Home / Romansa / Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat / Bab 1: Tamu dari Masa Lalu

Share

Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat
Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat
Author: Founna Math

Bab 1: Tamu dari Masa Lalu

Author: Founna Math
last update Last Updated: 2025-12-21 12:29:39

​Harum aroma kopi yang biasanya menenangkan di kantor pusat Queen’s Legacy kini terasa sangat menyesakkan bagi Queen. Ia duduk dengan punggung tegak, mencoba menyembunyikan getaran di jemarinya yang dingin membeku.

​Suasana ruang rapat di lantai dua puluh itu mendadak sunyi, menciptakan ketegangan yang nyaris bisa disentuh dengan ujung jari. Queen tahu bahwa hari ini adalah penentuan nasib perusahaan yang telah dibangun ayahnya.

​Ayah Queen, pria tua yang kini tampak rapuh, berdeham pelan untuk memecah keheningan yang menyiksa tersebut. Matanya menunjukkan kecemasan yang mendalam, sebuah ekspresi yang belum pernah Queen lihat selama puluhan tahun bekerja.

​"Terima kasih atas kehadiran para pemegang saham hari ini," suara ayah Queen bergetar hebat saat memulai kalimat pembukanya. "Seperti yang kalian ketahui, kita membutuhkan investor baru untuk menyelamatkan seluruh aset perusahaan."

​Queen mengepalkan tangannya di bawah meja kayu mahoni yang sangat mahal, mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan dadanya. Ia tidak menyadari bahwa seseorang sedang berjalan menuju pintu besar ruang rapat tersebut.

​Tiba-tiba, pintu terbuka dengan dentuman yang cukup keras, mengalihkan perhatian semua orang di ruangan itu secara bersamaan. Seorang pria dengan postur tubuh tinggi tegap berdiri di ambang pintu, memancarkan aura dominasi yang kuat.

​Lampu kristal di langit-langit ruangan memantulkan cahaya pada setelan jas navy yang dijahit dengan sangat sempurna. Pria itu melangkah masuk dengan langkah kaki yang berat namun penuh dengan kepercayaan diri yang mutlak.

​Queen merasa dunianya seolah berhenti berputar saat tatapannya bertemu dengan netra gelap milik pria yang baru saja datang itu. Seluruh oksigen di sekitarnya seakan tersedot habis, meninggalkannya dalam keadaan mati rasa yang luar biasa.

​"Maaf saya terlambat, saya memiliki beberapa urusan kecil yang harus diselesaikan sebelum mengambil alih tempat ini," ucap pria itu. Suaranya rendah, bariton, dan mengandung getaran otoritas yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.

​"Pratama Ardiansyah," bisik Queen dengan suara yang nyaris tidak terdengar, namun nama itu bergema dengan sangat menyakitkan di kepalanya. Lima tahun telah berlalu, namun bayangannya masih menghantui setiap mimpi buruk yang Queen miliki.

​Tama, pria yang kini berdiri di hadapannya, adalah sosok yang dulu pernah menjadi segalanya bagi hidup Queen. Namun, pria itu juga yang menghancurkan seluruh harapan dan harga diri Queen dalam satu malam keji.

​Tanpa rasa bersalah, Tama menarik kursi di ujung meja yang paling megah, menunjukkan bahwa dialah penguasa baru di sini. Ia menatap satu per satu orang di sana, hingga pandangannya berhenti tepat di wajah Queen.

​"Senang bertemu Anda kembali, Ibu Queen," sapa Tama dengan seringai tipis yang terlihat sangat dingin di mata Queen. "Sepertinya waktu telah merubahmu menjadi wanita yang jauh lebih keras dari yang terakhir kuingat."

​Queen merasakan amarah yang membara di balik luka hatinya yang belum benar-benar sembuh selama lima tahun terakhir. Ia menolak untuk menunjukkan kelemahannya di depan pria yang telah membuangnya seperti sampah tak berguna di masa lalu.

​"Cukup, Tuan Pratama, kita di sini untuk membicarakan urusan bisnis yang profesional, bukan untuk bernostalgia tentang hal tidak berguna," potong Queen. Suaranya terdengar tajam, meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat ingin melarikan diri.

