Leo benar-benar kalah.“Beres satu,” ujar Vito sambil menge
“Ehm, jadi kakek tukang sapu ya?”Ternyata Aliman sudah berada di dalam ruangan rawat Salsa dan Indra. Sontak saja itu membuat Salsa dan Indra tergelak.“Kakek, Juna mau es cream.”Sekarang, Juna tahu tempatnya dia merengek minta es cream ke kakeknya. Dia pikir kalau menunggu Amara datang siang nanti pastinya akan lama. Dan kebetulan Aliman datang.Juna seolah tidak merasa bersalah telah salah mengira sang kakek.“Mau apa?” tanya Aliman yang kini sudah menggendong cucunya.Kehadiran Juna dalam hidup Aliman benar-benar membuat warna baru. Dia yang kehilangan cinta sejatinya dalam pernikahan yang bahkan tidak sampai seumur jagung, itu membuatnya bersedih. Tapi, Juna berhasil mengembalikan tawa sang kakek.Indra hanya menggeleng melihat anaknya yang begitu manja kepada Aliman. Dia yakin kalau ibunya melihat dari atas sana, Seva pasti sangat senang.“Es cream.”“Yaudah sebentar lagi kita turun ke bawah cari es cream. Tapi, kakek mau bicara sama papa dulu sebentar ya.”Juna mengangguk.Sal
“Apa kamu tahu kira-kira dia kemana?” tanya Indra kepada Salsa.Salsa menggelengkan kepalanya. “Gak tahu, dia tidak pernah mengatakan dimana tinggal. Aku hanya tahu villa itu.”Salsa menunduk, dia merasa bersalah sekaligus malu. Ini benar-benar menjadi beban untuknya, seandainya sejak awal dia langsung menceritakan semuanya pada Indra, kemungkinan semuanya tidak akan menjadi seperti ini.Aliman menepuk pundak Indra dan menggelengkan kepalanya. Maksudnya, Indra tidak perlu melanjutkan pertanyaan apapun kepada Salsa, dia tahu itu hanya akan membuat Salsa semakin rendah diri.“Tapi, Pa—““Papa pasti akan menemukannya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kalian berobat saja yang tenang disini.”Indra mengangguk.Di atas ranjang pasien, Juna masih berada dalam pelukan Salsa, dia sibuk memainkan mobillannya yang baru saja dibelikan Aliman.“Kakek, Juna mau tidur disini saja sama Papa dan Mama.”“Banyak nyamuk loh,” jawab Aliman sambil tersenyum.“Tinggal pakai obat nyamuk.”Aliman tergelak,
“Sayang…” panggil Salsa lagi sambil mengelus wajah Indra.Indra menggeliat.“Sayang, kamu sudah bangun?” Indra malah panik melihat Salsa sudah duduk. Dia bersiap untuk memencet bel, namun Salsa menggeleng dan menahan tangannya.“Kamu sakit?” tanya Salsa serah menatap gelang yang dikenakan Indra.“Jangan pikirkan aku, aku baik-baik saja.”Salsa mengecup tangan Indra, kemudian dia menangis sejadi-jadinya. Hingga akhirnya Indra memeluk Salsa dengan erat. Dia tidak bisa melihat wajah Salsa yang bersimbah air mata seperti itu.“Maafkan atas kebodohanku. Mungkin kamu akan sulit percaya. Tapi, malam itu dia mengirimkan aku sebuah video, mobil kamu berhenti di pinggir jalan. Mobil itu bergoyang dan katanya di dalam kamu sedang bersama dengan orang wanita.”Salsa menjeda kalimatnya.“Dia berjanji akan memberikan video lanjutannya wajah kamu dan wanita itu. Juga memastikan keaslian video itu, tapi aku dijebak diberikan obat perangsang dan setelah itu, dia mengancamku ingin menyebarkan video itu
“Kak Indra, kamu membunuh kak Salsa?!” teriak Dira sambil memeluk Salsa.“Hah?”Indra terlihat bengong, sejak tadi dia tidak melakukan apapun kepada Salsa, sekarang tiba-tiba saja dia dituduh membunuh istrinya sendiri.Sekalipun dia marah dan sangat kecewa kepada Salsa, tidak pernah terbersit pun niat untuk menyakiti Salsa. Dia masih sangat mencintai istrinya itu.“Mas Hasan, siapkan mobil!” teriak Andira.“Iya, Sayang.”Seketika Indra seolah tersadar, dia berlari ke arah Dira dan mendapati Salsa sudah tidak sadarkan diri.“Sayang?” panggil Indra.“Kak Indra! Kita harus segera membawa Kak Salsa ke rumah sakit!” teriak Dira menepuk bahu Indra dengan keras agar sang kakak segera sadar.Indra mengangguk, tanpa pikir panjang dia menggendong Salsa turun ke bawah. Disana, Hasan sudah siap dengan mobilnya.Suasana rumah yang semula tenang kini berubah menjadi hiruk pikuk, Juna menjerit-jerit memanggil ibunya yang kini berada dalam gendongan sang ayah yang berlari menuju mobil.“Tolong jaga J
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Salsa terkejut saat mendengar Indra melarang menyentuhnya.Biasanya setiap kali sakit, Indra sangat manja. Bahkan tidak mau lepas dari pelukannya. Tapi, sekarang bahkan menyentuhnya saja tidak boleh.“Aku gapapa.”Indra melepaskan dasinya dengan kasar, tangannya gemetaran. Adegan demi adegan dalam video itu terbayang di kepalanya. Bagaimana Salsa menari dengan erotis diatas tubuh Leo.Tawa sinis Leo saat menatap kamera begitu jelas, seolah video itu benar-benar dibuat untuk dibagikan kepadanya.Jeritan suara desahan Salsa ketika mereka mencapai puncaknya bersama tidak bisa Indra lupakan.“Sayang, apa aku ada salah?” tanya Salsa.Indra menggeleng dan berlalu menuju kamar mandi.Salsa menatap punggung sang suami dengan heran, ini pertama kalinya Indra bersikap dingin dan mengabaikannya.Tiba-tiba saja Leo menelpon. Salsa tidak menjawabnya, Leo mengirimkan pesan kepadanya dan itu membuatnya rasa ingin mati saja.“[Bagaimana respon suamimu saat melihat video k







