LOGINBab ini free, ya ~ Hepi ridiiing 💙💙💙💙💙💙💙“Jadi, kalian betul-betul mau ngebiarin Bapak hidup begini? Sendirian?”Suci yang baru berbalik dan berniat pergi itu, tidak jadi mengayunkan kaki ketika mendengar suara Ginanjar. Tubuhnya kembali berputar bersama Sahli dan menghela lelah saat menatap bapaknya. “Hidup itu pilihan,” ujar Suci menarik napas panjang. “Aku sudah bilang, kami bertiga masih membuka pintu dengan lebar buat Bapak. Jadi, semua keputusan ada di tangan Bapak.”“Kamu bisa ngomong begitu, karena kehidupanmu sekarang sudah enak.” Ginanjar kembali memberi alasan untuk membantah.“Justru karena hidupku sekarang sudah enak, itu yang mau kujaga,” balas Suci kembali menarik napas. “Aku, Sahli, sama Hadi nggak mau lagi hidup kayak dulu.”“Dan harusnya Bapak mikir,” timpal Sahli menyambung dengan cepat. “Kalau kami mau, kami bisa kok, nggak peduli sama Bapak. Kami bisa langsung putus hubungan sama Bapak. Apalagi kalau ingat semua yang sudah Bapak lakuin ke kami, terutama sa
“Roman-romanya begitu,” ujar Arif menjawab pertanyaan Ivan mengenai Ginanjar. “Awal datang, dia minta ikut tinggal di sini sambil marah-marah. Terus tadi, semuanya berubah 180 derajat. Tapi tetap kelihatan kalau tujuannya masih sama. Cuma caranya aja yang beda.”“Dan kamu diam aja?”“Selama dia nggak buat masalah, ya, sudah.”“Berarti, ada di penjara nggak membuat dia berubah,” ujar Ivan menarik kesimpulan. “Yang aku tangkap dari obrolan Suci sama Sahli, Bapaknya memang nggak berubah,” terang Arif.“Uang?”Arif mengangguk. “Uang, status sosial. Intinya, semua nggak jauh-jauh dari situ.”“Kalau dibiarkan, pasti jadi benalu.” “Hm.” Arif menyerahkan tabletnya pada Ivan. Meminta ayahnya untuk melihat laporan keuangan sementara. “Tapi Suci sama adik-adiknya tetap jaga jarak dengan Bapak mereka.”Ivan menatap deretan angka-angka di layar dengan mengerut dahi. Sejurus itu, ia kembali menyerahkan tablet tersebut pada Arif. “Kacamata Ayah di mobil,” ujar Ivan. “Kirim ke e-mail aja.”“Oke.” A
Begitu pintu pagar rumah Arif ditutup, Ginanjar langsung berdecih kesal. Ia sudah datang baik-baik, tetapi tetap saja keduanya memasang jarak yang sangat jelas. Baik Suci maupun Arif, seolah kompak menghindarinya dan tidak memberi celah untuk mendekat. Namun, sebelum sempat menarik gas, Ginanjar terpaku di tempat karena sebuah sedan hitam yang berbelok perlahan dan berhenti di sampingnya. Ia mengurungkan niat untuk pergi dan memilih menunggu karena penasaran. Siapakah gerangan yang ada di dalam mobil tersebut.Akan tetapi, setelah beberapa saat menunggu, tidak ada seorang pun yang keluar dari mobil. Justru sebaliknya, Ginanjar melihat Jaja membuka pintu pagar tidak lama setelah mobil tersebut membunyikan klakson. Pria itu membiarkan pagar terbuka lebar sampai sedan tersebut masuk ke dalam carport.“Siapa, Pak?” tanya Ginanjar masih berada di motornya. Jaja tersenyum sopan. “Tamu, Pak,” ucapnya lalu bergeser ke balik pagar dan menutupnya kembali dari dalam. Ginanjar mendengkus ker
“Mas …” Suci berbaring miring menatap Arif, setelah selesai menidurkan Aska. Hanya tersisa satu lampu tidur yang menyala di sisi sang suami, sehingga ia masih bisa melihat wajah Arif dengan jelas. “Maaf yang tadi, ya.”Arif menghela pendek. “Sudah kubilang, kamu nggak salah jadi nggak usah minta maaf.”“Tapi tetap aja, aku nggak enak.” Suci mengerucutkan bibir. “Dari awal nikah, kayaknya aku sama keluargaku selalu ngerepotin.”“Kalau begitu, aku mau kita nggak ngomongin masalah itu lagi?” Arif yang sejak tadi berbaring miring melihat aktivitas Suci, lantas menarik selimut. “Dan jangan pernah minta maaf untuk hal yang nggak kamu perbuat. Oke?”“Oke …” jawab Suci masih dengan bibir mengerucut. Arif tersenyum tipis melihat wajah Suci. Karena gemas, ia pun mencubit bibir yang masih maju itu dengan geregetan. “Bibirnya nggak usah gini. Nanti kalau aku pengen bahaya!” Suci menepis pelan tangan Arif. Namun, bibirnya masih saja mengerucut. “Aku lagi dapet.”Arif mencebik. “Kenapa juga pake
Langkah Nurul memelan, saat melihat sebuah motor terparkir di depan rumah keponakannya. Sebuah motor yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ditambah, pintu rumah itu pun terbuka, berikut dengan jendela di ruang tamu.Yakin ada seseorang di dalamnya, Nurul bergegas memasuki rumahnya lebih dulu untuk meletakkan kantong kresek berisi barang belanjaan. Setelah itu, ia langsung pergi menuju rumah itu. Dan tebakannya benar, pemilik sebenarnya telah berada di rumah. Ginanjar!“Dah keluar, Bang?” tanya Nurul hanya berdiri di bibir pintu ketika melihat Ginanjar sibuk mengotak-atik ponselnya. Tidak banyak yang berubah dalam penampilan pria itu, semuanya hampir sama seperti terakhir kali mereka bertemu. “Masih aja ditanya,” sahut Ginanjar masih menyimpan kesal setelah kepergian Sahli. “Masak apa kamu di rumah? Aku lapar,” ujarnya lalu menatap wanita itu.Nurul mendesis. “Adanya nasi. Telurnya goreng sendiri.”Ginanjar berdecak. “Beliin ayam bakar bentar.”“Lah!” Nurul yang enggan disuruh-suruh
Sahli berdiri di depan lembaga pemasyarakatan sambil bermain game di ponselnya untuk mengisi waktu. Sesekali, tatapannya tertuju pada pintu gerbang, menunggu Ginanjar keluar dari sana. Semua informasi sudah diberitahu lebih dulu oleh Arif, sehingga ia tidak akan menunggu bapaknya terlalu lama. Benar saja. Hanya sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya Sahli melihat Ginanjar keluar melewati gerbang lembaga pemasyarakatan. “Pak!” panggil Sahli sambil melambai kecil.Ginanjar menoleh. Untuk beberapa saat, ia menatap ke sekitar untuk memastikan sesuatu. Setelah yakin, ia pun tersenyum tipis sambil menghampiri Sahli yang hanya berdiri di tempatnya. “Sendirian?” tanya Ginanjar saat berhenti di hadapan putranya. Lama tidak berjumpa, Ginanjar cukup terkejut melihat perubahan dari penampilan Sahli. Putranya kini tampak jauh lebih bersih, rapi, terawat, dan berisi dibandingkan terakhir kali ia melihatnya. Sungguh berbeda dari sosok Sahli yang masih ia ingat.“Sendiri,” jawab Sahli meraih
“Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?
“Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de
Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi ko
“Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah memp