​Tama terkekeh pelan, sebuah suara yang dulu sangat Queen cintai namun kini terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangannya. Ia menyesuaikan posisi duduknya, menatap Queen dengan pandangan predator yang telah menemukan kembali mangsa lamanya.

​"Bisnis?" Tama mengulang kata itu dengan nada mengejek yang sangat kentara bagi semua orang yang hadir di ruangan rapat. "Tentu saja, tapi bukankah bisnis yang paling menguntungkan dimulai dari hubungan pribadi yang sangat intim?"

​Ayah Queen tampak memucat mendengar sindiran terang-terangan dari Tama, pria yang kini memegang kendali atas seluruh hutang perusahaan mereka. Ia tidak berdaya untuk membela putrinya di tengah desakan ekonomi yang sangat menghimpit.

​"Apa yang sebenarnya kau inginkan dari kami, Tama?" tanya Queen dengan nada yang mulai kehilangan kesabaran dan kendali dirinya. Ia benci betapa mudahnya Tama mengaduk-aduk emosinya hanya dengan beberapa patah kata-kata yang tajam.

​Tama berdiri dari kursinya, berjalan perlahan mengitari meja hingga ia berdiri tepat di belakang kursi yang sedang diduduki oleh Queen. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga aroma parfum maskulinnya mulai memabukkan indra penciuman Queen.

​"Aku menginginkan apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal, Queen," bisik Tama tepat di telinga wanita yang sedang gemetar itu. "Dan kau tahu pasti bahwa aku bukanlah orang yang suka melepaskan apa yang aku inginkan."

​Queen merasakan keringat dingin membasahi punggungnya saat merasakan napas hangat Tama menyentuh kulit lehernya yang sangat sensitif tersebut. Ia teringat kembali pada malam di mana segalanya hancur berantakan karena satu kesalahan fatal.

​"Kau menghancurkanku lima tahun lalu, Tama, bukankah itu sudah lebih dari cukup untuk memuaskan egomu yang besar itu?" desis Queen. Ia berusaha tidak menoleh agar tidak terjebak dalam pesona pria yang sangat berbahaya itu.

​Tama menarik diri sedikit, namun tangannya kini bertumpu pada sandaran kursi Queen, seolah-olah sedang mengurung wanita itu dalam kuasanya. Ia menatap dokumen di atas meja yang berisi perjanjian pengambilalihan seluruh aset berharga milik keluarga Queen.

​"Menghancurkanmu hanyalah permulaan dari sebuah cerita panjang yang belum selesai kita tulis bersama, sayangku," ucap Tama dengan tenang. Kata-kata itu terdengar seperti janji sekaligus ancaman yang sangat mengerikan bagi masa depan Queen yang tenang.

​Di depan semua pemegang saham, Tama meletakkan selembar kontrak baru yang isinya sama sekali tidak berhubungan dengan angka-angka keuangan perusahaan. Ia menggeser dokumen itu dengan perlahan tepat di hadapan mata Queen yang kini mulai berkaca-kaca.

​"Tanda tangani ini, dan aku akan melunasi semua hutang ayahmu dalam sekejap tanpa syarat tambahan yang memberatkan perusahaan ini," tantang Tama. Matanya berkilat menantikan reaksi dari wanita yang dulu sangat ia cintai dan ia sakiti.

​Queen membaca baris demi baris dalam dokumen tersebut, dan matanya membelalak lebar saat menyadari apa yang sebenarnya sedang diminta Tama. Pria itu menginginkan Queen untuk tinggal bersamanya di kediaman Ardiansyah selama satu tahun penuh.

​"Ini gila! Kau tidak bisa membeli seseorang hanya karena kau memiliki uang yang melimpah, Tama!" teriak Queen sambil berdiri dengan penuh emosi. Ia tidak peduli lagi dengan pandangan terkejut dari orang-orang di sekitarnya.

​Tama hanya tersenyum tenang, seolah-olah ia sudah memprediksi reaksi keras yang akan ditunjukkan oleh Queen sejak awal pertemuan mereka. Ia melipat tangannya di depan dada, menunjukkan kekuasaan yang tidak bisa diganggu gugat sama sekali.

​"Kau bebas untuk menolak, Queen, tapi ingatlah bahwa besok pagi rumah ini dan perusahaan ini akan disita oleh bank secara paksa," ancam Tama. Ia tahu persis di mana letak kelemahan Queen, yaitu keluarganya yang sangat ia cintai.

​Queen menatap ayahnya yang hanya bisa menunduk lesu, tidak mampu memberikan bantuan atau solusi lain untuk keluar dari lubang hitam ini. Hatinya hancur berkeping-keping menyadari bahwa ia terjebak dalam permainan licik yang dibuat oleh Tama.

​Ia teringat pada rahasia besar yang ia simpan di rumah, seorang anak laki-laki berusia empat tahun yang sangat mirip dengan Tama. Jika ia setuju untuk tinggal bersama Tama, rahasia itu akan berada dalam bahaya besar yang nyata.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 12: Wasiat yang Terluka

    Jari-jari Aiko gemetar saat ia menyentuh layar ponselnya. Pesan dari pengacara pribadi Hiroshi terasa seperti beban ribuan ton yang menindih dadanya. Di balik pintu ruang operasi yang tertutup rapat, suaminya sedang berjuang melawan maut, sementara di tangannya kini terdapat kunci menuju rahasia terdalam pria itu."Nyonya Tanaka, ini dokumen fisiknya," ujar Nyonya Sato yang tiba-tiba muncul di rumah sakit, membawa sebuah amplop tersegel dengan cap resmi firma hukum Tanaka Group. "Tuan Hiroshi menyerahkan ini pada saya satu minggu yang lalu, tepat saat Anda memberikan Kontrak Penebusan itu kepadanya. Beliau berkata, jika ia tidak selamat dari 'badai' ini, Anda harus membacanya."Aiko merobek amplop itu dengan kasar. Di dalamnya terdapat surat wasiat resmi dan sebuah surat tulisan tangan yang tintanya sedikit luntur, seolah terkena tetesan air. Aiko mulai membaca baris demi baris, dan jantungnya seolah berhenti berdetak."Aiko, istriku yang kucintai lebih dari nyawaku sendiri... Jika ka

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 11: Kartu As di Balik Jemari

    Pandangan Hiroshi mengabur. Cairan hangat mengalir dari pelipisnya, membasahi jok mobil yang ringsek. Di depannya, moncong senjata Kenji tampak begitu hitam dan dingin. Hiroshi mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa sakit yang luar biasa dari tulang rusuknya yang patah membuat setiap tarikan napas terasa seperti sayatan pisau."Kau selalu menjadi penghalang, Hiroshi. Sejak ayah lebih memilihmu untuk memimpin perusahaan, aku sudah bersumpah akan melihatmu berakhir di selokan seperti ini," geram Kenji dengan jari yang mulai menekan pelatuk. "Selamat tinggal, adik kecil. Sampaikan salamku pada ayah di neraka."DOR!Suara tembakan meledak, namun bukan dari senjata Kenji. Sebuah peluru mengenai bahu Kenji, membuatnya terhuyung ke belakang dan senjatanya terlepas ke aspal. Di ujung jalan, sebuah sedan merah melaju kencang dan berhenti dengan manuver tajam, menghalangi jalan Kenji.Aiko keluar dari mobil itu dengan napas memburu. Di tangannya, ia menggenggam sebuah pistol kecil—senjata y

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 10: Peluru Penebusan

    Detik itu juga, waktu seolah melambat bagi Aiko. Titik merah yang menari di dadanya terasa seperti tatapan malaikat maut. Ia terpaku, kakinya seolah tertanam di lantai balkon. Namun, sebelum suara dentuman peluru terdengar, sebuah bayangan menerjangnya dengan kasar dari arah belakang.PRANG!Kaca pintu balkon hancur berantakan saat peluru kaliber tinggi menembus ruang tempat Aiko berdiri sedetik yang lalu. Hiroshi telah melompat, mendekap tubuh Aiko, dan menggulingkannya ke lantai ruang tamu yang gelap. Mereka berdua terengah-engah di atas pecahan kaca, sementara suara desingan peluru kedua menghantam dinding apartemen tepat di atas kepala mereka."Tetap di bawah! Jangan bergerak!" perintah Hiroshi dengan suara yang rendah dan penuh wibawa—suara yang sudah lama tidak Aiko dengar sejak perselingkuhan itu terungkap. Hiroshi tidak lagi tampak seperti pelayan yang pecundang; insting pelindungnya bangkit saat melihat wanita yang ia cintai hampir tewas di depan matanya.Aiko merasakan detak

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 9: Jebakan dalam Api

    📢 Catatan Penulis (Penting!)Halo, Pembaca Setia!Saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini. Sebelumnya, cerita ini sempat menggunakan nama karakter Queen dan Tama. Namun, setelah melalui proses diskusi dengan editor dan evaluasi naskah untuk kontrak, saya memutuskan untuk mengembalikan nama karakter menjadi Aiko dan Hiroshi serta melakukan revisi total pada plot agar cerita ini jauh lebih seru, emosional, dan penuh ketegangan.Bagi kalian yang sudah membaca hingga bab 8 versi sebelumnya, saya sangat menyarankan untuk membaca ulang dari Bab 1. Banyak detail baru, konflik yang lebih tajam, dan alur "Kontrak Ranjang" yang telah diubah total untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik.Terima kasih atas dukungan dan kesabaran kalian. Selamat menikmati kelanjutan kisah Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat!📖 Bab 9: Jebakan dalam ApiSuara ledakan yang mengguncang gedung pusat Tanaka Group masih terngiang di telinga Hiroshi saat ia memacu mobilnya kem

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 8: Pertaruhan di Dermaga Tua

    Udara malam di dermaga tua pelabuhan Tokyo terasa menusuk hingga ke tulang, membawa aroma garam dan besi berkarat. Aiko berdiri di bawah lampu jalan yang berkedip, menggenggam tas kecilnya yang berisi flashdisk rahasia milik Hiroshi. Ia tidak memberitahu siapa pun, bahkan tidak kepada Reiko, karena ancaman terhadap nyawa dan nama baik ayahnya terlalu besar untuk dipertaruhkan.Di kejauhan, sebuah mobil hitam mewah berhenti dengan suara ban yang mencicit di atas beton basah. Seorang pria keluar dari sana. Tubuhnya jangkung, mengenakan parit panjang berwarna gelap, dengan wajah yang sekilas mirip dengan Hiroshi namun memiliki tatapan yang jauh lebih dingin dan bengis. Itulah Kenji Tanaka, sang "hantu" dari masa lalu keluarga Tanaka."Adik iparku yang cantik... kau jauh lebih berani daripada pengecut yang kau nikahi itu," sapa Kenji dengan suara bariton yang serak. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya memberikan tekanan intimidasi yang kuat. "Mana Hiroshi? Apa dia terlalu sibuk menyika

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 7: Rahasia di Balik Brankas Kamar

    Aiko berdiri mematung di tengah kamar utama, menatap foto pernikahan yang dicoret tinta merah itu dengan napas tersengal. Ancaman tentang ayahnya—sosok yang selalu ia puja sebagai pahlawan integritas—terasa seperti racun yang merayap di nadinya. Ia melirik ke arah pintu kamar pelayan di bawah, tempat Hiroshi meringkuk dalam kehinaan, dan menyadari bahwa suaminya adalah kunci sekaligus kotak pandora bagi semua ini.Tanpa membuang waktu, Aiko menuruni tangga dengan langkah yang mantap. Ia tidak mengetuk; ia langsung menendang pintu kamar sempit itu hingga terbuka. Di sana, di atas kasur tipis tanpa sprei, Hiroshi sedang terduduk lemas, mencoba memejamkan mata di tengah udara pengap yang hanya dibantu oleh sebuah kipas angin kecil yang berderit."Bangun, Hiroshi!" seru Aiko sembari melemparkan foto yang dicoret itu tepat ke wajah suaminya. "Katakan padaku, siapa lagi selain Miyuki yang kau beri akses untuk menghancurkan hidupku? Dan apa hubungannya ayahku dengan pendanaan awal perusahaanm

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status